Zainuddin Basri
Faculty Of Agriculture, Tadulako University, Indonesia, Indonesia

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : AGROTEKBIS

PERTUMBUHAN ANGGREK VANDA (vanda sp) PADA BERBAGAI KOMPOSISI MEDIA SECARA IN VITRO Rupawan, I Made; Basri, Zainuddin; Bustami, Mirni
AGROTEKBIS Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan anggrek pada kultur jaringan ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya komposisi media yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media yang sesuai bagi pertumbuhan anggrek vanda secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako yang berlangsung dari bulan April sampai Juni 2013.  Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan komposisi media yang dicobakan, yaitu media VW + 2 ppm giberelin + 250 mL air kelapa per liter media, Media MS + 2 ppm giberelin + 250 mL air kelapa per liter media, Media MS + 2 ppm giberelin, dan Media MS + 250 mL air kelapa per liter media. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis peragam.  Hasil analisis yang menunjukkan pengaruh nyata atau sangat nyata selanjutnya diuji dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur guna mengetahui perbedaan nilai rata-rata antar perlakuan yang dicobakan.  Hasil penelitian menunjukkan komposisi media VW yang ditambahkan 2 ppm giberelin dan 250 mL air kelapa per liter media lebih sesuai bagi pertumbuhan anggrek bulan. Rata-rata tinggi planlet, jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar anggrek bulan yang tumbuh pada komposisi media tersebut masing-masing 1,82 cm, 2,55 tunas, 2,00 helai daun dan 2,25 helai akar per planlet.
PERTUMBUHAN TANAMAN BUAH NAGA MERAH (Hylocerus polyrhizus) PADA BERBAGAI KONSENTRASI BENZILAMINO PURINE DAN UMUR KECAMBAH SECARA IN VITRO Wahyuni, Fadlia; Basri, Zainuddin; Bustami, Mirni Ulfa
AGROTEKBIS Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dragon fruit plants at beginning used as an ornamental plant because of its unique figure, exotic, as well as flowers and fruit look very beutiful. However, constrain encountered in the development of these plants is the availability of seedlingin large numbers with shorten time. To solve this problem, it can be done through tissue culture. This research was conducted at the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture, University of Tadulako Palu, from August to October 2012. The purpose of this study was to determine the growth of dragon fruit plants at various ages germination and BAP concentrations in vitro. This study used a design Plots Separated ( RPT ) with treatment in the main plot was the age of germination 3, 4, 5 week after trasplanting, while the subplot treatment was the concentration of BAP: 1, 2, 3 ppm. Therefore, there are 9 combinations of treatment and repeated four times, so there are 36 experimental units. Each unit used three explants, so there are 108 explants were used. The results showed that germination ageeffectsignificant on plant height and number of shoots, while the concentration of BAP significantly effect on the number of shoots and number of roots. Media added with 2 ppm BAP (B2) average plant height 3.37, number of shoots 4.08per explant respectively, and media added with 1 ppm BAP (B1) Average number of roots per explant was  0.53.
AKLIMATISASI BIBIT TANAMAN BUAH NAGA (Hylocereus undatus) PADA TINGKAT NAUNGAN BERBEDA Basri, Hasan; Basri, Zainuddin; Syakur, Abd
AGROTEKBIS Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of shade level on the growth of plantlets dragon fruit . This study used a completely randomized design (CRD), which consists of three treatment that is shaded by 1 (N1), 2 (N2) and 3 (N3) waring layer. Each treatment was repeated three times so there are 9 units of the experiment. Each experimental unit consisted of 10 plants.  Therfore, there are a total of 90 samples of plants were observed. The results showed that the 2, 4, 6 and 8 week after planting, waring with two layers of shade treatment (N2) shown a good value for all the observations such as number of shoots, plant height and stem diameter compared to waringwith one layer of shade (N1) and 3 layer (N3).
STERILISASI DAN INDUKSI KALUS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) LOKAL PALU SECARA IN VITRO P Armila, Ni Kadek; Bustami, Mirni Ulfa; Basri, Zainuddin
AGROTEKBIS Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sterilisasi eksplan merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan kultur jaringan, guna mengeliminir berbagai sumber kontaminan yang terbawa pada eksplan, termasuk untuk induksi kalus.  Salah satu zat pengatur tumbuh yang digunakan untuk induksi kalus adalah 2,4-D(2,4-Dichlorophenoxyacetic acid).  Penelitian dilakukan dalam dua tahap.Percobaan sterilisasi eksplan bertujuan untuk mengetahui bahan sterilan yang lebih baik untuk sterilisasi eksplan umbi bawang merah lokal Palu.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan berbagai bahan kimia sterilan yaitu deterjen, fungisida, cloroxs, tween 80, bakterisida dengan atau tanpa pembakaran(perlakuan fisik) dengan 4 ulangan.Tahap induksi kalus bertujuan untuk menentukan konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-D yang baik dalam menginduksi kalus dari eksplan bawang merah lokal Palu.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan berbagai konsentrasi 2,4-D yaitu M1 = 1,0 ppm, M2 = 1,5 ppm, M3 = 2,0 ppm dan M4 = 2,5 ppm, yang diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan sterilan 1g bakterisida, 1g fungisida, 10% cloroxs dan 5% cloroxs disertai pembakaranmampu menekan kontaminan yang lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain.  Penggunaan media yang ditambahkan 2 ppm 2,4-D menghasilkan induksi kalusbawang merah lokal Palu yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain.  Penggunaan media tersebut mempercepat pembentukan kalus (25,66 hari setelah kultur) dengan persentase pembentukan kalus mencapai 91,67%.