Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pembentukan TRADOC dan Pelajaran dari Perang Vietnam, 1973-1977 Muhammad Ammar Zuhdi; Agus Setiawan
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 3 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.09 KB) | DOI: 10.31004/jpdk.v4i3.4901

Abstract

Menjelang berakhirnya peperangan di Vietnam pada tahun 1973, telah muncul berbagai masalah dalam tubuh Angkatan Darat Amerika Serikat. Kasus yang berkaitan dengan kedisiplinan seperti penggunaan obat-obatan terlarang serta jeleknya kerjasama antar pasukan terjadi dan melemahkan kekuatan AD. Penulisan ini berfokus kepada terbentuknya sebuah pusat pendidikan dan latihan yang dinamakan dengan Pusat pelatihan dan doktrin AD AS atau US Army Training and Doctrine Command. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah mengenai perubahan yang terdapat dalam panduan penting yang menjadi bagian dari operasi militer AS selama ini yaitu panduan FM 100-5. Tujuan penelitian adalah menjelaskan mengenai korelasi antara terbentuknya suatu komando baru dalam tubuh AD AS dan proses perubahan dalam panduan FM 100-5. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah institusional, secara spesifik institusi militer. Pembentukan ini tidak lepas dari upaya Angkatan Darat untuk melaksanakan program STEADFAST yaitu sebuah inisiatif yang bertujuan untuk melakukan reorganisasi terhadap program pelatihan AD AS secara keseluruhan. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa dengan dibentuknya sebuah komando pelatihan baru dalam tubuh AD AS, mampu menghilangkan kerumitan dalam koordinasi pelatihan yang telah diadakan sebelum perang Vietnam serta membangun kembali jaringan pelatihan yang ada. Dengan adanya perubahan dalam panduan FM 100-5, proses perubahan telah dimulai dan menjadi pelajaran penting bagi AD AS dalam menghadapi peperangan berikutnya.
KEMAMPUAN REMAJA MENGGUNAKAN STRATEGI KOPING DALAM LINGKUNGAN YANG BERISIKO TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH Sinthia Rosanti Maelissa; Agus Setiawan; Widyatuti Widyatuti
GLOBAL HEALTH SCIENCE Vol 3, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Communication and Social Dinamics (CSD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.108 KB) | DOI: 10.33846/ghs.v3i1.241

Abstract

Lingkungan remaja saat ini semakin menawarkan banyak pilihan. Gaya berpacaran yang membuka peluang untuk terjadinya perilaku seksual pranikah dikalangan remaja seakan menjadi tawaran yang menarik terlebih untuk remaja yang tinggal di kost. Tinggal di kost tanpa pengawasan langsung dari orang tua dan pemilik kost membuat remaja bebas melakukan perilaku seksual pranikah dengan pacar di kost, sehingga menjadikan kost-kostan sebagai lingkungan yang berisiko bagi remaja lainnya. Remaja yang memilih untuk tidak terpengaruh memiliki strategi koping untuk tetap bertahan dalam lingkungan yang berisiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan secara mendalam tentang strategi koping yang digunakan remaja ketika tinggal dalam lingkungan berisiko. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu lingkungan tempat tinggal remaja berisiko terjadi perilaku seksual pranikah dikarenakan tinggal di kost tanpa pengawasan, aturan kost tidak terkontrol dan sikap masyarakat yang kurang peduli namun remaja mampu menggunakan strategi koping dengan membuat batasan pacaran, memiliki prinsip, menolak ajakan teman dan melakukan kegiatan diwaktu luang. Kemampuan partisipan menggunakan strategi koping didukung oleh keluarga yang selalu melakukan pengontrolan, memberi nasehat dan menekankan pada aturan yang menjadi norma bagi partisipan. Hasil penelitian merekomendasikan perawat komunitas dapat meningkatkan koping remaja melalui program-program kesehatan remaja di masyarakat, salah satunya layanan UKS di sekolah dan PKPR untuk remaja yang tinggal di kost. Kata kunci: Remaja, Strategi koping, Perilaku seksual pranikah
Evidence-based Practice and Information and Communication Technology: Stakeholders’ Insights Melati Fajarini; Sri Rahayu; Agus Setiawan
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol 15, No 2 (2022): July 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v15i2.17727

Abstract

Stakeholders’ role to support evidence-based practice (EBP) and enhancing the use of information and communication technology (ICT) for EBP is essential. However, how EBP is supported and how ICT is utilized in health care providers is unknown. Aim: This study aims to explore stakeholders’ insights regarding the implementation of EBP and the use of ICT. A qualitative study with semi-structured face-to-face interview was used to obtain the aim. Using purposive sampling, eleven management representatives from public and private hospitals, clinics, and health office in Depok city, Indonesia were asked about EBP and ICT. Data were recorded, transcribed, and analyzed thematically. Five themes emerged from this study. EBP services availability and accessibility showed ICT sources were adequate, but still need improvement in the library and Education and Training Department (ETD); Healthcare workforce represented doctors and nurses who hardly generate research although permitted by the stakeholders; Health information system such as clinical cases forums in hospitals was established, but current evidence was rarely discussed; Funding for research and training related to EBP were not allocated; Leadership and governance showed there were limited policies on EBP and clinical instructors available in hospitals but generally work on supporting training and student practices. Although EBP implementation needs improvement, the stakeholders in this study mostly support EBP and enable ICT for EBP purposes. Advocacy on policy and resource arrangements is urged to support information initiatives.
APPLICATION OF BLOCKCHAIN AND SMART-CONTRACT ON WAQF ASSET MANAGEMENT: IS IT NECESSARY? Agus Setiawan; Mohamad Soleh Nurzaman
EL DINAR: Jurnal Keuangan dan Perbankan Syariah Vol 10, No 2 (2022): El Dinar
Publisher : Faculty of Economics Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ed.v10i2.15529

Abstract

Waqf assets are assets that can be utilized for the benefit of the people. Currently, there are many waqf asset management using internet-based Waqf Information Systems. However, the database used by the system is generally centralized, so it is prone to data manipulation. Each waqf entity has its data, causing data differences between waqf entities. This study aims to provide the concept of waqf asset management using Blockchain technology and Smart Contracts. The method is a qualitative analysis method with secondary data from various kinds of literature, study journals, and reports published by the government and related agencies. This study concludes that the concept of waqf asset management based on Blockchain technology and Smart contracts can facilitate the management of waqf assets, both movable and immovable assets. In addition, it can increase data transparency between nadzhir, wakif, and waqf regulators and minimize data manipulation. The role of regulators such as the Ministry of Religion, BWI, and BI is needed to create regulations that support the implementation of waqf management based on Blockchain technology and Smart Contract.
Factors Related to Doctors’ and Nurses’ Perceptions of Evidence-Based Practice and Healthcare Information Access Through Information and Communications Technology Melati Fajarini; Sri Rahayu; Ebaa M Felemban; Agus Setiawan
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 24 No 1 (2021): March
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v24i1.1086

Abstract

Evidence-based practice (EBP) that is supported by the availability of the best literature can improve the quality of health services. Information and communication technology (ICT) usage may provide the evidence in timely-manner. However, literature on the factors related to EBP and ICT of doctors and nurses in Indonesia is scant. This study aimed to describe the factors related to the doctors’ and nurses’ EBP perception and ICT. This survey was conducted in November 2017–January 2018 at one general hospital, five private hospitals, eleven public health centers, and five private clinics. A total of 85 doctors and 271 nurses selected by proportional probability sampling were given online questionnaires. Each questionnaire consisted of 12 items about access to information and 24 items about perception of EBP adopted from the evidence-based practice questionnaire Upton & Upton. Pearson correlation, independent t-test analysis, and one-way ANOVA results found education and role were related to the doctors’ EBP. Education, role, age, and experience were related to the doctors’ ICT. There was a relationship between age and education with the nurses EBP. These two factors and working experience were related to the nurses’ ICT. EBP intervention through ICT may take into account the nature of experienced senior doctors and young inexperience nurses with higher education in the ICT platform. Advocacy is needed to increase the use of ICTs for EBP and professional development. Further research related to the need of knowledge translation through ICT should be conducted. Abstrak Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Dokter dan Perawat terhadap Praktik Klinis Berbasis Bukti dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Praktik klinis berbasis bukti (PKBB) yang ditunjang dengan ketersediaan literatur terbaik dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menyediakan bukti ilmiah dalam waktu yang singkat. Namun, literature tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan PKBB dan TIK dokter dan perawat di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi PKBB dan TIK dokter dan perawat. Survei ini dilaksanakan pada November 2017–Januari 2018 di satu rumah sakit umum, lima rumah sakit swasta, sebelas puskesmas, dan lima klinik swasta. Sebanyak 85 dokter dan 271 perawat yang dipilih dengan sampel proportional probability diberikan kuesioner daring. Kuesioner terdiri dari 12 pertanyaan tentang akses informasi dan 24 pernyataan tentang persepsi PKBB yang diadopsi dari evidence-based practice questionnaire Upton & Upton. Hasil analisis Pearson correlation, independent T- test dan one-way ANOVA menemukan hubungan antara pendidikan dan peran dengan PKBB dokter, serta pendidikan, peran, usia dan pengalaman kerja berhubungan dengan TIK dokter. Ada hubungan antara umur dan pendidikan dengan PPKB perawat. Kedua faktor dan pengalaman kerja ini terkait dengan TIK perawat. Intervensi PPKB melalui TIK dapat mempertimbangkan karakter dokter senior berpengalaman dan perawat muda yang pendidikan tinggi namun belum berpengalaman dengan platform TIK. Advokasi diperlukan untuk meningkatkan pemanfaatan TIK untuk PPKB dan pengembangan profesional. Penelitian lebih lanjut terkait kebutuhan penerjemahan pengetahuan melalui TIK harus dilakukan. Kata Kunci: dokter, perawat, persepsi, praktik klinis berbasis ilmiah, teknologi informasi komunikasi
Child-Rearing by Imprisoned Women: Sadness, Anxiety, and Feelings of Guilt Umi Hani; Agus Setiawan; Poppy Fitriyani
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 24 No 2 (2021): July
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v24i2.1061

Abstract

The number of imprisoned women continues to increase. Imprisonment of women affects them as perpetrators of crime and those who have relationships with and ties to them, such as children. This phenomenological study aims to explore the experience of imprisoned women in Jakarta in playing the role of mother. In-depth interviews were conducted to explore the experiences of seven imprisoned women. Through a thematic content analysis, we identified specific keywords, the results revealing the sadness, anxiety, and feelings of guilt experienced by imprisoned mothers in relation to their child-rearing. Imprisoned mothers also experience difficulties in meeting their children's needs, together with inadequate child-rearing facilities. The situation experienced by imprisoned women influences their family relationships, which can lead to family crises. The results of this study are expected to serve as a reference for professional collaboration between judicial institutions, community nurses, academics, and related parties, increasing the attention paid to imprisoned mothers and children affected by maternal incarceration. Abstrak Pengasuhan Anak oleh Wanita di Penjara: Kesedihan, Kecemasan, dan Perasaan Bersalah. Jumlah wanita yang dipenjara terus mengalami peningkatan. Pemenjaraan bagi perempuan tidak hanya memengaruhi perempuan sebagai pelaku kejahatan, tetapi juga pada subyek yang memiliki hubungan dan ikatan dengan perempuan tersebut, salah satunya adalah anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman wanita yang dipenjara di Jakarta dalam mengasuh anak. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap tujuh wanita yang dipenjara. Melalui analisis konten tematis kata kunci yang ditemukan dalam transkrip wawancara disusun dalam kategori, sub tema, dan tema. Hasil penelitian menjelaskan kesedihan, kecemasan dan perasaan bersalah yang dialami oleh ibu yang dipenjara dalam pengasuhan anak. Para ibu yang dipenjara juga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan anak dan fasilitas pengasuhan anak yang tidak memadai. Situasi yang dialami oleh ibu yang dipenjara memengaruhi hubungan dalam keluarga sehingga menghadapi krisis keluarga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk kolaborasi profesional antara lembaga peradilan, perawat komunitas, akademisi, dan elemen terkait untuk meningkatkan perhatian bagi ibu dan anak yang dipenjara yang terkena dampak hukuman penjara ibu. Kata Kunci: pemenjaraan, pengasuhan anak, perawat komunitas, perempuan narapidana
Penggunaan Teknologi Layanan Short Message Service terhadap Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Tuberkulosis: Literatur Review Lasarus Atamou; Agus Setiawan; Dwi Cahya Rahmadiyah
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Keperawatan: Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.407 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v14i1.88

Abstract

Penanggulangan permasalahan penyakit Tuberkulosis menjadi prioritas karena merupakan salah satu masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Pemerintah telah melakukan strategi pemecahan masalah tuberculosis dengan kebijakan khusus yaitu DOTS untuk memberikan pengobatan standar, melakukan monitoring dan evaluasi melalui petugas puskesmas untuk mengontrol dan memastikan pasien TB mengkonsumsi obat secara teratur. Beberapa teknologi informasi pendukung dibuat agar memudahkan komunikasi dua arah dari petugas Kesehatan ke pasien dan sebaliknya. Salah satu teknologi tersebut yaitu system layanan SMS terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien TB. Peneliti menggunakan cara telaah jurnal/mereview literatur dari beberapa database diantaranya Scopus, Elsevier, Clinical Key dan online datebase lainnya. Kata kunci yang digunakan adalah “Pesan singkat” dan “Tuberculosis”, dan “Pengobatan”. Berdasarkan metode pencarian secara online dan penyeleksian jurnal ilmiah akhirnya dipilih dua belas artikel yang selanjutnya dilakukan telaah, didapatkan bahwa teknologi layanan Short Message Service memberikan manfaat kepatuhan mengkonsumsi OAT dan memberikan informasi kunjungan ulang yang berdampak pada kesembuhan pasien. Pasien dan juga petugas Kesehatan yang menangani TB dapat melayani secara efektif melalui komunikasi dua arah sehingga dapat menekan angka putus obat yang berdampak pada TB-MDR. Penggunaan teknologi layanan SMS sangat memberikan manfaat terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien Tuberkulosis.
Pengaruh Aplikasi Model "Simbol Andi" terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Anak Usia Sekolah dengan Risiko Cedera di Kota Depok Ressa Andriyani Utami; Agus Setiawan; Poppy Fitriyani
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 22 No 3 (2019): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v22i3.592

Abstract

Cedera menyebabkan 5,8 juta kematian di dunia dan 16% kasus cedera menyebabkan kecacatan. Faktor perilaku anak usia sekolah yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan terkait pencegahan cedera berpengaruh terhadap kejadian cedera. Strategi pencegahan cedera yang dilakukan adalah dengan Model Sandi (Simbol Andi) menggunakan video animasi dengan tokoh bernama Andi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Model Sandi dalam pencegahan cedera pada tatanan komunitas, khususnya di lingkungan sekolah. Desain penelitian ini adalah quasi experiment pre-post test without control group. Jumlah sampel penelitian sebanyak 136 anak usia sekolah berusia 11–12 tahun yang dipilih melalui teknik cluster sampling. Pengetahuan mengenai pencegahan dan penanganan cedera meningkat sebesar 2,18 poin dengan SD= 1,60, sikap mengenai pencegahan dan penanganan cedera meningkat sebesar 1,97 poin dengan nilai SD= 0,99 dan keterampilan mengenai pencegahan dan penanganan cedera meningkat sebesar 2,06 poin dengan nilai SD= 2,19. Hasil analisis menujukkan adanya perubahan yang bermakna pada pengetahuan, sikap dan keterampilan sebelum dan sesudah diberikan intervensi (p< 0,05). Intervensi Model Sandi diharapkan dapat dijadikan salah satu pendekatan intervensi keperawatan dalam menyelesaikan permasalahan risiko cedera pada anak usia sekolah. Abstract The influence of "Simbol Andi" Model Application of Knowledge, Attitude, and Skills of School Ages with Injury Risk in Depok City. Injuries caused 5.8 million deaths worldwide and 16% of injury cases caused disability. Behavioral of school-age children that include knowledge, attitudes, and skills affect the incidence of injury in school-aged children. “Sandi” Symbolic Modelling is injury prevention using video animation for injury prevention. This study aimed to an analysis of the application of Model Sandi (Simbol Andi) in the prevention of injury to the community. The design of this study was a quasi-experiment pre and posttest without control group. A total sample 136 school-aged children at 11 and 12 years old involved in this study. The sampling method used cluster sampling technique. Results knowledge on prevention and treatment of injury increased by 2.18 points, attitude on prevention and treatment of injury increased by 1.97 points and skill on prevention and treatment of injury increased by 2.06 points. The results showed significant changes in knowledge, attitude, and skills before and after intervention (p< 0.05). Model Sandi Intervention is expected to be one of the approaches of nursing intervention in solving the problem of risk of injury in school-aged children at school. Keywords: Symbolic modeling, nursing intervention, risk of injury, school-aged children
The effect of peer support intervention on improving self-efficacy in adolescents with HIV: A systematic review Sri Wulan Widyawati; Etty Rekawati; Agus Setiawan; Indah Permatasari
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 6 (2025): Volume 8 Number 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i6.1170

Abstract

Background: Adolescents with HIV who have low self-efficacy are less likely to adhere to their treatment plans, experience psychological issues, become socially isolated, and make poor treatment management decisions. Peer support therapy is therefore required to raise these teenagers' self-efficacy. Evaluating self-efficacy is crucial for determining how peer support interventions affect adolescents living with HIV. Purpose: Assessing the impact of peer support interventions on HIV-positive adolescents' self-efficacy is essential. Method: A systematic review with article selection guided by the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. The systematic review process begins with the formulation of clinical questions relevant to the topic. Before this, the authors establish PICOS criteria, which stand for: P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), O (outcome), and S (study design). For this article, P: Adolescents with HIV, I: Peer support intervention, C: Individual counseling, standard education, or regular therapy, O: Improving self-efficacy, S: Randomized controlled trials. The article search was conducted systematically using the keywords: “Peer Support,” AND “Self-efficacy,” AND “Adolescents” AND “HIV.” Results: Among adolescents with HIV, the peer support intervention demonstrated an increase in self-efficacy. Participants reported feeling more confident in managing their treatment and navigating daily challenges related to their condition. The supportive peer environment helped reduce feelings of isolation and encouraged adherence to antiretroviral therapy (ART). Conclusion: Peer support interventions effectively enhance self-efficacy in adolescents living with HIV by improving confidence in treatment management, stigma coping, and ART adherence. Their empathetic, equal, and communicative approach makes them more acceptable to adolescents who may be reluctant to share with professionals.