Abdul Jamil Wahab
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MEMBACA FENOMENA BARU GERAKAN SALAFI DI SOLO Abdul Jamil Wahab
Jurnal Dialog Vol 42 No 2 (2019): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v42i2.335

Abstract

Salafi merupakan paham dan gerakan yang bersifat transnasional, yaitu terkoneksi dengan dinamika paham keagamaan di Timur Tengah. Melalui penelitian dengan pendekatan kualitatif, artikel ini mendeskripsikan eksistensi kelompok tiga jenis Salafi yang berkembang di Solo yaitu, pertama, Salafi Puritanis yaitu Ma’had Imam Bukhari. Kedua, Salafi Haraki yaitu Pesantren Al-Mukmin Ngeruki dan Ma’had ‘Isy Karima. Ketiga, Salafi Jihadis yaitu Jamaah Anshoru Tauhid (JAT) dan beberapa jaringan radikal di Solo. Dakwah eksklusif yang dikembangkan kelompok Salafi Puritanis, menimbulkan konflik horizontal karena meresahkan masyarakat. Sementara Salafi Haraki dan Jihadis yang mengusung gagasan pendirian negara Islam dan penerapat syariat Islam secara formal, menimbulkan konflik vertikal dengan penguasa. Kajian ini berhasil menemukan fenomena baru, bahwa dakwah Salafi Puritanis dapat terus berkembang di beberapa tempat, ini menunjukkan Salafi Puritanis dapat berkoeksistensi dengan paham keagamaan lainnya di masyarakat. Selain itu, Salafi Puritanis juga ternyata mulai membuka diri terhadap beberapa program pemerintah. Sedangkan Salafi Haraki dan Jihadis masih menunjukkan sikap penolakannya terhadap dasar negara dan konstitusi, sehingga terus berhadapan dengan penegak hukum atau pemerintah. Kelompok Salafi Haraki dan Jihadis belum mengalami perubahan orientasi, bahkan berhasil melakukan regenerasi, fakta ini sekaligus menunjukkan penanggulangan radikalisme yang selama ini dilakukan pemerintah kurang efektif.
MANAJEMEN KONFLIK ANTARUMAT BERAGAMA BERBASIS AL-QURAN, ETIS DAN TEKNIS Muhammad Suaib Tahir; Abdul Jamil Wahab; Muhammad Hariyadi
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 22 No. 2 (2022): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.843 KB)

Abstract

This study demonstrates Quran-based Interfaith Conflict Resolution as a conflict management model that introduces and promotes the theory of nonviolence and peace-building and the principle of coexistence among religious believers. Although some verses in Quran may mention and justifies the use of limited force as in Quranic verses QS. al-Baqarah/2:190 and QS. al-Hajj/9:39, some others also present a lot of principles and the implementation of nonviolence including patience, forgiveness, tolerance, dispute prevention and management, the prohibition of seeking revenge, clarification (tabayun), dialogue, negotiation, mediation, mutual curse (mubahalah), acceptance of agreement, persuasive preaching, reconciliation, and amnesty. This study introduces the Ethical-Technical Conflict Resolution or Management model as it contains ethical and technical foundation formulas. The ethical foundation formula as the basic principles, for example, includes justice, maslahah (public interest), tolerance, and nonviolence. In the meantime, the technical foundation which is operational in nature includes dialogue, social interaction and cooperation, negotiation, mediation, peace agreement, law enforcement, reconciliation and amnesty
TEORI TAFSIR DENGAN PENDEKATAN GENDER (Studi Kedudukan Perempuan Dalam Rumah Tangga) Abdul Jamil Wahab; Ellys Lestari Pambayun
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 21 No. 2 (2021): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses the position of women in the household through interpretation theory with a gender approach. The results of this study conclude that although Islam normatively views women as noble and honorable creatures, there are interpretations of several Qur'anic verses about household leadership that are biased in partihiarchy and do not provide a portion of justice for women's rights in the household. In line with the development of science, there are interpretations that have a more equal spirit regarding gender relations. Several interpretation theories were developed using a gender perspective approach, among others, by Muhammad Abduh, Asghar Ali Engineer, Amina Wadud, and Quraish Shihab