Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PROSPEK FERTIGASI UNTUK PENGELOLAAN HARA PADA BUDIDAYA LADA Prospect of Fertigation for Nutrient Management on Pepper Cultivation Joko Pitono
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.315 KB) | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.117-128

Abstract

ABSTRACT Pepper is classified as nutrient demanding crop. In the field cultivation practices, 20-50% of the total cost of input production is for fertilizer provision. Therefore,  nutrient management is  the key to improve pepper cultivation efficiency in the field. Currently, fertilization practices in pepper cultivation in the field are lack of synchronization between  composition, dosage, frequency  and nutrient requirement. This lead to poor plant performance and much lesser production than its potential. Application of fertigation technology is enable to precisely adjust the composition and dosage of nutrients according to the physiological development of the plant, hence improving nutrient use efficiency.  Furthermore, it promotes maximum plant growth and yield. The results of previous studies indicated that the application of fertigation technology in horticultural plants induced nutrient use efficiency up to 25-40% compared to conventional fertilization approach, hence improving farmer’s income 10-15%. Even though fertigation is technically beneficial, its application in pepper cultivation in Indonesia has not yet developed. Several factors were alleged as the obstacles were lack of understanding of pepper farmers towards the superiority of fertigation technology, the technology  that are considered to be still expensive hence increasing  total cost, and the unavailability of alternative easy and cheap fertigation  technologies. The objective of this review was to describe the development of fertigation technology, its economic value and the perspective of its application in pepper cultivation.ABSTRAK Lada (Peper nigrum L.) tergolong tanaman pengkonsumsi hara tinggi. Sekitar 20-50% dari total pembiayaan input produksi lada adalah untuk penyediaan pupuk. Oleh karena itu, teknis pengelolaan hara menjadi faktor penentu yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan efisiensi budidaya lada. Praktek pemupukan lada secara konvensional umumnya masih bermasalah pada kurang sinkronnya komposisi, dosis, dan proporsi pemberian hara dengan kebutuhan tanaman lada, sehingga menyebabkan pertumbuhan dan produktivitas aktual jauh di bawah potensinya. Melalui aplikasi teknologi fertigasi memungkinkan untuk mengatur komposisi dan dosis hara secara tepat sesuai dengan perkembangan fisiologis tanaman, sehingga selain penggunaan hara menjadi lebih efisien, juga memberikan efek positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi lebih maksimal. Beberapa hasil penelitian sebelumnya membuktikan bahwa penerapan teknologi fertigasi pada kelompok tanaman hortikultura dapat mengefisienkan penggunaan hara hingga 25-40% dibandingkan cara pemupukan konvensional, dengan disertai tambahan pendapatan pada kisaran 10-15%. Meskipun secara teknis fertigasi terbukti menguntungkan, namun penerapannya pada budidaya lada di Indonesia justru belum berkembang. Beberapa faktor disinyalir sebagai penyebab antara lain faktor kurang fahamnya petani lada terhadap keunggulan teknologi fertigasi, investasi pembiayaan yang dianggap masih mahal, dan belum tersedianya alternatif teknologi fertigasi yang mudah dan murah pembiayaannya. Tujuan penulisan review ini adalah menguraikan perkembangan teknologi fertigasi dan nilai keekonomian pada beberapa kasus implementasinya pada komoditas komersial lain, serta perspektif aplikasinya pada budidaya lada.
PENGANGKATAN AIR TANAH OLEH JAMBU METE DAN PROSPEK PEMANFAATANNYA / Hydraulic Lift on Cashew and Its Utilization Prospect Joko Pitono
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.274 KB) | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.%p

Abstract

ABSTRAK Jambu mete dikembangkan secara luas di wilayah berlahan kering dan beriklim kering karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada kondisi kekeringan, khususnya di wilayah timur Indonesia. Nilai ekonomi jambu mete utamanya diperoleh dari produk kacang mete, buah semu, dan CNSL dari cangkang biji mete. Namun praktek budidaya yang dilakukan masyarakat umumnya terbatas dalam pemberian input produksi khususnya pupuk yang menyebabkan penampilan produktivitas jambu mete di wilayah tersebut masih tergolong rendah. Agar pengembangan jambu mete tetap menarik, maka selain memberikan nilai ekonomi dari kacang mete dan produk ikutannya, diharapkan juga bisa memberikan nilai tambah untuk konservasi ekologi pada lahan kering. Sebagaimana hasil dari beberapa studi ekologi pada beberapa spesies tanaman hutan dan gurun tertentu yang terbukti dapat mengkonservasi lengas tanah di sekitar titik tumbuhnya. Kemampuan menyeimbangkan defisit lengas tanah yang hilang pada siang hari akibat evapotranspirasi yang tinggi, diketahui berasal dari proses hydraulic lift, yaitu proses jaringan akar yang mampu membasahi kembali partikel tanah di lapisan atas saat potensial air di jaringan akar tinggi dan laju transpirasi pada periode malam hari sangat rendah. Hasil dari beberapa studi terakhir menunjukkan bahwa tanaman jambu mete juga berindikasi memiliki kemampuan hydraulic lift, baik pada uji skala rumah kaca maupun skala lapangan. Tentunya, adanya kemampuan fungsi ekologis yang demikian memberikan nilai yang lebih strategis bagi tanaman jambu mete untuk mendukung pengembangan pertanian lebih lanjut di lahan kering beriklim kering. Tulisan ini mengulas perkembangan terkini hasil evaluasi fungsi ekologis pada tanaman jambu mete, terutama yang terkait dengan kemampuan hydraulic lift dan perspektif potensi pemanfaatannya bagi pengembangan pertanian lahan kering ke depan. ABSTRACT Cashew is widely cultivated in dry land with dry climates, especially in eastern Indonesia, due to its good adaptability to drought conditions. The economic value of cashew nuts is primarily from kernel, apple fruits, and CNSL from nut shells. However, the cultivation practices commonly done by the farmers rarely apply input production, especially fertilizer, resulting in low cashew productivity in the region. Thus, to maintain cashew nut development, in addition to improving the economic value of cashew nuts and its products, is also expected to provide ecological conservation in the dry land.  Several studies on certain species of forest and desert plants indicated their ability to conserve moisture around the growing point. The ability to balance the soil moisture deficit lost during the day due to high evapotranspiration is identified as the result of the hydraulic lift process.  Hydraulic lift process occurs when the root tissue is capable to moisten the soil particles in the upper layer because the water potential in the root tissue is high while the transpiration rate at night is very low. Recent studies at greenhouse and field trial also indicated the capabilities of hydraulic lift on cashew.  This particular ecological function capability improves strategic value of cashew trees to support the further development of agriculture in dry land with dry climates. This paper reviewed the latest developments in the evaluation of ecological functions of cashew trees, especially related to its hydraulic lift capability and the perspectives of its potential utilization to develop agriculture in the dry land in the future.
HYDRAULIC LIFT DAN DINAMIKA LENGAS TANAH HARIAN PADA PERTANAMAN JAMBU METE Joko Pitono; Nur Maslahah; Setiawan NFN; Redy Aditya Permadi; NFN Suciantini; Tri Nandar
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 2 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n2.2016.105-114

Abstract

Produktivitas lahan kering dapat ditingkatkan bila periode ketersediaan lengas tanah pada musim kering dapat diperpanjang. Hydraulic lift sebagai proses redistribusi air tanah dari lapisan bawah yang lebih lembab ke lapisan dangkal yang cepat mengering oleh aktivitas akar tanaman, merupakan aspek ekologis yang layak diperhitungkan dalam mengelola tata air di lahan kering. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemampuan hydraulic lift tanaman jambu mete yang diindikasikan oleh nilai recovery lengas tanah harian (RLTH) pasca kehilangan lengas tanah oleh aktivitas evapotranspirasi pada siang hari. Penelitian dilakukan pada area terbuka berdampingan dengan blok koleksi jambu mete umur 20 tahun di Kebun Percobaan Cikampek, Jawa Barat. Penilaian RLTH dilakukan pada radius 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 kali jari-jari kanopi dari pangkal jambu mete sebagai faktor perlakuan tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok, enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan nilai RLTH jambu mete selalu positif dan lebih besar dari 0,010 MPa sebagai nilai ambang minimal suatu tanaman dinyatakan memiliki kemampuan hydraulic lift. Nilai rata-rata RLTH pada kedalaman tanah 25-75 cm tidak berbeda nyata diantara posisi dari pangkal jambu mete, dan mencapai sekitar 0,25-0,28% (w/w) atau setara 0,043–0,048 MPa. Berdasarkan nilai RLTH, hasil perhitungan volumetrik penambahan air tanah harian pada blok jambu mete mencapai kisaran 0,26-1,35 l air m-2. Status lengas tanah terdeteksi masih berada pada kisaran 40-60% air tersedia, kecuali untuk perlakuan 1,0 kali jari-jari kanopi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tanaman jambu mete terbukti memiliki kemampuan hydraulic lift, dan mengindikasikan turut berkontribusi memelihara kelengasan tanah pada musim kering.
ADAPTASI DELAPAN NOMOR HARAPAN KUNYIT (Curcuma domestica Vahl.) TOLERAN NAUNGAN Sitti Fatimah Syahid; Cheppy Syukur; Nathalini Nova Kristina; Joko Pitono
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v23n2.2012.%p

Abstract

Turmeric cultivation by farmer is mainly conducted under shading, so it needed turmeric superior seeds especially for shading cultivation. The aim of the research was to analiysis the adaptability based on yield and quality stability of turmeric promising lines under shading on three different agroecology Adaptation test for releasing the superior variety of crops was conducted at three locations of turmeric central production in Bringin 464 m asl, Nogosari, 425 m asl, and Simo 484 m asl. Tested was done in 2008 until 2010 under famer’s teak plantations. Eight promising lines of turmeric out of 70 accessions selected under artificial shading season in year of 2007/2008 at Cicurug, Sukabumi (West Java) and one local number were used as materials to be tested. The experiment was arranged in Randomized Block Design with three replications. Each block consisted of 48 plants. The observed parameters were growth component, yield, and curcumin content. Combined varian analysis result showed that there was no interaction effect between genotype and environment on the yield and curcumin content. However, all of the tested genotypes were signicifantly differed for their curcumin content. Turmeric promising line Cudo 04, with rhizome yield 0f 7.4 ton ha-1, had the highest curcumin (7.05%) and essential oil content (4.77%), and tolerant to the leaf spot disease. Therefore, this line is recommended to be released as a superior variety tolerant to shading. Based on its curcumin content, this line was also found as a superior one to be developed by herbal medicine industry.