Ahmad Budiaman
Department Of Forest Management, Faculty Of Forestry And Environment, IPB University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia 16680

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN TROPIS

KETERBUKAAN AREAL HUTAN AKIBAT PENEBANGAN INTENSITAS RENDAH DI SALAH SATU IUPHHK-HA DI PAPUA Ahmad Budiaman; A Sektiaji Sektiaji
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i3.5979

Abstract

Harvesting of natural production forest with selective cutting system creates felling gaps and reduces canopy cover. Treefall gaps play important roles in forest ecology. The information of size and form of treefall gaps due to low harvest intensity (0,58 tree ha-1) in tropical natural forest is poorly established. This study aims to calculate the size of treefall gaps and to correlate nature of felled tree (tree height, tree diameter, crown height, crown diameter) and slope with size of treefall gaps. The study was carried out in a cutting block of a forest concession in Papua province. The plot used is a circular plot of 1.7 ha. The 15 sample plots were placed in the cutting block randomly. The size of treefall gaps is calculated by measuring the length and wide of area openness after tree felling. The average area of forest gap before tree felling, canopy gaps and expanded gaps respectively was 0,04%, 1,52% (258,7 m2), and 2,66% (451,7 m2). Tree height of felled tree has significant relationship to the size of treefall gaps.Penebangan hutan alam produksi dengan sistem tebang pilih menciptakan ruang terbuka (gaps) dan mengurangi tutupan tajuk. Keterbukaan tajuk hutan akibat penebangan memiliki peran penting dalam ekosistem hutan. Hingga saat ini masih sedikit informasi yang diketahui tentang ukuran dan bentuk keterbukaan tajuk akibat penebangan pohon dengan intensitas rendah di hutan tropis yang dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung luas areal hutan yang terbuka akibat penebangan pohon dengan intensitas rendah (0,58 pohon ha-1), dan menganalisis faktor pohon yang ditebang (tinggi pohon, diameter pohon, tinggi tajuk dan diameter tajuk) dan kemiringan lapangan, yang mempengaruhi luas keterbukaan area hutan akibat penebangan. Penelitian ini dilakukan di salah satu petak tebangan pada salah satu pengusahaan hutan alam produksi di propinsi Papua. Plot contoh yang digunakan adalah plot lingkaran dengan luas 1,7 ha. Jumlah plot contoh sebanyak 15 plot yang tersebar secara acak di petak tebangan. Luas keterbukaan areal hutan dihitung dengan cara mengukur panjang dan lebar areal terbuka setelah penebangan pohon. Ratarata luas keterbukaan tajuk tegakan hutan alam produksi yang belum ditebang sebesar 0,04%. Rata-rata luas keterbukaan tajuk dan areal hutan yang terbuka akibat penebangan pohon dengan intensitas rendah berturut-turut adalah 1,52% (258,7 m2) dan 2,66% (451,7 m2). Tinggi pohon yang ditebang berpengaruh nyata terhadap luas areal hutan yang terbuka akibat penebangan.
KAYU SISA PENJARANGAN DAN TEBANG HABIS HUTAN TANAMAN JATI Wood residues of Thinning and Final Cutting of Teak Plantation Forest Ahmad Budiaman; Devi Muhtariana; Nensi Yunita Irmawati
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i1.1607

Abstract

Kayu jati (Tectona grandis) merupakan hasil hutan utama hutan tanaman industri di pulau Jawa yang dikelola oleh Perum Perhutani dan telah memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia selama beberapa dekade. Jenis tebangan yang banyak dilakukan di hutan tanaman ini adalah penjarangan dan tebang habis.  Kedua jenis tebangan ini berpotensi menghasilkan kayu sisa.  Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besarnya kayu sisa dari kegiatan tebang habis kelas umur (KU) VII dan penjarangan KU VI.   Metode kuantifikasi kayu bundar yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pohon penuh.  Penelitian ini dilaksanakan di dua anak petak di KPH Madiun, Jawa Timur.  Jumlah pohon contoh untuk penjarangan sebanyak 42 pohon dan tebang habis sebanyak 48 pohon.  Dari penelitian ini diperoleh bahwa faktor residu dari  penjarangan jati kelas umur VI sebesar  0,15, dan tebang habis KU VII sebesar 0,14.  Penjarangan dan tebang habis  jati menghasilkan sortimen kayu bundar kecil yang lebih banyak dibandingkan sortimen kayu bundar sedang dan kayu bundar besar.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk sortimen kayu sisa yang paling banyak dihasilkan dari tebang penjarangan dan tebang habis adalah sortimen kayu kecil. Kata kunci: kayu sisa, kelas umur, tebang habis, penjarangan, jati.