WAHYUNI SAHANI
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Makassar

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

GAMBARAN DENSITAS NYAMUK Aedes Aegypty DENGAN KEJADIAN DBD DI DAERAH ENDEMIS DESA PASUI KECAMATAN BUNTU BATU KABUPATEN ENREKANG Hamsir Hamsir; Juherah Juherah; Wahyuni Sahani
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 23, No 1 (2023): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulolipu.v23i1.2980

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cenderung meningkat dengan jumlah penderita dengan penyebaran yang luas. Masalah ini sering muncul dan berulang dengan datangnya musim hujan. Di Indonesia, dengan kurangnya kesadaran akan pentingnya anjuran pemberantasan nyamuk sebagai upaya pencegahan penyakit demam berdarah. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian anak-anak di beberapa negara Asia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kepadatan nyamuk Aedes aegypty dengan kejadian demam berdarah dengue di daerah endemis, Desa Pasui, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah kepala keluarga di Desa Pasui sebanyak 441 kepala keluarga. Sampel yang digunakan adalah 82 rumah. Data diolah dengan tabel SPSS yang diperoleh dari observasi dan wawancara dari jawaban 82 responden kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ABJ untuk semua lokasi baik Dusun maupun Kecamatan berada pada <95 sedangkan indikator kinerja atau target pengendalian RPJMN adalah ABJ . 95. dan HI berada pada rentang poin 4 dan 5 sehingga dikategorikan kepadatan sedang pada nyamuk aedes aegypty. Untuk kejadian DBD di Kecamatan Buntu Batu ditemukan 12 orang yang pernah mengalami Kejadian DBD. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ABJ di Desa Pasui Kecamatan Buntu Batu belum memenuhi indikator yaitu bebas dari jentik nyamuk dan untuk House indek rumah masih berada pada kepadatan sedang. Angka kejadian DBD dalam satu tahun terakhir masih ditemukan sebanyak 12 orang di Daerah Endemis, Desa Pasui, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang.Kata kunci: Kepadatan Nyamuk Aedes Aegypty, DBD
Effectiveness of Integration of Moving Bed Biofilm Reactor and Activated Carbon in Treating Wastewater from Health Center Inayah Mahmud; Budirman Budirman; Wahyuni Sahani; Ain Khaer
Buletin Penelitian Kesehatan Vol. 54 No. 1 (2026)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bpk.v54i1.4407

Abstract

Background: The integration of MBBR and activated carbon merges effective biological degradation with superior adsorption capabilities, enhancing pollutant removal while addressing the limitations of each technology individually. This hybrid system is ideal for small facilities, offering comprehensive, cost-effective wastewater treatment with a flexible design and low operational costs. This study aims to evaluate the effectiveness of hybrid Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) and activated carbon technology for wastewater treatment of health centers in Makassar City. Methods: The research was conducted experimentally using three variations of contact time (2, 4, and 6 hours), and the physical and chemical parameters measured, namely Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), ammonia (NH₃), temperature, and pH, were measured before and after treatment. The data were analyzed using the Kruskal-Wallis statistical test to test differences between treatments and the Wilcoxon Signed-Rank Test to evaluate the significance of differences before and after treatment. Results: The results showed that this hybrid system reduced BOD by 80.41%, COD by 81.40%, and NH₃ by 79.38%, with the highest efficiency achieved at a contact time of 6 hours. Temperature (28-28.5°C) and pH (7.2-7.9) remained stable throughout the treatment process, supporting the performance of microorganisms in MBBR. The novelty of this research lies in the combination of MBBR biodegradation mechanism with activated carbon adsorption, which not only improves the pollutant removal efficiency but also enables its application to small-scale health facilities such as public health center with simple design and low operational cost. Conclusion: This technology offers a practical and sustainable solution for wastewater management in primary healthcare facilities, significantly contributing to developing environmentally friendly technologies and supporting policy-making related to wastewater management in Indonesia.