Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Implikasi Perkembangan Pertelevisian Pascaderegulasi terhadap Media Cetak Baskin, Askurifai
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dasar pemikiran tulisan ini dilandasi perkembangan siaran televisi swasta yang semakinberkembang, dalam arti beragamnya pilihan stasiun tv swasta dengan acara yang bervariasi,di samping dukungan kebijakan pemerintah me/alui UU Penyiaran. Permasalahannya adalahbagaimana hubungan antara media cetakyang sudah lebih dahulu muncul dengan masuknyamedia elektronika dan broadcasting house? Kedua jenis media ini sebetulnya memilikikelebihan, sekaligus kekurangan. Ketika budaya televisi tumbuh dengan pesat, munculkekhawatiran dari sementara pengelola surat kabar akan semakin surutnya pembaca yangmenjadi surut. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa masing-masing mediamemiliki tingkat efisiensi tertentu yang tergantung dari message dan target khalayaknya.Da/am mengatasi persaingan, media cetak terus berupaya meningkatkan produksi danprofesionalismenya selain dengan mempertahankan segmen pembaca tertentu. Namun,pada perkembangan selanjutnya ternyata antarkedua media tersebut terjadi hubungankerja sama positif Masing-masing media saling memanfaatkan dan mendukungkelebihannya masing-masing
Peranan Perkembangan Film Indie terhadap Bangkitnya Film Nasional Baksin, Askurifai
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BeBeberapajilm indie mulai bicara di ajang festivaljilm internasional. Ada pula yang memang sukses besar di bioskop. Misalnya, Kuldesak. Fenomena ini seolah memberi darah segar bagi perjilman nasional. Meski awalnya berangkat darijalur indie, bolehjadi para sineas tadi bisa beralih jalur ke mayor label. Yangjelas, terapi yang mereka lakukan telah memberi nafas baru bagi bangkitnya perjilman nasional.
Kebudayaan Audio Visual: Telaah terhadap Nilai-Nilai Berita Televisi Baskin, Askurifai
Mediator Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya audiovisual memunculkan tantangan baru bagi konsumsi dan produksi media massa. Sebelumnya, berita disampaikan dan dicerna lewat budaya tulis yang dibawa oleh media cetak. Kini, dengan maraknya televisi, berita ditransjer kepada khalayak dan dikonsumsi melalui budaya audiovisual. Pengamat kebudayaan Neil Postman dan Jerry Mander menilai, bahasa tertulis menghadirkan pengertian yang teratur dandapat dipercaya. Sementara, konsepsi-konsepsi tentang dunia yang ditawarkan televisi cenderung kacau balau dan tidakmasdk akal, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat. Jni dibantah oleh pengamat lain. Mengutip Edmund G. Brown, Arswendo Atmowiloto justru mencermati, kehadiran televisi memberi kesempatan bagi semua - satu kelebihan yang tidak bisa ditandingi oleh budaya tulis yang bersijat elitis akibatjaktor literacy yang menyertainya. Bagi para praktisi media dan teoretisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium injormasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristiktersebut untuk mengoptimalkanjungsinya di tengah masyarakat. Berita televisi memang bisa saja sungguh-sungguh, dan serius. Tapi bisa juga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimallipulasi. Di sinilah letak urgensi moralitas-kehadiran moralitas mutlak diperlukan dalam produksi dan sajian berita televisi sehillgga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya audio visual.
Implikasi Perkembangan Pertelevisian Pascaderegulasi terhadap Media Cetak Askurifai Baskin
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v1i1.685

Abstract

Dasar pemikiran tulisan ini dilandasi perkembangan siaran televisi swasta yang semakinberkembang, dalam arti beragamnya pilihan stasiun tv swasta dengan acara yang bervariasi,di samping dukungan kebijakan pemerintah me/alui UU Penyiaran. Permasalahannya adalahbagaimana hubungan antara media cetakyang sudah lebih dahulu muncul dengan masuknyamedia elektronika dan broadcasting house? Kedua jenis media ini sebetulnya memilikikelebihan, sekaligus kekurangan. Ketika budaya televisi tumbuh dengan pesat, munculkekhawatiran dari sementara pengelola surat kabar akan semakin surutnya pembaca yangmenjadi surut. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa masing-masing mediamemiliki tingkat efisiensi tertentu yang tergantung dari message dan target khalayaknya.Da/am mengatasi persaingan, media cetak terus berupaya meningkatkan produksi danprofesionalismenya selain dengan mempertahankan segmen pembaca tertentu. Namun,pada perkembangan selanjutnya ternyata antarkedua media tersebut terjadi hubungankerja sama positif Masing-masing media saling memanfaatkan dan mendukungkelebihannya masing-masing
Peranan Perkembangan Film Indie terhadap Bangkitnya Film Nasional Askurifai Baskin
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i1.760

Abstract

Beberapajilm indie mulai bicara di ajang festivaljilm internasional. Ada pula yang memang sukses besar di bioskop. Misalnya, Kuldesak. Fenomena ini seolah memberi darah segar bagi perjilman nasional. Meski awalnya berangkat darijalur indie, bolehjadi para sineas tadi bisa beralih jalur ke mayor label. Yangjelas, terapi yang mereka lakukan telah memberi nafas baru bagi bangkitnya perjilman nasional.
khasanah pengetahuan jurnalisme perfilman Indonesia Askurifai Baskin
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 4, No 2 (2003): Dari Politik, Media, sampai Lain-Lain
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v4i2.859

Abstract

Budaya audiovisual memunculkan tantangan baru bagi konsumsi dan produksi media massa. Sebelumnya, berita disampaikan dan dicerna lewat budaya tulis yang dibawa oleh media cetak. Kini, dengan maraknya televisi, berita ditransjer kepada khalayak dan dikonsumsi melalui budaya audiovisual. Pengamat kebudayaan Neil Postman dan Jerry Mander menilai, bahasa tertulis menghadirkan pengertian yang teratur dandapat dipercaya. Sementara, konsepsi-konsepsi tentang dunia yang ditawarkan televisi cenderung kacau balau dan tidakmasdk akal, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat. Jni dibantah oleh pengamat lain. Mengutip Edmund G. Brown, Arswendo Atmowiloto justru mencermati, kehadiran televisi memberi 'kesempatan bagi semua' - satu kelebihan yang tidak bisa ditandingi oleh budaya tulis yang bersijat elitis akibatjaktor literacy yang menyertainya. Bagi para praktisi media dan teoretisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium injormasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristiktersebut untuk mengoptimalkanjungsinya di tengah masyarakat. Berita televisi memang bisa saja sungguh-sungguh, dan serius. Tapi bisa juga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimallipulasi. Di sinilah letak urgensi moralitas-kehadiran moralitas mutlak diperlukan dalam produksi dan sajian berita televisi sehillgga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya audio visual.
CXO Media sebagai Media Alternatif di Kanal Youtube Mahawar Randu; Askurifai
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 2, No. 1, Juli 2022 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.453 KB) | DOI: 10.29313/jrjmd.v2i1.836

Abstract

Abstract. The development of the times makes everyone consume social media, social media itself is one of the online media facilities that aims to make it easier to participate, present, and many others. Youtube is an online-based application that aims to share videos. Most of the content on Youtube is personal content whose purpose is only to document their daily life. The phenomenon of using Youtube social media has become a new business field to convey information like a news program on a television station. This increasingly mushrooming usage is certainly used by media companies by creating Youtube accounts to spread them into online media. CXO Media appears to be one of the alternative media of choice for filtering incoming information. The purpose of this study, to find out the Sidak program at CXO Media as an alternative media that wraps comedy in the news broadcast program, to find out the news coverage on the Sidak CXO Media program, to determine the role of the presenter in presenting the Sidak CXO Media program. The research method used by the researcher is a qualitative method with a case study approach. Researchers chose this method and approach because of further curiosity about CXO Media which acts as an alternative media for the community by collecting data and interviews. The results of this study indicate that what is done by CXO Media is an innovation in the world of journalism, especially in Indonesia. They combine the information that has been circulating in the mainstream media and reprocess it with comedy spices and present it well, which indirectly presents Sidak's content to present Comedy Journalism which is already popular abroad. The purpose of this content can also reflect the satisfaction of the media itself before disseminating information to the audience even though there is little need for income from this content. Therefore, seeing that the first thing you are after is the happiness of the creator, this content is no doubt so entertaining and still informative. Abstrak. Perkembangan zaman membuat semua orang mengkonsumsi media soasial, media sosial sendiri merupakan salah satu sarana media online yang bertujuan untuk mempermudah berpartisipasi, menyajikan,dan masih banyak yang lainnya. Youtube merupakan sebuah aplikasi berbasis online yang bertujuan untuk berbagi video. Kebanyakan konten di Youtube merupakan konten yang bersifat pribadi yang tujuan hanya untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-harinya. Fenomena penggunaan media sosial Youtube sudah menjadi ladang bisnis baru menyampaikan informasi layaknya program berita di sebuah stasiun televisi. Pemakaian yang semakin menjamur tersebut tentunya dimanfaatkan oleh perusahaan media dengan membuat akun Youtube untuk menyebarkan menjadi media online. CXO Media muncul menjadi salah satu media alternative pilihan untuk menyaring informasi yang masuk. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui program sidak di CXO Media sebagai media alternative yang membalut komedi di program siaran berita, untuk mengetahui pembawaan berita di program Sidak CXO Media, untuk mengetahui peran pembawa acara dalam membawakan program Sidak CXO Media. Metode penelitian yang dipakai peneliti iala metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti memilih metode dan pendekatan ini karena keingintahuan lebih jauh mengenai CXO Media yang berperan menjadi media alternative bagi masyarakat dengan cara pengumpulan data dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa yang dilakukan oleh CXO Media merupakan sebuah inovasi dalam dunia jurnalistik terutama di Indonesia. Mereka menggabungkan informasi yang sudah beredar di media mainstream dan kembali diolah dengan bumbu komedi dan membawakannya dengan baik yang secara tidak langsung konten Sidak mempresentasikan Jurnalisme Komedi yang sudah popular di luar negri. Tujuan konten ini juga dapat mencerminkan kepuasan si media itu sendiri sebelum menyebarkan informasi kepada khalaak walaupun adanya sedikit kebutuhanpemasukan dari konten ini. Maka dari itu melihat yang pertama kali kejar ialah kebahagiaan si pembuat tak ayal konten ini menjadi konten yang begitu menghibur dan tetap informatif. Kesimpulan dalam penelitian ini menujukan bahwa CXO Media mampu mengemaskan informasi yang formal menjadi tidak formal dalam konten Sidak juga dapat memanfaatkan platform baru untuk memberikan informasi yang dapat mengurangi penyebaran hoax.
Gaya Penulisan Media Ormas Islam Alif Gibran; Askurifai Baksin
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i1.5938

Abstract

Abstract. The media of Islamic organizations in Indonesia can now be said to be an online media that is needed by the community, especially those who are involved in these Islamic organizations. The presence of information that feels closer personally and geographically makes Islamic mass media media the community's choice of media when the need for valid information is difficult to find. Of the various types of Islamic media organizations in Indonesia, each has its own characteristics, ranging from the variety of websites they manage to different writing styles, one of which is the style of the environment. This research focuses on how the diversity of writing between NU Jabar and Persis media can be written so as to produce the finding that how a media can determine the language style / style of its environment which is so diverse, even though it is still in the same source or rule, namely Islam. The method used in this research is qualitative with a case study approach, and uses data collection techniques in the form of observations, interviews, and literature studies. The results of the research are 1) The writing format on the West Java and Persis NU media there are some basic differences, such as the difference in the font used where NU uses the Metropolis Semibold Family font, while Persis.or.id uses the Trebuchet MS font. In the West Java NU media, they set a standard number of words for each article, which is 300 words, while in Persis they are more flexible by not specifying a minimum number of words. 2) There are differences in the mention of religious figures in the NU Jabar and Persis media, NU Jabar uses the words H. (Haji) and KH. (Kyai Haji) for the designation of religious figures, while Persis mentions Ustad or Al-Ustad. There are also many differences regarding the mention of events, for example, the mention of the word Ramadan, Prayer, Pupils and so on. 3) Basically, the West Java and Persis NU media still refer to the KBBI in determining each word choice they use. However, both of them agreed that some differences in words or what is commonly called the selingkung style is a natural thing considering this is the hallmark of an organization which eventually becomes the hallmark of the media. Abstrak. Media ormas Islam di Indonesia saat ini bisa dibilang menjadi media online yang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama mereka yang berkecimpung di organisasi Islam tersebut. Hadirnya informasi yang terasa lebih dekat secara personal maupun geografis menjadikan media ormas Islam menjadi media pilihan masyarakat ketika kebutuhan akan informasi yang valid sulit ditemukan. Dari berbagai jenis organisasi media Islam di Indonesia, masing-masing memiliki ciri khasnya tersendiri, mulai dari keberagaman website yang mereka kelola hingga gaya penulisan yang berbeda-beda, salah satunya adalah gaya selingkungnya. Penelitian ini berfokus kepada bagaimana keberagaman penulisan antara media NU Jabar dan Persis dapat ditulis sehingga menghasilkan temuan bahwa bagaimana sebuah media bisa menentukan gaya bahasa/gaya selingkungnya yang begitu beragam, walaupun masih dalam sumber atau kaidah yang sama yaitu agama Islam. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus, serta menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi pustaka. Adapun hasil penelitiannya yaitu 1) Format penulisan pada media NU Jabar dan Persis terdapat beberapa perbedaan yang mendasar, seperti perbedaan font yang digunakan dimana NU menggunakan font MetropolisSemibold Family, sedangkan Persis.or.id menggunakan font Trebuchet MS. Pada media NU Jabar, mereka menetapkan standar jumlah kata tiap tulisan yaitu 300 kata, sedangkan pada media Persis mereka lebih fleksibel dengan tidak menentukan minimal jumlah kata. 2) Terdapat perbedaan penyebutan tokoh keagamaan pada media NU Jabar dan Persis, NU Jabar menggunakan kata H. (Haji) dan KH. (Kyai Haji) untuk sebutan tokoh keagamaan, sedangkan Persis menyebutkan Ustad atau Al-Ustad. Terdapat pula banyak perbedaan terkait penyebutan peristiwa contohnya seperti penyebutan kata Ramadhan, Sholat, Murid dan sebagainya. 3) Pada dasarnya, media NU Jabar dan Persis masih merujuk kepada KBBI dalam menentukan setiap pemilihan kata yang mereka gunakan. Namun keduanya bersepakat bahwa beberapa perbedaan kata atau yang biasa disebut gaya selingkung merupakan hal yang wajar mengingat hal ini merupakan ciri khas suatu organisasi yang akhirnya menjadi ciri khas pada media tersebut.
Gaya Penulisan Media Ormas Islam Alif Gibran; Askurifai Baksin
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 3, No. 1, Juli 2023 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v3i1.1758

Abstract

Abstract. The media of Islamic organizations in Indonesia can now be said to be an online media that is needed by the community, especially those who are involved in these Islamic organizations. The presence of information that feels closer personally and geographically makes Islamic mass media media the community's choice of media when the need for valid information is difficult to find. Of the various types of Islamic media organizations in Indonesia, each has its own characteristics, ranging from the variety of websites they manage to different writing styles, one of which is the style of the environment. This research focuses on how the diversity of writing between NU Jabar and Persis media can be written so as to produce the finding that how a media can determine the language style / style of its environment which is so diverse, even though it is still in the same source or rule, namely Islam. The method used in this research is qualitative with a case study approach, and uses data collection techniques in the form of observations, interviews, and literature studies. The results of the research are 1) The writing format on the West Java and Persis NU media there are some basic differences, such as the difference in the font used where NU uses the Metropolis Semibold Family font, while Persis.or.id uses the Trebuchet MS font. In the West Java NU media, they set a standard number of words for each article, which is 300 words, while in Persis they are more flexible by not specifying a minimum number of words. 2) There are differences in the mention of religious figures in the NU Jabar and Persis media, NU Jabar uses the words H. (Haji) and KH. (Kyai Haji) for the designation of religious figures, while Persis mentions Ustad or Al-Ustad. There are also many differences regarding the mention of events, for example, the mention of the word Ramadan, Prayer, Pupils and so on. 3) Basically, the West Java and Persis NU media still refer to the KBBI in determining each word choice they use. However, both of them agreed that some differences in words or what is commonly called the selingkung style is a natural thing considering this is the hallmark of an organization which eventually becomes the hallmark of the media. Abstrak. Media ormas Islam di Indonesia saat ini bisa dibilang menjadi media online yang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama mereka yang berkecimpung di organisasi Islam tersebut. Hadirnya informasi yang terasa lebih dekat secara personal maupun geografis menjadikan media ormas Islam menjadi media pilihan masyarakat ketika kebutuhan akan informasi yang valid sulit ditemukan. Dari berbagai jenis organisasi media Islam di Indonesia, masing-masing memiliki ciri khasnya tersendiri, mulai dari keberagaman website yang mereka kelola hingga gaya penulisan yang berbeda-beda, salah satunya adalah gaya selingkungnya. Penelitian ini berfokus kepada bagaimana keberagaman penulisan antara media NU Jabar dan Persis dapat ditulis sehingga menghasilkan temuan bahwa bagaimana sebuah media bisa menentukan gaya bahasa/gaya selingkungnya yang begitu beragam, walaupun masih dalam sumber atau kaidah yang sama yaitu agama Islam. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus, serta menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi pustaka. Adapun hasil penelitiannya yaitu 1) Format penulisan pada media NU Jabar dan Persis terdapat beberapa perbedaan yang mendasar, seperti perbedaan font yang digunakan dimana NU menggunakan font MetropolisSemibold Family, sedangkan Persis.or.id menggunakan font Trebuchet MS. Pada media NU Jabar, mereka menetapkan standar jumlah kata tiap tulisan yaitu 300 kata, sedangkan pada media Persis mereka lebih fleksibel dengan tidak menentukan minimal jumlah kata. 2) Terdapat perbedaan penyebutan tokoh keagamaan pada media NU Jabar dan Persis, NU Jabar menggunakan kata H. (Haji) dan KH. (Kyai Haji) untuk sebutan tokoh keagamaan, sedangkan Persis menyebutkan Ustad atau Al-Ustad. Terdapat pula banyak perbedaan terkait penyebutan peristiwa contohnya seperti penyebutan kata Ramadhan, Sholat, Murid dan sebagainya. 3) Pada dasarnya, media NU Jabar dan Persis masih merujuk kepada KBBI dalam menentukan setiap pemilihan kata yang mereka gunakan. Namun keduanya bersepakat bahwa beberapa perbedaan kata atau yang biasa disebut gaya selingkung merupakan hal yang wajar mengingat hal ini merupakan ciri khas suatu organisasi yang akhirnya menjadi ciri khas pada media tersebut.
Jurnalisme Data dalam Media Online Dimas Rachmatsyah; Askurifai Baksin
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i2.8329

Abstract

Abstract. Data journalism is becoming more up-to-date along with the flood of data on the internet which is often called big data, which triggers the development of tools for collecting and analyzing data. One of the media that provides in-depth news information and uses data journalism in it is Bandungbergerak.id. Media Bandungbergerak.id in their work focuses on data and in-depth reporting, with a focus on issues, one of which is education. This research focuses on data journalism activities on the online media Bandungbergerak.id in terms of making news that uses data on data analysis activities in general in relation to data journalism. Based on that, the writer is interested in researching Data Journalism in Online Media. This study uses a type of qualitative research with a case study approach modeled by Robert K. Yin. The results of the study found that Bandungbergerak.id in its data articles there is a comparison of data with scientific journals. Bandungbergerak.id in the process of making its news prioritizes marginalized issues. Abstrak. Jurnalisme data menjadi lebih mutakhir seiring dengan banjirnya data di internet yang kerap disebut big data, yang memicu perkembangan tools untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Salah satu media yang menyajikan informasi berita secara mendalam serta menggunakan jurnalisme data didalamnya yakni Bandungbergerak.id. Media Bandungbergerak.id dalam kerjanya berfokus pada data dan reportase mendalam, dengan fokus terhadap isu salah satunya pendidikan. Penelitian ini berfokus pada aktivitas jurnalisme data pada media online Bandungbergerak.id dari segi pembuatan berita yang menggunakan data pada kegiatan analisis data secara umum dalam kaitannya dengan jurnalisme data. Berlandasan dari itulah penulis tertarik meneliti mengenai Jurnalisme Data Dalam Media Online. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus model Robert K. Yin. Hasil penelitian menemukan bahwa Bandungbergerak.id dalam artikel datanya terdapat pembandingan data dengan jurnal ilmiah. Bandungbergerak.id dalam proses pembuatan beritanya mengedepankan isu-isu terpinggirkan.