Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT BANDAR LAMPUNG TERHADAP PENGGUNAAN SIGER PADA BANGUNAN Kurniawan, Guruh Kristiadi; Mardiyanto, Anggi; Matondang, Adelia Enjelina; Purwono, Eko
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.675 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.262

Abstract

Abstract: The use of siger elements is found in commercial and government buildings in the city of Bandar Lampung. The existence of the siger element in the building is widely used after the issuance of the mayor's regulation that every commercial building and government in the city of Bandar Lampung must use the siger element. The lack of understanding about the preservation of local culture and architectural design of buildings makes the use of siger elements seem compelling and careless. This condition can be triggered because of the existence of regional regulations which in its formulation do not consider the perceptions of the local community about the use of the Siger element and the incomplete information in the existing regional regulations. The analysis that will be used in this study is an analysis of public perceptions about the use of siger in buildings. In this study, it was revealed how the perceptions of the people of Bandar Lampung about the use of siger elements in buildings. By knowing the perception of the Bandar Lampung community about the use of the siger element in the building, it is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making to preserve local culture through building architectural design. The results of the study found 88% of respondents agreed with the use of siger elements in buildings and 12% of respondents said they did not agree.Keyword: Perception, Siger, BuildingAbstrak: Penggunaan elemen siger banyak ditemui pada bangunan-bangunan komersial dan pemerintah di Kota Bandar Lampung. Keberadaan elemen siger pada bangunan marak digunakan setelah dikeluarkannya peraturan walikota bahwa setiap bangunan komersial dan pemerintah yang berada di Kota Bandar Lampung harus menggunakan elemen siger. Kurangnya pemahanan tentang pelestarian budaya lokal dan desain arsitektural bangunan menjadikan penggunaan elemen siger terkesan memaksa dan asal-asalan. Kondisi tersebut dapat dipicu karena keberadaan peraturan daerah yang dalam perumusannya tidak mempertimbangkan persepsi masyarakat lokal akan penggunaan elemen siger dan kurang lengkapnya informasi dalam peraturan daerah yang ada.Studi ini dilakukan untuk mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Analisis yang akan digunakan dalam studi ini adalah analisis persepsi masyarakat tentang penggunaan siger pada bangunan. Pada studi ini diungungkapkan bagaimana persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Dengan mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk melestarikan budaya lokal melalui desain arsitektur bangunan. Hasil studi didapatkan 88% responden setuju dengan penggunaan elemen siger pada bangunan dan 12% responden menyatakan tidak setuju.Kata Kunci: Persepsi, Siger, Bangunan
KAJIAN ARSITEKTUR VERNAKULAR (RUANG DAN STRUKTUR) LAMPUNG: DESA PEKON HUJUNG LAMPUNG BARAT Adelia Enjelina Matondang; A Asrul Sani; Guruh Kristiadi Kurniawan
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v1i1.4626

Abstract

Arsitektur vernakular Lampung saat ini masih dapat ditemui dibeberapa daerah di Lampung. Seiring dengan perkembangan jaman jumlah bangunan tradisional ini semakin lama semakin berkurang. Mulai dari alasan tidak lagi mampu menampung kegiatan manusia modern juga karena dianggap kuno yang menjadi faktor utama menghilangnya bangunan tradisional ini. Desa Pekon Hujung merupakan salah satu daerah yang berada di Kecamatan Belalau, Lampung Barat. Desa ini dipilih menjadi lokasi penelitian karena desa ini masih memiliki bangunan vernakular Lampung yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Arsitektur vernakular Lampung merupakan warisan leluhur budaya yang akan sulit ditemukan lagi di lingkungan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa arsitektur vernakular Lampung dengan lokasi penelitian di Desa Pekon Hujung. Arsitektur vernakular Desa Pekon Hujung merupakan gambaran mengenai bentuk, denah, tata ruang yang tercermin melalui kebudayaan masyarakat Desa Pekon Hujung terhadap lingkungan alam dan sosialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang telaah budaya menghuni dalam konteks hunian tradisional guna memberikan kesadaran bagi arsitek, pemilik, pengguna, dan pemerintah untuk mempertimbangkan kearifan budaya sebagai bagian dalam setiap keputusan desain yang diambil, baik dari sisi kekhasan maupun dari sisi keaslian. Kata kunci : arsitektur tradisional, pekon hujung, vernakular ABSTRACTLampung vernacular architecture can still be found in several areas in Lampung. Along with the changing times, the number of traditional buildings is decreasing. Starting from that reason is no longer able to accommodate modern human activities also because it is considered ancient which are the main factors of the disappearance of this traditional building. Pekon Hujung Village is an area in Belalau Regency, West Lampung. This village was chosen as a research location because it still has vernacular buildings in Lampung that are hundreds of years old. This study aims to analyze the vernacular architecture of Pekon Hujung Village is a description of the form, plan, and spatial structure that is reflected through the culture of the Pekon Hujung Village community in its natural and social environment. This research uses a qualitative approach. The results of this study aim to provide an understanding of the study of culture that inhabits in the context of traditional housing to provide awareness for architects, owners, users, and governments to consider cultural wisdom as part of every design decision taken, both in terms of uniqueness and in terms of authenticity.  Keywords: pekon hujung, tradisional housing, vernacular
PENGEMBANGAN RUANG PUBLIK BERBASIS UNIVERSAL DESAIN DI KOTA BANDAR LAMPUNG: Studi Kasus Taman Gajah Guruh Kristiadi Kurniawan; Andi Asrul Sani; Adelia Enjelina Matondang; Melati Rahmi Aziza
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1531.759 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i2.450

Abstract

Abstract: Public space as part of city space cannot be separated from a city. According to Sunaryo (2004), the city system is a fulfillment of the necessities of life for the community which includes living, working and recreation. Public space has an important meaning for urban areas or regions, because the main role of public space is to harmonize the patterns of life of a city (Kustianingrum, 2013). every type of public facility must be able to accommodate the interests of all community groups starting from the conditions that are categorized as normal, small children, disabled and elderly. One strategy to be able to provide facilities that are able to meet all these needs, namely by considering the application of the seven principles of universal design. In this study the data analysis method used is descriptive qualitative method. Qualitative research aims at research that ultimately produces design solutions. In this study will reveal how the implementation of 7 (seven) Universal Design Principles in public spaces in Bandar Lampung City. It is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making for the design of a friendly public space for all people including people with disabilities and children in the city of Bandar Lampung.Keyword: Public Space, Universal Design, DisabilitiesAbstrak: Ruang publik sebagai bagian dari ruang kota tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari suatu kota. Menurut Sunaryo (2004), sistem kota merupakan pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang meliputi tempat tinggal, bekerja, dan rekreasi. Ruang publik memiliki arti penting untuk wilayah atau kawasan perkotaan, sebab peranan utama ruang publik adalah menyelaraskan pola kehidupan masyarakat suatu kota (Kustianingrum, 2013). setiap fasilitas jenis publik harus dapat mengakomodasi kepentingan semua kelompok masyarakat mulai dari yang kondisinya dikategorikan normal, anak kecil, penyandang cacat dan lansia. Salah satu srategi untuk dapat menyediakan fasilitas yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, yaitu dengan mempertimbangkan penerapan tujuh prinsip universal desain. Pada penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk penelitian yang pada akhirnya menghasilkan solusi desain. Pada studi ini akan mengungkapkan bagaimana implementasi 7 (tujuh) Prinsip Universal Design pada ruang publik di Kota Bandar Lampung. Diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk perancangan ruang publik yang ramah untuk semua orang termasuk difabel dan anak-anak di Kota Bandar Lampung.Kata Kunci: Ruang Publik, Desain Universal, Difabel
KINERJA TERMAL SELUBUNG GEDUNG KULIAH KOTA BANDAR LAMPUNG ITERA Andi Asrul Sani; Adelia Enjelina Matondang; Guruh Kristiadi Kurniawan; Anggi Mardiyanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.294 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.303

Abstract

Abstract: The use of glass material should consider the comfort of space in the building. Field of glass is needed as natural lighting and visual facilities between the occupants and the surrounding environment. Its function as natural lighting is often accompanied by an increase in temperature in buildings, considering that Indonesia is a tropical country. Building temperatures that increase due to incoming sunlight can cause discomfort to building occupants. Such conditions make building occupants use air conditioner (AC). The use of air conditioners can increase the value of building energy consumption. For this reason, research on the value of heat transfer in buildings or the value of OTTV (Overall Thermal Transfer Value). OTTV value calculation is done by manual calculation. Bandar Lampung City lecture building at the Sumatra Institute of Technology was chosen as the object of this study. From the results of the study found that the value of heat transfer of a building or OTTV (Overall Thermal Transfer Value) is influenced by the factor of the ratio of the window area to the facade or WWR (Window Wall Ratio) and the shading factor (Shading Coefficient).(Keywords: Keyword: energy consumption, building energy, glass. Abstract: Penggunaan material kaca semestinya mempertimbangkan kenyamanan ruang dalam bangunan. Bidang kaca diperlukan sebagai pencahayaan alami dan sarana visual antara penghuni dan lingkungan sekitar. Fungsinya sebagai pencahayaan alami seringkali disertai dengan peningkatan temperatur pada bangunan, mengingat Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis. Temperatur bangunan yang meningkat akibat dari radiasi sinar matahari yang masuk dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penghuni bangunan. Kondisi seperti itu membuat penghuni bangunan menggunakan air conditioner (AC). Penggunaan air conditioner tersebut dapat meningkatkan nilai konsumsi energi bangunan. Untuk  itu dilakukan penelitian mengenai nilai perpindahan panas dalam bangunan atau nilai OTTV (Overall Thermal Transfer Value). Penghitungan nilai OTTV dilakukan dengan penghitungan manual. Gedung kuliah Kota Bandar Lampung di Institut Teknologi Sumatera di pilih sebagai objek dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa nilai perpindahan panas suatu bangunan atau OTTV (Overall Thermal Transfer Value) dipengaruhi oleh faktor nilai perbandingan luas jendela terhadap bidang fasad atau WWR (Window Wall Ratio) dan faktor pembayangan (Shading Coefficient).Kata kunci : konsumsi energi, energi bangunan, kaca.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI PADA PERANCANGAN AGROWISATA DI KECAMATAN CANDIPURO LAMPUNG SELATAN Antusias Nurzukhrufa; Widi Dwi Satria; Amelia Tri Widya; Guruh Kristiadi Kurniawan; Cahyo Ardi Saputro; Okta Riesanty
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol 14 No 1 (2024): Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v14i1.6602

Abstract

Candipuro merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan yang memiliki potensi besar di bidang pertanian karena didominasi lahan persawahan dan perkebunan. Namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Mengingat potensi pertanian yang paling utama, apabila ditambahkan unsur wisata berupa agrowisata dapat menambah nilai positif, seperti meningkatkan edukasi bidang pertanian dan pendapatan daerah, serta meminimalisir alih fungsi lahan pertanian. Penelitian ini penting karena agrowisata tidak hanya dinilai dari sisi komersilnya, namun harus memiliki dampak positif terhadap keberlangsungan lingkungan. Salah satu konsep perancangan yang berwawasan lingkungan yaitu arsitektur ekologi. Arsitektur ekologi berperan melindungi ekosistem dari kerusakan serta menciptakan kenyamanan penghuni dari segi fisik, sosial dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mewujudkan desain agrowisata yang berwawasan lingkungan dengan menerapkan konsep arsitektur ekologi. Agrowisata sangat dekat dengan alam, sehingga lingkungan alami harus terjaga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan tahapan yaitu identifikasi permasalahan, pengumpulan data, analisis, dan penyusunan konsep, kemudian konsep diimplementasikan ke dalam rancangan. Hasil penelitian ini yaitu implementasi dari empat aspek konsep arsitektur ekologi pada desain agrowisata Candipuro, diantaranya melalui sistem penghawaan dan pencahayaan alami dengan membuat bukaan pada bangunan, penghematan energi dengan penggunaan panel surya, penggunaan material alami pada massa bangunan seperti tanah liat, ijuk, kayu dan bambu, dan penerapan sistem biopori sebagai resapan air.
PERSEPSI MASYARAKAT BANDAR LAMPUNG TERHADAP PENGGUNAAN SIGER PADA BANGUNAN Kurniawan, Guruh Kristiadi; Mardiyanto, Anggi; Matondang, Adelia Enjelina; Purwono, Eko
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The use of siger elements is found in commercial and government buildings in the city of Bandar Lampung. The existence of the siger element in the building is widely used after the issuance of the mayor's regulation that every commercial building and government in the city of Bandar Lampung must use the siger element. The lack of understanding about the preservation of local culture and architectural design of buildings makes the use of siger elements seem compelling and careless. This condition can be triggered because of the existence of regional regulations which in its formulation do not consider the perceptions of the local community about the use of the Siger element and the incomplete information in the existing regional regulations. The analysis that will be used in this study is an analysis of public perceptions about the use of siger in buildings. In this study, it was revealed how the perceptions of the people of Bandar Lampung about the use of siger elements in buildings. By knowing the perception of the Bandar Lampung community about the use of the siger element in the building, it is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making to preserve local culture through building architectural design. The results of the study found 88% of respondents agreed with the use of siger elements in buildings and 12% of respondents said they did not agree.Keyword: Perception, Siger, BuildingAbstrak: Penggunaan elemen siger banyak ditemui pada bangunan-bangunan komersial dan pemerintah di Kota Bandar Lampung. Keberadaan elemen siger pada bangunan marak digunakan setelah dikeluarkannya peraturan walikota bahwa setiap bangunan komersial dan pemerintah yang berada di Kota Bandar Lampung harus menggunakan elemen siger. Kurangnya pemahanan tentang pelestarian budaya lokal dan desain arsitektural bangunan menjadikan penggunaan elemen siger terkesan memaksa dan asal-asalan. Kondisi tersebut dapat dipicu karena keberadaan peraturan daerah yang dalam perumusannya tidak mempertimbangkan persepsi masyarakat lokal akan penggunaan elemen siger dan kurang lengkapnya informasi dalam peraturan daerah yang ada.Studi ini dilakukan untuk mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Analisis yang akan digunakan dalam studi ini adalah analisis persepsi masyarakat tentang penggunaan siger pada bangunan. Pada studi ini diungungkapkan bagaimana persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Dengan mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk melestarikan budaya lokal melalui desain arsitektur bangunan. Hasil studi didapatkan 88% responden setuju dengan penggunaan elemen siger pada bangunan dan 12% responden menyatakan tidak setuju.Kata Kunci: Persepsi, Siger, Bangunan
KINERJA TERMAL SELUBUNG GEDUNG KULIAH KOTA BANDAR LAMPUNG ITERA Sani, Andi Asrul; Matondang, Adelia Enjelina; Kurniawan, Guruh Kristiadi; Mardiyanto, Anggi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The use of glass material should consider the comfort of space in the building. Field of glass is needed as natural lighting and visual facilities between the occupants and the surrounding environment. Its function as natural lighting is often accompanied by an increase in temperature in buildings, considering that Indonesia is a tropical country. Building temperatures that increase due to incoming sunlight can cause discomfort to building occupants. Such conditions make building occupants use air conditioner (AC). The use of air conditioners can increase the value of building energy consumption. For this reason, research on the value of heat transfer in buildings or the value of OTTV (Overall Thermal Transfer Value). OTTV value calculation is done by manual calculation. Bandar Lampung City lecture building at the Sumatra Institute of Technology was chosen as the object of this study. From the results of the study found that the value of heat transfer of a building or OTTV (Overall Thermal Transfer Value) is influenced by the factor of the ratio of the window area to the facade or WWR (Window Wall Ratio) and the shading factor (Shading Coefficient).(Keywords: Keyword: energy consumption, building energy, glass. Abstract: Penggunaan material kaca semestinya mempertimbangkan kenyamanan ruang dalam bangunan. Bidang kaca diperlukan sebagai pencahayaan alami dan sarana visual antara penghuni dan lingkungan sekitar. Fungsinya sebagai pencahayaan alami seringkali disertai dengan peningkatan temperatur pada bangunan, mengingat Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis. Temperatur bangunan yang meningkat akibat dari radiasi sinar matahari yang masuk dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penghuni bangunan. Kondisi seperti itu membuat penghuni bangunan menggunakan air conditioner (AC). Penggunaan air conditioner tersebut dapat meningkatkan nilai konsumsi energi bangunan. Untuk  itu dilakukan penelitian mengenai nilai perpindahan panas dalam bangunan atau nilai OTTV (Overall Thermal Transfer Value). Penghitungan nilai OTTV dilakukan dengan penghitungan manual. Gedung kuliah Kota Bandar Lampung di Institut Teknologi Sumatera di pilih sebagai objek dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa nilai perpindahan panas suatu bangunan atau OTTV (Overall Thermal Transfer Value) dipengaruhi oleh faktor nilai perbandingan luas jendela terhadap bidang fasad atau WWR (Window Wall Ratio) dan faktor pembayangan (Shading Coefficient).Kata kunci : konsumsi energi, energi bangunan, kaca.
PENGEMBANGAN RUANG PUBLIK BERBASIS UNIVERSAL DESAIN DI KOTA BANDAR LAMPUNG: Studi Kasus Taman Gajah Kurniawan, Guruh Kristiadi; Sani, Andi Asrul; Matondang, Adelia Enjelina; Aziza, Melati Rahmi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Public space as part of city space cannot be separated from a city. According to Sunaryo (2004), the city system is a fulfillment of the necessities of life for the community which includes living, working and recreation. Public space has an important meaning for urban areas or regions, because the main role of public space is to harmonize the patterns of life of a city (Kustianingrum, 2013). every type of public facility must be able to accommodate the interests of all community groups starting from the conditions that are categorized as normal, small children, disabled and elderly. One strategy to be able to provide facilities that are able to meet all these needs, namely by considering the application of the seven principles of universal design. In this study the data analysis method used is descriptive qualitative method. Qualitative research aims at research that ultimately produces design solutions. In this study will reveal how the implementation of 7 (seven) Universal Design Principles in public spaces in Bandar Lampung City. It is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making for the design of a friendly public space for all people including people with disabilities and children in the city of Bandar Lampung.Keyword: Public Space, Universal Design, DisabilitiesAbstrak: Ruang publik sebagai bagian dari ruang kota tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari suatu kota. Menurut Sunaryo (2004), sistem kota merupakan pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang meliputi tempat tinggal, bekerja, dan rekreasi. Ruang publik memiliki arti penting untuk wilayah atau kawasan perkotaan, sebab peranan utama ruang publik adalah menyelaraskan pola kehidupan masyarakat suatu kota (Kustianingrum, 2013). setiap fasilitas jenis publik harus dapat mengakomodasi kepentingan semua kelompok masyarakat mulai dari yang kondisinya dikategorikan normal, anak kecil, penyandang cacat dan lansia. Salah satu srategi untuk dapat menyediakan fasilitas yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, yaitu dengan mempertimbangkan penerapan tujuh prinsip universal desain. Pada penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk penelitian yang pada akhirnya menghasilkan solusi desain. Pada studi ini akan mengungkapkan bagaimana implementasi 7 (tujuh) Prinsip Universal Design pada ruang publik di Kota Bandar Lampung. Diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk perancangan ruang publik yang ramah untuk semua orang termasuk difabel dan anak-anak di Kota Bandar Lampung.Kata Kunci: Ruang Publik, Desain Universal, Difabel
TINGKAT KENYAMANAN PEJALAN KAKI DI KOTA BANDAR LAMPUNG BERDASARKAN TEORI URBAN WALKABILITY STUDI KASUS : Jl. Kartini, dan Jl. Raden Intan, Bandar Lampung Kurniawan, Guruh Kristiadi; Nurzukhrufa, Antusias; Abas, Najmi Adli; Lestari, Lukita Tri
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In keeping up with the rapid development of the city requires the support of adequate public facilities. Pedestrians are one of the things that need attention, the provision of facilities and infrastructure for pedestrians. Able to create the realization of a comfortable city (Liveable City) and friendly for pedestrians (Walkable). Moving from curiosity about the level of pedestrian comfort in the city of Bandar Lampung, we conducted research with a case study object on Jl. Kartini and Jl. Raden Intan, City of Bandar Lampung. Through this research we aim to determine the level of pedestrian comfort in the city of Bandar Lampung based on urban walkability theory and to determine the factors that influence the level of pedestrian comfort on Jl. Kartini and Jl. Raden Intan, City of Bandar Lampung. The results of this study show the comfort level of pedestrians on Jl. Kartini and Jl. Raden Intan, City of Bandar Lampung based on the theory of urban walkability is said to be still uncomfortable. This statement is reinforced by the results of observation and interviews of pedestrians at the study site.Keyword: walkability, pedestrian, trotoarAbstrak: Dalam mengimbangi perkembangan kota yang pesat memerlukan dukungan fasilitas publik yang memadai. Pejalan kaki menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, penyedian sarana dan prasarana bagi pejalan kaki. Mampu menciptakan terwujudnya kota yang nyaman (Liveable City) dan ramah untuk pejalan kaki (Walkable). Bergerak dari keingintahuan tentang tingkat kenyamanan pejalan kaki di kota Bandar Lampung kami melakukan penelitian dengan objek studi kasus di Jl. Kartini dan Jl. Raden Intan, Kota Bandar Lampung. Melalui penelitian ini kami bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pejalan kaki di Kota Bandar Lampung berdasarkan teori urban walkability dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan pejalan kaki di Jl. Kartini dan Jl. Raden Intan, Kota Bandar Lampung. Dalam hasil penelitian ini sendiri menunjukan tingkat kenyamanaan pejalan kaki di Jl. Kartini dan Jl. Raden Intan, Kota Bandar Lampung berdasarkan teori urban walkability dikatakan masih kurang nyaman. Penyataan tersebut diperkuat dengan hasil dari observasi dan wawancara pejalan kaki di lokasi penelitian.Kata Kunci: walkability, pedestrian, trotoar
ANALISIS PKOR WAY HALIM SEBAGAI RUANG PUBLIK BERKELANJUTAN BERDASARKAN POLA PERILAKU Kurniawan, Guruh Kristiadi; Devita, Citra; Akbar, Muhammad Arya Guna
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Public spaces are often considered merely as facilities that provide space for user activities/interactions, resulting in minimal awareness regarding the maintenance and supervision of the available space. In its formation, public spaces must also support sustainability in each of its elements that link environmental aspects (space) with social aspects (users) to fulfill needs and complement each other. In response to this, PKOR Way Halim as a provider of public space needs to be analyzed to make adjustments in accordance with sustainable public space criteria. The method employed is a qualitative descriptive method focusing on behavior patterns through behavior mapping, which is then analyzed by elaborating on the understanding related to sustainability. Thus, the results indicate that PKOR Way Halim as a provider of public space does not yet meet the "sustainability" criteria. This is due to the social aspect, namely user behavior patterns, which significantly influence a space. User awareness is crucial to encourage movement patterns in activities that shape sustainable public spaces.Keyword: behaviour mapping, sustainability, behavior patterns, public spaceAbstrak: Ruang publik sering kali dianggap hanya sebatas fasilitas yang menyediakan ruang untuk suatu aktivitas/interaksi pengguna, sehingga minim sekali kesadaran dalam hal pemeliharaan dan pengawasan terhadap ruang yang tersedia. Dalam pembentukannya, ruang publik pun harus mendukung adanya keberlanjutan pada setiap elemennya yang mengaitkan antara aspek lingkungan (ruang) dengan aspek sosial (pengguna) agar kebutuhan terpenuhi dan saling melengkapi. Untuk menanggapi hal tersebut, PKOR Way Halim sebagai penyedia ruang publik perlu dianalisis agar memenuhi penyesuaian dengan kriteria ruang publik berkelanjutan. Metode yang dilakukan berupa metode kualitatif deskriptif terhadap pola perilaku melalui behaviour mapping yang kemudian dianalisis dengan penjabaran mengenai pemahaman terkait keberlanjutan. Sehingga, hasil yang didapat bahwa PKOR Way Halim sebagai penyedia ruang publik masih belum memenuhi keriteria “keberlanjutan”. Hal tersebut didapat karena adanya aspek sosial berupa pola perilaku pengguna yang sangat berpengaruh terhadap suatu ruang. Kesadaran pengguna sangat dibutuhkan untuk mendorong pola pergerakan dalam berkegiatan yang membentuk ruang publik yang berkelanjutan.Kata Kunci: behaviour mapping, keberlanjutan, pola perilaku, ruang publik