Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PERAN POLITEKNIK NEGERI AMBON DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN NEGERI OMA MENUJU DESA WISATA Latuconsina, Rina; Leuhery, Lenora; Saptenno, Sammy; Manuputty, Evandro; Pattiasina, Nanse Henny; Jamlaay, Marselin
Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH) CIASTECH 2021 "Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi Krisis Energi Global"
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Maluku merupakan salah satu provinsi yang terdiri dari gugusan pulau kecil, Negeri Oma merupakan salah satu negeri adat yang berada di Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah. Negeri Oma sendiri memiliki potensi alam yang melimpah baik di bidang kelautan ataupun perkebunan, selain itu Negeri Oma juga menyimpan pesona alam yang indah dan beberapa lokasi wisata yang alami diantaranya : permandian kolam Air Asol, Batu Kapal serta sumber air panas. Dari potensi alam yang ada dan ekonomi kreatif belum tersentuh secara optimal baik dari segi pengolahan, promosi maupun pemasaran. Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Negeri Ambon menjadikan Negeri Oma sebagai Desa Binaan pada tahun 2021. P3M dalam hal ini yang menjembatani para peneliti dan pengabdi untuk berkontribusi dalam pembangunan Negeri Oma. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perekonomin masyarakat dan menciptakan kawasan Negeri Oma sebagai desa Wisata yang dinteggrasikan dan disinergikan dengan berbagai program. Kegiatan yang dilakukan adalah memperkenalkan Teknologi Tepat Guna dalam berbagai bidang diantaranya pembuatan Webbsite, perancangan alat pengering otomatis, pembuatan booth untuk tempat jualan, pembuatan tempat cuci tangan semi otomatis, pengembangan SDM melalui berbagai macam pelatihan kepada masyarakat yang berumur produktif serta pengembangan sarana dan prasarana pendukung lokasi wisata. Hasil Kegiatan dilaksanakan di Negeri Oma pada tanggal 11 September 2021 pada Kantor Desa Negeri Oma serta penyerahan alat-alat prasarana pendukung lokasi wisata langsung pada lokasi masing-masing. Dengan adanya pengembangan Pariwisata di negeri Oma, maka akan berdampak terhadap pendapatan masyarakat negeri Oma.
PERANCANGAN PENINGKATAN KEANDALAN SISTEM TENAGA LISTRIK PADA GARDU HUBUNG POKA Jacob Rikumahu; Denny Pattiapon; Marselin Jamlaay
JURNAL SIMETRIK Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.002 KB) | DOI: 10.31959/js.v9i1.286

Abstract

Proses pendistribusian di Pusat Listrik Poka dimulai dari Gardu Hubung (GH) Poka dimana terdapat 4 busbar (rel daya) 20 KV yaitu busbar 20 KV Ansaldo, busbar 20 KV Siemens, busbar 20 KV CAT dan busbar 20 KV ABC, dimana ke 4 busbar tersebut menyalurkan listrik berdasarkan output dari setiap generator yang dalam kondisi generator sementara beroperasi. Jika terjadi gangguan pada 4 busbar yang ada maka : pemakaian sendiri (P.S) seperti saparator, elektromotor, radiator, pompa-pompa yang terhubung pada busbar 20 KV tidak dapat difungsikan, pemakaian sendiri (P.S) untuk penerangan sentral PLTD Poka akan padam, mesin-mesin yang ada tidak dapat dioperasikan. Bila terjadi gangguan di CAT 20 KV busbar kita dapat memanufer di gardu hubung Poka dengan memasukan Coupling (2) agar pemakaian sendiri (P.S) dan generator CAT yang terhubung ke CAT 20 KV busbar dapat menggunakan busbar lain yaitu GMT 20 KV busbar dan ABC 20 KV busbar. Dengan begitu pemakaian sendiri dan CAT unit 4 dan 5 dapat difungsikan.
PENGGUNAAN MOTOR SINKRON TIGA PHASA TIPE SALIENT POLE SEBAGAI GENERATOR SINKRON Denny Richard Pattiapon; Jacob J Rikumahu; Marselin Jamlaay
JURNAL SIMETRIK Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.705 KB) | DOI: 10.31959/js.v9i2.386

Abstract

Suatu motor sinkron bila hendak digunakan sebagai generator sinkron, maka motor tersebut harus digerakkan oleh suatu penggerak mula pada kecepatan sinkron dan belitan rotornya harus dieksitasi melalui suatu catu daya DC. Dalam mengoperasikan motor sinkron sebagai generator sinkron adalah motor sinkron tidak memiliki penguatan medan atau eksitasi sendiri (self excitation), sehingga dibutuhkan catu daya tegangan DC yang dapat diatur untuk kebutuhan eksitasi medan rotor. Penguat atau eksitasi sendiri digunakan untuk menghasilkan eksitasi medan pada motor sinkron agar dapat beroperasi sebagai generator sinkron. Rangkaian catu daya DC dapat berupa rangkaian yang terpisah dari generator ataupun rangkaian yang tidak terpisah dalam hal ini tegangan keluaran (output) generator disearahkan dan digunakan sebagai catu daya eksitasi medan.Metode yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian ini adalah riset dan pengembangan yaitu suatu metode yang dipakai untuk mengembangkan model, alat atau aplikasi tertentu berdasarkan proses penelitian.Dimana motor sinkron dioperasikan sebagai generator sinkron yang menggunakan penguat medan terpisah, dengan beban 0 – 210 Watt, ternyata yang terjadi adalah semakin besar beban yang diberikan  pada generator, maka putaran generator dan tegangan keluaran yang dihasilkan dari generator mengalami penurunan, sehingga putaran generator harus distabilkan kembali pada putaran 1500 Rpm dan tegangan keluaran pada masing-masing fasa harus distabilkan pada 220 VAC, sedangkan dengan menggunakan penguat medan sendiri dengan beban 0 - 240 Watt, yang terjadi adalah tegangan eksitasi generator yang dihasilkan dari penguat medan sendiri (self excitation) akan tetap stabil, dan akan adalah putaran motor sinkron menurun dan harus distabilkan kembali pada putaran 1500 Rpm, tegangan eksitasi generator yang disuplai dari penguat medan sendiri tetap stabil. Sedangkan tegangan keluaran pada generator sinkron mengalami penurunan dari 252 VAC pada beban nol sampai 220 VAC pada beban maksimum dan arus mengalami peningkatan
Sistem Cerdas Hybrid Active Power Filter Tiga Fasa untuk Mereduksi Harmonisa dan Tegangan Tidak Seimbang Marselin Jamlaay; Mochamad Ashari; Mauridhi Hery Purnomo
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2013
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode kontrol hybrid active power filter tiga fasa yang diusulkan terdiri dari rangkaian filter aktif tipe seri (series active power filter) dan rangkaian filter pasif (passive power filter). Filter aktif tipe seri menyuntikan tegangan kompensasi yang sebanding dengan komponen harmonisa pada suplai arus. Strategi kontrol yang digunakan untuk memperoleh tegangan referensi berbasis Artificial Intelligence (AI) yaitu Adaptive Linear Neuron (ADALINE) yang terintegrasi dengan Fuzzy. Sedangkan untuk menyelesaikan masalah voltage unbalance digunakan metode perhitungan komponen simetri. Penggunaan hybrid active power filter dapat mengoptimal kompensasi harmonik dan kompensasi tegangan tiga fasa yang tidak seimbang. Hasil simulasi menunjukan penurunan THD arus sumber mencapai 3% dengan reduksi unbalance hingga 0.015%.
Rancang Bangun Alat Pengering Hasil Perkebunan dan Perikanan di Negeri Oma Kab. Maluku Tengah Rina Latuconsina; Sammy Saptenno; Sefnath J Wattimena; Marselin Jamlaay
JURNAL APLIKASI DAN INOVASI IPTEKS "SOLIDITAS" (J-SOLID) Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Aplikasi Dan Inovasi Ipteks SOLIDITAS
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/js.v4i2.2831

Abstract

Negeri Oma yang berada pada kawasan pesisir pantai dan memiliki beberapa karakteristik khusus untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Khusus masyarakat Negeri Oma, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang masih asli. Pendapatan masyarakat negeri Oma sebesar 60% bersumber dari potensi perkebunan, diantarnya, cengkeh, pala, kelapa, singkong, dan beberapa jenis buah-buahan. Hasil pertanian ini proses pengolahan rata-rata melalui proses pengeringan. Seperti cengkeh basah dari hasil panen menjadi cengkeh kering, embal singkong, bunga pala dan daging kelapa untuk kopra. Untuk proses pengeringan beberapa perkebunan lokal masih dilakukan secara konvensional yaitu dijemur pada saat cuaca panas yang terik. Proses menjemur hasil perkebunan ini bisa memakan waktu sampai berhari-hari tergantung kondisi alam.Hasil perkebunan yang ada di Negeri Oma jika di jemur secara konvensional untuk daging kelapa dijemur memakan waktu antara 4 sampai 5 hari. Untuk perkebunan Cengkeh basah yang dijemur untuk menghasilkan cengkeh kering yang siap dipasarkan memakan waktu 10 – 12 hari. Untuk perkebunan bunga pala, proses pengeringan memakan waktu 2 sampai 3 hari. Sedangkan untuk proses pengasapan ikan asar yang kalau diolah secara tradisional bisa memerlukan waktu antara 2,5 jam sampai 3 jam. Dari permasalahan yang ada maka diperlukan alat pengering yang dapat digunakan dengan tidak dipengaruhi oleh cuaca dan penggunaan waktu yang lebih singkat dalam proses pengeringan atau pemanggangan hasil perkebunan dan hasil perikanan di negeri Oma. Prinsip kerja alat atau oven ini adalah loyang-loyang didesain sedemikian rupa dan bekerja secara berputar yang digerakan oleh motor listrik DC, proses berputar yang dirancang adalah untuk mengurangi proses pengamatan secara rutin dan untuk menghindari tidak meratanya pengeringan. Penelitian ini merupakan penelitian tergolong baru dikarenakan satu alat dapat difungsikan untuk beberapa hasil perkebunan dan dapat juga untuk memanggang ikan yang belum ada pada umumnya.
Pembuatan Kemasan Produk Ikan Asar Bagi Industri Rumahan Di Desa Laha Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon Evandro Adolf W Manuputty; Wa Asrida; Nance Henny Pattiasina; Penina T Istia; Marselin Jamlaay
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT JAMAK Vol 1, No 1 (2018): Desember 2018
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31959/jpmj.v1i1.280

Abstract

Ikan asar merupakan makanan khas masyarakat Maluku sehingga tak heran jika di setiap sudut kota Ambon banyak ditemui penjual ikan asar. Sesuai dengan penyebutannya, ikan asar diolah dengan cara diawetkan melalui pengasapan dengan kayu bakar. Ikan asar sangat digemari oleh masyarakat Maluku selain untuk dikonsumsi sehari-hari juga dapat dijadikan sebagai oleh-oleh kuliner. Salah satu pusat pengelolaan ikan asar di Ambon adalah di desa Laha. Letaknya yang strategis dengan Bandara Internasional Pattimura Ambon, memudahkan para wisatawan tidak perlu berjalan jauh ke pusat kota untuk mencari oleh-oleh kuliner khas Ambon ini. Permasalahan yang dihadapi oleh industri pengolahan ikan asar di desa laha adalah pada pemasaran. Ikan asar hasil produksi pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari konsumen di wilayah sekitar. Nilai jualnya tidak tinggi karena cakupan penjualannya terlalu sempit. Manfaat dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah diharapkan agar kemasan yang dibuat dapat menarik minat beli konsumen sehingga membantu produsen ikan asar dalam peningkatan pemasarannya. Pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Dari segi promosi wadah atau pembungkusan berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik bagi konsumen. Karena itu bentuk, warna, ukuran,  kekuatan dan dekorasi dari kemasan perlu diperhatikan dalam perencanaannya.
PENINGKATAN KEMAMPUAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BAGI GURU SEKOLAH DASAR Lory Marcus Parera; Victor Puturuhu; Hendrik Tupan; Marselin Jamlaay
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT IRON Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31959/jpmi.v1i1.268

Abstract

Untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran kepada siswa di sekolah, maka teknologi informasi memiliki peranan penting dalam meningkat kualitas sumber daya manusi di era koputerisasi. Di sekolah guru tidak hanya mengunakan papan tulis sebagai sarana belajar, tetapi apalikasi komputer dapat digunakan untuk melakukan proses belajar mengajar. Dalam kerangka pemecahan masalah yang perlu dilakukan adalah indentifikasi pada kondisi awal keberadaan dan kemampuan dalam mengoperasikan komputer dan kemampuan untuk menggunakan media pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar kepada siswa di kelas. Pada pelatihan masih banyak guru-guru yang diajarkan mulai dari pengenalan sampai dapat mengoperasikan komputer secara mandiri. Untuk tahap pelatihan ini masih menggunakan aplikasi microsoft word, sebab aplikasi ini merupakan kebutuhan yang mendesak yang seharusnya dikuasai oleh seorang guru terutama dalam membuat RPP dan surat menyurat lainnya. Hasil dari kegiatan pelatihan ini, kemampuan guru dalam mengoperasikan komputer masih minim yaitu mencapai 20%.
ANALISA KESALAHAN PEMASANGAN GROUNDING PADA KWH METER PRABAYAR Denny R. Pattiapon; Jacob J. Rikumahu; Marselin Jamlaay
JURNAL ELKO (ELEKTRIKAL dan KOMPUTER) Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54463/je.v2i1.12

Abstract

Grounding adalah suatu jalur langsung dari arus listrik menuju bumi atau koneksi fisik langsung ke bumi. Dipasangnya koneksi grounding pada instalasi listrik adalah sebagai pencegahan terjadinya kontak antara makhluk hidup dengan tegangan listrik berbahaya yang terekspos akibat terjadi kegagalan isolasi. Dalam PUIL 2000 (PUIL : Persyaratan Umum Instalasi Listrik, saat ini edisi terakhir adalah tahun 2000), dipakai istilah pembumian, dan memiliki pengertian sebagai “penghubungan suatu titik sirkit listrik atau suatu penghantar yang bukan bagian dari sirkit listrik, dengan bumi menurut cara tertentu” (PUIL adalah ketentuan atau persyaratan teknis yang diterapkan di Indonesia, dengan mengacu kepada standard internasional, dan dibuat sebagai pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik) Pun, koneksi ke tanah dapat juga membatasi kenaikan dari tegangan listrik statis ketika menangani produk yang mudah terbakar atau ketika memperbaiki perangkat elektronik. Jadi berdasarkan pengujian pertama dan kedua, dapat ditarik kesimpulan bahwa, kesalahan pemasangan grounding pada kwh Meter dapat mempengaruhi pengukuran jika terjadi loss contact kabel netral pada tiang yang dapat mengakibatkan adanya arus gangguan sehingga kerugian dialami oleh banyak pihak seperti; Pihak PLN dan Pelanggan, kerugiannya antara lain kesetrum listrik, pemborosan kwh Meter, kerusakan peralatan listrik serta Rugi Kwh dan bahan bakar pada pembangkit.
Analisa perbandingan pemakaian Fuse Cut Out (FCO) dan tidak memakai Fuse Cut Out (FCO) pada penyulang percabangan Rijali terhadap Energy Not Served (ENS) Kurniawan Arya; Rina L Manuhuttu; Marselin Jamlaay
JURNAL ELKO (ELEKTRIKAL dan KOMPUTER) Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54463/je.v1i1.1

Abstract

Gangguan pada sistem distribusi tenaga listrik hampir seluruhnya merupakan gangguan hubung singkat, yang akan menimbulkan arus yang cukup besar. Semakin besar sistemnya maka semakin besar pula gangguannya. Maka untuk melepaskan gangguan dibutuhkanlah sistem proteksi. Sistem proteksi adalah cara untuk mencegah atau membatasi peralatan terhadap gangguan. Sehingga kelangsungan penyaluran tenaga listrik dapat dipertahankan. Rele Proteksi adalah susunan peralatan yang direncanakan untuk dapat merasakan adanya ketidaknormalan pada peralatan atau bagian sistem tenaga listrik dan segera secara otomatis memberikan perintah untuk membuka Pemutus Tenaga (PMT) untuk memisahkan bagian yang terganggu dengan bagian yang tidak terganggu. Fuse Cut Out (FCO) merupakan seperangkat alat proteksi yang berfungsi untuk mengamankan gangguan arus lebih dengan cara meleburkan komponen (Fuse Link) yang ada di dalamnya. Energy Not Served (ENS) atau energi yang tidak terlayani merupakan energi yang sudah di produksi oleh PT.PLN (Persero) dan tidak dapat disalurkan kepada pelanggan, dikarenakan terjadi gangguan pada jaringan listrik dan mengakibatkan pemadaman sehingga PLN mengalami kerugian kWh yang sudah di produksi. Dari hasil yang didapatkan disaat terjadi gangguan pada percabangan Brimob Tantui yang tidak memakai Fuse Cut Out (FCO) mengalami kerugian Energy Not Served (ENS) sebesar 874.008 kWh dan Rupiah padam sebesar Rp 1.242.506.736 yang mengakibatkan seluruh penyulang Rijali terjadi pemadaman akan tetapi disaat percabangan Brimob Tantui memakai Fuse Cut Out (FCO) kerugian Energy Not Served (ENS) dapat diminimalisirkan yaitu sebesar 30.589 kWh dan Rupiah padam sebesar Rp 44.887.506 serta gangguan yang terjadi hanya sebatas daerah percabangannya saja.
Analisis Penyeimbangan Beban Pada Jaringan Tegangan Rendah Gardu Distribusi AMH02 Penyulang Amahai Di PT. PLN (Persero) ULP Masohi Marchelo C. de Queljoe; Deny R. Pattiapon; Marselin Jamlaay
JURNAL ELKO (ELEKTRIKAL dan KOMPUTER) Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54463/je.v1i1.2

Abstract

Sistem Distribusi Tenaga Listrik pada dasarnya adalah suatu proses untuk menyalurkan tenaga listrik dari sistem transmisi tenaga listrik 150 kV ke konsumen, baik konsumen 20 kV ataupun konsumen 380/220 V. Sistem distribusi yang lebih kompleks jaringannya adalah sistem distribusi Tegangan Rendah (380/220V), karena jaringan sistem distribusi tegangan rendah mempunyai cakupan jaringan yang sangat luas. Hal ini seringkali menyebabkan sistem Distribusi Tegangan Rendah menjadi tidak seimbang, karena pada umumnya pelanggan rumah tangga memanfaatkan tenaga listrik satu fasa. Akibat dari sistem distribusi tegangan rendah yang tidak seimbang tentunya akan berpengaruh terhadap banyak hal, seperti: kinerja trafo, panas berlebih pada phase beban lebih, arus mengalir pada kawat netral, drop tegangan ujung pada jaringan phase beban lebih. Dan pada akhirnya kualitas tenaga listrik di tingkat konsumen menurun. Hasil pengukuran awal pada saat beban puncak menunujukan ketidakseimbangan pada phasa T sebesar 40,33%. Dengan ketidakseimbangan beban ini maka solusi yang bisa dilaksanakan adalah melakukan penyeimbangan beban pada trafo. Setelah penyeimbangan beban, nilai ketidakseimbangan beban turun menjadi 3,43%. Nilai ini telah jauh dibawah kriteria ketidakseimbangan maksimum yaitu 10 %.