Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

POSITIONING BALAI HARTA PENINGGALAN AS PERSONAL AND MICRO SMALL MEDIUM ENTERPRISES BANKRUPTCY ADMINISTRATOR PROFESSION IN THE DIGITAL ECONOMIC ERA Anggoro, Teddy
Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional Vol 13, No 2 (2024): Masa Depan Profesi Hukum di Indonesia
Publisher : Badan Pembinaan Hukum Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33331/rechtsvinding.v13i2.1796

Abstract

Bankruptcy is a complex and expensive legal process, with the cost of administrator services being the contributors to the high cost of this process. The Balai Harta Peninggalan (BHP) as a administrator should not be a burden to the bankrupt debtor. Especially in the era of massive use of online loans which causesH individuals and MSMEs experience financial distress. This research examines the current role of BHP and how BHP positions itself in the bankruptcy of individuals and MSMEs in the digital economy era. Using the juridical-normative method, this study concludes that the role of BHP is smaller than the private administrator. However, BHP's involvement holds the key to making bankruptcy efforts inclusive for individual debtors and MSMEs. This can be done by regulating that BHP is obliged to handle the bankruptcy of individuals and MSMEs as well as bankruptcy costs supported by the state budget.
Peran Notaris dalam Pengurusan Perizinan Yayasan dalam Sistem Administrasi Hukum Umum dan Online Single Submission Tanzil, Dionisius Ardy; Teddy Anggoro
UNES Journal of Swara Justisia Vol 8 No 1 (2024): Unes Journal of Swara Justisia (April 2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/ujsj.v8i1.479

Abstract

Yayasan sebagai sebuah badan hukum mempunyai peran yang penting dalam Masyarakat di Indonesia. Yayasan menjadi suatu wadah bagi Masyarakat untuk dapat melakukan sosial, kemanusiaan dan keagamaan. Pendirian Yayasan melibatkan peran dari seorang Notaris untuk membantuk akta pendirian Yayasan sebagai salah satu bukti didirikannya Yayasan. Yayasan sebagai sebuah badan hukum, atas akta pendirian tersebut perlu dilakukan pendaftaran ke kelembagaan terkait yang ditunjuk oleh pemerintah, dimana dalam hal ini adalah ke Direktorat Jenderal Adminsitrasi Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk memperoleh Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum dari Menteri. Setelah Yayasan mendapatkan SK Menteri tersebut, maka artinya Yayasan telah terdaftar. Dalam prakteknya, Yayasan memerlukan Nomor Induk Berusaha yang didapatkan melalui pendaftaran dalam sistem Online Single Submission. Pengurusan Nomor Induk Berusaha dilakukan melalui sistem Online Single Submission, dimana dalam NIB terdapat informasi terkait bidang usaha dan data lainnya. Namun kedudukan Yayasan sebagai badan hukum non-profit dengan Nomor Induk Berusaha sebagai tanda suatu badan hukum atau badan usaha melakukan usaha, terjadi ketidaksesuaian penggunaan atau kepemilikan NIB dari Yayasan. Dalam sistem AHU dan sistem OSS juga terdapat perbedaan terkait bidang usaha yang harus dimiliki oleh Yayasan, sedangkan dalam Yayasan yang bersifat non-profit dirasa kurang tepat apabila dikatakan mempunyai bidang usaha. Maka dari itu akan dibahas mengenai Peran dan Tanggung Jawab dari Notaris dalam pengurusan perizinan Yayasan, Urgensi NIB bagi Yayasan, dan terkait pengurusan perizinan bagi Yayasan.Yayasan
Perjanjian Nominee Antara Warga Negara Asing dengan Warga Negara Indonesia dalam Praktik Jual Beli Satuan Rumah Susun Mahfi, Richi Al; Anggoro, Teddy
Wajah Hukum Vol 9, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/wjh.v9i1.1773

Abstract

The practice of nominee agreements in the sale and purchase of apartment units between foreign nationals (WNA) and Indonesian citizens (WNI) which is based on the limited ownership of apartment units by WNA. And then it becomes a significant legal issue because when viewed from the legal aspect, it is found that the Nominee Agreement does not meet the objective requirements for the validity of an agreement, which results in the agreement being null and void according to the provisions of the laws and regulations in force in Indonesia. This also has a serious impact and is detrimental to many related parties, and provides legal uncertainty for the parties involved. WNA are not recognized as legal owners, while WNI who are nominees are vulnerable to legal sanctions. Nominee agreements also conflict with the principle of land sovereignty. Unclear regulations and weak law enforcement also worsen the situation. The purpose of this study is to analyze and determine the legality of nominee agreements based on legal regulations in Indonesia, as well as the impact of ownership of apartment units for the parties. Thus, it is known that to overcome this problem, comprehensive legal reform is needed, including regulations that provide legal certainty for all parties in carrying out legal actions, especially agreements, so that they remain within the appropriate legal corridor, without setting aside the principle of freedom of contract.
Proses Peralihan Hak Guna Bangunan Berdasarkan Jual Beli Dibawah Tangan yang tidak Diketahui Keberadaan Pemiliknya (Studi Putusan Pengadilan Negeri Pontianak No. 92/Pdt.G/2021/PN.PTK) Simatupang, Patumona Febriyanty; Anggoro, Teddy
Wajah Hukum Vol 9, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/wjh.v9i1.1753

Abstract

Underhand sales transactions used for the transfer of Building Use Rights (HGB) often result in various legal issues, especially when the whereabouts of the original certificate owner are unknown. This research focuses on analyzing the District Court Decision No. 92/Pdt.G/2021/PN PTK, which examines the legality of HGB transfers within the framework of agrarian law in Indonesia. In this case, the registration of the transfer of rights must comply with existing regulations, including obtaining approval from the legitimate owner. The court's decision takes into account several factors such as agreements between parties, good faith, and the registration of land rights. This research aims to examine the legality of the transfer of Building Use Rights (HGB) through an underhand sale based on the District Court Decision No. 92/Pdt.G/2021/PN PTK, in accordance with Indonesian agrarian law. The analysis reveals that although underhand sales can be considered valid under certain conditions, the absence of formal procedures can result in legal disadvantages for uninvolved parties. This research also highlights the importance of land registration to ensure legal protection for all involved parties. Additionally, the study underscores the need to understand the legal aspects of the transfer of building use rights and the risks associated with transactions that do not comply with the procedures prescribed by law.
PENERAPAN SANKSI PENGHENTIAN KEGIATAN KEPADA PELAKU USAHA DALAM PERKARA PERSEKONGKOLAN TENDER PADA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Dewi, Inamawati Mastuti; Anggoro, Teddy
PALAR (Pakuan Law review) Vol 9, No 2 (2023): Volume 9, Nomor 2 April-Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/palar.v9i2.9724

Abstract

AbstractBusiness competition law enforcement in Indonesia is carried out by the Business Competition Supervisory Commission  through roles including supervision, consultation and investigation. One example of activities that are prohibited in Law Number 5 of 1999 concerning the Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition is conspiracy. Conspiracies that are rife in government procurement of goods/services or government tenders. Business Competition Supervisory Commission can impose sanctions in the form of orders to Business Actors to stop activities on the issue of tender conspiracy, but in practice these sanctions are supplemented by a ban on participating in government tenders originating from Central Government Expenditure Budget /Local Government Expenditure Budget. Thus there is a difference between regulation and application related to sanctions in the conspiracy tender. Keywords: Business Competition Supervisory Commission, Conspiracy, Tender, Sanctions. AbstrakPenegakan hukum persaingan usaha di Indonesia dilaksanakan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melalui peran antara lain pengawasan, konsultasi, maupun penyelidikan. Salah satu contoh kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah kegiatan persekongkolan. Persekongkolan yang marak terjadi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah atau tender pemerintah. KPPU dapat menjatuhkan sanksi berupa perintah kepada Pelaku Usaha untuk melakukan penghentian kegiatan pada perkara persekongkolan tender dimaksud, namun pada praktiknya sanksi tersebut ditambah dengan larangan mengikuti kegiatan tender pemerintah yang bersumber dari APBN/APBD. Dengan demikian terdapat perbedaan antara pengaturan dan penerapan terkait sanksi dalam persekongkolan tender. Kata Kunci: KPPU, Persekongkolan, Tender, Sanksi.
Peranan Dan Kendala Lembaga Pembiayaan Dalam Hukum Jaminan Fidusia Di Indonesia Agusthomi, Dzaky; Anggoro, Teddy
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 6, No 3 (2022): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v6i3.3478

Abstract

Penggunaan lembaga pembiayaan sudah sangat akrab di masyarakat. dan lembaga ini sangat berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peran lembaga penjaminan fidusia sebagai salah satu sumber pendanaan alternatif potensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional harus diakomodasi dengan baik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan OJK Nomor 29/POJK.05/2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Sebagai sumber pendanaan lembaga tersebut memiliki peran penting, yaitu sebagai salah satu sumber pendanaan alternatif potensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Peran penting dalam hal pembangunan, yaitu menampung dan menyalurkan aspirasi dan kepentingan masyarakat, berperan aktif dalam pembangunan dimana lembaga keuangan diharapkan oleh masyarakat atau pelaku usaha untuk mengatasi salah satu faktor umum yang dialami, yaitu faktor permodalan.
Akta Pengakuan Utang Sebagai Pengganti Bukti Penyetoran Modal Dalam Pendirian Perseroan Terbatas Zharfani, Nadhira Faza; Teddy Anggoro
UNES Law Review Vol. 6 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i3.1843

Abstract

In practice, there are often disobedient shareholders who do not deposit the full capital that has been issued, even though their names as shareholders have been recorded in the Company's deed of establishment. In this research, the author raises the case of a Deed of Acknowledgement of Indebtedness made by a shareholder at PT This research will discuss the absence of capital deposits by shareholders in the establishment of a limited liability company which can be said to be a debt based on the applicable laws and regulations, as well as reviewing whether a Deed of Acknowledgement of Indebtedness can be used as a substitute for proof of capital deposits in the Company. This research was prepared using normative juridical research methods, utilizing document studies using secondary data, and using analytical descriptive research specifications, and analyzed using qualitative analysis methods. The research results show that the absence of a full deposit made by shareholders in the Company constitutes a debt and/or obligation and is considered fulfilled if the shareholder has made a full deposit into the Company. Apart from that, as reflected in Article 33 paragraph (2) of Law no. 40/2007, shareholders are required to deposit capital in full to the Company as proof of legal ownership of the issued shares. Thus, the Deed of Acknowledgment of Indebtedness made by the shareholder in the case raised serves as evidence of an Authentic Deed which strengthens and justifies the Company's position in postponing the granting of shareholder rights to shareholders who have not paid for the shares that have not been deposited. However, the existence of the Deed of Acknowledgment of Indebtedness cannot replace proof of capital deposit in the Company.
KEABSAHAN HUKUM GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG PADA AKAD PEMBIAYAAN PERBANKAN SYARIAH Arini, Diah; Anggoro, Teddy
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 4 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v4i2.4056

Abstract

Penelitian ini bertujuan dalam rangka menganalisis keabsahan dari grosse akta pengakuan hutang pembiayaan bank syariah. Grosse akta pengakuan hutang merupakan salinan dari akta pengakuan hutang, berbentuk notaril berisi pernyataan keberhutangan sepihak dari debitur sebagai pembuktian adanya hutang debitur kepada kreditur yang lahir karena telah terjadi perjanjian kredit. Pada perbankan syariah, pembiayaan yang diberikan bukan dalam bentuk perjanjian kredit melainkan perjanjian sesuai jenis transaksinya, meliputi transaksi bagi hasil, transaksi jual beli, transaksi pinjam meminjam, dan transaksi sewa menyewa yang memiliki konsekuensi hukum berbeda dengan perjanjian kredit. Metode penelitian menggunakan penelitian yuridis normatif, dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konsep. Penelitian ini memberikan pandangan baru terkait penggunaan grosse akta pengakuan hutang pada pembiayaan dengan prinsip syariah yang memiliki berbagai karakteristik akad khususnya akad yang berbasis kemitraan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa akad untuk pembiayaan syariah jika dilihat dari tingkat kepastian perolehan keuntungan bank, dapat dikategorikan dalam dua kategori, yaitu Natural Certainty Contracts dan Natural Uncertainty Contracts. Akad yang berbasis kemitraan termasuk kategori Natural Uncertainty Contracts, sedangkan akad jual beli, akad pinjam meminjam dan akad sewa menyewa termasuk kategori Natural Certainty Contracts. Dimana kesimpulannya, pada akad pembiayaan dengan kategori Natural Certainty Contracts menimbulkan konsekuensi hutang piutang sehingga keabsahan hukum dari penambahan grosse akta pengakuan hutang bagi bank terpenuhi, sedangkan untuk  Natural Uncertainty Contracts, keabsahan grosse akta pengakuan hutang tergantung dari pembuktian adanya kewajiban yang tertunggak, dan khusus untuk akad Musyarakah Mutanaqisah, grosse akta pengakuan hutang dapat dibuat dengan melihat kedudukan hukum para pihak dan konsekuensi hutang dalam transaksi.
KESIAPAN HUKUM PERSAINGAN USAHA DAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA UNTUK MENDORONG PERKEMBANGAN EKONOMI BIRU DI INDONESIA Anggoro, Teddy
Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional Vol 14, No 3: Aspek Hukum Pengembangan Ekonomi Biru
Publisher : Badan Pembinaan Hukum Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33331/rechtsvinding.v14i3.2300

Abstract

Perkembangan ekonomi biru (blue economy) di Indonesia memerlukan dukungan dari hukum persaingan usaha. Hal ini penting karena blue economy melahirkan potensi industri baru yang berbeda dengan karakteristik industri lainnya. Terkait hal tersebut, dilakukan analisis terhadap (i) bagaimana hukum persaingan usaha di Indonesia menyambut perkembangan blue economy? dan (ii) bagaimana regulasi dan kebijakan hukum persaingan usaha yang dibutuhkan untuk mendorong perkembangan blue economy di Indonesia?. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif dan data sekunder, penelitian ini menemukan bahwa hukum persaingan usaha di Indonesia pada dasarnya selaras dengan prinsip-prinsip blue economy. Namun, respons Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang lambat terhadap industri-industri baru justru menghambat perkembangannya. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa diperlukan perluasan kewenangan KPPU agar dapat lebih proaktif dalam mengawasi industri-industri baru, termasuk dalam sektor blue economy, sehingga persaingan yang sehat dapat terwujud dan inovasi dapat tumbuh.