Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

MORFOMETRI DAN BATIMETRI DANAU PALAS ASRI KECAMATAN MEDANG DERAS KABUPATEN BATUBARA Rusdi Leidonald; Ade Septiya Jumiani Rambe; Ahmad Muhtadi; Amanatul Fadhilah
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 3 No. 1 (2024): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v3i1.14645

Abstract

Morfometri danau merupakan karakteristik fisik dari badan danau yang dapat menggambarkan berbagai potensinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek morfometri dan batimetri di perairan Danau Palas Asri Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2022. Pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah data keliling danau, data kedalaman, panjang dan lebar danau, debit air serta kualitas air. Data-data tersebut diolah menggunakan Arcmap. Hasil dari penelitian ini adalah Danau Palas Asri (Danau A dan Danau B) secara berturut-turut memiliki luas 33.231 dan 26.544 , panjang maksimum 337,29 m dan 340,26 m, lebar maksimum 130,42 m dan 119,40 m serta panjang keliling danau 1.152,27 m dan 859,63 m. kedalaman maksimum 2,5 m dan 2,8 m, kemiringan rata-rata 4,72% dan 4,69%. Volume air danau yang dapat dimanfaatkan sebanyak 49.938,74 dan 44.062,64 dengan waktu tinggal air sekitar 20-21 hari dan 23-24 hari. Parameter kualitas fisika kimia air Danau Palas Asri (Danau A dan Danau B) secara berturut-turut adalah memiliki rata-rata Total Suspended Solid (TSS) 10,66 mg/L dan 9,33 mg/L, Total Dissolved Solid (TDS) 85,36 mg/L dan 67,96 mg/L, Daya Hantar Listrik (DHL) 15,36 S/cm dan 11,63 S/cm, Fosfat 0,10 mg/L dan 0,11 mg/L. Nilai TSI berkisar 16,05 - 21,10 status trofik Danau Palas Asri tergolong oligotrofik yaitu kondisi produktivitas dan unsur hara rendah. Kata Kunci : Batimetri, danau, kesuburan perairan, morfometri danau,
Potensi Ekologi dan Tantangan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pini, Nias Selatan: Potensi dan Tantangan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Ahmad Muhtadi; Khairunnisa; Mhd. Ridha Syafi'i Damanik; Zufriwandi Siregar; Elisabet Rosevenny Simaremare; Muhammad Riza Kurnia Lubis; Azahirin; Sri Masnita Br. Tarigan; Hasbi Husaini; Lovedrian Ariston
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 5 No. 1 (2026): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v5i1.24280

Abstract

Pulau Pini dan pulau-pulau kecil di sekitarnya merupakan wilayah pesisir yang memiliki ekosistem penting, seperti terumbu karang, padang lamun, dan mangrove yang berperan sebagai habitat utama berbagai sumber daya ikan dan penopang keanekaragaman hayati laut. Namun demikian, informasi ilmiah mengenai kondisi ekosistem serta tantangan pengelolaan kawasan konservasi di wilayah pulau-pulau kecil ini masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekologi, tantangan, serta arah pengelolaan kawasan konservasi di perairan Pulau Pini, Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan pada bulan November 2023 di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Pulau Pini melalui pengamatan kondisi ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menilai status ekosistem pesisir, sedangkan identifikasi faktor internal dan eksternal pengelolaan kawasan konservasi dianalisis menggunakan pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi ekosistem pesisir yang signifikan dengan ditemukannya 7 spesies mangrove dan 6 spesies lamun. Persentase tutupan lamun berkisar antara 32,75%–61,50% yang menunjukkan kondisi ekosistem dari kategori kurang sehat hingga sehat. Kondisi terumbu karang tergolong kategori kurang dengan rata-rata tutupan karang hidup sebesar 38,35%, sedangkan mangrove berada pada kategori sedang dengan sebaran yang relatif terbatas. Zonasi kawasan konservasi terdiri atas zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona lain sesuai peruntukannya yang diarahkan untuk perlindungan ekosistem pesisir. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi Pulau Pini berada pada Kuadran I (strategi SO), yang menekankan pemanfaatan kekuatan ekosistem pesisir untuk memaksimalkan peluang pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan perlindungan habitat, pemantauan ekosistem secara berkala, serta peningkatan partisipasi masyarakat merupakan strategi utama dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan di perairan Pulau Pin
Biodiversity and Ecosystem Status of Mangroves in the Belawan Estuary, North Sumatra Province, Indonesia Ahmad Muhtadi; Rusdi Leidonald; Amanatul Fadhilah; Arya Yusuf Habibi; Natasya Rebekka Manalu; Decy M. Carolina Nasution; Parhan Pulungan; Salma Begum
Journal of Sylva Indonesiana Vol. 9 No. 01 (2026): Journal of Sylva Indonesiana
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jsi.v9i01.19749

Abstract

Estuaries function as sediment deposition zones that provide essential substrates for mangrove development. Consequently, estuaries and mangroves constitute integral components of coastal ecosystems. The mangrove ecosystem in the Belawan Estuary, North Sumatra Province, is increasingly threatened by rapid urban expansion in Medan City. This study aimed to assess mangrove biodiversity, structural characteristics, and ecological status in the Belawan Estuary. Field surveys were conducted in November 2023 across 28 sampling stations representing seaward, middle, and landward sections of the estuary. Vegetation data were analyzed using density, diversity, evenness, dominance, and Importance Value Index (IVI). A total of 26 mangrove species were recorded, comprising 21 true mangrove species and 5 associated species. The most widely distributed species were Avicennia marina, Avicennia lanata, and Nypa fruticans. Mangrove density ranged from 533 to 2,733 ind ha⁻¹, with an average of 1,420 ind ha⁻¹. Shannon–Wiener diversity values ranged from 0.04 to 1.95, indicating relatively low diversity in several landward stations dominated by N. fruticans. Although the overall condition of mangroves in the Belawan Estuary is classified as good, the ecosystem remains highly vulnerable to land-use conversion under the revised spatial planning framework. Strengthening conservation-oriented spatial policy is therefore essential to ensure long-term ecosystem sustainability.
Ecological Role of Siombak Lake as a Nursery and Feeding Ground for Aquatic Species in the Belawan Estuary, Indonesia Ahmad Muhtadi; Ahyar Pulungan; Rizal Mukra
LIMNOTEK Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol. 31 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/limnotek.2025.9340

Abstract

Tidal lake is a coastal lake whose water condition is influenced by the dynamics of tides. This lake serves as a habitat for a diverse array of aquatic biota, including freshwater, brackish, and marine species. This study aims to describe the distribution of larvae, juveniles, crustacea, and adult fish in the context of the coastal lake's role as a nursery and feeding ground. The study was conducted from September 2018 to August 2019, at Lake Siombak, a coastal lake located in the Belawan River estuary along the northern coast of Medan City, Indonesia. Data were collected at high and low tides during the full moon. Larva and juvenile fish? sampling used larval nets with a mesh size of 300 μm and a diameter of 60 cm, while adult fish were caught with gill nets with a mesh size of 1 inch and a dimension of 10 × 2 m. Crustaceans were captured with traps. The research found nine families consisting of six fish families, two crustacean family, and one cnidarian family. The abundance of larvae and juveniles found was 17 to 1797 individuals per 100 m-3. At the high tides, the composition of Ulmaridae (jellyfish: Aurelia aurita) that was caught reached 57.7%. While at low tides, there were more Penaeid families in the Mysis phase, reaching 78.6%. The abundance of Mysis (Penaeid) and jellyfish indicates that the lake serves as a nursery ground for post larvae crustaceans and jellyfish. The presence of adult fish migrating from the sea and Belawan River indicates that the lake functions as a feeding ground in the Belawan estuary.  Therefore, Lake Siombak still plays a crucial role as a nursery and feeding ground for fish, crustaceans, and jellyfish originating from the Belawan River estuary and its surrounding areas. Preserving the sustainability of this lake is crucial to ensuring the continued productivity of fisheries in the Belawan River estuary.
Pemulihan Produksi Padi Pasca Banjir Melalui Pemberian Pupuk Bagi Petani di Gampong Simpang Lhee, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang Ahyar Pulungan; Dian Asri; Fachrul Akbar; Budi Mulyara; Febby Hadi Setyawan; Nur Halimatuz Zuhra; Raihan Dary; Triami Lestari; Suri Purnama Febri; Ahmad Muhtadi
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus (In Progress)
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/b5aanr10

Abstract

Banjir yang terjadi pada akhir November 2025 berdampak terhadap lahan sawah dan kemampuan petani di Gampong Simpang Lhee, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, dalam menyediakan sarana produksi untuk musim tanam berikutnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendukung pemulihan usaha tani padi melalui distribusi pupuk NPK, sosialisasi penggunaan pupuk, dan konsultasi teknis bagi petani terdampak. Kegiatan dilaksanakan pada 28 Februari 2026 dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan tim pengabdian, pemerintah gampong, dan petani penerima manfaat. Tahapan pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan, verifikasi penerima, pengadaan dan pemeriksaan bantuan, distribusi pupuk, sosialisasi teknis, wawancara, serta evaluasi kegiatan. Sebanyak 20 sak pupuk NPK disalurkan kepada 20 petani dengan alokasi satu sak per petani, sehingga capaian distribusi mencapai 100%. Materi sosialisasi mencakup fungsi unsur nitrogen, fosfor, dan kalium serta prinsip tepat jenis, dosis, waktu, dan cara aplikasi pupuk. Berdasarkan hasil wawancara, 17 dari 20 petani atau 85% penerima manfaat menyatakan mengalami peningkatan pemahaman mengenai penggunaan pupuk NPK. Kegiatan ini menunjukkan bahwa distribusi bantuan yang disertai sosialisasi dan konsultasi teknis dapat meningkatkan akses petani terhadap sarana produksi sekaligus memperkuat pemahaman penggunaannya
Potensi Ekologi dan Tantangan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pini, Nias Selatan: Potensi dan Tantangan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Ahmad Muhtadi; Khairunnisa; Mhd. Ridha Syafi'i Damanik; Zufriwandi Siregar; Elisabet Rosevenny Simaremare; Muhammad Riza Kurnia Lubis; Azahirin; Sri Masnita Br. Tarigan; Hasbi Husaini; Lovedrian Ariston
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 5 No. 1 (2026): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v5i1.24280

Abstract

Pulau Pini dan pulau-pulau kecil di sekitarnya merupakan wilayah pesisir yang memiliki ekosistem penting, seperti terumbu karang, padang lamun, dan mangrove yang berperan sebagai habitat utama berbagai sumber daya ikan dan penopang keanekaragaman hayati laut. Namun demikian, informasi ilmiah mengenai kondisi ekosistem serta tantangan pengelolaan kawasan konservasi di wilayah pulau-pulau kecil ini masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekologi, tantangan, serta arah pengelolaan kawasan konservasi di perairan Pulau Pini, Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan pada bulan November 2023 di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Pulau Pini melalui pengamatan kondisi ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menilai status ekosistem pesisir, sedangkan identifikasi faktor internal dan eksternal pengelolaan kawasan konservasi dianalisis menggunakan pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi ekosistem pesisir yang signifikan dengan ditemukannya 7 spesies mangrove dan 6 spesies lamun. Persentase tutupan lamun berkisar antara 32,75%–61,50% yang menunjukkan kondisi ekosistem dari kategori kurang sehat hingga sehat. Kondisi terumbu karang tergolong kategori kurang dengan rata-rata tutupan karang hidup sebesar 38,35%, sedangkan mangrove berada pada kategori sedang dengan sebaran yang relatif terbatas. Zonasi kawasan konservasi terdiri atas zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona lain sesuai peruntukannya yang diarahkan untuk perlindungan ekosistem pesisir. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi Pulau Pini berada pada Kuadran I (strategi SO), yang menekankan pemanfaatan kekuatan ekosistem pesisir untuk memaksimalkan peluang pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan perlindungan habitat, pemantauan ekosistem secara berkala, serta peningkatan partisipasi masyarakat merupakan strategi utama dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan di perairan Pulau Pin