Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARGUMENTASI MATEMATIS MAHASISWA R. Bambang Aryan Soekisno
Jurnal Infinity Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Number 2, Infinity
Publisher : IKIP Siliwangi and I-MES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.868 KB) | DOI: 10.22460/infinity.v4i2.p120-139

Abstract

ABSTRAK Pembelajaran matematika di tingkat perguruan tinggi lebih banyak menggunakan pendekatan berbasis masalah. Mahasiswa diberikan masalah dan diminta memecahkannya. Pada proses pemecahan masalah pada umumnya yang dilakukan adalah problem lansung solving, melewatkan argumentasi, padahal argumentasi merupakan hal penting. Pada argumentasi akan terlihat proses berpikir yaitu data apa yang diketahui, dukungan dari definisi atau teorema yang digunakan, sanggahan apa yang dapat dilakukan, sehingga sampai pada klaim. Seseorang dikatakan memahami masalah secara bermakna apabila ia dapat mengemukakan alasan, data, jaminan, idea bahkan klaim dalam masalah secara benar. Karena itu, untuk memeriksa apakah mahasiswa telah memiliki kemampuan mengemukakan masalah matematika secara bermakna, dapat diestimasi melalui kemampuan mahasiswa menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali idea dalam argumentasi matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa pendidikan matematika dalam pembelajaran kalkulus 1. Untuk meningkatkan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa, perlu adanya upaya untuk menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi mahasiswa dalam berargumentasi. Penelitian eksperimen ini, dengan populasi seluruh mahasiswa pendidikan matematika di UHAMKA. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan purposif random sampling, dua kelas sebagai kelas eksperimen dan dua kelas sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan pembelajaran berbasis masalah (PBM), dan kelas kontrol diberikan pembelajaran konvensional (KS). Sampel yang terlibat sebanyak 141 orang mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah soal tes kemampuan argumentasi matematis. Analisis data menggunakan uji-t, dan ANOVA satu dan dua jalur. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa antara kelompok PAM (atas, tengah dan bawah) pada pendekatan PBM. Perbedaan peningkatan terjadi pada kelompok PAM atas dengan tengah. Secara signifikan peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa berdasarkan kelompok PAM pada pendekatan PBM lebih baik dibandingkan dengan peningkatan kemampuan argumentasi matematis yang memperoleh pembelajaran KS. Terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa pada masing-masing kelompok PAM dengan pendekatan PBM dan KS. Secara bersamaan kedua faktor kelompok PAM dan pendekatan pembelajaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswaKata Kunci    :   Argumentasi matematis, Pembelajaran berbasis masalah ABSTRACT Learning mathematics at the college level more problem-based approach. Students are given a problem and asked to solve it. In the problem-solving process is generally carried out direct problem solving, skip the argument, but the argument is important. On the argument would seem to think that the data is what is known, the support of the definition or theorem is used, a rebuttal of what to do, so until the claim. Someone said to understand the problem substantially if he can give the reasons, the data, assurance, ideas and even claims in issue correctly. Therefore, to check whether the student has the ability significantly raised the issue of mathematics, can be estimated by the ability of the students expressed orally or rewrite the idea in mathematical argument. This study aims to determine the increase in the ability of mathematical argumentation mathematics education students in learning calculus 1. To improve student mathematical argument, should the effort to implement a learning approach that can facilitate students in arguing. This experimental study, the entire student population in UHAMKA mathematics education. The selection of the sample in this study using purposive random sampling, two classes as experimental class and two classes as the control class. Given experimental class problem-based learning (PBM), and the class is given control of conventional learning (KS). Samples were involved as many as 141 students. The instrument used is a matter of testing the ability of mathematical argumentation. Data analysis using t-test and ANOVA one and two lanes. Based on the results of data analysis, it is concluded that there are significant differences in improvement of student mathematical argumentation ability between groups PAM (top, middle and bottom) in the PBM approach. The difference in the increase occurred in the group of PAM on the middle. Significantly increased the ability of the student mathematical arguments based on the PAM group PBM approach is better than the increase in the ability to obtain a mathematical argumentation learning KS. There are significant differences in improvement of mathematical argumentation ability of students in each group PAM PBM approach and KS. Taken together these two factors and the PAM group learning approach has a significant influence on the improvement of the ability of the student mathematical arguments.Keywords:            mathematical argumentation, problem-based learning 
PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) DITINJAU DARI ANALISIS URAIAN MATERI DAN HAMBATAN BELAJAR R Bambang Aryan Soekisno; Rafiq Zulkarnaen; Redo Martila Ruli
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.528 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v10i3.4017

Abstract

RPP merupakan rencana aktivitas belajar siswa yang disusun oleh guru sesuai dengan pengetahuan matematika dan keterampilan matematis yang termuat dalam kurikulum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana kemampuan, kualitas, dan cara guru matematika dalam mengidentifikasi materi serta merencanakan proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan studi kasus pada guru matematika SMA. Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kasus tunggal dan analisis ganda. Instrument tes dan non tes digunakan dalam penelitian ini. Instrumen tes berbentuk tes kinerja subjek penelitian dalam menyusun rencana pembelajaran. Sementara itu, instrumen nontes berbentuk wawancara tidak terstrukur. Pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap Pertama digunakan untuk menjawab dua pertanyaan penelitian, yaitu:  bagaimana kemampuan guru matematika dalam mengidentifikasi materi dan merencanakan proses pembelajaran? bagaimana kualitas RPP yang disusun oleh guru matematika berdasarkan analisis materi dan hambatan belajar siswa ditinjau dari kualifikasi pendidikan serta lama mengajar? Tahap Kedua digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian, bagaimana cara guru matematika mengidentifikasi analisis materi dan hambatan belajar siswa dalam penyusunan RPP? Pada tahap ini dipilih kompetensi dasar (KD) pada aspek pengetahuan dan keterampilan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian atau 54,55% kesulitan dalam mengidentifikasi urutan materi dan merencanakan proses pembelajaran sesuai dengan hambatan belajar siswa, dan sebagian kecil guru atau sebesar 36,33% dalam menganalisis materi untuk merancang pembelajaran sangat dipengaruhi oleh buku teks yang menyediakan panduan bagi guru dalam perencanaan dan proses pembelajaran.
IMPROVING UNDERSTANDING AND MATHEMATICAL COMMUNICATION LEVEL AND STUDY LEARNING WITH RECIPROCAL TEACHING APPROACH Iis Yuniar; Euis Eti Rohaeti; R Bambang Aryan Soekisno
(JIML) JOURNAL OF INNOVATIVE MATHEMATICS LEARNING Vol 1, No 2 (2018): VOLUME 1 NUMBER 2, JUNE 2018
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.092 KB) | DOI: 10.22460/jiml.v1i2.p136-142

Abstract

This research is to analyze and analyze the improvement and achievement of students' understanding and communication ability and the independence of junior high school students learning using Reciprocal Teaching approach compared to using ordinary learning. The population in this study is the seventh-grade students of SMP in one school in Bandung. The sample of the experimental class and the control class. The method used in this research is quasi-experiment. Data processing of communication skills and mathematical understanding using a t-test, two-lane ANOVA, and linear regression. The result of the research shows that the achievement and improvement of students' mathematical understanding and communication ability which get the learning using the Reciprocal Teaching approach are better than the students who get regular learning. Students of experimental class with Reciprocal Teaching learning and control class with ordinary learning there is no relation between mathematical understanding ability with student learning independence and experimental class students with Reciprocal Teaching lesson and control class with ordinary learning there is no correlation between mathematical communication ability with student learning independence.
APPLICATION OF INDUCTIVE-DEDUCTIVE APPROACH TO IMPROVE THE ABILITY OF MATHEMATICAL COMMUNICATION AND SELF EFFICACY OF JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENT Bibih Hasibah; Euis Eti Rohaeti; Bambang Aryan
(JIML) JOURNAL OF INNOVATIVE MATHEMATICS LEARNING Vol 1, No 1 (2018): VOLUME 1 NUMBER 1, MARCH 2018
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/jiml.v1i2.p70-75

Abstract

This study aims to analyze the application of inductive-deductive approach to improve the ability of mathematical communication and self efficacy of junior high school students. The design of this study is quasi experiment. The research instruments used in this research are mathematical communication ability test and self efficacy attitude scale. The population in this study is all students of SMP Negeri 1 Soreang with this research sample is 80 students of class VIII as much as two classes chosen at random. Data analysis was done quantitatively to the data of mathematic communication ability and self efficacy attitude scale. In statistical calculations using SPSS 21, the results of the study show that improving students' mathematical communication skills whose learning uses a deductive-inductive approach is better than using ordinary learning. And self efficacy of junior high school students whose learning using inductive -deductive approach is better than using ordinary learning. Keywords:  Mathematical Communication Skills, Self Efficacy, Deductive-induktive approach
PENGARUH MODEL PROBLEM-BASED LEARNING AND COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK-PAIR-SHARE DITINJAU DARI GAYA BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS 2 SD ABC [THE EFFECT OF THE THINK-PAIR-SHARE TYPE OF PROBLEM-BASED LEARNING AND COOPERATIVE LEARNING MODEL ON THE CRITICAL THINKING SKILLS OF SECOND GRADE STUDENTS OF ABC SCHOOL] Jessica Levina; Gusti Yarmi; R. Bambang Aryan Soekisno
Polyglot Vol 18, No 1 (2022): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v18i1.4406

Abstract

Critical thinking ability needs to be developed from an early age, so it is very important to find an effective learning model to foster critical thinking skills. The learning model being tested is the Problem-Based Learning and the Cooperative Learning Model Think-Pair-Share (TPS) Type. This study aims to see the effect of the learning model reviewed from learning style on critical thinking skills. This research was conducted in SD ABC with a population of 153 students in grade II. This research method is quantitative research using quasi-experimental. Data analysis was tested using normality and homogeneity tests. Hypothesis testing using two-way ANOVA and Tukey's test. The conclusion obtained is that there are differences in the results of critical thinking skills between students who received learning with Problem-Based Learning and Cooperative Learning Model TPS Type with a significance level of 0.017, there is no difference in students' critical thinking skills with auditory learning styles between those who received learning with Problem-Based Learning and Cooperative Learning Model TPS Type with a significance value of 0.211, and there is no difference in students' critical thinking skills with kinesthetic learning styles between those who received learning with Problem-Based Learning and Cooperative Learning Model TPS Type with a significance value of 0.421.Bahasa Indonesia Abstrak: Kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan sejak dini, maka sangat penting untuk menemukan model pembelajaran yang efektif memupuk kemampuan berpikir kritis. Model pembelajaran yang diujicobakan adalah Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Model Pembelajaran Kooperatif tipe ThinkPair-Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh model pembelajaran ditinjau dari gaya belajar terhadap kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini dilakukan di SD ABC dengan jumlah populasi 153 siswa di kelas II SD. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuasi eksperimen. Analisis data diuji menggunakan uji normalitas dan homogenitas. Pengujian hipotesis menggunakan ANAVA dua jalur serta uji Tukey. Kesimpulan yang didapatkan adalah adanya perbedaan hasil kemampuan berpikir kritis antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS dengan taraf signifikansi 0,017, tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa dengan gaya belajar auditori antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Model Pembelajaran Kooperatif tipe ThinkPair-Share dengan nilai signifikansi 0,211, dan tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa dengan gaya belajar kinestetik antara yang mendapatkan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan nilai signifikansi 0,421.
EFFORT INCREASES LEARNING RESULTS STUDENT CLASS VII B SMP NEGERI 7 CIMAHI SUBSEQUENT DIFFERENCE THROUGH COOPERATIVE LEARNING MODEL TYPE STAD Abu Muchlis; Agung Maulana; Hoer Mutaqin; R Bambang Aryan Soekisno
Journal Of Educational Experts (JEE) Vol 1, No 2 (2018): Journal of Educational Experts (JEE)
Publisher : Kopertis Region IV Jabar and Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30740/jee.v1i2p%p

Abstract

This Research Entitled: Efforts to Improve Student Results Class VII B SMP Negeri 7 Cimahi In The Main Stage Through the Cooperative Learning Model Type STAD.  This study reveals the problem: Is Learning in the Main Stage Through Cooperative Learning Model Type STAD can improve Student Learning Outcomes? In accordance with the problems mentioned above, the purpose of this study is to determine the effectiveness of learning in the subject of the set through cooperative learning model type STAD can improve student learning outcomes.This research was conducted on the students of class VII B SMP Negeri 7 Cimahi with 35 students, consisting of 17 male students and 18 female students. This study was conducted in two cycles with the results of data processing showed that the material "Himpunan" students experience improvement in achievement after using STAD type cooperative learning model that is in the first cycle students' learning mastery reaches 25.71% with an average value of 63.71; on the second cycle of student learning completeness reached 88.57% with an average value of 77.29.Based on the result of research, it is known that Through Model Learning Cooperative Type STAD can improve student learning outcomes. Therefore this learning model should be applicable by the teacher when the teaching and learning process takes place as an alternative model of learning on certain topics.
Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Guru di SD Negeri se-Kabupaten Bintan Asep Mukti; Amalia Sapriati; Bambang Aryan Soekisno
Indonesian Journal of Islamic Educational Management Vol 5, No 1 (2022): IJIEM
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ijiem.v5i1.16390

Abstract

Sekolah merupakan salah satu lembaga alternatif pelayanan pendidikan. Sekolah sebagai suatu lembaga yang memiliki visi, misi, tujuan dan fungsi sehingga memerlukan tenaga profesional, tata kerja organisasi dan sumber-sumber yang mendukung baik finansial maupun non finansial salah satunya adalah guru. Peningkatan kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh kinerja guru. Kinerja guru yang optimal jika diintegrasikan dengan komponen-komponen yang ada di sekolah, diantaranya kepala sekolah dan lingkungan sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru, lingkungan kerja terhadap kinerja guru, dan pengaruh kepemimpinan kepala sekolah bersama-sama dengan lingkungan kerja terhadap kinerja guru di SD Negeri Se-Kabupaten Bintan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket, wawancara, dan observasi. Item angket yang diberikan telah dianalisis validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru (2) lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru (3) kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja sama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru.
PENGARUH KUALIFIKASI PENDIDIKAN TERHADAP PENGETAHUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN R. Bambang Aryan Soekisno; Rafiq Zulkarnaen
Teorema: Teori dan Riset Matematika Vol 6, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/teorema.v6i2.5426

Abstract

Perencanaan pelaksanaan pembelajaran sebagai proses penting dalam mengajar matematika, dalam penyusunan perencanaan pembelajaran melibatkan beberapa komponen diantaranya pengetahuan konten matematika dan pengetahuan pedagogis. Kualitas penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat dipengaruhi oleh kualifikasi pendidikan dan pengalaman mengajar. Tujuan penelitian ini yaitu: (a) mengetahui pengaruh kualifikasi pendidikan dan lama mengajar terhadap kemampuan guru matematika dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); dan (b) mengetahui kualitas pengetahuan guru matematika dalam merumuskan RPP. Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kasus tunggal dan analisis ganda. Kasus yang diamati dalam penelitian ini yaitu kemampuan guru matematika dalam menyusun RPP ditinjau dari kualifikasi pendidikan dan lama mengajar, serta pengetahuan matematika guru dalam menyusun RPP. Subjek penelitian sebanyak 69 guru matematika di Kota Bogor Provinsi Jawa Barat. Kualifikasi pendidikan dibagi kedalam tiga kriteria, yaitu: Sarjana Pendidikan Matematika, Sarjana non-Pendidikan Matematika, dan Sarjana non-Pendidikan. Selain kualifikasi pendidikan, ditinjau juga dari lama mengajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari instrumen tes dan non tes. Instrumen tes berbentuk penyusunan RPP oleh SP pada KD 3.3 dan 4.3 pada materi SPLDV, sedangkan instrumen non tes berbentuk wawancara dan observasi. Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah kemampuan menyusun RPP tidak dipengaruhi oleh lama mengajar, namun sangat dipengaruhi oleh kualifikasi pendidikan, dan kualifikasi pendidikan memberikan dampak secara signifikan tehadap pengetahuan guru matematika.Kata kunci:  Aktivitas matematis, antisipasi pedagogis-didaktis, pengetahuan konten matematika, pengetahuan pedagogis, RPP
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARGUMENTASI MATEMATIS MAHASISWA R. Bambang Aryan Soekisno
Jurnal Infinity Vol 4 No 2 (2015): Jurnal Infinity Vol 4 No 2, September 2015
Publisher : IKIP Siliwangi and I-MES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/infinity.v4i2.p120-139

Abstract

ABSTRAK Pembelajaran matematika di tingkat perguruan tinggi lebih banyak menggunakan pendekatan berbasis masalah. Mahasiswa diberikan masalah dan diminta memecahkannya. Pada proses pemecahan masalah pada umumnya yang dilakukan adalah problem lansung solving, melewatkan argumentasi, padahal argumentasi merupakan hal penting. Pada argumentasi akan terlihat proses berpikir yaitu data apa yang diketahui, dukungan dari definisi atau teorema yang digunakan, sanggahan apa yang dapat dilakukan, sehingga sampai pada klaim. Seseorang dikatakan memahami masalah secara bermakna apabila ia dapat mengemukakan alasan, data, jaminan, idea bahkan klaim dalam masalah secara benar. Karena itu, untuk memeriksa apakah mahasiswa telah memiliki kemampuan mengemukakan masalah matematika secara bermakna, dapat diestimasi melalui kemampuan mahasiswa menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali idea dalam argumentasi matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa pendidikan matematika dalam pembelajaran kalkulus 1. Untuk meningkatkan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa, perlu adanya upaya untuk menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi mahasiswa dalam berargumentasi. Penelitian eksperimen ini, dengan populasi seluruh mahasiswa pendidikan matematika di UHAMKA. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan purposif random sampling, dua kelas sebagai kelas eksperimen dan dua kelas sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan pembelajaran berbasis masalah (PBM), dan kelas kontrol diberikan pembelajaran konvensional (KS). Sampel yang terlibat sebanyak 141 orang mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah soal tes kemampuan argumentasi matematis. Analisis data menggunakan uji-t, dan ANOVA satu dan dua jalur. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa antara kelompok PAM (atas, tengah dan bawah) pada pendekatan PBM. Perbedaan peningkatan terjadi pada kelompok PAM atas dengan tengah. Secara signifikan peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa berdasarkan kelompok PAM pada pendekatan PBM lebih baik dibandingkan dengan peningkatan kemampuan argumentasi matematis yang memperoleh pembelajaran KS. Terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan kemampuan argumentasi matematis mahasiswa pada masing-masing kelompok PAM dengan pendekatan PBM dan KS. Secara bersamaan kedua faktor kelompok PAM dan pendekatan pembelajaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan argumentasi matematis mahasiswaKata Kunci    :   Argumentasi matematis, Pembelajaran berbasis masalah ABSTRACT Learning mathematics at the college level more problem-based approach. Students are given a problem and asked to solve it. In the problem-solving process is generally carried out direct problem solving, skip the argument, but the argument is important. On the argument would seem to think that the data is what is known, the support of the definition or theorem is used, a rebuttal of what to do, so until the claim. Someone said to understand the problem substantially if he can give the reasons, the data, assurance, ideas and even claims in issue correctly. Therefore, to check whether the student has the ability significantly raised the issue of mathematics, can be estimated by the ability of the students expressed orally or rewrite the idea in mathematical argument. This study aims to determine the increase in the ability of mathematical argumentation mathematics education students in learning calculus 1. To improve student mathematical argument, should the effort to implement a learning approach that can facilitate students in arguing. This experimental study, the entire student population in UHAMKA mathematics education. The selection of the sample in this study using purposive random sampling, two classes as experimental class and two classes as the control class. Given experimental class problem-based learning (PBM), and the class is given control of conventional learning (KS). Samples were involved as many as 141 students. The instrument used is a matter of testing the ability of mathematical argumentation. Data analysis using t-test and ANOVA one and two lanes. Based on the results of data analysis, it is concluded that there are significant differences in improvement of student mathematical argumentation ability between groups PAM (top, middle and bottom) in the PBM approach. The difference in the increase occurred in the group of PAM on the middle. Significantly increased the ability of the student mathematical arguments based on the PAM group PBM approach is better than the increase in the ability to obtain a mathematical argumentation learning KS. There are significant differences in improvement of mathematical argumentation ability of students in each group PAM PBM approach and KS. Taken together these two factors and the PAM group learning approach has a significant influence on the improvement of the ability of the student mathematical arguments.Keywords:            mathematical argumentation, problem-based learning 
Membangun Kemampuan Komunikasi Matematik dan Nilai Karakter Siswa melalui Bentang Pangajen Berbantuan Phet interactive simulation Soekisno, Bambang Aryan
Pasundan Journal of Mathematics Education : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 1 (2012): Pasundan Journal of Mathematics Education : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Program Magister Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Pasundan in collaboration with Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI) and Indonesian Mathematics Educators' Society (IMES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/pjme.v2i1.2467

Abstract

Hasil belajar siswa untuk bidang studi matematika, cukup mengkhawatirkan terutama kemampuan komunikasi matematik bahkan mungkin lebih rendah bila dibandingkan dengan kemampuan lainnya. Beberapa pelajar tidak menyukai matematika karena matematika penuh dengan hitungan dan miskin komunikasi. Beberapa pelajar juga berpikir bahwa matematika pelajaran yang membosankan, karena penuh rumus dan miskin nilai karakter. Kebanyakan pelajar tidak merasa senang ketika belajar matematika. Bentang pangajen berbantuan Phet interactive simulation adalah sebuah pembelajaran yang menyajikan pembelajaran matematika dengan menyenangkan dan juga membangun keterampilan komunikasi dan nilai karakter. Ada lima langkah dalam pembelajaran dengan bentang pangajen, yaitu bina suasana, bina konsep, bina ingatan, beri bintang, dan beri hikmah. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas pada siswa SMA Negeri 6 Bogor. Keterampilan komunikasi terbangun pada langkah ke tiga sampai lima dari pembelajaran dengan bentang pangajen berbantuan Phet interactive simulation. Adanya peningkatan kemampuan komunikasi matematik dari setiap siklus, dan nilai karakter siswa terbangun pada langkah ke empat dan lima dari pembelajaran ini.