Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : TOTOBUANG

PENGGUNAAN CAMPUR KODE DAN ALIH KODE DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMPN UBUNG PULAU BURU [The Use of Mixing Code and Switching Code in Learning Process at SMPN Ubung Buru Island] Nanik Indrayani
TOTOBUANG Vol. 5 No. 2 (2017): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.815 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v5i2.40

Abstract

Mixing code and  switching code are always become strategy in learning process. The aim of the research were  describing the form of  mixing code and  switching code as well as factors that caused  them at SMPN Ubung, Lilialy District, Buru Regency, Maluku. This  was qualitative descriptive research that studied the phenomenon of linguistic by sociolinguistic approach. The source of data in this research were all the speeches ofof the teachers, as well as all the students who involved in learning process that used mixing code and  switching code. Method of data collection was conducted by non-participant observation. Meanwhile, technique of collecting data was done by free conversation, recording, and noting technique. The data was analyzed by qualitative descriptive analysis technique. The results of this study revealed that the forms of  mixing code were the insertion of word, repeated word, personal pronoun, and phrase, while  switching code were independent clause, coordinative clause, and sentence. The other finding were the factors that lead to  mixing code was the influence of first language, no other equivalent, and practical. The factors that led to  switching code were  considered prestige, offsetting the students’ language skill, and teacher emotion.  mixing code and  switching code occurred in learning process at SMPN Ubung, Lilialy District, Buru Regency, Maluku, by the teachers and students from Indonesian to Ambon Malay dialect or vice versaCampur kode dan alih kode selalu dijadikan strategi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode dan alih kode serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa campur kode dan alih kode di SMPN Ubung, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Maluku. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengkaji fenomena kebahasaan dengan pendekatan Sosiolinguistik. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan yang digunakan guru serta semua tuturan siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran yang mengandung campur kode dan alih kode. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipasi. Sementara teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang sudah diklasifikasi kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk campur kode yang berupa wujud penyisipan kata, kata ulang, kata ganti orang, dan frasa, sedangkan alih kode berwujud klausa mandiri, klausa koordinatif, dan kalimat. Temuan berikutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode yaitu pengaruh bahasa pertama, tidak ada padanan lain, dan praktis. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode yaitu dianggap prestise atau bergengsi, mengimbangi kemampuan berbahasa siswa, dan emosi guru. Campur kode dan alih kode tersebut terjadi dalam proses pembelajaran di SMPN Ubung, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Maluku, yang dilakukan guru dan siswa dari bahasa Indonesia ke dialek Melayu Ambon atau sebaliknya.
KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO BERBAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 3 WAEAPO [The Ability of Writing Indonesian Speech at SMA Negeri 3 Waeapo] Nanik Indrayani
TOTOBUANG Vol. 6 No. 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.452 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v6i1.73

Abstract

Writing speech is one of the students’favorite subjects at SMA Negeri 3 Waeapo, Pulau Buru. This study aimed to describe the students’ capability in writing Indonesia speech. This research was classified as Classroom Action Research. The population of this study were 44 students of two classes of Class XII. Obtaining the  accurated data,  this research used written test suchas writting the speech text by using ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ with theme that had been determined by the researcher. Then, the collected data would be analyzed by using descriptive quantitative. The results showed that only one of 44 students got less then 65. Thus, it can be concluded that students of Class XII of SMA Negeri 3 Waeapo Pulau Buru had capability to write the speech texts by using ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ and achieving the completeness criteria by reaching more than 67 percent. This also could be seen in the score of other 43 students who got more than 65.Penulisan  pidato merupakan salah satu mata pelajaran yang digemari  sebagian siswa di SMA Negeri 3 Waeapo, Pulau Buru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas XII dalam menulis pidato berbahasa Indonesia. Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Populasi penelitian ini adalah siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Waeapo Buru, yang terdiri atas dua kelas dan berjumlah 44 siswa. Untuk mendapatkan data yang akurat, penelitian ini menggunakan tes tertulis berupa teks pidato, dengan tema yang ditetapkan oleh peneliti, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya 1 di antara 44 siswa yang dijadikan sampel penelitian memperoleh nilai di bawah 65. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Waeapo Pulau Buru telah mampu menulis pidato dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan sebanyak 67 persen. Hal ini juga dibuktikan dengan perolehan nilai yang mencapai 65 ke atas yang diperoleh 43 siswa.
PERILAKU BERBAHASA ANTARA KARYAWAN SUKU BUTON DAN SUKU BURU DI KOPERASI SERBA USAHA BURU JAZIRAH, NAMLEA [The Language Behavior Between The Employee of Buton Tribe and Buru Tribe in Koperasi Serba Usaha Buru Jazirah, Namlea] Nanik Indrayani
TOTOBUANG Vol. 7 No. 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.977 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.143

Abstract

As good citizens, when we gather among fellow language users who have different regional languages, we must always use Indonesian as a language of unity. This study aims to describe how the language behavior between the employees of the Buton tribe and the Buru tribe at the Buru Jazirah Namlea Multipurpose Cooperative and how the language behavior barriers between Buton and Buru tribe employees at the Buru Jazirah Namlea Multipurpose Cooperative in Namlea Buru Maluku Regency. This qualitative descriptive study examines linguistic phenomena. The data source in this study is the utterances used between the employees of the Buton tribe and the Buru tribe in the Buru Jazirah Namlea Multipurpose Cooperative which contains the regional languages of the two tribes. The method of data collection is done through non-participant observation. While the technique of data collection is done through the technique of referring to skillful engagements, recording techniques, and note-taking techniques. The data that has been classified is then analyzed by qualitative descriptive analysis techniques. The results of this study revealed that the language behavior between the employees of the Buton tribe and the Buru tribe at the Buru Jazirah Namlea Multipurpose Cooperative was initially not very good considering they communicated with each other in their respective languages but over time this could be overcome so that between the Buton tribes and the Buru tribe cooperated well. Subsequent findings of language barriers between Buton and Buru tribes employees at the Buru Jazirah Namlea Multipurpose Cooperative influenced their respective regional languages, between the two tribes unable to understand each other because the two tribes used their respective regional languages. when interacting.  Sebagai warga negara yang baik, ketika kita berkumpul antara sesama pengguna bahasa yang saling berbeda bahasa daerah, kita harus selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana perilaku berbahasa antara karyawan suku Buton dan suku Buru di Koperasi Serba Usaha Buru Jazirah Namlea dan bagaimana hambatan-hambatan perilaku berbahasa antara karyawan suku Buton dan suku Buru di Koperasi Serba Usaha Buru Jazirah Namlea di Namlea Kabupaten Buru, Maluku. Penelitian deskriptif kualitatif ini mengkaji tentang fenomena kebahasaan. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan yang digunakan antara karyawan suku Buton dan suku Buru di Koperasi Serba Usaha Buru Jazirah Namlea yang mengandung bahasa daerah kedua suku tersebut. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipasi. Sementara teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang sudah diklasifikasi kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif.            Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa perilaku berbahasa antara karyawan suku Buton dan suku Buru di Koperasi Serba Usaha Buru Jazirah Namlea pada awalnya kurang begitu baik mengingat mereka saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing, namun seiring dengan berjalannya waktu hal tersebut bisa teratasi sehingga antara suku Buton dan suku Buru terjalin kerja sama dengan baik. Temuan berikutnya hambatan-hambatan  yang terjadi dalam perilaku berbahasa antara karyawan suku Buton dan suku Buru di Koperasi Serba Usaha Buru Jazirah Namlea yaitu pengaruh bahasa daerah masing-masing antara kedua suku tersebut tidak bisa saling memahami karena kedua suku tersebut menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing ketika berinteraksi.
PENINGKATAN MENULIS CERPEN KELAS X SMAN 9 BURU DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM PENDEK SEJUTA ASA BAKULAN JAMU TRANS 7 [Improving Writing Short Stories in Class X SMAN 9 Buru by Using the Short Film Sejuta Asa Bakulan Jamu Trans 7] Nanik Indrayani; Sari Tasijawa
TOTOBUANG Vol. 9 No. 1 (2021): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v9i1.256

Abstract

Writing short stories  is very difficult for some students at SMAN 9 Buru. This study aims to describe the effectiveness of writing short stories using the short film media of Sejuta Asa Bakulan JamuTrans7 in Indonesian language learning, especially in writing short stories for students of class X IPS at SMAN 9 Buru. Data collection techniques in this study used observation and test techniques. The collected data were then analyzed using descriptive statistical techniques. The results obtained  a significant influence in the use of the short film media of Sejuta Asa Bakulan Jamu Trans7.  It is successful. This can be seen through prethepretest score and posttest score which have a significant difference. In the control class,   only 3 students or 10% who obtained scores in the complete category and 27students or 90% were uncomplete, while  The KKM score at SMAN 9 Buru is 65.The average value of learning outcomes obtained by students was 54.83,. Thus  the control class students didnot achieved classical completeness. In the experimental class, there were 26 students or 87% who were categorized as complete, while 4 students or 13% received incomplete scores. The average value of learning outcomes obtained by students is 70.73 It shows that the application of the short film media of Sejuta Asa Bakulan Jamu Trans7in learning  writring short stories for students of SMAN 9 Buru is effectively used. Menulis cerpen atau cerita pendek terasa sangat menyulitkan bagi sebagian siswa di SMAN 9 Buru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan penulisan cerpen dengan menggunakan media film pendek Sejuta Asa Bakulan Jamu Trans7 dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia tentangpenulisaan cerpen bagi Siswa Kelas X IPS SMAN 9 Buru. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan tes. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil yang didapat dari penelitian ini menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan dalam penggunaan media film pendek Sejuta Asa Bakulan Jamu Trans7terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia  tentang penulisan cerpen. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa media yang diterapkan di kelas X SMAN 9 Buru dinyatakan berhasil. Hal ini dapat dilihat pada hasil tes awal (pretest) dan tes akhir (postest) yang memiliki perbedaan yang signifikan. Pada siswa kelas kontrol hanya 3 siswa atau 10% yang memperoleh nilai dengan kategori tuntas, siswa yang tidak tuntas sebanyak 27 atau 90%, sedangkan nilai KKM di SMAN 9 Buru yaitu 65. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa adalah 54.83. Jadi, siswa kelas kontrol dinyatakan tidak mencapai ketuntasan klasikal. Pada kelas eksperimen terdapat 26 siswa atau 87% yang dikategorikan tuntas, sedangkan 4 siswa atau 13% yang memperoleh nilai tidak tuntas. Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa adalah 70.73, kesimpulannya ialah penerapan media film pendek Sejuta Asa Bakulan Jamu Trans7 dalam pembelajaran menulis cerpen pada siswa SMAN 9 Buru efektif untuk digunakan.