Articles
SYARIAH, FIQH DAN SIYASAH: SUATU TELAAH TERHADAP KONSEPSI, RELASI, IMPLIKASI DAN APLIKASINYA
Fuad Masykur
Syarie: Jurnal Pemikiran Ekonomi Islam Vol 6 No 1 (2023): Syar'ie
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51476/syarie.v6i1.462
Penelitian ini bertujuan menyingkap makna Syariah, Fiqh, Siyasah dan hukum Islam, lalu mendudukkannya secara proporsional. Disamping itu penelitian ini juga hendak memetakan antara ciri, lingkup dan karakteristiknya masing-masing. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, yang menitikberatkan pada studi kepustakaan (liberary research) dengan menggunakan model deskriptif-analitis. Disadari atau tidak di dalam umat Islam (khususnya di Indonesia) masih banyak terjadi kesalah pahaman (misleading) dalam memahami peristilahan Syariah, Fiqh, Hukum Islam dan Siyasah. Jika dalam peristilahannya saja belum terjadi kesepahaman apalagi dalam tataran aplikasinya. Pemahaman yang komprehensif terhadap empat konsep tersebut mutlak diperlukan guna memahami dan menentukan asas, landasan, norma, subtansi dan materi dalam pembentukan hukum. Penelitian ini menunjukan bahwa posisi masing-masing dari syari’ah, fiqh dan siyasah serta relasi di antara ketiganya memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Syari’ah yang sifatnya kulli (universal) adalah sebagai sumber (mashâdir) nilai baik bagi fiqh maupun siyasah, sedangkan fiqh adalah hukum-hukum hasil interpretasi dari nash al-Qur’an dan hadits yang bersifat kulli tersebut, sementara siyasah adalah al-Qawânîn (Peraturan Perundang-undangan) yang dibuat oleh umara dalam lembaga-lembaga negara yang berwenang yang selaras dengan ruh syari’at.
Metode Dalam Mencari Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Rasionalisme Empirisme dan Metode Keilmuan
Fuad Masykur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 1 No 1 (2019): Tarbawi
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Proses pencarian pengetahuan yang bersifat mutlak dan pasti telah berlangsung begitu lama. Setidaknya ada tiga pendekatan yang digunakan dalam konteks ini, yaitu rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah. Ketiga pendekatan inilah yang biasa dikenal sebagai sebuah metodologi dalam mencari pengetahuan. Bagi yang sedang mendidik diri untuk menjadi ilmuan maka tema pokok dari metode ilmiah harus dikuasai. Sebab tanpa kemampuan dasar ini dikhawatirkan bahwa fariasi yang dikembangkan itu mungkin saja tidak mencerminkan ciri yang seharusnya dipenuhi oleh suatu kegiatan keilmuan. Kata Kunci: Rasionalisme, Empirisme, Metode Ilmiah, Deduktif, Induktif.
Pendidikan Penyandang Disabilitas Dalam Al-Qur'an
Fuad Masykur Abdul Ghofur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2 No 2 (2019): Tarbawi
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini bertujuan menggali konsep tentang pendidikan terhadap penyandang disabilitas yang diisyaratkan dalam al-Qur'an. Eksistensi kaum penyandang cacat tidak dapat dinafikan sebab merupakan bagian dari kehidupan manusia. Pada tataran realita, para penyandang cacat masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dan stigma negatif dari beberapa pihak. Berangkat dari hal ini maka diperlukan upaya terstruktur baik secara teoritis maupun praktis untuk melindungi, melayani, maupun mengembangkan potensi yang dimiliki para penyandang disabilitas. Salah satu jalan yang ditempuh adalah melalui jalur pendidikan dalam arti yang luas, dimana tujuan akhirnya adalah meniadakan stereotip, terpenuhinya hak-hak dan mendorong kemandirian kelompok disabilitas tersebut. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan terhadap penyandang disabilitas dalam al-Qur'an adalah dengan jalan penguatan konsep diri, pengakuan atas eksistensi penyandang disabilitas, perlakuan setara terhadap penyandang disabilitas, pelayanan akses bagi penyandang disabilitas dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
DIMENSI-DIMENSI PENDIDIKAN DALAM ISLAM
Fuad Masykur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 3 No 3 (2020): Tarbawi
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini bertujuan mengungkap dimensi-dimensi pendidikan dalam Islam. Hakekat pendidikan Islam merupakan proses tanpa akhir sejalan dengan konsensus universal yang ditetapkan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya. Pendidikan yang terus-menerus dikenal dengan istilah “min al-mahdi ila al-lahd” (dari buaian sampai liang lahad) atau dalam istilah lain “life long education” (pendidikan sepanjang hayat). Demikian juga tugas yang diberikan pada lembaga pendidikan Islam, harus bersifat dinamis, progresif dan inovatif mengikuti kebutuhan peserta didik dalam arti yang luas. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan). Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam dimensi pendidikan dalam Islam, yakni dimensi pendidikan jasmani (al-ahdaf al-jismiyah), dimensi pendidikan ruhani (al-ahdaf al-ruhaniyah), dimensi pendidikan akal (al-ahdaf al-aqliyah), dimensi pendidikan sosial (al-ahdaf al-ijtimaiyah), dimensi pendidikan akhlak (moral), dan dimensi pendidikan estetika (keindahan).
Hakikat Pendidikan Akhlak Dalam Dunia Islam dan Barat
Fuad Masykur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 3 No 2 (2020): TARBAWI
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tujuan dari penelitian ini adalah menelaah persoalan pendidikan akhlak merupakan salah satu fundamental dalam kehidupan umat manusia. Kajian keilmuan bermuara pada etika (akhlak) untuk kebahagiaan sekarang maupun masa yang akan datang. Barometer yang digunakan juga berbeda dikarenakan adanya perubahan ruang dan waktu. Terdapat tiga tema pokok yang dijadikan inti kajian. Yakni tentang الخير (kebaikan), السعادة (kebahagiaan) dan الفاضيلة (keutamaan). termasuk jujur, ikhlas, kasih sayang, hemat dan sebagainya merupakan cabang dari induk akhlak. Manusia dapat menemukan jalan kebahagiaan dengan kesadaran pribadinya sendiri atau dengan prestasi akalnya sendiri. Sebab menurut mereka bahwa akal merupakan satu-satunya cahaya petunjuk jalan. Dalam diskursus pendidikan akhlak adalah mensinergiskan antara pendekatan filosofis dan pendekatan keagamaan.
KONSEPSI KEILMUAN DAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU KHALDUN
Fuad Masykur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 4 No 1 (2021): Tarbawi : Jurnal Pemikiran dan pendidikan Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ada banyak para tokoh filsuf yang meyumbangkan pemikirannya terhadap dunia pendidikan, diantaranya adalah Ibn Khaldun. Ia orang yang berani mengeluarkan pemikiran-pemikiran barunya. Khusus yang menyangkut bidang keilmuan dan kependidikan ia berhasil memetakan dan mendudukan keilmuan Islam dan umum secara baik sehingga memudahkan bagi siapa saja untuk mengkajinya dan melakukan kajian lanjutan. Tidak sampai disitu, ia adalah penemu dan pencipta beberapa istilah-istilah baru dalam dunia keilmuan, dan beberapa metodologi ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu-ilmu umum. Diantaranya ia mampu memetakan, berikut derivasinya, ‘Ulum alNaqliyyah (ilmu yang bersumber langsung dari syariah) dan ‘Ulum alAqliyyah (ilmu-ilmu yang merupakan hasil dari olah pikir dan pengalaman manusia). Dari beberapa karyanya ada tiga kitab yang dianggap sebagai sumbangan besar dalam peradaban umat manusia, terutama Kitab alMukaddimah. Kitab al-‘Ibar dan Kitab Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun, Rihlatuh Gharban wa Syarqan. Dalam pemikirannya seputar pendidikan, ia mampu melahirkan teori-teori baru yang orisinil yang sebelumnya belum terkonstruksikan, misalnya tentang metode dan teori dalam mencari pengetahuan, pemikiran-pemikirannya tentang tujuan pendidikan, seorang pendidik, peserta didik, dan kurikulum (materi), serta metode pengajaran. Penemuannya itu dirasa masih cukup relevan hinga saat ini.
KETERPADUAN ANTARA SPIRIT DAN KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Fuad Masykur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 4 No 2 (2021): Tarbawi : Jurnal Pemikiran dan pendidikan Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Manusia dilihat dari struktur lahir maupun batinnya dianugrahi pancaindra, akal pikiran, dan hati sanubari. Baik ia sebagai an-Nas/ Insan, Basyar maupun Anak Adam ia memiliki struktur batin yang sekaligus sebagai potensi yang dimilikinya yakni kefitriannya, ruh, nafs dan ‘aql. Penelitian ini bertujuan menyingkap spirit Pendidikan dalam Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan ummat Islam pada generasi awal dan kemudian dipadukan dengan kurikulum Pendidikan yang semestinya. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (Liberary research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan model deskriptif-analitis. Proses dalam menafsirkan dan menganalisa data, penelitian ini menggunakan tehnik deduksi dan induksi serta discourse Analisys.Mencermati spirit pendidikan yang telah dibangun dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW dan ummat Islam pada generasi salaf, maka penelitian ini menemukan bahwa orientasi pendidikan dalam Islam adalah holistik; menggabungkan aspek ruhaniyyah jasmaniyyah, ukhrawi dan duniawi. Arah tujuannya adalah pembentukan dan pengembangan karakter yang tidak hanya kecerdasan pikir saja tetapi juga dzikir, tidak hanya cerdas namun berkarakter, kuat, trampil, peduli dan kerjasama.
SEJARAH DAN DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA DARI MASA KLASIK HINGGA MODERN (AKHIR ABAD KE XIX-AWAL ABAD KE XX)
Fuad Masykur
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 5 No 1 (2022): Tarbawi: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini membahas tentang sejarah dan dinamika pemikiran Islam, khususnya di Indonesia. Masa keemasan (golden age) nya Islam di segala bidang tinggal menjadi romantisme. Umat Islam yang awalnya memimpin peradaban dunia kemudian jauh tertinggal oleh Barat (Eropa). Pusat keilmuwan yang mulanya berpusat di dunia Islam kemudian pindah ke Barat. Padahal ketika ilmuwan muslim sedang giat-giatnya melakukan berbagai research dan kajian, Barat boleh dikatakan belum memberikan sumbangsih yang berharga dalam lapangan ilmu pengetahuan. Bahkan banyak ilmuwan Eropa yang datang belajar kepada ilmuwan muslim, dengan setting sosio-politik masyarakat muslim Spanyol abad ke-10. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dimana sumber datanya diperoleh dari literatur kepustakaan, seperti: buku, jurnal, dan lainnya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa ketika Islam datang ke suatu wilayah, di wilayah tersebut sudah terbentuk tradisi dan budaya yang dianut oleh masyarakat setempat. Maka hal ini akan menimbulkan perbedaan corak keislaman di daerah tertentu dengan daerah lainnya, seberapa besar tingkat perbedaannya itu tergantung seberapa dalam penetrasi Islam terhadap budaya dan tradisi yang melingkupinya.
KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM MENUNTUT ILMU PERSPEKTIF RADEN AJENG KARTINI DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM
Sumayyah Hilyatul Afida;
Fuad Masykur;
Inti Ulfi Sholichah
Tarbawi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 6 No 1 (2023): Tarbawi
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51476/tarbawi.v6i1.463
Penelitian ini menelaah pemikiran R.A Kartini tentang kedudukan perempuan dalam menuntut ilmu dan relevansinya dengan pendidikan Islam. R.A Kartini yang dikenal sebagai pahlawan perempuan memiliki gagasan cemerlang pada masanya untuk mendorong perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang baik sehingga bisa berpartisipasi dalam membangun bangsa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif berjenis library research atau berbasis pustaka dengan menggunakan pendekatan telaah diskriptif-kritis dalam kajian feminisme yang fokus pada kajian perempuan. Pendekatan tersebut penulis gunakan untuk melihat fenomena kedudukan perempuan sehingga lahir gagasan Kartini pada masa itu kemudian digunakan sebagai refleksi pada masa sekarang. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pemikiran Raden Ajeng Kartini tentang kedudukan perempuan dalam menuntut ilmu tertuang dalam surat-surat yang dikirimkan kepada teman-teman Eropanya. Secara mapan surat-surat tersebut telah diterbitkan menjadi buku sendiri, yang sampai saat ini populer dalam buku yang berjudul, “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Dalam surat-surat tersebut terlihat jika Raden Ajeng Kartini sangat menghendaki pendidikan untuk perempuan yang berkarakter khusus dengan tradisi dan budayanya. Di sinilah terdapat relevansinya dengan karakter pendidikan Islam. Kesimpulannya terdapat tiga poin. Pertama, Kartini menghendaki adanya pendidikan yang tanpa diskriminatif, baik secara suku, profesi, kelas ekonomi, maupun jenis kelamin. Kedua, pendidikan akhlak, karena bagi Kartini dalam pendidikan akhlak merupakan nomor satu sebelum mendapatkan ilmu. Ketiga, perempuan sebagai madrasah pertama, sebab bagi Kartini peranan perempuan bisa meraih pendidikan yang layak untuk keperluan membangun generasi dari kehidupan pertama manusia, yaitu semenjak berada di pangkuan ibunya.
POLEMIK DALAM MENGGAGAS METODOLOGI STUDI AGAMA
Fuad Masykur;
H. Fahrurrozi
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2022): Alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51476/alfikrah.v2i2.398
Sebuah pemikiran sejatinya lahir dari sebuah proses berpikir yang dilatarbelakangi oleh setting sosio-politik yang melingkupinya. Dalam pendekatan sosio-historis (socio-historical approach) dalam studi Islam, sebuah pemikiran, gagasan, idea, atau pandangan tertentu terhadap sebuah gejala atau fenomena yang hidup harus dilihat sebagai sebuah respon intelektual seorang pemikir terhadap fenomena sosial kemasyarakatan dan problem-problem politik yang dihadapinya. Penelitian ini bertujuan menyingkap polemik yang terjadi antar pemikir dan cendekiawan baik dari kalangan Islam maupun dari luar Islam terkait gagasan-gagasannya mengenai Metodologi Studi Islam. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, yang menitikberatkan pada studi kepustakaan (library research) dengan menggunakan model deskriptif-analitis. Penelitian ini menunjukan bahwa: 1). Untuk mendekati dan memahami fenomena alam dibutuhkan prasyarat tertentu secara akademik-ilmiah terlebih dalam hal yang menyangkut realitas keberagamaan manusia; 2). Alasan mengapa agama sulit dijadikan objek kajian ilmiah karena objektivikasi dalam kajiannya tidak hanya dilakukan kepada “pihak lain” (outsider) tetapi juga kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu betapapun kerasnya usaha untuk menjaga jarak dari obyek yang diteliti (Islam), subyektifitasnya lebih kentara ketimbang objektifitasnya; 3). Agama dipahami sebagai sesuatu yang suci, sakral dan agung, maka jika diposisikan sebagai objek netral, akan dianggap mereduksi, melecehkan, bahkan merusak nilai tradisional keagamaan; 4). Terdapat tarik ulur pemikiran di kalangan cendekiawan dan pemikir-baik dari kalangan muslim atau pun non-muslim-dalam merumuskan sebuah metodologi yang dapat disepakati bersama