Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kritik: Masih Relevankah Metode Analogi Bentuk Bagi Arsitektur Sekarang ? Aziza, Melati Rahmi
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4515.148 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v18i1.13292

Abstract

Sebuah kritik atas metode rancang analogi bentuk, terkait konteks yang hendak dicapai dalam perancangan arsitektur. Apakah sensasi yang hendak dikejar? bentuk yang berbeda dan ‘unik’? Ataukah ada pendekatan yang lebih kontekstual? Untuk menjawabya, perlu upaya menilik kembali sejarah, utamanya terkait perkembangan arsitektur yang menggunakan pendekatan analogi bentuk. Studi kasus yang dipilih dari masa Arsitektur Tradisional dan Klasik, hingga periode setelah Gerakan Modern sebagai pembanding, ditelusuri perihal penerapan analogi di masanya. Merujuk pada pemikiran Louis I. Khan bahwa arsitektur muncul tidak hanya untuk kebutuhan praktis dan estetika saja, tetapi juga kebutuhan humanisme bagi masyarakat sekitarnya, sehingga tujuan dari tulisan ini untuk mengkaji kembali bagaimana proses analogi baiknya dapat diaplikasikan ke dalam rancang arsitektur. Artikel ini bertujuan sebagai refleksi diri, apakah dibenarkan penganalogian bentuk bangunan serupa dengan bentuk lemari, telur, mahkota (siger), yang berorientasi sekedar pada tiruan bentuk? Tulisan ini pada akhirnya akan menjawab definisi “analogi” yang lebih sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan metode perancangan arsitektur di masa sekarang, dengan meminjam definisi dari Prinsip Louis I. Kahn yang menekankan perwujudan konsep Realization of Form dan Realization of Design menuju tatanan order struktur, order konstruksi, order waktu dan order ruang. Prinsip Kahn dipilih karena penganalogian Kahn yang mengaitkan arsitektur dengan puisi bukanlah sebagai perumpamaan, namun untuk mewakili konsep teoretis. Yang menjadi acuan dapat mewakili konsep teoritis adalah pada kriteria membuat perihal yang tersirat (implicit) menjadi jelas (explicit).
PENGEMBANGAN RUANG PUBLIK BERBASIS UNIVERSAL DESAIN DI KOTA BANDAR LAMPUNG: Studi Kasus Taman Gajah Kurniawan, Guruh Kristiadi; Sani, Andi Asrul; Matondang, Adelia Enjelina; Aziza, Melati Rahmi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Public space as part of city space cannot be separated from a city. According to Sunaryo (2004), the city system is a fulfillment of the necessities of life for the community which includes living, working and recreation. Public space has an important meaning for urban areas or regions, because the main role of public space is to harmonize the patterns of life of a city (Kustianingrum, 2013). every type of public facility must be able to accommodate the interests of all community groups starting from the conditions that are categorized as normal, small children, disabled and elderly. One strategy to be able to provide facilities that are able to meet all these needs, namely by considering the application of the seven principles of universal design. In this study the data analysis method used is descriptive qualitative method. Qualitative research aims at research that ultimately produces design solutions. In this study will reveal how the implementation of 7 (seven) Universal Design Principles in public spaces in Bandar Lampung City. It is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making for the design of a friendly public space for all people including people with disabilities and children in the city of Bandar Lampung.Keyword: Public Space, Universal Design, DisabilitiesAbstrak: Ruang publik sebagai bagian dari ruang kota tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari suatu kota. Menurut Sunaryo (2004), sistem kota merupakan pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang meliputi tempat tinggal, bekerja, dan rekreasi. Ruang publik memiliki arti penting untuk wilayah atau kawasan perkotaan, sebab peranan utama ruang publik adalah menyelaraskan pola kehidupan masyarakat suatu kota (Kustianingrum, 2013). setiap fasilitas jenis publik harus dapat mengakomodasi kepentingan semua kelompok masyarakat mulai dari yang kondisinya dikategorikan normal, anak kecil, penyandang cacat dan lansia. Salah satu srategi untuk dapat menyediakan fasilitas yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, yaitu dengan mempertimbangkan penerapan tujuh prinsip universal desain. Pada penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk penelitian yang pada akhirnya menghasilkan solusi desain. Pada studi ini akan mengungkapkan bagaimana implementasi 7 (tujuh) Prinsip Universal Design pada ruang publik di Kota Bandar Lampung. Diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk perancangan ruang publik yang ramah untuk semua orang termasuk difabel dan anak-anak di Kota Bandar Lampung.Kata Kunci: Ruang Publik, Desain Universal, Difabel
Morphological Change of Coastal Kampung Kota: Resilience and Vulnerability of Kampung Cungkeng and Sinar Laut, Bandar Lampung, Indonesia Widya, Amelia Tri; Lestari, A. Dwi Eva; Vividia, Yemima Sahmura; Nurzukhrufa, Antusias; Aziza, Melati Rahmi; Tanjung, Adinda Sekar
Journal of Regional and City Planning Vol. 36 No. 2 (2025)
Publisher : The Directorate for Research and Innovation, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2025.36.2.2

Abstract

‘Kampung kota’ (urban villages) in Indonesia represent informal settlements that emerge organically and unplanned, blending urban living with local cultural identities. Despite their unplanned growth and associated risks, such as flooding, fires, and economic instability, these communities exhibit remarkable resilience through strong social ties, adaptive spatial practices, and cultural continuity. Using urban morphology as an analytical lens, this study examined the resilience and vulnerability of Kampung Cungkeng and Sinar Laut, two coastal Bugis settlements in Bandar Lampung. The morphological changes reveal the development patterns and social and economic data integration within their structure. The research was conducted by field observations, in-depth interviews, and spatial analysis by satellite imagery to study the settlements. Their morphological transformations were examined over decades. The findings reveal how physical adaptations, such as stilt houses and mangrove planting, help mitigate vulnerabilities. Additionally, socio-economic strategies like the multifunctional use of space contribute to reducing risks while preserving cultural heritage. However, unregulated expansion and environmental pressures exacerbate risks, highlighting the need for integrated planning. The findings underscore the dual nature of ‘kampung kota’ as both resilient and vulnerable, offering insights for sustainable urban development. The study’s results contribute to the global discourse on informal urban resilience by highlighting how coastal ‘kampung kota’ can contribute to the world discourse on informal urban resilience through unique spatial adaptations and cultural sustainability