Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

EFEK DERAJAT PELAPUKAN BATULEMPUNG FORMASI BOBONARO TERHADAP KESTABILAN LERENG PADA RENCANA LOKASI OBSERVATORIUM NASIONAL TIMAU DI KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR Setiawan, Arie; Sadisun, Imam Achmad; Sani, Rifki Asrul
Bulletin of Geology Vol 7 No 2 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.2.3

Abstract

Durabilitas dan stabilitas batulempung menjadi hal yang cukup menyita perhatian dalam kegiatan rekayasa akhir-akhir ini. Perubahan kondisi batulempung saat muncul ke permukaan, terutama pada wilayah yang direncanakan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur memerlukan kajian geologi teknik dan geoteknik yang tepat. Pembangunan Observatorium Nasional Timau di Kabupaten Kupang yang berdiri di atas lapisan batuan sedimen berupa batulempung Formasi Bobonaro berumur Miosen, memerlukan analisis yang tepat dalam hal karakterisasi keteknikan dan durabilitas batulempung untuk menunjang aspek teknis kegiatan rekayasa di sekitar area tersebut. Penelitian ini berfokus pada sifat keteknikan, derajat pelapukan dan kestabilan lereng pada batulempung Formasi Bobonaro. Parameter dasar dalam analisis kestabilan lereng yang terdiri dari berat isi, kohesi, dan sudut geser dalam mengalami penurunan nilai seiring dengan meningkatnya derajat pelapukan. Analisis kestabilan lereng didasarkan pada asumsi bahwa lereng terdiri dari material yang tidak homogen yaitu dengan nilai sifat keteknikan bervariasi terhadap derajat pelapukan dan material homogen, yaitu dengan nilai sifat keteknikan batulempung derajat pelapukan V. Dalam analisis kestabilanlereng juga mempertimbangkan aspek beban gempa dengan nilai PGA yang berbeda sebagai bahan perbandingan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa batulempung Formasi Bobonaro ini rentan terhadap proses pelapukan dengan nilai indeks slake durability rendah – sangat rendah dan aktivitas atau potensi mengembang rendah - sedang. Analisis kestabilan lereng memperlihatkan perbedaan nilai faktor keamanan yang drastis antara lereng yang terdiri dari material variasi derajat pelapukan dan lereng yang terdiri dari material homogen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin berkembang derajat pelapukan pada batulempung, maka kekuatan geser akan menurun, sehingga stabilitas lereng juga menurun, tercermin pada nilai faktor keamanan yang semakin rendah Kata kunci: batulempung, Formasi Bobonaro, derajat pelapukan, sifat keteknikan, kuat geser, kestabilan lere
Simulasi Respon Airtanah terhadap Kegiatan Dewatering pada Lokasi Penggalian Stasiun Bawah Tanah MRT A dan B di Kota Jakarta Pusat Absari, Hirundini Rustica; Widodo, Lilik Eko; Sadisun, Imam Achmad
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i1.12703

Abstract

Kegiatan penggalian dan dewatering yang dilakukan di kawasan perkotaan menghadapi tantangan akibat keberadaan airtanah. Airtanah yang tidak dikontrol dapat mengganggu kestabilan bangunan-bangunan bersejarah dan penting yang berada di sekitar lokasi penggalian. Lokasi kegiatan penggalian dan dewatering berada di Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, yang dilakukan untuk konstruksi dua stasiun bawah tanah MRT yang berjarak 800 m. Lokasi ini berada di Cekungan Airtanah Jakarta dengan litologi penyusun berupa endapan kipas aluvium dengan material butir berukuran lempung hingga pasir sendang berumur Kuarter. Kegiatan dewatering dilakukan dengan menggunakan sumur pelepasan tekanan (pressure relief well) sebanyak 46 sumur di Stasiun Bawah Tanah A dan 29 sumur di Stasiun Bawah Tanah B dengan kapasitas 4,15 m³/s per sumur . Simulasi airtanah dilakukan menggunakan Softwater Visual Modflow dengan metode numerik beda hingga berdasarkan beberapa asumsi untuk menyederhanakan pembuatan model airtanah. Pemantauan respon airtanah dilakukan dengan pengamatan terhadap perubahan head dan drawdown selama 1186 hari. Pada lokasi Stasiun Bawah Tanah A, terjadi penurunan head (drawdown) sebesar 3,1 m, sedangkan pada Stasiun Bawah Tanah B terjadi drawdown sebesar 5,5 m. Pengaruh dewatering dapat terlihat hingga jarak 550 m dengan drawdown sebesar 1- 8 cm.
Evaluating the Causes of Land Subsidence in Central Jakarta using 1-Dimensional Consolidation Approach Naufal, Muhammad Adi; Sadisun, Imam Achmad; Kartiko, Rendy Dwi; Septiandi, Muhammad Iqbal
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i2.13643

Abstract

Land subsidence in Central Jakarta, driven by both natural geological processes and human-induced factors, threatens the stability of the region’s infrastructure. Monitoring of land subsidence with InSAR in Central Jakarta shows an average speed of 1-10 cm/year. Land subsidence in Central Jakarta presents a growing geotechnical challenge, exacerbated by both natural consolidation and anthropogenic influences. During the period of 2018 to 2023, Jakarta's booming industrial development became a major factor contributing to the city's ongoing land subsidence problem. This study aims to evaluate the contribution of consolidation and anthropogenic factors to land subsidence in Central Jakarta. The analytical method uses 1-D consolidation theory is applied to calculate land subsidence. Borehole data from nine locations were used to estimate subsidence rates. Results indicate that natural consolidation has significant role in land subsidence, which is predicted to continue until 2368. Anthropogenic factors such as groundwater level decrease and additional building loads accelerate the subsidence process. The rate of soil subsidence for natural consolidation in Central Jakarta ranges from 1.5-9.1 cm/year. Meanwhile, there are anthropogenic factors such as groundwater level decrease and increase of building load achieved 3.4-17.4 cm/year. These anthropogenic factors accelerate the rate of soil subsidence by 1.9-8.3 cm/year or equivalent to 26.0-47.7%. Based on analysis, land subsidence analysis in Central Jakarta shows that increase in building load and groundwater level decrease in five years does not significantly affect the subsidence that occurs. However, role of anthropogenic factors can exacerbate land subsidence in Central Jakarta. Groundwater extraction arrangements and building load management need to be considered to minimize the negative impact on infrastructure.
Studi Geologi Teknik Tapak Penyimpanan Akhir Limbah Radioaktif (LRA) Demo Plant Tipe NSD Kedalaman Menengah di Puspiptek, Serpong Syaeful, Heri; Sucipta, Sucipta; Sadisun, Imam Achmad
EKSPLORIUM Vol. 35 No. 1 (2014): MEI 2014
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.1.1367

Abstract

Final disposal of radioactive waste intended to keep radioactive substances does not released to the environment until the substance activity decreased to the safe level. Storage concept of radioactive waste (RAW) final disposal that will be developed at the area of Puspiptek, Serpong is near surface disposal (NSD). Based on depth, NSD divided on two type, near surface NSD and medium depth NSD. Concept NSD in this research is medium depth NSD, which is between 30–300 meters. During NSD construction in medium-depth required the works of sub-surface excavation or tunneling. Analysis of in-situ stresses and sub-surface deformation performed to recognize the stress magnitude and its distribution that developed in soil/rock as well as the deformation occurred when sub-surface excavation takes place. Based on the analysis, acknowledged the magnitude of tensional and compression stress and its distribution that range from -441 kPa to 4.028 kPa with values of natural deformation or without reinforcement between 4.4 to 13.5 cm. A rather high deformation value which is achieved 13.5 cm leads to necessity of engineering reinforcement during excavation. The designs of engineering reinforcement on every excavation stage refer to the result of modeling analysis of stress and deformation distribution pattern.
Hydrogeological Evaluation Based on Water Quality Parameters and Groundwater Level Conditions in Kolaka and Tangketada Basins, Southeast Sulawesi Salim, Muhammad Abdul Rahman; Irawan, Dasapta Erwin; Sadisun, Imam Achmad; Herlambang Fredomeseliano, Bonanza; Kurniawan
EKSAKTA: Berkala Ilmiah Bidang MIPA Vol. 26 No. 04 (2025): Eksakta : Berkala Ilmiah Bidang MIPA (E-ISSN : 2549-7464)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA), Universitas Negeri Padang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/eksakta/vol26-iss04/623

Abstract

This study aims to evaluate the hydrogeological conditions of Pomalaa through analysis of groundwater flow patterns, groundwater level fluctuations, and water quality parameters. The methods used include geological and hydrogeological mapping, groundwater level measurements, and delineation of groundwater basins based on regional topography and lithological data. Water quality analysis was conducted by measuring temperature, Total Dissolved Solids (TDS), electrical conductivity (EC), and pH parameters. The study area consists of five main rock units, with three types of aquifers based on lithological characteristics, namely intergranular and fractured aquifers, low-yield aquifers, and rare aquifers. The results of the study show that groundwater flow patterns follow natural hydraulic gradients, but fluctuate due to environmental changes and mining activities. Several points show significant water quality degradation, with pH, TDS, and EC values exceeding drinking water thresholds. The water quality index shows variations from very good (57), good (49), poor (23), very poor (22), to unfit for drinking (48). The solution offered by this study is the need for mitigation strategies and sustainable water resource management, which is of utmost urgency to maintain ecosystem balance and ensure the availability of clean water for the community and industry in the future.