Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Perbedaan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Model Jigsaw II dan Think Pair Share (TPS) Kelas X IPA Pada Materi Ekosistem di SMA Negeri 18 Batam Alnita Saputri; Fauziah Syamsi; Notowinarto Notowinarto
SIMBIOSA Vol 9, No 1 (2020): JURNAL SIMBIOSA
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/sim-bio.v9i1.2474

Abstract

Pada proses pembelajaran, guru diharapkan dapat menggunakan model pembelajaran yang tepat demi ketercapaian hasil belajar dan peningkatan mutu pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan memberikan dampak yang baik terhadap siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara model Jigsaw II dan Think Pair Share (TPS) pada pokok bahasan Ekosistem kelas X IPA SMAN 18 Batam Tahun Ajaran 2018/2019. Jenis penelitian adalah quasi eksperimental, dengan populasi terjangkau semua siswa kelas X IPA yang terdiri dari 3 kelas. Dalam penelitian ini sebagai sampel terpilih adalah kelas X IPA 2 sebagai kelas Jigsaw II (ekperimen 1) dan kelas X IPA 1 sebagai kelas TPS (eksperimen 2). Uji prasyarat analisis mempelihatkan distribusi data normal (X2hitung X2tabel5%) dan homogen (FhitFtab5%) pada kedua kelas eksperimen. Analisis data menggunakan Uji t (α = 5%). Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata nilai hasil belajar kelas Jigsaw II adalah 82,5 dan kelas TPS adalah 76,5. Uji t menunjukan nilai  = 2,26  = 1,99 maka  ditolak dan  diterima. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa menggunakan Jigsaw II dan TPS kelas X IPA materi Ekosistem SMA Negeri 18 Batam. Penerapan model pembelajaran yang tepat pada materi tertentu dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Pengaruh Pupuk Organik Cair Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca L.) terhadap Pertumbuhan Bayam Cabut (Amaranthus tricolor L.) dan Implementasinya dalam Video Pembelajaran Fauziah Syamsi; Kiptiyah Kiptiyah; Yarsi Efendi
SIMBIOSA Vol 11, No 1 (2022): JURNAL SIMBIOSA
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/sim-bio.v11i1.4094

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L.)  terhadap pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L.). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 kontrol, perlakuan A (dosis 10 ml), perlakuan B (dosis 15 ml), perlakuan C (dosis 20 ml), perlakuan D (dosis 25 ml), dan perlakuan E (30 dosis ml); masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, sehingga terdapat 30 satuan pecobaan. Variabel yang dianalisis adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan berat basah. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan ANOVA (Analysis of varience) dan apabila perlakuan berpengaruh nyata, maka akan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf 5%.  Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata dari pemberian pupuk organik cair kulit pisang kepok terhadap variabel pertumbuhan tinggi bayam cabut (Fhitung = 4.637 FTabel (0.05) = 2.62), tidak terdapat pengaruh nyata terhadap varibel jumlah daun bayam cabut (Fhitung = 1.855 FTabel (0.05) = 2.62), dan tidak tidak terdapat pengaruh nyata terhadap variabel berat basah bayam cabut (Fhitung = 1.011 FTabel (0.05) = 2.62).
Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Gastropoda di Ekosistem Mangrove Pulau Ngenang Kota Batam Siti Fatmawati; Yarsi Efendi; Fenny Agustina; Fauziah Syamsi; Rahmi Rahmi
SIMBIOSA Vol 11, No 2 (2022): JURNAL SIMBIOSA
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/sim-bio.v11i2.4527

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis dan pola distribusi gastropoda di ekosistem mangrove Pulau Ngenang. Menggunakan  metode survei dengan  pengumpulan data mmemakai transek pada dua staiun yang berbeda. Hasil dari penelitian ditemukan 6 famili dan 9 spesies. 6 famili, yaitu, Potamididae, Ceritidae, Melongenidae, Neritidae, Ellobidae dan Muricidae. Jenis yang ditemukan yaitu: Telescopium telescopium, Telescopium mauritsi,Cerithidea obtusa, Terebralia palustris, Cerithium coralium, Pugilina cochlidium, Nerita balteata, Mysotella myositis, Chicoreus capucinus. Diperoleh indeks  keanekaragaman jenis (H)’= 1,00 pada stasiun 1 dan 1,37 di stasiun 2,  kategori sedang, hal ini menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis sedang dan jenis–jenis tersebar secara mengelompok yang ditunjukan oleh nilai indeks Morisita 1,045 pada stasiun 1 dan 1,072 stasiun 2.
Struktur Komunitas Jamur Tingkat Tinggi (Basidiomycetes: Polyporaceae) di Hutan Lindung Muka Kuning Putri Sinta; Lani Puspita; Fauziah Syamsi
SIMBIOSA Vol 9, No 1 (2020): JURNAL SIMBIOSA
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/sim-bio.v9i1.2294

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas jamur tingkat tinggi (kelas Basidiomycetes: famili Polyporaceae) di Hutan Lindung Muka Kuning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Survei dilakukan dengan menelusuri wilayah stasiun pengamatan di Hutan Lindung Muka Kuning. Jenis penelitian ini adalah eksploratif dan data diolah secara ekologi kuantitatif. Berdasarkan hasil identifikasi, ditemukan 6 jenis jamur famili Polyporaceae, yaitu: Gloephyllum odoratum, Microporus xanthopus, Pycnoporus sanguineus, Trametes suaveolens, Trametes conchifer, dan Trametes versicolor. Substrat jamur yang ditemukan pada saat penelitian ini adalah batang kayu yang sudah mati. Berdasarkan analisis struktur komunitas, diperoleh Indeks Keanekaragaman Jenis yang tergolong sedang (nilai berkisar 1.05 - 1.63), Indeks Keseragaman Jenis yang tergolong tinggi (nilai berkisar 0.756 - 0.911), dan Indeks Dominansi yang tergolong rendah hingga sedang (nilai berkisar 0.223 - 0.452). Kerapatan jamur famili Polyporaceae berkisar antara 11 - 12 individu/m².
Density, Morphometrics, Length–Weight Relationship, and Condition Factors of Manila Clams (Ruditapes philippinarum) in Waters Batam City Fety Andriani; Ramses Ramses; Fauziah Syamsi; Ismarti Ismarti
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 12, No 1: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus March 2026
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v12i1.8766

Abstract

Background: The Manila clam Ruditapes philippinarum is an economically important marine bivalve and a key component of coastal ecosystems. Environmental factors such as sedimentation, salinity fluctuations, and human activities may influence its abundance, growth, and physiological condition. This study aimed to assess the abundance, morphometric characteristics, length–weight relationship, and condition factor of R. philippinarum in the waters surrounding Sarang Island, Batam Plot. Methodology: Sampling was conducted at three intertidal stations—Tempayang Island, Piring Island, and Layang Island—using purposive manual collection within 3 plot observation. Shell length, height, and thickness were measured using digital calipers, and total weight was recorded with a digital balance. Growth patterns were analyzed using log–log regression, while condition factors (K and WR) were used to evaluate physiological status. Findings: 87 individuals of R. philippinarum were recorded at Station 1, 118 at Station 2, and 117 at Station 3. The shell length of Ruditapes philippinarum ranged from 15.2 to 42.6 mm across all sampling stations. The length–weight relationship showed a weak correlation (r = 0.145) with a low coefficient of determination (R² = 0.21%) and a negative allometric growth pattern (b = −0.3419). The WR value (121.81) indicated generally good physiological condition. Water quality parameters were generally within tolerance limits; however, stations with higher total dissolved solids and lower water transparency indicated increased turbidity, which was associated with relatively smaller shell sizes of R. philippinarum compared to stations with better water clarity. Overall, variations in abundance and size among stations were influenced by environmental differences, while the R. philippinarum population remained relatively healthy. Contributions: These findings provide baseline ecological information that can support future monitoring and sustainable management strategies for R. philippinarum resources in intertidal coastal ecosystems
Epifaunal Gastropods Diversity in Small Island Waters of Batam City Border Region Raja Indra Saputra; Ramses Ramses; Fauziah Syamsi; Dahrul Aman Harahap; Romie Jhonnerie
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 19 No. 2 (2026): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v19i2.43637

Abstract

This research examines gastropod epifauna diversity across ten small islands in Batam City, which directly borders international shipping lanes. Data collection was occurred in rocky intertidal zones using sweep sampling. The inventory revealed 12 gastropod species from 8 families, with a total abundance of 7,913 individuals. Nerita undata, Trochus marmoratus, and Euchelus atratus species dominated, contributing 56.80% to the total individuals found. The Shannon-Wiener index (H') values ranged from 1.458 to 2.103, indicating moderate diversity with moderate ecological pressure. The relatively high evenness index (E) (0.762–0.921) shows an even distribution of individuals between islands, while the low dominance index (C) (0.147–0.371) confirms the absence of genuinely dominant species. Pearson correlation analysis reveals that water clarity significantly correlated with diversity (P <0.05), whereas salinity and current velocity influence species distribution. Anthropogenic activities manifest through TDS and pH value variations affecting gastropod community stability, particularly in shipping and shipbuilding industries. These results emphasize the importance of environmental quality monitoring and implementation of sustainable conservation programs in Batam City's border areas. Future research should highlight population genetic dynamics and adaptive responses of gastropods to habitat changes. A holistic approach involving stakeholders becomes necessary to maintain biodiversity conservation and ecosystem sustainability.