Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

High TNF-α Levels in Active Phase Chronic Suppurative Otitis Media Caused by Gram-positive Bacteria Dewi, Marisa Rizqiana; Pratiwi, Dewi; Kandhi, Putu Wijaya
Molecular and Cellular Biomedical Sciences Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Cell and BioPharmaceutical Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21705/mcbs.v7i2.321

Abstract

Background: Chronic suppurative otitis media (CSOM) is a persistent inflammatory disease of the middle ear and mastoid cavity caused by pathogenic infection. CSOM has a fairly high incidence in developing countries and is the main cause of acquired hearing loss in children. Tumor necrosis factor alpha (TNF-α) is a significant inflammatory mediator in CSOM. This study aimed to analyze TNF-α levels in ear discharge and blood serum in active phase CSOM caused by Gram-positive and Gram-negative bacteria.Materials and Methods: This research was an analytical observational study with a cross sectional design. Blood serum and ear discharge from CSOM patients were used in this study. Blood serum and ear discharge TNF-α levels were measured using enzyme-linked immunosorbent assay.Results: From 26 CSOM subjects, 13 subjects were infected with Gram-positive bacteria and the 13 others were infected with Gram-negative bacteria. The majority of the subjects were male (53.8%) with an age range from 36-45 years (42.3%). The most common species of bacteria was Pseudomonas aeruginosa. Blood serum and ear discharge TNF-α levels were higher in samples that contained Gram-positive bacteria.Conclusion: TNF-α levels in active phase CSOM caused by Gram-positive bacteria are higher than those which are caused by Gram-negative bacteria.Keywords: chronic suppurative otitis media, TNF-α, gram-positive, gram-negative
Gambaran Klinis Telinga Hidung Tenggorokan Pasien SARS CoV-2 di RSUD Dr. Moewardi Pratiwi, Dewi; Sudrajad, Hadi; Hendradewi, Sarwastuti; Setiamika, Made; Kandhi, Putu Wijaya; Primadewi, Novi; Hariyadi, Vicky Eko Nurcahyo; Wicaksono, Adisetya; Dewi, Marisa Rizqiana
Smart Medical Journal Vol 5, No 1 (2022): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/smj.v5i1.54111

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: COVID-19 merupakan infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Prevalensi kasus COVID-19 di Indonesia pada akhir tahun 2020 mencapai 750.000 kasus dan terus meningkat hingga saat ini. Manifestasi klinis yang dialami oleh pasien COVID-19 cukup beragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinis telinga hidung tenggorokan (THT) pasien SARS CoV-2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Metode: Penelitian cross-sectional melibatkan 316 pasien terkonfirmasi SARS-CoV-2 positif di RSUD Dr. Moewardi, Surakarta, Jawa Tengah selama April sampai Juni 2021. Dilakukan pemeriksaan PCR untuk melihat status infeksi SARS-CoV-2 dan anamnesis untuk melihat gambaran klinis telinga hidung tenggorokan pasien menggunakan kuesioner. Data univariat dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.Hasil: Secara umum, distribusi empat gejala THT terbanyak pada pasien terinfeksi SARS-CoV-2 berturut-turut adalah nyeri tenggorok (21.52%), hilang penciuman (11.71%), hilang rasa pengecapan (10.44%), dan hidung tersumbat (9.18%). Gejala non-THT yang terbanyak ditemukan meliputi demam (73.73%) dan batuk (57.91%). Keempat gejala THT terbanyak tersebut juga ditemukan pada usia 15-64 tahun, kecuali pada usia ≥65 tahun dimana gejala sakit kepala (3.17%) merupakan gejala terbanyak kedua setelah nyeri tenggorok. Tidak ditemukan gejala hidung tersumbat pada usia ≥65 tahun. Gejala THT terbanyak pada pasien pria terinfeksi SARS-CoV-2 berturut-turut adalah nyeri tenggorok (9.82%), hilang penciuman (4.75%), hidung tersumbat (4.44%), dan hilang pengecapan (2.85%). Sementara itu, gejala THT terbanyak pada wanita terinfeksi SARS-CoV-2 berturut-turut meliputi nyeri tenggorok (11.07%), hilang pengecapan (7.59%), hilang penciuman (6.96%), dan hidung tersumbat (4.74%).Kesimpulan: Gambaran klinis telinga hidung tenggorokkan pasien terinfeksi SARS-CoV-2 yang paling sering muncul berturut-turut adalah nyeri tenggorok, hilang penciuman, hilang pengecapan, dan hidung tersumbat. Frekuensi gejala ini bervariasi akibat banyak faktor, diantaranya adalah umur dan jenis kelamin.