Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Tinjauan Semiotik Terhadap Gambaran Dunia Menurut Kosmologi Hindu-Buddha, dan Batak Ery Soedewo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 19 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.779 KB) | DOI: 10.24832/bas.v10i19.266

Abstract

AbstractSimilarities in cosmology concept between Bataks tradition and Hindu-Buddhist tradition on three world existence is universal. But there’s a concept in Hindu-Buddhist that influenced on Batak’s cosmology concept.
CANDI SIMANGAMBAT: CANDI HINDU BERLANGGAM ARSITEKTUR JAWA, DI MANDAILING NATAL, SUMATERA UTARA Ery Soedewo; Andri Restiyadi
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1324.076 KB) | DOI: 10.24832/bas.v21i2.363

Abstract

Candi Simangambat yang merupakan candi hindu terdapat di Kelurahan Simangambat, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal. Berdasarkan pada temuan artefaktual penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara selama tahun 2008 2012 mengindikasikan bahwa candi ini memiliki rentang waktu pemanfaatan sekitar abad 9-11 Masehi. Salah satunya berdasarkan pada komparasi botol kaca yang ditemukan pada penelitian candi Simangambat dan situs Lobu Tua. Adapun permasalahan pada artikel ini adalah seperti apa ujud bangunan Candi Simangambat di masa lalu ? Masih terkait dengan masalah fisik bangunan candi, pertanyaan berikut yang muncul adalahdarimana batu-batu alam sebagai material penyusun Candi Simangambat berasal ? Berdasarkan pada asumsi rentang waktu pemanfaatannya, maka artikel ini mencoba untuk mengkomparasikan data arsitektural yang dijumpai di Candi Simangambat dan candi-candi semasa yang terdapat di Jawa. Selain itu juga mencoba untuk menelusuri sumber bahan baku batu yang digunakan di Candi Simangambat. Hasil komparasi arsitektural menunjukkan bahwa candi ini memiliki gaya seni yang sama dengan candi-candi abad 9 11 Masehi di Jawa. Adapun berkaitan dengan lokasi bahan baku batu yang digunakan kemungkinan besar terletak di Situs Kebun Baturosak yang tidak jauh dari Candi Simangambat.
STRATEGI KERAJAAN BATAK (TAMIANG) MENGHADAPI SERANGAN KESULTANAN ACEH DI ABAD KE-16 M Ery Soedewo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 22 No 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3426.92 KB) | DOI: 10.24832/bas.v22i1.394

Abstract

The Batak reign was one of the countries mentioned by Portuguese written sources from the 16th century AD, once existing on the island of Sumatra. In the middle of the 16th century the sovereignty of the Batak Kingdom was threatened by the aggression of the Sultanate of Aceh to its neighboring countries on the island of Sumatra. Through a historical study of the main data in the form of two Portuguese records, Tome Pires and Ferna-O Mendes D. Pinto, it was revealed the potential strengths and strategies adopted by the Batak Kingdom in the face of the Aceh Sultanate's attack. The absence of fortifications as an element of state power, made the Batak Kingdom change its defense strategy from defensive to aggressive. The initiative of the attack carried out by the Batak forces was inseparable from the support of their allied countries. Although the alliance has been formed by the Kingdom of Batak with a number of countries, the glory belongs to the Sultanate of Aceh.
KONTEKS PENGUBURAN KOMPLEKS MAKAM KUNO SUTAN NASINOK HARAHAP Churmatin Nasoichah; Andri Restiyadi; Repelita Wahyu Oetomo; Nenggih Susilowati; Ery Soedewo; nfn Khairunnisa; Ivonne Visse Karina Purba
Forum Arkeologi VOLUME 33, NOMOR 2, OKTOBER 2020
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/fa.v33i2.678

Abstract

The form of burial in the ancient tomb complex of Sutan Nasinok Harahap is in the form of a mound of land bordered by flat stones. The problem is what the burial context and the characteristics of the tomb in the Sutan Nasinok Harahap Ancient Tomb Complex?. The purpose of this study is to determine the context of burial and recognize the complex characteristics of the tomb. This study uses an inductive reasoning model. Judging from the characteristics, the characteristics of the tomb have not yet been seen, only the orientation of the tomb indicates the absence of Islamic influence. Related to the burial context, the tomb is located far from the river, on a high place (dolok) and is in the banua partoru zone while Lobu Gunung Tua Batang Onang is in banua tonga which is adjacent to the banua parginjang zone (close to the river). Bentuk penguburan di Kompleks Makam Kuno Sutan Nasinok Harahap berupa gundukan tanah yang pada bagian tepiannya dibatasi oleh batu-batu pipih. Permasalahannya adalah bagaimanakah konteks penguburan serta karakteristik makam di Kompleks Makam Kuno Sutan Nasinok Harahap?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konteks penguburan dan mengenali karakteristik kompleks makam tersebut. Penelitian ini menggunakan model penalaran induktif. Dilihat dari karakteristiknya, belum terlihat karakteristik makamnya, hanya orientasi makam yang menunjukkan belum adanya pengaruh Islam. Terkait konteks penguburannya, makam berada di lokasi yang jauh dari sungai, tinggi (dolok) dan berada dalam zona banua partoru sedangkan Lobu Gunung Tua Batang Onang berada di banua tonga yang berdekatan dengan zona banua parginjang (dekat dengan sungai).
Varieties and Origins of Kampai Island Glass Beads Ery Soedewo
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.532

Abstract

Manik-manik kaca yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di Asia Selatan dan Asia Tenggara antara abad 1 dan 13 umumnya disebut sebagai manik-manik kaca Indo-Pasifik. Berbagai bentuk dan warna manik-manik kaca ditemukan di Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Data yang dikumpulkan dari manik-manik kaca diperoleh dari penggalian arkeologi di Pulau Kampai. Dalam menganalisis varietas manik-manik kaca, penelitian ini mengkarakterisasi varietas manik-manik kaca Pulau Kampai berdasarkan tipologi dan frekuensi, yaitu manik-manik kaca polos dan manik-manik kaca berlekuk. Sejumlah manik-manik kaca ini dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi komposisi bahan. Dalam menentukan asal produksi manik-manik kaca, penelitian ini menggunakan metode komparatif pada beberapa penelitian yang terpublikasi. Melalui perbandingan temuan limbah manik-manik kaca dari pusat produksi Arikamedu dan manik-manik kaca di Papanaidupet (India) dan Gudo (Indonesia), hasilnya diketahui bahwa Pulau Kampai adalah tempat produksi manik-manik kaca di wilayah Selat Malaka antara abad ke-11 hingga ke-14. Munculnya pulau Kampai sebagai tempat produksi manik-manik kaca pada abad ke-11 kemungkinan disebabkan oleh kondisi geopolitik. Tradisi pembuatan manik-manik kaca menyebar ke Pulau Kampai karena pengaruh Kerajaan Caka meningkat di wilayah Selat Malaka setelah ekspansinya ke beberapa tempat di wilayah tersebut.The glass beads discovered in various archaeological sites in South Asia and Southeast Asia between the 1st and 13th centuries were generally referred to as Indo-Pacific glass beads. Various shapes and colors of glass beads are found on Kampai Island, Langkat Regency, Sumatera Utara. Collected data of glass beads were obtained from archaeological excavations in Kampai Island. In analyzing varieties of glass beads, this study characterizes the variety of Kampai Island glass beads based on their typology and frequency, i.e., drawn glass beads and wound glass beads. A number of these glass beads were analyzed in the laboratory to identify the composition of the ingredients. In determining the origin of glass beads production, this study used a comparative method on some published research. Through comparison of the findings of glass beads wastes from Arikamedu and glass beads production centers in Papanaidupet (India) and Gudo (Indonesia), the result finds that Kampai Island was a glass beads production site in the Malacca Strait region between 11th–14th centuries. The emergence of Kampai island as a glass beads production site in the 11th century was likely a result of geopolitical conditions. Glass bead making traditions spread to Kampai Island as Cōla Kingdom influences rose in Malacca Strait region after its expansion to several places in that region.