Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENYAKIT HAWAR DAUN PINUS MERKUSII DI BERBAGAI PERSEMAIAN KAWASAN UTAMA HUTAN PINUS JAWA TIMUR Sutarman .; Andriani Eko Prihatiningrum
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 15 No. 1 (2015): MARET, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.166 KB) | DOI: 10.23960/j.hptt.11544-52

Abstract

Leaf blight disease of Pinus merkusii in various nurseries of pine forest in major area of East Java. This study aims to: (i) obtain isolates of pathogens, (ii) determine disease on seedling growth during the critical period and the young plants, (iii) determine the effect of pathogenic isolates on disease severity, and (iv) determine the effect of altitude on severity of seedling’s leaf blight disease of Pinus merkusii from various nursery locations in East Java. The experiment was conducted in February-August 2014 at nine locations in the nursery and one young pine plantation site. Disease index data were analyzed using Microsoft Office Excel 2007 software to determine the regression model of the relationship between the index of disease with the independent variables and with Anova followed by Duncan test to find out the effect of altitude difference to the index of disease. Pathogen that causes late blight is Pestalotia theae Sawada. In the critical period, seedling disease index increased from 7.38 to an average of 26.96 in the nursery RPH Celaket; while on the young plants in the field in RPH Kemiri disease index ranged 28-31. Differences in altitude did not affect disease index difference. Based on disease index, three isolates of pathogens that require serious attention are Wagir isolates (985 m asl., the most virulent), Ngantang (500 m asl.), and South Pujon (1200 m asl.).
PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI JAMUR ORGANIK WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG Sutarman .; Heru Irianto; A Djoko S
Prosiding Conference on Research and Community Services Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Conference on Research and Community Services)
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara geoekologi Kecamatan Wonosalam merupakan bagian dari kawasan pegunungan Anjasmoro-Welirang-Arjuno-Lalijiwo yang memberi dukungan bagi penyediaan sumberdaya produksi pertanian.   Sebagian kawasan ini merupakan perkebunan sengon milik rakyat dan instansi.  Kawasan ini didominasi oleh masyarakat tani yang sebagian besar merupakan petani gurem dan buruh tani.  Permasalah yang dialami oleh masyarakat setempat adalah:  (1) Melimpahnya limbah pertanian termasuk serbuk gergaji kayu dari kebun sengon yang terbuang dan menjadi sampah;   (2) Rendahnya skill petani yang ditunjukkan oleh ketidakmampuannya memanfaatkan limbah panen sengon berupa serbuk gergajian bagi peningkatan produktivitas usaha taninya; (3) Masyarakat belum mengoptimalkan pemanfaatan hasil  panen dan pemanfaatan limbah pertanian  bagi pendukungan status Wonosalam sebagai daerah wisata di Jawa Timur.  Solusi untuk mengatasi permasalahan itu adalah: (1) Memanfaatkan limbah pertanian dan serbuk kayu gergajian sengon sehingga dapat meningkatkan nilah tambah bagi masyarakat; (2) Meningkatkan skill petani agar dapat memanfaatkan limbah pertanian secara optimal, (3) Menjadikan upaya perbaikan berbasis pemanfaatan sumberdaya produksi pertanian untuk mendukung agroekowisata yang menjadi salah satu ciri Wonosalam.  Metode dalam melaksanakan solusi  adalah program diseminasi dan implementasi teknologi budidaya dan pengelolaan panen jamur tiram organik berbasis pada pemanfaatan limbah pertanian kebun sengon dalam bentuk pelatihan dan pendampingan.   Pelatihan  yang dilakukan  dalam empat tahap termasuk  pemagangan usaha pengelolaan pascapanen Warung Serba Jamur. Hasil pelaksanaan program berupa pencapaian target penguasaan: teknologi dan skill budidaya jamur organik, skill dalam pengolahan anek produk jamur tiram, skill dalam menajemen pemasaran dan keuangan,  skill dalam mengelola warung aneka  menu makanan berbahan jamur.  Luaran yang dihasilkan: produk aneka olahan jamur, usaha kuliner jamur, peningkatan pendapatan rata-rata petani hingga 200%, penyerapan tenaga kerja lokal 30%, dan kunjungan wisata meningkat hingga 30%.  Untuk menjamin kelangsungan program, maka melalui mekanisme partisipasif telah terbentuk kelembagaan petani usaha budidaya dan pengelolaan jamur tiram  organik yang memiliki jejaring dengan berbagai lembaga narasumber, agensi agroekowisata regional dan nasional, dan kelompok-kelompok masyarakat pengguna