Rofik Sinung Basuki
Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analisis Tingkat Preferensi Petani Brebes terhadap Karakterisitik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal Asal Dataran Medium dan Tinggi Basuki, rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varietas lokal bawang merah asal dataran medium dan tinggi potensial ditanam di dataran rendah Brebessebagai usaha untuk mengurangi penggunaan varietas impor. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi varietaslokal asal dataran medium dan tinggi yang adaptif dan disukai petani dibanding varietas impor di sentra produksi diKabupaten Brebes. Penelitian di lakukan di Desa Kemukten, Kabupaten Brebes pada bulan Juli-September 2006.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian partisipatif yang didukung dengan percobaan lapangan. Percobaanlapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Delapan perlakuan yang diteliti adalah 3 varietaslokal dataran medium (200-700 m dpl.), 2 varietas dataran tinggi (>700 m dpl.), 2 varietas impor, serta 1 varietas lokaldataran rendah (0-200 m dpl.) sebagai pembanding. Plot percobaan lapangan digunakan untuk mengetahui daya hasilvarietas yang diuji dan sebagai petak observasi bagi 30 petani partisipan dalam menentukan tingkat preferensi darivarietas yang diuji. Data penelitian partisipatif dikumpulkan dari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioneryang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasi pada plot percobaan lapangan. Data petani berupa skortingkat preferensi (TP) petani terhadap atribut karakteristik daya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi,warna umbi, dan aroma dari 8 varietas yang diteliti dan dianalisis menggunakan metode perceived quality. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa dari 5 varietas lokal dataran medium dan tinggi yang diuji, varietas Menteng Kupadan Maja adalah yang paling disukai petani. Walaupun secara agronomis tingkat hasil dan ukuran umbi varietas imporlebih unggul dibanding varietas Menteng Kupa dan Maja, namun nilai TP total petani terhadap varietas lokal MentengKupa, Maja, dan Bima Curut lebih tinggi 16-21% dibanding TP total petani terhadap varietas impor Tanduyung danIlokos. Hal ini terjadi karena total karakteristik Menteng Kupa dan Maja dalam hal daya hasil, jumlah anakan, bentukumbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aroma lebih disukai petani dibanding total karakteristik yang dimiliki keduavarietas impor tersebut. Varietas Menteng Kupa dan Maja merupakan varietas yang sesuai digunakan di Brebessebagai alternatif dari penggunaan varietas impor.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Farmers Preference in Brebes to the Yield and Quality Characteristicsof Local Variety Shallots from Medium and High Altitude. Local variety shallots from medium and high altitude ispotential to be planted at lowland area of Brebes as an alternatif in reducing the use of imported varieties. The objectiveof this research was to identify local variety of shallots from medium and high altitude which adaptable and morepreferred by farmers in Brebes than that of imported variety. Research was conducted in Kemukten Village, BrebesDistrict from July to September 2006. The approach of research was farmer participatory research supported by fieldtrial plot. The field trial design used was RCBD, with 8 treatments and 3 replications. The treatments were 8 varietiesof shallots consist of 3 local varieties of shallots from medium altitude (200-700 m asl.), 2 local varieties from highaltitude (>700 m asl.), 2 imported varieties, and 1 local variety from lowland (0-200 m asl.) as control. The field trialplot was used to measure the adaptability of the varieties tested and as an observation plot for 30 farmers partisipants.Data from farmer participatory research were collected from farmer’s written answers on the questionnaire distributedby researchers. Farmer’s data were the level of preference (LP) of farmers to the characteristics of yield, number ofsprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and aroma of 8 shallots varieties tested in the field trial. The data was analyzedusing perceived quality methods. The results showed that local varieties from medium altitude namely Menteng Kupaand Maja were the most preferred by farmers. Agronomically, the yield of imported varieties were higher, and the bulbwere bigger than that of Menteng Kupa and Maja, despite of that the farmer’s level of preference on Menteng Kupaand Maja were 16-21% higher than that of the imported varieties of Tanduyung and Ilokos. The reason was that thetotal characteristics of Menteng Kupa and Maja in terms of yield, number of shoots, bulb shape, bulb size, bulb color,and aroma was preferred by farmers more than that of the total characteristics of imported varieties. Local varietiesMenteng Kupa and Maja were suitable varieties to be used in Brebes as an alternative of imported varieties.
Analisis Daya Hasil, Mutu, dan Respons Pengguna terhadap Klon 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, dan MF-II Sebagai Bahan Baku Keripik Kentang Basuki, Rofik Sinung; Kusmana, -; Dimyati, Ahmad
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mendapatkan klon kentang olahan yang cocok sebagai bahan baku keripik yang dapat diterima oleh industri sekaligus disukai petani dan konsumen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan empat ulangan 30 tanaman per plot. Waktu penelitian tahun 2001-2003. Penelitian partisipatif dilakukan bersama petani, pemasok, agroindustri, dan industri rumah tangga serta dilakukan juga penelitian partisipatif preferensi konsumen. Jumlah klon yang diuji pada penelitian partisipatif sebanyak 12 klon kentang olahan baru ditambah tiga varietas pembanding. Penelitian partisipatif dilakukan di Pangalengan (Jawa Barat), Banjarnegara (Jawa Tengah), dan Tosari Bromo (Jawa Timur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, dan MF-II dikategorikan tahan terhadap serangan penyakit busuk daun dan nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.). Hasil yang dicapai pada 10 lokasi penelitian adalah klon 380584.3 (33,5 t/ha), TS-2 (22,4 t/ha), FBA-4 (28,1 t/ha), I-1085 (25,3 t/ha), dan MF-II (30,1 t/ha). Berdasarkan penerimaan pengguna, klon FBA-4, TS-2, dan MF-II cocok sebagai bahan baku industri besar keripik, sedang klon 380584.3 dan I-1085 cocok untuk industri kecil dan menengah.Analysis of yield potency, quality, and user acceptance of potato clones 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, and MF-II as raw material for chips. The aim of the research is to obtain potato clones as raw material for chips which preferred by agroindustry, farmers and consumers. Statistical used was RCBD with four replications. A plot consisted of 30 plants. The multy location trials started from 2001 until 2003. Participatory research done with farmers, supplier, agroindustry, homeindustry, and consumers preferences. Number clones tested in participatory plot were 15 clones including three varieties check. Participatory plot were carried out at Pangalengan (West Java), Banjarnegara (Central Java), and Tosari, Bromo (East Java). The results showed that clones 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, and MF-II were tolerant to late blight and root knot nematodes (Meloidogyne spp.). Tuber yield obtained for clones 380584.3 (33.5 t/ha), TS-2 (22.4 t/ha), FBA-4 (28.1 t/ha), I-1085 (25.3 t/ha), and MF-II (30.1 t/ha). According to the user, clones TS-2, MF- II, and FBA-4 were suitable as raw material for chip industry, whereas clones 380584.3 and I-1085 were selected by small industry.
Evaluasi Daya Hasil 7 Genotip Kentang pada Lahan Kering Bekas Sawah Dataran Tinggi Ciwidey Basuki, Rofik Sinung; Kusmana, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waktu penelitian mulai bulan April sampai dengan Agustus 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan ulangan 4 kali, jumlah genotip yang diuji sebanyak 7 genotip kentang hasil introduksi dari CIP termasuk varietas pembanding. Setiap plot percobaan ditanami 30 tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan 1 atau lebih genotip kentang yang bisa ditanam pada lahan sawah dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip yang mempunyai potensi hasil tinggi pada lahan sawah Ciwidey adalah 380584.3 (43,3 t/ha), Atlantik (37,6 t/ha), dan Panda (36,5 t/ha) yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding Granola (27,6 t/ha).Tuber yield evaluation of 7 potato genotypes on dry land after irrigated rice field of highland Ciwidey. The experiment was conducted in April until August 2002. The experimental design was RCBD with 4 replications. An experimental unit consisted of a 30 hills plot. The objective of the research was to select one or more potato genotypes adapted to rice field of highland. The results indicated that the highest yield were obtained from clones 380584.3 (43.3 t/ha), Atlantic (37.6 t/ha), and Panda (36.5 t/ha) which were significantly higher than Granola (27.6 t/ha) as control.
Produksi dan Mutu Umbi Klon Kentang dan Kesesuaiannya sebagai Bahan Baku Kentang Gor eng dan Keripik Kentang Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan No vem ber 2002 di Pangalengan dengan ketinggiantempat 1.300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi dan mutu serta mendapatkan klon yangcocok sebagai bahan baku keripik dan kentang gor eng. Klon dan varietas yang diuji sebanyak 16, terdiri dari 13 klonyang berasal dari CIP dan tiga varietas pembanding. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tigaulangan, masing-masing unit penelitian terdiri dari 20 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa klonmerbabu-17 diikuti klon 380584.3, AGB 69.1, dan MF-II menampilkan hasil tinggi masing-masing 57,9; 44,4; 41;8;dan 41,1 t/ha yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding atlantik (28,5 t/ha) dan panda (25,2 t/ha). Untukproporsi umbi konsumsi tertinggi adalah klon I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%), dan TS-2 (83%) yang nyata lebih tinggidaripada varietas atlantik (60%) dan panda (64%). Spe cific grav ity tertinggi adalah klon TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084),378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), atlantik (1.080), dan MF-II (1.072). Klon terbaik untuk industrikeripik adalah TS-2 dan MF-II sementara untuk kentang gor eng adalah TS-2 dan I-1085. Dampak dari penelitian inimemberikan informasi mengenai klon prosesing harapan untuk diusulkan dilepas sebagai varietas baru.Kata kunci : Klon kentang; Umbi bibit; Produksi; Mutu umbi; Kentang olahanAB STRACT. Kusmana and R.S. Basuki, 2004. Yield and qual ity of po tato clones tu bers and meets as raw ma -te rial for chips and french fries. The ex per i ment was con ducted at Pangalengan at el e va tion of 1,300 m asl. Ob jec -tives of the re search were to ob tain promissing clones for raw ma te rial of chips and french fries. Plant ing was done onAu gust and har vest was on No vem ber 2002. The ex per i men tal de sign was ran dom ized com plete block de sign withthree rep li ca tions. Num bers of plant per plot were 20 hills. Num ber of clones tested were 16 in cluded 3 con trol va ri -et ies. The re sults proved that the high yield ing clones were ob tained from clones merbabu-17 (57.9) fol lowed by380584.3 (44.4), AGB 69.1 (41.8) and MF-II (41.1) t/ha and sig nif i cantly dif fer ent from con trol va ri et ies of at lan tic(28.5) and panda (25.2) t/ha. The high est mar ket able yield were ob tained from clones I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%),and TS-2 (83%) sig nif i cantly dif fer ent to at lan tic (60%) and panda (64%). The high of spe cific grav ity were ob tainedfrom clones TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084), 378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), at lan tic (1.080), andMF-II (1.072) . The best clones for chip were TS-2 and MF-II. Whereas, the best clones for french fries were TS-2 andI-1085. The im pact of the reserch was pro vide in for ma tion about ad vanced proscessing clones to sub mit for re leas ingthe va ri et ies.
Status Resistensi Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah Asal Kabupaten Cirebon, Brebes, dan Tegal terhadap Insektisida yang Umum Digunakan Petani di Daerah Tersebut Moekasan, Tonny Koetani; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian terdiri atas survai dan penelitian laboratorium. Tujuan survai adalah untuk mengetahui perilaku petani dalam menggunakan insektisida untuk mengendalikan ulat bawang dan penelitian di laboratorium bertujuan mengetahui status resistensi ulat bawang terhadap insektisida yang umum digunakan oleh petani. Survai dilakukan terhadap 60 orang petani di Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), dan Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) pada bulan Juni sampai dengan Juli 2005. Penelitian di laboratorium dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2005. Pengujian menggunakan metode pencelupan potongan daun bawang terhadap larva S. exigua instar ke-2 dan atau ke-3 asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal). Penghitungan nilai LC50 tiap jenis insektisida yang diuji dilakukan menggunakan program komputer analisis Probit. Hasil survai menunjukkan bahwa insektisida yang umum digunakan petani untuk mengendalikan ulat bawang adalah spinosad, klorpirifos, triazofos, metomil, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikarb, dan abamektin. Petani umumnya mencampur 2-5 jenis insektisida dan melakukan penyemprotan 2-3 kali per minggu. Konsentrasi formulasi insektisida yang digunakan pada umumnya di bawah konsentrasi formulasi anjuran, tetapi volume semprot yang digunakan sesuai dengan yang direkomendasikan. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan terdapat perbedaan kerentanan S. exigua, bergantung pada asal (strain) ulat bawang yang diuji. Ulat bawang asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon) terindikasi resisten terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, triazofos, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikab, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes) terindikasi resisten terhadap insektisida klorpirifos dan betasiflutrin, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Wanasari terindikasi resisten terhadap insektisida siromazin, karbosulfan, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) terindikasi resisten terhadap insektisida karbosulfan dan tiodikarb, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi terindikasi resisten pula terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, dan siromazin.ABSTRACT. Moekasan, T.K. and R. S. Basuki. 2007. Resistance Status of Spodoptera exigua Hubn. on Shallot from Cirebon, Brebes, and Tegal District to Several Insecticide Commonly Used by Farmers. The research consisted of survey and laboratory study. The aim of the survey was to identify farmers behaviour on using insecticide on shallot. While the laboratory study was aimed to find out the resistance status of pest toward pesticides commonly used by farmers. The survey conducted from June until July 2005, at Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). Number of respondents was 60 farmers. The purpose of the laboratory study was to determine the resistance status of S. exigua larvae to several insecticides commonly used by farmers at those locations. The laboratory study conducted from July until December 2005. The leaf-dip bioassay used on second and third instar of S. exigua larvae from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), and Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). The data was analyzed using Probit analyze programme. Results of the survey showed that farmers used spinosad, chlorpyriphos, triazophos, methomyl, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin to control S. exigua Hubn. Usually farmers mix 2-5 insecticides and spray 2-3 times per week. Concentration of formulation used were under the recommendation, but the spraying volume based on the recommendation. Results of laboratory study showed that S. exigua larvae taken from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon Districts) were resistant to spinosad, chlorpyriphos, triazophos, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin. Beet armyworm larvae taken from Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes Districts) were resistant to chlorpyriphos and betasifluthrin, and larvae from Wanasari were also resistant to cyromazine, carbosulfan and abamectin. The larvae taken from Dukuhturi and Margadana Subdistrict (Tegal District) were resistant to carbosulfan and tiodicarb, and the larvae from Dukuhturi Subdistrict (Tegal District) were also resistant to spinosad, chlorpyriphos, and cyromazine.
Produksi dan Mutu Umbi Klon Kentang dan Kesesuaiannya sebagai Bahan Baku Kentang Gor eng dan Keripik Kentang Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p246-252

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan No vem ber 2002 di Pangalengan dengan ketinggiantempat 1.300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi dan mutu serta mendapatkan klon yangcocok sebagai bahan baku keripik dan kentang gor eng. Klon dan varietas yang diuji sebanyak 16, terdiri dari 13 klonyang berasal dari CIP dan tiga varietas pembanding. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tigaulangan, masing-masing unit penelitian terdiri dari 20 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa klonmerbabu-17 diikuti klon 380584.3, AGB 69.1, dan MF-II menampilkan hasil tinggi masing-masing 57,9; 44,4; 41;8;dan 41,1 t/ha yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding atlantik (28,5 t/ha) dan panda (25,2 t/ha). Untukproporsi umbi konsumsi tertinggi adalah klon I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%), dan TS-2 (83%) yang nyata lebih tinggidaripada varietas atlantik (60%) dan panda (64%). Spe cific grav ity tertinggi adalah klon TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084),378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), atlantik (1.080), dan MF-II (1.072). Klon terbaik untuk industrikeripik adalah TS-2 dan MF-II sementara untuk kentang gor eng adalah TS-2 dan I-1085. Dampak dari penelitian inimemberikan informasi mengenai klon prosesing harapan untuk diusulkan dilepas sebagai varietas baru.Kata kunci : Klon kentang; Umbi bibit; Produksi; Mutu umbi; Kentang olahanAB STRACT. Kusmana and R.S. Basuki, 2004. Yield and qual ity of po tato clones tu bers and meets as raw ma -te rial for chips and french fries. The ex per i ment was con ducted at Pangalengan at el e va tion of 1,300 m asl. Ob jec -tives of the re search were to ob tain promissing clones for raw ma te rial of chips and french fries. Plant ing was done onAu gust and har vest was on No vem ber 2002. The ex per i men tal de sign was ran dom ized com plete block de sign withthree rep li ca tions. Num bers of plant per plot were 20 hills. Num ber of clones tested were 16 in cluded 3 con trol va ri -et ies. The re sults proved that the high yield ing clones were ob tained from clones merbabu-17 (57.9) fol lowed by380584.3 (44.4), AGB 69.1 (41.8) and MF-II (41.1) t/ha and sig nif i cantly dif fer ent from con trol va ri et ies of at lan tic(28.5) and panda (25.2) t/ha. The high est mar ket able yield were ob tained from clones I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%),and TS-2 (83%) sig nif i cantly dif fer ent to at lan tic (60%) and panda (64%). The high of spe cific grav ity were ob tainedfrom clones TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084), 378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), at lan tic (1.080), andMF-II (1.072) . The best clones for chip were TS-2 and MF-II. Whereas, the best clones for french fries were TS-2 andI-1085. The im pact of the reserch was pro vide in for ma tion about ad vanced proscessing clones to sub mit for re leas ingthe va ri et ies.
Analisis Tingkat Preferensi Petani Brebes terhadap Karakterisitik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal Asal Dataran Medium dan Tinggi Basuki, rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Varietas lokal bawang merah asal dataran medium dan tinggi potensial ditanam di dataran rendah Brebessebagai usaha untuk mengurangi penggunaan varietas impor. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi varietaslokal asal dataran medium dan tinggi yang adaptif dan disukai petani dibanding varietas impor di sentra produksi diKabupaten Brebes. Penelitian di lakukan di Desa Kemukten, Kabupaten Brebes pada bulan Juli-September 2006.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian partisipatif yang didukung dengan percobaan lapangan. Percobaanlapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Delapan perlakuan yang diteliti adalah 3 varietaslokal dataran medium (200-700 m dpl.), 2 varietas dataran tinggi (>700 m dpl.), 2 varietas impor, serta 1 varietas lokaldataran rendah (0-200 m dpl.) sebagai pembanding. Plot percobaan lapangan digunakan untuk mengetahui daya hasilvarietas yang diuji dan sebagai petak observasi bagi 30 petani partisipan dalam menentukan tingkat preferensi darivarietas yang diuji. Data penelitian partisipatif dikumpulkan dari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioneryang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasi pada plot percobaan lapangan. Data petani berupa skortingkat preferensi (TP) petani terhadap atribut karakteristik daya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi,warna umbi, dan aroma dari 8 varietas yang diteliti dan dianalisis menggunakan metode perceived quality. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa dari 5 varietas lokal dataran medium dan tinggi yang diuji, varietas Menteng Kupadan Maja adalah yang paling disukai petani. Walaupun secara agronomis tingkat hasil dan ukuran umbi varietas imporlebih unggul dibanding varietas Menteng Kupa dan Maja, namun nilai TP total petani terhadap varietas lokal MentengKupa, Maja, dan Bima Curut lebih tinggi 16-21% dibanding TP total petani terhadap varietas impor Tanduyung danIlokos. Hal ini terjadi karena total karakteristik Menteng Kupa dan Maja dalam hal daya hasil, jumlah anakan, bentukumbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aroma lebih disukai petani dibanding total karakteristik yang dimiliki keduavarietas impor tersebut. Varietas Menteng Kupa dan Maja merupakan varietas yang sesuai digunakan di Brebessebagai alternatif dari penggunaan varietas impor.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Farmers Preference in Brebes to the Yield and Quality Characteristicsof Local Variety Shallots from Medium and High Altitude. Local variety shallots from medium and high altitude ispotential to be planted at lowland area of Brebes as an alternatif in reducing the use of imported varieties. The objectiveof this research was to identify local variety of shallots from medium and high altitude which adaptable and morepreferred by farmers in Brebes than that of imported variety. Research was conducted in Kemukten Village, BrebesDistrict from July to September 2006. The approach of research was farmer participatory research supported by fieldtrial plot. The field trial design used was RCBD, with 8 treatments and 3 replications. The treatments were 8 varietiesof shallots consist of 3 local varieties of shallots from medium altitude (200-700 m asl.), 2 local varieties from highaltitude (>700 m asl.), 2 imported varieties, and 1 local variety from lowland (0-200 m asl.) as control. The field trialplot was used to measure the adaptability of the varieties tested and as an observation plot for 30 farmers partisipants.Data from farmer participatory research were collected from farmer’s written answers on the questionnaire distributedby researchers. Farmer’s data were the level of preference (LP) of farmers to the characteristics of yield, number ofsprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and aroma of 8 shallots varieties tested in the field trial. The data was analyzedusing perceived quality methods. The results showed that local varieties from medium altitude namely Menteng Kupaand Maja were the most preferred by farmers. Agronomically, the yield of imported varieties were higher, and the bulbwere bigger than that of Menteng Kupa and Maja, despite of that the farmer’s level of preference on Menteng Kupaand Maja were 16-21% higher than that of the imported varieties of Tanduyung and Ilokos. The reason was that thetotal characteristics of Menteng Kupa and Maja in terms of yield, number of shoots, bulb shape, bulb size, bulb color,and aroma was preferred by farmers more than that of the total characteristics of imported varieties. Local varietiesMenteng Kupa and Maja were suitable varieties to be used in Brebes as an alternative of imported varieties.
Agronomic responses of four garlic genotypes in two different locations Aswani, Nazly; Azmi, Chotimatul; Cartika, Ika; Basuki, Rofik Sinung; Harmanto
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 51 No. 1 (2023): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.546 KB) | DOI: 10.24831/ija.v51i1.45161

Abstract

Mengevaluasi pertumbuhan dan produksi varietas di lokasi yang berbeda dapat menjelaskan potensinya untuk beradaptasi secara luas. Varietas yang sama seringkali memiliki performa yang lebih baik di lingkungan tertentu atau bahkan di beberapa lingkungan dan sebaliknya. Penelitian ini mengevaluasi empat varietas bawang putih di dua lokasi dataran tinggi. Varietas yang diuji meliputi Lumbu Putih, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Tawangmangu Baru. Varietas-varietas ini ditanam di Lembang, Jawa Barat (1.250 m dpl) dan Ciwidey, Jawa Barat (1.200 m dpl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang signifikan antara varietas dan lokasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang semu, bobot segar, bobot kering, dan diameter umbi kering. Lumbu Kuning menghasilkan rata-rata bobot segar tertinggi per sampel dengan perbedaan yang cukup besar di kedua lokasi (Lembang: 52,01 g, Ciwidey: 31,87 g). Varietas ini juga memiliki bobot kering tertinggi 24,65 g ketika ditanam di Lembang. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Lembang memberikan kondisi yang lebih baik untuk pertumbuhan dan hasil dari ketiga varietas kecuali Lumbu Hijau.