Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

ANALISIS MAKNA TANDA PADA FILM KARTINI : RESISTENSI PEREMPUAN JAWA TERHADAP BUDAYA PATRIARKI Nurudin Sidiq Mustofa; Siti Maemunah; Lilik Kustanto
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.205 KB) | DOI: 10.24821/sense.v2i1.5074

Abstract

ABSTRACTThe term patriarchy is used to refer to "male power" specifically the power in which male domination of women occurs which is realized in various ways. Men are considered to have more power than women so that people view women as weak and helpless. However, with the participation of women who echoed the spirit of movement in countering the injustice of patriarchal culture, this social change was taken by the media to be socialized through propagation media that focused visual auditivity, for example in films. The paper thesis was intended to look for signs of resistance (resistance) to patriarchal culture in the components of the filmThis research is a qualitative research with qualitative descriptive method, namely by conducting research on signs of resistance against patriarchal culture on the components of Kartini's film. The analysis unit to be used is the scene. The results of the research data are processed by qualitative analysis which is encoded by the three-level theory of social code proposed by John Fiske so that conclusions can be drawn.Based on the results of  the study it can be concluded that some film components show signs of resistance to culture such as wardrobe, movement, sound, music, editing, arrangement, and cinematography. These signs after coding are done using the Three levels of the Social Code showing women's representation of the culture of the Patriarchy.Keywords: Resistance, Women, Patriarchal Culture, Signs, Film Components  ABSTRAKIstilah patriarki digunakan untuk menyebut “kekuasan laki-laki” khususnya kekuasan yang didalamnya berlangsung dominasi laki-laki atas perempuan yang direalisasikan melalui berbagai cara. Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibanding perempuan sehingga masyarakat memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Namun seiring dengan banyaknya perempuan yang mendengungkan semangat pergerakan dalam melawan ketidakadilan budaya patriarki, gejala sosial ini ditangkap oleh media untuk disosialisasikan kedalam proyeksi media yang bersifat auditif visual, contohnya pada film. Skripsi karya tulis berjudul “Resistensi Perempuan Jawa Terhadap Patriarki (Analisis Makna Tanda Pada Film Kartini)” ini bertujuan untuk mencari tanda-tanda resistensi (perlawanan) terhadap budaya patriarki didalam komponen-komponen film.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan melakukan pencarian tanda-tanda resistensi (perlawanan) terhadap budaya patriarki pada komponen-komponen film Kartini. Unit analisis yang akan digunakan adalah scene. Data hasil penelitian diolah dengan analisis kualitiatif yang dikodekan dengan teori three level of social codes yang dikemukakan oleh John Fiske sehingga bisa ditarik beberapa kesimpulan.Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa beberapa komponen- komponen film menunjukan tanda-tanda resistensi (perlawanan) terhadap budaya patriarki seperti wardrobe, pergerakan, sound, musik, editing, setting, dan sinematografi. Tanda-tanda tersebut setelah dilakukan pengkodean menggunakan Three level of Social Codes menunjukan representasi perlawanan perempuan Jawa terhadap budaya Patriarki.Kata Kunci : Resistensi, Perempuan, Budaya Patriarki, Tanda, Komponen Film
Representasi Reintroduksi Satwa dalam Film Postcards From The Zoo (Analisis Semiotika Christian Metz) Kevin Aldrianza Devano; Lilik Kustanto; Siti Maemunah
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sense.v5i1.7025

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana simbol reintroduksi satwa direpresentasikan dalam film “Postcards From The Zoo”. Penelitian kualitatif deskriptif ini dibuat untuk memaparkan representasi reintroduksi satwa yang terdiri dari tiga tahap, yaitu 1) sosialisasi (kandang adaptasi), 2) adaptasi, dan 3) pelepasliaran. Sumber data yang digunakan adalah film karya sutradara Edwin berjudul “Postcards From The Zoo” (2012) yang diproduksi oleh Babibutafilm. Adapun objek dari penelitian ini berupa segmen-segmen dari film tersebut yang didapatkan dari analisis film menggunakan teori semiotika Christian Metz, The Large Syntagmatic Category of Image Track, yang terdiri dari delapan jenis sintagmatik: 1) Autonomous Shot, 2) Parallel Syntagma, 3) Bracket Syntagma, 4) Descriptive Syntagma, 5) Alternate Syntagma, 6) Scene, 7) Episodic Sequence, dan 8) Ordinary Sequence.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 20 segmen yang merepresentasikan reintroduksi satwa dari total 63 segmen yang terdapat dalam film “Postcards From The Zoo”. Tahap pertama reintroduksi satwa, yaitu tahap sosialisasi (kandang adaptasi), digambarkan melalui 7 segmen yang berupa Autonomous shot, Scene, Episodic Sequence, dan Ordinary Sequence. Kemudian, tahap adaptasi digambarkan melalui 7 segmen yang berupa Autonomous Shot (dengan subdivisi Single Sequence Shot dan Explanatory Insert), Parallel Syntagma, Bracket Syntagma, Scene dan Episodic Sequence. Adapun tahap pelepasliaran direpresentasikan melalui 8 segmen dengan tipe Autonomous Shot, Scene, Episodic Sequence dan Ordinary Sequence.
KEHIDUPAN MULTIKULTURALISME SWITHA SEBAGAI ANAK SUKU TAMIL DI KOTA MEDAN DALAM PENYUTRADARAAN FILM DOKUMENTER POTRER “NIRAM” Yunalistya Sakanti Putri; Agnes Widyasmoro; Lilik Kustanto
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.356 KB) | DOI: 10.24821/sense.v3i1.5095

Abstract

ABSTRAKSuku Tamil sendiri berasal dari Asia Selatan atau biasa disebut dengan India. Suku Tamil memiliki persebaran yang cukup besar dan berpusat di Sumatera Utara sejak zaman penjajahan belanda pada abad 7 masehi. Multikulturalisme adalah sebutan untuk seseorang memiliki pandangan tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman.Film dokumenter “Niram” merupakan film dokumenter bergenre potret yang akan memberikan informasi langsung secara visual bagaimana multikulturalisme menjadi bagian dari kehidupan sosial seorang anak Suku Tamil sebagai salah satu golongan suku minoritas yang berada di lingkungan multikultur di Kota Medan dengan metode pemaparan cinéma vérité sebagaimana perwujudan dalam karya ini juga dibangun saat pengambilan gambar ataupun dalam proses riset guna memberikan fakta yang terjadi di lapangan dan melalui statement Switha sebagai subjek utama serta narasumber pendukung lainnya.Penerapan genre potret dan metode pemaparan cinéma vérité dalam film dokumenter “Niram” ini menghasilkan karya yang menunjukkan bagaimana perspekstif anak Suku Tamil yang bernama Switha dalam kehidupan multikulturalisme secara sosial di Kota Medan. Pada dokumenter ini juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada penonton bahwasannya saling menghormati tanpa melihat perbedaan adalah hal yang baik untuk dilakukan tiap individu tanpa melihat budaya, suku, agama, ras, dan strata sosial. Kata Kunci: Multikulturalisme, Suku Tamil, Dokumenter Potret, Cinéma Vérité.
Video Promosi Wisata Kuliner Yogyakarta Menggunakan Microdrone Lilik Kustanto; Agustinus Dwi Nugroho; Jj Al-Desafinadha
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 19, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v19i1.7035

Abstract

ABSTRAKWisata kuliner di Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri. Namun karena pandemi, kondisinya tidak seramai sebelumnya. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melakukan promosi secara masif dan menarik dalam bentuk video promosi dan disebarkan melalui media daring seperti Instagram, Facebook, dan Youtube. Permasalahan yang timbul adalah biaya produksi pembuatan video promosi yang dianggap masih berbiaya tinggi dan membebani para penyedia wisata kuliner. Oleh karena itu, tercetuslah gagasan untuk membuat video promosi wisata kuliner di Yogyakarta menggunakan microdrone yang dapat menekan biaya produksi. Microdrone adalah drone berukuran kecil, ringan, dan murah. Microdrone pada dasarnya adalah drone mainan atau hobi yang dapat dimanfaatkan sebagai alat pengambilan gambar yang berkualitas dengan menyematkan kamera high definition (HD) atau 4K.  Penggunaan microdrone seiring pemikiran tentang peran drone saat ini yang mendukung pencapaian pendidikan sehingga sangat perlu untuk selalu dikembangkan pemanfaatannya. Metode produksi video menggunakan kamera bergerak (terbang) dan statis (diam) menggunakan microdrone. Pengambilan gambar aerial hingga gambar informasi yang detail dilakukan sepenuhnya dengan menggunakan microdrone yang dioperasikan oleh pilot microdrone. Tahapan menggunakan standar tahapan produksi, yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Tujuan dari penelitian terapan ini adalah menyebarkan informasi wisata di Yogyakarta melalui video promosi yang menarik, efektif, dan efisien biaya namun tetap berkualitas. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan microdrone ini menghasilkan sebuah informasi yang disajikan dalam framing dan komposisi gambar untuk menggambarkan objek area yang luas dan detail dari objeknya secara menarik, dengan efesiensi biaya.Culinary tourism in Yogyakarta is an attraction in itself, but because of the pandemic the conditions are not as busy as usual. One of the strategies is to carry out massive and attractive promotions in the form of promotional videos, and disseminate them through online media such as Instagram, Facebook and YouTube. The problem that arises is the production cost of making promotional videos which are still considered high cost and burdensome for culinary tourism providers. Therefore, there is an idea to make a promotional video for culinary tourism in Yogyakarta using a microdrone which greatly reduces production costs. Microdrone is a drone that is small, light and inexpensive. Microdrone is basically a toy or hobby drone that can be used as a quality image capture tool by embedding an HD (high definition) or 4K camera. The use of microdrones is in line with thinking about the current role of drones in supporting educational achievement, so it is very necessary to always develop their use. The video production method uses a moving (flying) or static (still) camera using a microdrone. Aerial image capture to detailed information images is carried out in full using a microdrone operated by a microdrone pilot. While the stages use standard production stages, namely pre-production, production and post-production. The purpose of this applied research is to disseminate tourism information in Yogyakarta through promotional videos that are attractive, effective, and cost efficient but still of high quality.Keywords: promotional videos, Culinary tourism, microdrone
Perubahan Karakter Tokoh Humbert dan Lolita menurut Struktur Cerita oleh Nick Lacey pada Film ‘Lolita’ (1997) Brigita Sekar; Lilik Kustanto; Siti Maemunah
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sense.v6i2.11220

Abstract

Film mempunyai dua inti unsur, yaitu sinematik dan naratif. Narasi sendiri selalu mempunyai struktur yang membentuk rangkaian cerita yang terjadi sepanjang film. Penelitian ini menganalisis perubahan karakter tokoh Humbert dan Lolita dalam film Lolita (1997) berdasarkan struktur cerita yang dijelaskan oleh Nick Lacey. Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan dengan teori Struktur Cerita Nick Lacey sebagai teori utama. Data yang dikaji adalah seluruh scene film Lolita (1997) dengan analisis perubahan karakter melalui unsur dialog dan data pendukung berupa shot untuk visual dan stage direction. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi struktur cerita menggunakan kategorisasi adegan (scene) pada film, menganalisis karakterisasi melalui teori Tiga Dimensi Karakter, dan menyimpulkan proses perubahan karakter yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Humbert dan Lolita mengalami perubahan karakter yang signifikan sepanjang narasi film yang memicu rantai aksi-reaksi dari masing-masing tokoh. Penggunaan struktur cerita Nick Lacey membentuk proses runtut terhadap perubahan karakter dari situasi awal, fase transisi, dan situasi terakhir.    
DIRECTOR PREPARATION: PENYUTRADARAAN ADEGAN DRONE SHOT MENGGUNAKAN DRONE FPV Kustanto, Lilik; Widyasmoro, Agnes; Hegar Elbaraja, Dafi Muhammad
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13721

Abstract

Sutradara bertanggung jawab dalam memvisualisasikan   sebuah naskah. Adegan dalam visualisasi tersebut sangat beragam sesuai kebutuhan cerita dan estetik yang dibangun. Salah satu nya adalah adegan FPV drone shot. Adegan yang pengambilan gambarnya menggunakan drone FPV (first person view). Drone FPV memiliki perbedaan dengan drone regular. Dari segi operasional drone regular antara pilot remote dan kamera operator terpisah. Sedangkan pada drone FPV seorang remote pilot merangkap sebagai kamera operator. Saat ini belum ada panduan pengambilan adegan FPV drone shot bagi seorang sutradara. Sehingga penelitian terapan ini penting dengan tujuan membuat sebuah panduan persiapan proses produksi adegan FPV drone shot bagi seorang sutradara. Metode penelitian menggunakan tiga tahapan produksi yang selanjutnya dibagi menjadi lima tahap. Tahap pertama adalah riset,  Tahap kedua adalah membuat rancangan video turorial dan juga rancangan materi tahap penyutradaraan  (director preparation) dalam pengambilan gambar adegan drone shot menggunakan drone FPV. Tahap ketiga produksi video tutorial persiapan sutradara untuk adegan drone shot menggunakan drone FPV. Tahap keempat adalah proses finalisasi video tutorial (paska produksi) dan membuat laporan-laporan penelitian. Tahap kelima membuat  artikel jurnal (submisi maupun publikasi) dan pendaftaran hak karya cipta (KI).  Kata kunci: Adegan drone shot, sutradara, drone FPV
Pelatihan Produksi Video Promosi Operator Arung Jeram Kompas Adventure Desa Rambeanak, Mungkid, Magelang Kustanto, Lilik; Widyasmoro, Agnes; Hegar Elbaraja, Dafi Muhammad
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12572

Abstract

Desa Rambeanak, Mungkid, Magelang merupakan desa yang terletak di wilayah Candi Borobudur. DesaRambeanak memiliki potensi-potensi yang banyak, di antaranya makanan khas, kerajinan tangan, danwisata arung jeram Sungai Elo. Wisatawan arung jeram sungai Elo sangatlah ramai, terlebih pada akhirpekan. Hal ini mengakibatkan bermunculannya banyak operator arung jeram sebagai jasa wisata arungjeram. Salah satu operator tersebut adalah “Kompas Adventure” yang anggotanya adalah anak-anak mudaDesa Rambeanak. Operator tersebut sudah memiliki pelanggan yang sebagian besar mendapatkaninformasi melalui media sosial Instagram dan Tik Tok. Namun, informasi tersebut perlu ditingkatkandengan video promosi wisata arung jeram yang lebih menarik dan informatif. Oleh karena itu, pengabdiankepada masyarakat ini memberikan penyuluhan atau pelatihan dalam pembuatan video promosi agar parakru operator di Desa Rambeanak semakin memiliki kemampuan dalam pembuatan video untukmeningkatkan promosi dan memberikan layanan dokumentasi wisatawan arung jeram. Metode pelatihandilakukan secara tatap muka dengan materi teori dan teknis yang dilakukan dengan berbasis proyek. Setelahmendapatkan materi teori dan pengetahuan teknis, peserta praktik langsung dengan mengerjakan sebuahproyek, yaitu produksi video promosi dengan pendampingan dari para penyuluh kegiatan.Rambeanak Village located in Mungkid, Magelang is a village near to Borobudur temple. RambeanakVillage has potentials continuously serve as tourist destinations. It has a lot of enchanting wood handicraftsand one of the favorite destinations for the tourists is rafting tour in Elo river. Elo river rafting has a hugenumber of visits, especially on weekends. Therefore, the number of rafting tour operators has been increasing.One of these operators is "Kompas Adventure" whose members are children from Rambeanak Village. Theoperator already has customers who mostly get information about the tour through Instagram and Tik Tok.However, the contents of Kompas Adventure’s social media need to be improved. The media are supposed to beinteresting, informative, and high;ly persuasive. Therefore, this activity provides counseling or training inmaking promotional videos so that the operator crew in Rambeanak Village increasingly has the ability tomake more creative and persuasive videos to improve promotion. Besides, they are also able to providedocumentation services for rafting tourists. The authors implemented face-to-face method during the training,involving theoretical and technical materials carried out on a project-based basis. After getting theoreticalmaterial and technical knowledge, then the participants were encouraged to direct practice by working on aproject. They were asked to create promotional videos assisted by the authors.
Pelatihan Produksi Video Promosi Operator Arung Jeram Kompas Adventure Desa Rambeanak, Mungkid, Magelang Kustanto, Lilik; Widyasmoro, Agnes; Hegar Elbaraja, Dafi Muhammad
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12572

Abstract

Desa Rambeanak, Mungkid, Magelang merupakan desa yang terletak di wilayah Candi Borobudur. DesaRambeanak memiliki potensi-potensi yang banyak, di antaranya makanan khas, kerajinan tangan, danwisata arung jeram Sungai Elo. Wisatawan arung jeram sungai Elo sangatlah ramai, terlebih pada akhirpekan. Hal ini mengakibatkan bermunculannya banyak operator arung jeram sebagai jasa wisata arungjeram. Salah satu operator tersebut adalah “Kompas Adventure” yang anggotanya adalah anak-anak mudaDesa Rambeanak. Operator tersebut sudah memiliki pelanggan yang sebagian besar mendapatkaninformasi melalui media sosial Instagram dan Tik Tok. Namun, informasi tersebut perlu ditingkatkandengan video promosi wisata arung jeram yang lebih menarik dan informatif. Oleh karena itu, pengabdiankepada masyarakat ini memberikan penyuluhan atau pelatihan dalam pembuatan video promosi agar parakru operator di Desa Rambeanak semakin memiliki kemampuan dalam pembuatan video untukmeningkatkan promosi dan memberikan layanan dokumentasi wisatawan arung jeram. Metode pelatihandilakukan secara tatap muka dengan materi teori dan teknis yang dilakukan dengan berbasis proyek. Setelahmendapatkan materi teori dan pengetahuan teknis, peserta praktik langsung dengan mengerjakan sebuahproyek, yaitu produksi video promosi dengan pendampingan dari para penyuluh kegiatan.Rambeanak Village located in Mungkid, Magelang is a village near to Borobudur temple. RambeanakVillage has potentials continuously serve as tourist destinations. It has a lot of enchanting wood handicraftsand one of the favorite destinations for the tourists is rafting tour in Elo river. Elo river rafting has a hugenumber of visits, especially on weekends. Therefore, the number of rafting tour operators has been increasing.One of these operators is "Kompas Adventure" whose members are children from Rambeanak Village. Theoperator already has customers who mostly get information about the tour through Instagram and Tik Tok.However, the contents of Kompas Adventure’s social media need to be improved. The media are supposed to beinteresting, informative, and high;ly persuasive. Therefore, this activity provides counseling or training inmaking promotional videos so that the operator crew in Rambeanak Village increasingly has the ability tomake more creative and persuasive videos to improve promotion. Besides, they are also able to providedocumentation services for rafting tourists. The authors implemented face-to-face method during the training,involving theoretical and technical materials carried out on a project-based basis. After getting theoreticalmaterial and technical knowledge, then the participants were encouraged to direct practice by working on aproject. They were asked to create promotional videos assisted by the authors.
BELAJAR MENERBANGKAN DRONE FIRST PERSON VIEW (FPV) DAN PENGETAHUAN DASAR UNTUK PILOT REMOTE PEMULA Kustanto, Lilik
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sense.v8i2.17573

Abstract

ABSTRAKDalam dunia film penggunaan drone menjadi bagian penting  dalam pengambilan gambar yang cukup menarik, dinamis dan estetis. Sejak mulai popularnya drone fpv (first person view) yang diawali dengan drone mainan (hobi-rekreasi) dan mulai berkembang untuk kegiatan profesional, khususnya pada bidang film. Seorang pilot drone FPV yang disebut remote pilot, mulai menempatkan kemampuan profesionalnya dalam menerbangkan drone FPV dan merangkap sebagai operator.Menjadi seorang remote pilot drone FPV memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman terbang. Hal ini disebabkan untuk menerbangkan drone FPV relatif sulit dan membutuhkan pengalaman yang cukup. Berbagai metode belajar sebagai pilot remote sudah ada, baik melalui video tutorial (online) maupun simulator (game) namun belum ada buku khusus panduan dasar tentang cara belajar menerbangkan drone FPV. Hal ini menjadi penting dikarenakan pada kelas-kelas sinematografi di kampus perfilman di Indonesia mulai mengenalkan pengambilan gambar dalam film menggunakan drone, khususnya drone FPV. Sehingga menjadi penting pada penelitian ini merancang panduan cara menerbangkan drone FPV dan pengetahuan dasar bagi remote pilot pemula. Panduan ini diharapkan menjadi referensi bacaan yang bisa dimanfaatkan setiap saat dan menjadi acuan pengetahuan dasar tentang drone FPV bagi remote pilotpemula, juga sebagai kameraman drone FPV yang profesional. Kata kunci:  Drone FPV, Drone FPV untuk film, Remote pilot, Menerbangkan drone FPV