Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Marketing 4.0: A Digital Transformation in Pharmaceutical Industry to Reach Customer Brand Experience Alsya Utami Rahayu; Inneke Herawaty; Nujaimah Rahmawati S; Amelia Suci Pratifitriyani; Amita Putri Afini; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.452 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17082

Abstract

Nowadays, pharmaceutical industry improve various strategies in facing international market by improving the quality and capability of the industry to fulfill the customer needs. A new strategy of marketing approaches to reach customer brand experience is marketing 4.0. Marketing 4.0 is a new generation that changed the economic activities by digital transformation. Terms of marketing 4.0 is a marketing evolution of marketing 3.0 focused not only on internet and social media, but also can be used to design marketing strategies that enhance the brand-consumer relationships. It differs in terms of timing, talent management, data and analytics, degree of centralization and marketing organization models. The system must consist of brand identity, brand image, brand integrity and brand interaction in order to fulfil the market required and meet the customer needs. The growing technological trend is forcing pharmaceutical industry to innovate in marketing and sales. With this modern method, pharmaceutical industry will enhance the brand new image for health product in pharmacy.
Penggunaan Dipstick sebagat Alat Diagnosis Infeksi Saluran Kemih pada Kondisi Tertentu DINDA ARDITTA CHANDRA; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.114 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10569

Abstract

Infeksi saluran kemih merupakan penyakit infeksi yang perlu dideteksi dengan cepat karena mikroorganisme tersebut dapat berkembang dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Infeksi ini mampu terjadi pada ibu hamil, wanita, pria, anak-anak maupun pada bayi.  Dipstick merupakan salah satu alat diagnosis infeksi saluran kemih yang umum digunakan. Penggunaan alat Dipstick dalam mendeteksi nitrit, leukosit esterase dan darah perlu dievaluasi pada setiap kondisi tertentu seperti pada ibu hamil, wanita, pria, anak-anak dan bayi. Hasilnya menunjukkan diperlukan uji tes lebih lanjut setelah penggunaan Dipstick pada ibu hamil, wanita dan pria. Pada anak-anak dan bayi dapat dipertimbangkan bila ingin melanjutkan tes lebih lanjut, atau dapat menggunakan  data Dipstick sebab sensitivitas dan spesivitias alat tersebut cukup untuk memastikan ada tidaknya mikroorganisme dalam urin. Kesimpulannya penggunaan alat Dipstick masih efektif dalam mendiagnosis infeksi saluran kemih. 
HUBUNGAN SIKAP, PERSEPSI DAN HAMBATAN TERHADAP COMPLEMENTARY AND ALTERNATIVE MEDICINE (CAM) angga kautsar
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.467 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9295

Abstract

CAM mempunyai keuntungan bagi masyarakat, yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Sikap mahasiswa Farmasi UNPAD merupakan salah satu cara untuk melihat sukses dan efektif CAM tersebut karena mahasiswa Farmasi UNPAD sebagai calon praktisi kesehatan yang memberikan informasi dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain potong lintang pada sampel penelitian ini sebanyak 350 responden Mahasiswa Fakultas Farmasi Unpad. Pengolahan data prasurvei uji validitas dan reabilitas yang didapat, dan analisis data secara kuantitatif deskriptif, serta inferensial jenis nonparametrik independen yang menggunakan tes U Mann-Whitney untuk mendapatkan p-value. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sikap positif terhadap rekomendasi CAM namun masih kurang untuk penggunaan CAM sendiri. Untuk faktor yang mempengaruhi sikap atau pengetahuan mahasiswa Fakultas Farmasi UNPAD sendiri cukup signifikan terlihat yaitu pada kelompok Postgraduate lebih tinggi dibandingkan dengan Undergraduate dapat terjadi karena pengetahuan yang lebih tinggi dan pengalaman yang lebih banyak pada kelompok Postgraduate.
EFFECTIVENESS OF NEEM OIL (Azadirachta indica) AS AN ANTIBACTERIAL AGENT TOWARDS DENTAL CARIES BACTERIA ( Streptococcus mutans ) Vithya Lakshmi Bjya Gabal; Angga Prawita Kautsar
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.484 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12621

Abstract

ABSTRACT One of the usual oral disease in the world is dental caries. It is normally triggered by the microorganisms Streptococcus mutans. Where tooth enamel will be affected. Regardless of the fact that poor hygiene and interrelated to multiple full-body conditions and diseases are one of the major cause that around 80% of all over the world adults will be identified with caries. As number carries cases increase but there are only a few successful preventative treatments. Herbal treatment research towards bacterial ecology in the mouth and the other correlated factors that may contribute to caries are being carried out. The awareness of new treatment and prevention options for this exceedingly usual infection are being figured out. One of effective treatment is Neem (Azadirachta indica) as antibacterial, antifungal, and biopesticide. Most recent research is towards the effectiveness of neem oil towardsStreptococcus mutans as antibacterial due to its active properties. Keywords : Dental caries, Streptococcus mutans, Neem oil, Antibacterial activity.
RINGKASAN ARTIKEL: PERBANDINGAN METODE PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP PENURUNAN KESALAHAN PENGOBATAN yasri husaironi mufti; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1935.087 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17733

Abstract

Kesalahan pengobatan adalah salah satu penyebab utama yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas pasien. Kesalahan pengobatan sebenarnya dapat dihindari dengan penggunaan metode peningkatan mutu berkelanjutan, diantaranya TQM, PDCA, Six Sigma, Lean, dan FMEA. Pada ringkasan ini dilakukan studi literatur mengenai strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan terhadap penurunan kesalahan pengobatan. Metode yang dilakukan adalah studi literature berupa meta-analisis hasil data yang diperoleh merupakan kumpulan dari beberapa jurnal terkait strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan terhadap penurunan kesalahan pengobatan. . Hasil analisis literatur didapatkan bahwa integrasi dari metode-metode peningkatan mutu yang saling melengkapi memberikan hasil yang lebih sempurna dibanding dengan penggunaan stategi secara individu .  Metode peningkatan mutu TQM, Six Sigma, Lean, dan FMEA dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
PENGUKURAN KEPUASAN PELAYANAN INSTALASI FARMASI UNTUK PASIEN TUBERKULOSIS SALAH SATU RUMAH SAKIT DI BANDUNG Safitri Yuniasih; Ranpal Singh; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.784 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.13662

Abstract

Instalasi farmasi merupakan salah satu revenue center utama di mana lebih dari 90% pelayanan kesehatan di rumah sakit. Salah satu kasus yang banyak terjadi di Rumah Sakit adalah infeksi tuberculosis. Lamanya pengobatan TB menyebabkan rentannya pasien mengalami ketidaknyamanan dalam pengobatannya. Sebagai penyedia jasa layanan di rumah sakit, IFRS dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk memperoleh kepuasan dari pasien dalam jangka waktu pengobatan yang panjang tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur kepuasan pelayanan di instalasi farmasi untuk pasien TB di salah satu rumah sakit di Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain potong lintang non- experimental dengan menyebarkan kuesioner kuesioner kepada pasien TBC di salah satu Rumah Sakit di Bandung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa kriteria dimensi empati adalah netral dengan skor 368,3, dimensi jaminan adalah netral dengan skor 368,7, dimensi berwujud adalah puas dengan skor 378,5 , dimensi keandalan adalah netral dengan skor 370,8, dan dimensi ketanggapan adalah netral dengan skor 370,4. Kata Kunci: IFRS, Tuberkulosis, Kepuasan Pasien, Kuesioner
SIX SIGMA DAN LEAN MANAGEMENT DALAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN SILVI RISTATIANTI; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.975 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12592

Abstract

Manajemen kesehatan dilakukan dengan banyak metode contohnya metode Six sigma dan Lean  management. Dari kedua metode Six sigma dan Lean  management biasanya digunakan dalam perindustrian, tetapi sudah banyak digunakan dalam kesehatan. Review ini berisi penggunaan metode six sigma dan lean  management pada pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Perbedaan metode antara six sigma dan lean sangat terlihat pada konten perubahan dimana six sigma lebih mengutamakan detail dari tiap elemen kesehatan untuk ditingkatkan dan berstandar, tetapi lean  management lebih mengutamakan sinkronisasi antar elemen (kerjasama) yang dipimpin dan berstandar. Kesimpulannya, metode manajemen yang lebih bisa diandalkan adalah gabungan lean  management dan six sigma yang kini di telah banyak dicoba diaplikasikan, walau belum banyak hasil yang signifikan seperti hal nya pada six sigma dan lean  management.Kata Kunci : Lean Management, Manajemen Kesehatan, Six sigma.
DRUG UTILIZATION RESEARCH OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN TAHUN 2018 DI RUMAH SAKIT PARU DR H A ROTINSULU DENGAN METODE ATC/DDD : CROSS-SECTIONAL STUDY Iflakhatul Ulfa; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3195.893 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.23122

Abstract

Drug Utilization Research (DUR) merupakan suatu sistem evaluasi yang sistematis, berkelanjutan dan berguna untuk melakukan evaluasi penggunaan obat agar rasional. DUR berperan penting terhadap kualitas terapi obat yang optimal. Salah satu cara untuk melakukan evaluasi penggunaan obat yaitu dengan metode Anatomical Therapeutic Chemical/ Defined Daily Dose (ATC/DDD) yang telah direkomendasikan oleh WHO sebagai standar klasifikasi dan pengukuran internasional. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan DUR pada pasien rawat jalan poli spesialis penyakit dalam di salah satu Rumah Sakit di Bandung, Indonesia. Desain penelitian ini adalah potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif pada resep dari rawat jalan pada tahun 2018. Metode ATC/DDD digunakan untuk mengukur intensitas konsumsi suatu obat serta memperbaiki kualitas penggunaan obat. Hasil yang didapat yaitu resep obat dari golongan antihipertensi sebanyak 37,99%. Obat golongan Calcium Channel Blocker (CCB) yakni amlodipin yang paling sering diresepkan sebanyak (35,50%), diikuti oleh diuretik yaitu furosemid dan spironolakton (27,68%), beta bloker – propranolol dan bisoprolol (14,33%), Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor (13,35%), dan Angiotensin II Receptor Antagonist (9,12%). Perhitungan DDD diketahui tiga obat antihipertensi terbanyak yang diresepkan yaitu Amlodipin (270,54 DDD), Furosemid 45,29 DDD, dan Irbesartan 34,74 DDD. Kesimpulannya adalah banyak pasien menderita hipertensi sehingga perlu dilakukan evaluasi penggunaan obat yaitu menggunakan metode ATC/DDD untuk meningkatkan kerasionalan penggunaan obat antihipertensi.Kata kunci: DUR, ATC/DDD, obat antihipertensi, rawat jalan
Kepatuhan dan Efektivitas Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dan Tunggal pada Penderita TB Paru Anak di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Angga P. Kautsar; Tina A. Intani
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7273.231 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.3.215

Abstract

Pengobatan TB anak menjadi perhatian karena sulitnya menegakkan diagnosis dan kesembuhan serta dengan penggunaan OAT yang tidak efektif dan tidak sesuai aturan mengakibatkan terjadinya resistensi. OAT KDT dan tunggal merupakan pilihan terapi yang dapat diberikan pada pasien anak dimana KDT diklaim memiliki keuntungan dibandingkan OAT tunggal, namun masih sedikit publikasi mengenai efektivitas penggunaan dua jenis obat tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan OAT KDT dan tunggal terhadap kepatuhan dan efektivitas pengobatan pada penderita TB Paru anak di salah satu rumah sakit di kota Bandung periode Januari 2010–Desember 2013. Metode potong lintang digunakan dengan pengambilan data sekunder retrospektif dilakukan pada 213 penderita dengan analisis deskriptif dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis OAT (KDT dan tunggal) terhadap kepatuhan (p=0,09) dan efektivitas pengobatan (p=0,32). Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyedia pelayanan kesehatan dapat memberikan OAT KDT atau tunggal saja walaupun KDT lebih banyak memiliki keuntungan dibandingkan dengan tunggal.Kata kunci: KDT, OAT, TB, tunggalComplience and Effectiveness of Single Tuberculosis Drugs and Fixed Dose Combination (FDC) on Pediatric Patients in a Hospital in Bandung Treatment of TB in children is a concern because of the difficulty of determining the diagnosis and healing as well as with ineffective consumption and non-adherence result in drug-resistant TB. The FDC and single TB drugs are the option that can be administered in pediatric patients where FDC is claimed to have advantages over single, nevertheless a few publication on the effectiveness of the use of two drugs. The purpose of this study is to determine the relationship FDC and single TB drugs on compliance and effectiveness of treatment TB pulmonary in children in a hospital in Bandung period January 2010 until December 2013. The method used by the cross-sectional retrospective collection of secondary data conducted in 213 patients with descriptive analysis and Chi-Square. The results showed that no difference between the types of TB drugs for compliance and effectiveness of treatment. It can be concluded that health care providers can provide FDC or single although FDC well-known have more advantages over single.Keywords: FDC, TB drugs, TB, single
Efficiency Fast-Moving Drug Plan with Reorder Point Intervention at a Private Hospital in Bandung Aisha K. Nur; Angga P. Kautsar; Indah L. Hilmi; Rizky Abdulah
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 4, No 3
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.422 KB) | DOI: 10.15416/pcpr.v4i3.24924

Abstract

Drug supplies are the major portion of the hospital expenses. The rising of drugs cost directly affect the total expenses of the hospital. Thus, their procurement, especially for fast-moving drugs, should be managed effectively. This study aimed to examine the efficiency of fast-moving drug plan after reorder point (ROP) intervention at a private hospital in Bandung. We conducted a pre-experimental study and used turn-over ratio (TOR) as a parameter. Data were taken from the stock of antibiotics in May-June of 2013 and May-June 2014. Cost components were collected; included the amount of stock, the cost of goods sold, and daily drug use. We did pre-test and post-test analysis to check the efficiency of intervention. The results showed that ROP intervention increased the efficiency of fast-moving drug plan. The comparison of pre- and post- intervention resulted a lower inventory value and a greater TOR value. We concluded that the increase in efficiency will eventually require a smaller budget of drug expenses.