Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

The Changes on Scale-Up Agriculture Business Transformation Process in Rural Area Devi Maulida Rahmah; Fahmi Rizal; Sarinarulita Rosalinda
Journal of Industrial and Information Technology in Agriculture Vol 1, No 1 (2017): AUGUST 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.909 KB) | DOI: 10.24198/jiita.v1i1.13320

Abstract

This study aims to identify the changes in Scale-up Business Transformation Process in PT Malabar Kopi Indonesia. PT Malabar Kopi Indonesia is the largest coffee processing business unit in West Java, established in 2005. Initially, this coffee business was categorized to household-scale coffee processing business (Small enterprise scale) and currently the company has become a coffee processing business unit that exports coffee to various countries. The development of this business is eligible to be identify the business changes occured. This study was conducted through field observation and deep interview. The data were analyzed through historical analysis. Through historical analysis approach, all details in innovation process conducted by PT Malabar Kopi will be explained.The results show that the changes on scale-up transformation process is divided into 4 terms, namely product changes, process changes, technological changes, and organizational changes. Product changes occurred four times along the business established. Initially, the company produced cherry bean as the main product on 2005. Changes occurred due to the company's desire to meet the market demand and increase value-added of products on 2009, when started producing green bean and roasted bean. In 2014 they started producing instant coffee and increased the production quantity of Green bean and roasted bean to meet the international market through exporting activity. The Process changes occurred 4 times, it closely related to the product changes. The changes from wet process to dry process occurred on 20014 due to the company target which focused to export market. The change also occurred on 2017 when the dry process moved to the natural process due to the domestic market become the targeted on this year. Shortly, the process chanced occurred based on the market will be targeted. The Technological changes helped the company to get the good quality and quantity of product. In term of the organizational changes, it become the basic change to get the market expansion. Especially in 2014, in the initially formed of company that categorized into small and medium scale enterprises moved to large scale enterprise. Marked by the transformation into a limited liability company (PT). The changes that occur have an impact on the networking opportunity and develop a broader business. Here is the historical change of business form.
Optimalisasi Pemisahan Menggunakan Kecepatan dan Waktu Sentrifuge yang Berbeda pada Ekstraksi Pati Jagung Varietas Lokal Kabupaten Garut S. Rosalinda; Sarifah Nurjanah; Rudi Adi Saputra; Nurpilihan Bafdal
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2019): TEKNOTAN, Agustus 2019
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol13n1.5

Abstract

Kabupaten Garut memiliki 42 Kecamatan. Rata rata setiap Kecamatan memproduksi jagung setiap tahunnya. Jagung selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pemanfaatan atau pengolahan biji jagung belum maksimal. Meningkatkan nilai tambah jagung, jagung dibuat menjadi pati. Pati adalah bahan dasar dalam industri pangan, industri farmasi, perekat pada pabrik kertas dan berkembang sebagai bahan perekat bagunan. Memenuhi standar industri dan meningkatkan nilai tambah perlu menganalisis kadar pati. Proses pemisahan adalah bagian proses yang sangat penting dalam ekstraksi pati. Penggunaan alat pemisah memberikan keuntungan dianatranya efisien terhadap waktu dan menghasilkan pati yang lebih murni. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kecepatan dan waktu pada alat pemisah sentrifuge untuk menghasilkan kadar pati yang optimal. Bahan baku penelitian ini adalah jagung dari kelompok tani Kampung Lempong Desa Sukaharja Kecamatan Banyuresmi. metode yang digunakan adalah desain eksprimen dengan pendekatan Respon Surface Method (RSM) tipe Central Composite Design (CCD). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kecepatan dan waktu sentrifuge memberikan pengaruh yang nyata. Model signifikan dengan p value < 0.05 dengan nilai kadar pati yang optimum pada kecepatan 3650 rpm dan waktu 35 menit.
Penggunaan Berbagai Konsentrasi Kulit Buah Pepaya dalam Penurunan Kadar Kafein pada Kopi S. Rosalinda; Tio Febriananda; Sarifah Nurjanah
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2021): TEKNOTAN, Agustus 2021
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol15n1.5

Abstract

Biji kopi merupakan bijian penghasil minuman. Beberapa peneliti terdahulu menunjukkan bahwa kopi memiliki potensi sebagai zat antioksidan, merangsang kinerja otak dan antikanker. Kopi juga memiliki kekurangan yaitu mengandung kadar kafein yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan beberapa efek negatif pada tubuh, seperti meningkatnya denyut jantung. Pengurangan kadar kafein dapat dilakukan dengan cara melakukan dekafeinasi pada biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kulit buah pepaya dalam penurunan kadar kafein kopi arabika. Penelitian ini menggunakan konsentrasi kulit papaya yang dihaluskan (0%, 20%, 40%, 60%, dan 80%) dengan lama waktu fermentasi selama 36 jam. Hasil perlakuan dibandingkan dengan data kontrol (kopi standar produksi Poktan Kopi Manglayang) sebagai acuan penelitian. Kopi bubuk yang dihasilkan telah dilakukan analisa kadar kafein, kadar air, kadar abu, dan uji hedonik. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai perlakuan terbaik terdapat pada konsentrasi kulit pepaya 80%. Perlakuan terbaik ini menghasilkan kadar air 3,48% ± 0,01, kadar kafein 1,07% ± 0,06, kadar abu 3,46% ± 0,02, dan uji hedonik dengan nilai analisa warna 4,17; analisa aroma 3,7; analisa rasa 3 dan 3,43 dan analisa aftertaste 3,43. Hasil analisa kadar kafein didapatkan bahwa konsentrasi 0% sebesar 1,40% ± 0,02, konsentrasi 20% sebesar 1,38% ± 0,02, konsentrasi 40% sebesar 1,24% ± 0,04, konsentrasi 60% sebesar 1,13% ± 0,08. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa enzim papain yang terdapat pada kulit buah pepaya mampu menurunkan kadar kafein. Kata kunci: dekafeinasi; kopi arabika; kulit papaya; penurunan kafein
Upaya Pemberdayaan Masyarakat melalui Pembinaan Usaha Sabun Cair Handmade di Kelompok Rumah Insan Juara, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung Asri Widyasanti; Rosalinda Rosalinda; Selly Harnesa Putri
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 8, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/jpkm.v8i2.331

Abstract

Upaya kerjasama antara Unpad dan masyarakat diperlukan untuk memajukan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memanfaatkan bahan herbal serta hasil bumi. Salah satu upaya pemanfaatan tersebut adalah perlu dikembangkannya produk turunan menjadi sabun cair handmade. Kelompok Insan Juara memiliki potensi memproduksi sabun cair handmade dalam bentuk industri rumahan melalui pemanfaatan hasil pertanian masyarakat. Produk sabun ini terbuat dari minyak dan alkali sehingga terjadi reaksi saponifikasi, selanjutnya adonan pasta sabun dicairkan menjadi sabun cair serta siap untuk dikemas. Potensi ini memiliki prospek yang menjanjikan dalam mengembangkan wirausaha industri rumahan, selain itu dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui pemberdayaan masyarakat sekitar. Tujuan dari kegiatan ini (1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok pengolah sabun handmade berbasis komoditas lokal; (2) Merintis upaya penganekaragaman industri rumahan salah satunya masyarakat yang bergerak di industri pembuatan sabun cair handmade untuk  kebutuhan souvenir dan kado; (3) Membantu pemerintah desa untuk dapat memajukan kesejahteraan masyarakat; dan (4) Mensosialisasikan hasil penelitian dari perguruan tinggi kepada masyarakat pengguna melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra Rumah Insan Juara adalah kurangnya pengetahuan dan pengalaman mengenai pembuatan sabun, pemilihan kemasan sabun yang tepat dari sisi manajemen dan marketing.  Mitra juga sudah diberikan sosialisasi adanya peluang pasar bagi produk sabun cair sebagai souvenir pernikahan. Melihat antusiasme dari kelompok wirausaha baru ini untuk menghasilkan sabun cair sebagai alternatif cinderamata khas kota Bandung  berupa produk non-pangan sehingga perlu pembinaan dari sisi proses pembuatan sabun, kemasan, manajemen dan marketing. Pendekatan yang diterapkan dalam merealisasikan program ini di Kelompok Insan Juara melalui metode participatory approach.  Pelaksanaan kegiatan pelatihan meliputi pelatihan cara melakukan pembuatan sabun cair handmade,  pendampingan, demonstrasi langsung  dalam proses pembuatan pasta sabun, pencairan, pengemasan, monitoring kualitas akhir sabun,  hingga pemasaran hasil sabun. Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa: (1) Kegiatan ini dapat meningkatkan motivasi usaha, kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna untuk mengolah komoditas lokal (minyak kelapa) menjadi produk sabun cair handmade; (2) Peserta pelatihan terutama kelompok ibu-ibu  Rumah Insan Juara telah mengikuti serangkaian  kegiatan pembuatan sabun handmade selanjutnya perlu dikembangkan kerjasama dengan pihak terkait untuk pengembangan bisnis sabun handmade kedepannya.
Analysis of Cellulose and Cellulose Acetate Production Stages from Oil Palm Empty Fruit Bunch (OPEFB) and Its Application to Bioplastics Aisyah Hanifah; Efri Mardawati; S Rosalinda; Desy Nurliasari; Roni Kastaman
Journal of Chemical Process Engineering Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.086 KB) | DOI: 10.33536/jcpe.v7i1.1136

Abstract

AbstractOil Palm Empty Fruit Bunch (OPEFB) is a type of solid waste from the palm oil processing industry. The components of OPEFB include cellulose, hemicellulose, and lignin. OPEFB has a large cellulose content, so it possesses the potential to be used as a bioplastic material. The purpose of this research was to examine the stages of the bioplastics' production process and its characterization. The cellulose content of OPEFB as raw material and during the isolation process which includes hydrolysis, delignification, pulping, and bleaching are 39.59%, 56.00%, 59.85%, 61.48%, and 68.20%, respectively. Cellulose isolation produces α-cellulose content of 97.87%. The resulting cellulose acetate has an acetyl content of 25.93%. The bioplastics were then characterized to determine the effect of cellulose acetate, starch, chitosan, and glycerol on the physical and mechanical properties of the plastics. The results of the physical properties characterization include biodegradability, water absorption, and density with values of 78.73%, 38.26%, and 1.2% respectively. The results of the mechanical properties characterization include tensile strength, elongation, and modulus of elasticity with values of 0.729 MPa, 4.13%, and 17.5 MPa, respectively. The functional groups in the bioplastics, which are O-H, C-H, C-O, C=O, and N-H, are produced from the mixing process between cellulose acetate, starch, chitosan, and glycerol.
Pembuatan Sabun Cair dengan Menggunakan Bahan Baku Minyak Jarak (Castor Oil) dengan Variasi Konsentrasi Infused Oil Teh Putih (Camellia sinensis) Asri Widyasanti; Asep Slamet Septianur; Sarinarulita Rosalinda
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Vol. (11) No. 1, April 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.086 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v11i1.12970

Abstract

Sabun cair adalah sabun berbentuk cairan, memiliki keunggulan seperti mudah dibawa berpergian dan lebih higienis. Sabun dibuat dengan mereaksikan minyak/lemak bersama alkali. Pada penelitian ini sabun dibuat dari bahan utama yaitu minyak jarak yang sebelumnya ditambahkan teh putih menggunakan metode heat infusions, KOH dan beberapa bahan pendukung lainnya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan analisis deskriptif dan analisis korelasi-regresi yang bertujuan untuk mengetahui mutu sabun cair yang dihasilkan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu perbandingan antara minyak jarak dengan teh putih pada pembuatan infused oil, perlakuan A = 400:0 (b/b), B = 400:12,5 (b/b), C = 400:16,6 (b/b), D = 400:25 (b/b), dan E = 400:50 (b/b). Pengujian sampel sabun dilakukan terhadap bobot jenis, pH, Angka Lempeng Total sesuai dengan SNI sabun cair 06-4085-1996, uji organoleptik dan aktivitas antibakteri. Menurut analisis, sabun cair yang dihasilkan dari semua perlakuan sudah sesuai dengan syarat mutu SNI sabun cair 06-4085-1996. Menurut analisis uji organoleptik, dari total 30 panelis sebanyak 37% panelis menempatkan sabun perlakuan E pada peringkat 1. Sabun terbaik menurut aktivitas antibakteri adalah sabun perlakuan E dengan diamater daya hambat sebesar 16,92 mm yang memiliki nilai bobot jenis sebesar 1,0245; nilai Angka Lempeng Total sebesar 0,525 × 105 dan nilai pH sebesar 9,63.
OPTIMASI KONDISI EKSTRAKSI ULTRASONIKASI PADA VITAMIN C BUAH DELIMA (Punica granatum L.) MENGGUNAKAN RESPON PERMUKAAN S. Rosalinda; Hilda Ayu Aulia; Asri Widyasanti; Efri Mardawati
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.113 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v9i2.266

Abstract

Buah Delima (Punica granatum L.) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat, diantaranya memiliki kandungan antioksidan. Kandungan antioksidan dalam buah delima yang utama adalah vitamin C. Vitamin C sebagai antioksidan dibutuhkan dalam sistem imun untuk menjaga kekebalan tubuh dan juga dapat menjaga elastisitas kulit. Kandungan vitamin C dari buah delima dapat diperoleh dengan cara ekstraksi. Vitamin C tidak tahan pada suhu yang tinggi, sehingga dibutuhkan teknologi ekstraksi yang tepat. Ultrasound Assisted Extraction (UAE) merupakan ekstraksi ultrasonikasi yang dipilih karena tidak menggunakan suhu yang tinggi dan waktu ekstraksi lebih singkat. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi UAE optimum yang meliputi kombinasi 3 variabel, yaitu amplitudo, waktu, dan jumlah pelarut yang menghasilkan vitamin C optimum dari ekstrak daging buah delima. Tipe alat UAE yang digunakan pada penelitian ini adalah tipe Qsonica – Q500 (500 W, 20 kHz). Metode penelitian adalah eksperimental laboratorium menggunakan RSM (Response Surface Methodology) tipe CCD (Central Composite Design) dengan amplitudo minimum 40% dan maksimum 50%; waktu minimum 20 menit dan maksimum 25 menit; dan jumlah pelarut minimum 150 ml dan maksimum 225 ml. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa banyaknya jumlah pelarut memberikan pengaruh yang nyata, sedangkan amplitudo dan lama waktu ekstraksi tidak berpengaruh nyata. Model signifikan pada nilai P < 0,05 dengan kondisi UAE optimum pada kombinasi perlakuan amplitudo 50%, waktu 25 menit, dan jumlah pelarut 150 ml yang menghasilkan nilai kadar vitamin C optimum sebesar 47,79 mg/100 gram.
Potensi Pemanfaatan Kulit Jeruk Lemon Afkir (Citrus limon (L.) var. Eureka) sebagai Bahan Pembuatan Minyak Asiri Andri Permana; Sarifah Nurjanah; S Rosalinda; Farah Nuranjani
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jrpb.v11i2.548

Abstract

Unutilized (off-grade) lemon with slight damage have been utilized for lemon juice, even most of that just become waste. In fact, lemon by-product also have many essential compounds. This research aimed to determine the potential and optimal conditions of unutilized lemon peels using distillation process. The research used experimental methods with a factorial complete randomized design. This research used 3 factors including the conditions of material, distillation methods, and time of distillation. Essential oils parameters observed included oil yield, volatile compounds, and physico-chemical characteristics. Based on the results of research, unutilized lemon produced a concentration of limonene compounds of 63,8—67,7%. Optimal treatment was found in the fresh material, using steam and hydro distillation for 6 hours that produced an oil yield of 0.25%, a specific gravity of 0.856 g/ml, an acid value of 2.749 mg KOH/g, and an odour close to fresh lemon peel.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI PATI JAGUNG DALAM PEMBUATAN EDIBLE FILM DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH Afifah Tri Novita; Asri Widyasanti; S. Rosalinda
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 11 No. 3: July 2023
Publisher : Department of Food Science and Biotechnology, Faculty of Agriculture Technology, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2023.011.03.2

Abstract

Pati jagung memiliki kestabilan tekstur yang baik dalam proses pembuatan Edible Film (EF). Ekstrak daun belimbing wuluh yang ditambahkan dalam pembuatan EF ditujukan untuk meningkatkan kualitas EF, dikarenakan ekstrak daun belimbing wuluh mengandung flavonoid, tannin, dan saponin. Penambahan konsentrasi pati jagung akan mempengaruhi karakteristik fisik EF. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pati jagung (rasio 1, 2, dan 3% b/v) terhadap karakteristik fisik EF. Metode eksperimental laboratorium digunakan dalam penelitian ini. Beberapa parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah rendemen pengeringan, kelarutan, dan laju transmisi uap air. Berdasarkan parameter tersebut, perlakuan terbaik dalam penambahan pati jagung adalah sebanyak 3% b/v, dimana memiliki nilai kelarutan dan laju transmisi uap terendah secara berurutan adalah 36.68% dan 2.24g/m2.jam. Berdasarkan penelitian ini, semakin tinggi konsentrasi pati jagung dalam pembuatan EF, akan diperoleh karakteristik fisik EF yang terbaik. 
Optimasi microwave-assisted pretreatment dalam delignifikasi asam oksalat pada kulit kakao menggunakan response surface methodology (RSM) Ahmad Fadhlul Kamal; Efri Mardawati; Eko Heri Purwanto; S. Rosalinda
AGROINTEK Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v17i4.15471

Abstract

Cocoa (Theobroma cacao L.) pod husk is a solid waste originating from the cocoa beans processing industry in very abundant quantities. The components that make up the cocoa pod husk include cellulose, hemicellulose, and lignin. Cocoa pod husk has a large cellulose content, so it has the potential to be used as cellulose-based bioproducts such as bioethanol. This study aimed to determine the optimum power, irradiation time, and concentration of oxalic acid in the cocoa pod husk microwave-pre-treatment delignification process. The cacao pod husk used in this study is a forastero variety from Pakuwon, Sukabumi, West Java, Indonesia. Cocoa pod husk raw material contains lignin, cellulose, and hemicellulose, respectively 15.73%, 40.14%, and 19.33%. The optimal conditions obtained using the Response Surface Methodology (RSM) model with factors that affect the process are power, irradiation time, and concentration of oxalic acid with response levels of cellulose, hemicellulose, and lignin after microwave pre-treatment. The results of the optimum conditions of power, irradiation time, and concentration of oxalic acid in the microwave assisted-pre-treatment process were 450 Watt, 10 minutes, dan 1%, respectively. The optimum conditions in the delignification process resulted in the levels of lignin, cellulose, and hemicellulose, respectively, which were 8.10%, 39.37%, dan 21.40%. Based on the lignocellulosic test at optimum conditions, the lignin decreased by 48.506%, cellulose decreased by 1.918%, and hemicellulose content increased by 10.709%. The results indicated optimum conditions could be applied in bioethanol and xylitol production