Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Communication Management

Pesan Islami Film Qorin bagi Perempuan agar Menjaga Diri Auliya Fathannisa; Askurifai Baksin
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i2.13169

Abstract

Abstract. The development of science and technology especially in the field of communication, makes it easier for people to convey messages. Film is one of the products of communication media, especially mass media, which functions to convey messages to the public. This movie also shows scenes that contain Islamic meanings and values. The purpose of this research is to find out the Islamic message of the movie qorin for women to take care of themselves in terms of denotative, connotative, and connotative meanings. from denotative, connotative and mythical meanings. The methodology in this research uses qualitative methods and a constructivist paradigm. Observations were made by watching and observing each scene and conversation as data and findings were taken, then documented and analyzed. This research uses Roland Barthes' semiotic theory and constructionist representation. Semiotics is the study of signs. Taking the object of research is the Islamic message and self-preservation of women in the movie Qorin and the subject is the actors involved in the film. This data collection uses observation, documentation and premiere methods. Observation is done by observing every scene and sign in the movie. Documentation comes from other sources such as literature and the internet. While the premiere method is taken from the results of interviews with sources. While the data validity test uses source triangulation. The results of this study indicate that there are Islamic messages and self-preservation in the movie Qorin in terms of denotation, connotation and myth. Islamic messages and women's self-preservation can be seen from several verses of the Qur'an, tools made of wood as a form of protection, as well as harassment and information on where to report incidents. Abstrak. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang komunikasi, mempermudah masyarakat untuk bisa menyampaikan pesan. Film merupakan salah satu produk media komunikasi khususnya media massa, yang berfungsi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dalam film ini juga ditampilkan adegan-adegan yang mengandung makna dan nilai-nilai Islami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pesan islami film qorin bagi perempuan agar menjaga diri ditinjau dari makna denotatif, konotatif dan mitos. Metodologi dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan paradigma konstruktivis. Pengamatan dilakukan dengan melihat dan mengamati setiap adegan dan percakapan sebagai data dan temuan yang diambil, kemudian didokumentasikan dan dianalisis. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dan representasi kontruksionis. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda. Mengambil objek penelitian yakni pesan islami dan penjagaan diri pada Perempuan dalam film Qorin dan subjeknya aktor yang terlibat dalam film. Pengumpulan data ini menggunakan metode observasi, dokumentasi dan premier. Observasi dilakukan dengan mengamati setiap adegan dan tanda pada film. Dokumentasi bearasal dari sumber lain seperti literatur dan internet. Sedangkan metode premier diambil dari hasil wawancara bersama narasumber. Sementara uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pesan islami dan penjagaan diri pada film Qorin di tinjau dari denotasi, konotasi dan mitos. Pesan islami dan penjagaan diri Perempuan dapat dilihat dari beberapa ayat Al-Qur’an, alat yang terbuat dari bahan kayu sebagai bentuk perlindungan, serta adanya pelecehan dan informasi tempat melaporkan kejadian.
Representasi Komunikasi Persuasif Kepahlawanan Buya Hamka Muhammad Rizkyka Aghnia Robbani; Askurifai Baksin
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i2.14281

Abstract

Abstract. Basically humans need communication in dealing with daily life, involving various types of either messages or media. One of the important types of communication in persuasive communication, which has the aim of adjusting individuals they feel and are encouraged to achieve certain goals. Persuasive communication can occur in a variety of contexts, not only during interactions, but also in various circumstances where individuals have certain goals and seek to motivate others to support their achievement. For example, as shown by Buya Hamka in the film “Buya Hamka Vol.I” when he tired to mobilize support for his struggle. This research aims to understand the persuasive communication carried out by Buya Hamka as a hero. This research uses a qualitative method with a Roland Barthes semiotic approach that focuses on the meaning of denotation, connotation, and myth. Abstrak. Pada dasarnya manusia memerlukan komunikasi dalam menghadapi keseharian, melibatkan macam-macam jenis baik itu berupa pesan atau media. Salah satunya jenis komunikasi yang penting adalah komunikasi persuasif, yang memiliki tujuan untuk penyesuaian individu mereka merasa dan didorong unutuk mencapai tujuan tertentu. Komunikasi persuasif bisa terjadi dalam berbagai konteks, tidak hanya saat berinteraksi, tapi juga dalam berbagai keadaan di mana individu memiliki sasaran tertentu serta berupaya memotivasi orang lain untuk mendukung pencapaiannya. Contohnya, seperti yang ditunjukkan oleh Buya Hamka dalam Film "Buya Hamka Vol.I" ketika ia berusaha memobilisasi dukungan untuk perjuangannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Buya Hamka sebagai seorang pahlawanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes yang memfokuskan pada pemaknaan denotasi, konotasi, serta mitos.
Komunikasi Internal dan Eksternal antara Pemerintah dan Masyarakat dalam Penanganan Krisis Sampah di Kota Bandung Arley Sam; Askurifai
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i2.15491

Abstract

Abstract. The waste crisis in the city of Bandung is an urgent environmental issue and requires immediate handling. Effective communication between government and society is essential in overcoming this problem. This research analyzes how internal communication between government agencies and external communication with the community can increase the effectiveness of handling the waste crisis. Good internal communication helps align policies between agencies, while open and participatory external communication involves the community in finding solutions. The research results show that strong internal communication accelerates responses to crises and improves policy implementation, while effective external communication builds public trust and encourages active community participation. With integration between internal and external communications, crisis management efforts can run more efficiently and sustainably, thereby improving environmental quality and community welfare in the city of Bandung. Abstrak. Krisis sampah di Kota Bandung merupakan salah satu isu lingkungan yang mendesak dan memerlukan penanganan segera. Komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini menganalisis bagaimana komunikasi internal antara instansi pemerintah dan komunikasi eksternal dengan masyarakat dapat meningkatkan efektivitas penanganan krisis sampah. Komunikasi internal yang baik membantu menyelaraskan kebijakan antar instansi, sementara komunikasi eksternal yang terbuka dan partisipatif melibatkan masyarakat dalam mencari solusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi internal yang kuat mempercepat respon terhadap krisis dan meningkatkan implementasi kebijakan, sedangkan komunikasi eksternal yang efektif membangun kepercayaan publik dan mendorong partisipasi aktif masyarakat. Dengan integrasi antara komunikasi internal dan eksternal, upaya penanganan krisis dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan, sehingga meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Kota Bandung.