Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KOMPARASI PILIHAN PENGGUNA MODA ANGKUTAN LAUT DI PELABUHAN MUARA ANGKE ANTARA KAPAL DISHUB DAN KAPAL TRADISIONAL Adi Nursalim; Tri Mulyono
LOGISTIK Vol 12 No 2 (2019): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v12i2.17647

Abstract

The sea transportation mode is a means or tool used by people to move from one place to another. Sea freight mode in DKI Jakara is expected to provide quality service to the users of the transportation services as well as the service users on board, other than that the passenger characteristics strongly affect passengers in choosing Mode of transportation. Based on the user data of traditional vessels majority of the female users differ from the Dishub ship of the majority of male users. The user's age for both ships is the majority of the age range of 21-30 years, including the majority work of students. The level of user earning both traditional and dishub vessels does not differ the majority have not been income according to the type of work. The purpose and frequency of user journeys of traditional vessels and dishub vessels are no different, with the purpose of the majority being a one-time recreation a year. The study aims to determine which variables will result in factors affecting the perpetrators and the probability of selecting the mode located in the Muara Angke port between the Dishub ship and the traditional vessel. Data processing uses the Serqual method to determine the number of samples from the population and SPSS program to find out the factors affecting the selection of the modes of traditional vessels of Dishub and vessels.
KOMPARASI RECEIVING TIME PADA SAAT MENGGUNAKAN AUTOMATIC GATE SYSTEM DENGAN SISTEM MANUAL DI PT.MUSTIKA ALAM LESTARI (Time New Roman, 16pt) Alditya Nur Cahyo Padlan; Tri Mulyono
LOGISTIK Vol 13 No 2 (2020): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v13i2.18133

Abstract

Manual dengan Automatic Gate System dalam kegiatan kelancaran receiving yang dilakukan PT. Mustika Alam Lestari, agar dalam menangani kegiatan receiving dapat mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi. Sehingga pelayanan yang diberikan lebih optimal. Metode yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah studi Wawancara, dan studi Observasi Lapangan.Kecepatan dari proses keluar masuknya barang dalam kegiatan receiving salah satu faktor penting demi menunjang kelancaran perpindahan barang dari satu tempat ketempat tujuan. Untuk itu PT.Mustika Alam Lestari harus ikut berperan dalam menanggulangi permasalahan yang ada gar terciptanya kelancaran. Kegiatan Penelitian tugas akhir ini dilakukan selama penulis melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapangan di PT. Mustika Alam Lestari yang merupakan perusahaan dibidang jasa bongkar muat petikemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja perbandingan antara Sistem Manual dengan Automatic Gate System yang mempengaruhi proses kegiatan receiving dan apa saja hambatan-hambatan yang terdapat di lapangan penumpukan. Manual dengan Automatic Gate System dalam kegiatan kelancaran receiving yang dilakukan PT. Mustika Alam Lestari, agar dalam menangani kegiatan receiving dapat mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi. Sehingga pelayanan yang diberikan lebih optimal. Metode yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah studi Wawancara, dan studi Observasi Lapangan.Kecepatan dari proses keluar masuknya barang dalam kegiatan receiving salah satu faktor penting demi menunjang kelancaran perpindahan barang dari satu tempat ketempat tujuan. Untuk itu PT.Mustika Alam Lestari harus ikut berperan dalam menanggulangi permasalahan yang ada gar terciptanya kelancaran. Kegiatan Penelitian tugas akhir ini dilakukan selama penulis melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapangan di PT. Mustika Alam Lestari yang merupakan perusahaan dibidang jasa bongkar muat petikemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja perbandingan antara Sistem Manual dengan Automatic Gate System yang mempengaruhi proses kegiatan receiving dan apa saja hambatan-hambatan yang terdapat di lapangan penumpukan.
PENANGANAN PENUMPUKAN PETI KEMAS IMPOR DAN PENGARUH TERHADAP YARD OCCUPANCY RATIO (YOR) IMPOR PADA TERMINAL PETIKEMAS KOJA, TANJUNG PRIOK. Destara Ratria Erni Andara; Tri Mulyono
LOGISTIK Vol 13 No 2 (2020): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v13i2.18134

Abstract

Kapasitas lapangan penumpukan salah satu faktor penting demi menunjang kelancaran penumpukan petikemas ekspor di lapangan impor yang disebabkan oleh tingginya YOR di lapangan ekspor. Untuk itu Terminal Petikemas Koja harus ikut berperan dalam menanggulangi permasalahan yang ada agar terciptanya kelancaran. Sebelum pelaksanaan kegiatan impor dilakukan, pihak perusahaan mempersiapkan lapangan penumpukannya yang terdiri dari: perencanaan dermaga, perencanaan bongkar petikemas dan perencanaan lapangan penumpukan. Dimana pada saat pelaksanaan, faktor yang sering menjadi hambatan dalam menangani petikemas impor yaitu, minimnya kegiatan overbrengen oleh pengelola perusahaan, barang yang terkena larangan impor dari instansi terkait serta proses delivery yang tidak bisa di ukur dalam pengambilan petikemasnya oleh pemilik barang. Hasil analisa dari Daily Report dan YOR harian pada bulan Desember 2019 dapat disimpulkan bahwa petikemas yang ditumpuk melebihi kapasitas yang ditentukan dan dapat dikatakan tidak optimal dalam memberikan pelayanan penanganan petikemas impor di TPK Koja. Adapun saran yaitu, mengatur jadwal kedatangan kapal tujuan yang akan sandar di TPK Koja, Perusahaan harus memberikan biaya penumpukan yang tinggi agar proses pengeluaran petikemas impor dari terminal semakin lancar dan akan menjadi optimal, diperlukan adanya penambahan kuota penumpukan untuk petikemas impor dengan menyewa lahan penumpukan kepada perusahaan lain.
KOMPETENSI DASAR DI SEKTOR TRANSPORTASI LAUT DAN LOGISTIK Tri Mulyono; Kencana Verawati
LOGISTIK Vol 14 No 2 (2021): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v14i2.23516

Abstract

The highest development in the marine transportation and logistics sector at this time is adapting to Industry 4.0. Logistic productivity without involving comptencies human resources with expertise is inevitable. Including the development of technology, information and computers. A cluster of related knowledge, skills, and abilities that affects a role or responsibility, that correlates with performance on the job, that can be measured against well accepted standards, and that can be improved via training and development are comptencies needed in marine transportation and logistics sector. Based on literature from various books, journals and websites that are searched on the internet to answer the question of what competency is needed and why it is needed? The aim of research is to understand or explain basic competencies for logistics experts. The research is explanatory research. The basic competencies for logistics experts are (1) individual competencies as soft skill is represent personal attributes, and (2) academic competencies are critical competencies primarily learned in a school setting include cognitive functions and thinking styles.
Estimasi Dampak Program Revitalisasi Sekolah dalam Perspektif Asta Cita Maulani Mega Hapsari; Cepy Lukman Rusdiana; Arif Budiyanto; Ferdiansyah Dzaki Auladi; Tri Mulyono
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/xc2pbh52

Abstract

Program revitalisasi sekolah merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dalam kerangka Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada poin keempat yang berfokus pada penguatan sumber daya manusia dan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi dampak dari kebijakan revitalisasi infrastruktur pendidikan terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan penyerapan tenaga kerja lokal. Menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan tinjauan literatur, studi ini mengevaluasi implementasi program dengan rencana 9.413 sekolah menjadi 14.078 sekolah atau meningkat 49,5%, yang tersebar di 38 provinsi, 514 kab/kota, dan 5.273 kecamatan atau 73% kecamatan di Indonesia dengan total anggaran terealisasi 12T pada tahun 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa revitalisasi sekolah secara signifikan berkontribusi pada penciptaan lingkungan belajar yang lebih aman dan kondusif, yang pada gilirannya menurunkan angka ketidakhadiran siswa dan meningkatkan semangat belajar. Dari sisi ekonomi, penggunaan skema swakelola melibatkan setidaknya 214.296 pekerja dan 28.158 UMKM serta 128 Perguruan Tinggi (PTN maupun PTS) di seluruh wilayah Indonesia dari Barat hingga Timur Indonesia, dengan 296 Koordinator (Dosen) dan 1.983 (Mahasiswa). Program revitalisasi bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan instrumen strategis untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui pemerataan akses dan kualitas pendidikan di daerah pelosok maupun perkotaan.