Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Jejak Islam Tionghoa di Wilayah Maluku, Studi Awal di Wilayah Pulau Haruku Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 7 No. 12 Juli 2011
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v7i12.156

Abstract

No Abstract
Revitalisasi Kawasan Benteng Kolonial di Wilayah Kepulauan Maluku sebagai Bagian Pengembangan Rencana Tata Ruang Wilayah (Sebuah Gagasan Konseptual) Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 7 No. 13 November 2011
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v7i13.166

Abstract

Di Wilayah Kepulauan Maluku, meliputi Propinsi Maluku dan Maluku Utara, merupakan wilayah yang kaya akan potensi kawasan benteng kolonial yang sesungguhnya dapat menudukung pembangunan. Namun kondisi kekinian yang ada sekarang membutuhkan adanya program revitalisasi yang efektif dan efisien. Program revitalisasi kawasan perlu mempertimbangkan tahapan penilaian dan pengkategorian kawasan yang menghasilkan urutan prioritas kawasan dengan kriteria skala prioritas. Program revitalisasi kawasan benteng juga dimaksudkan menjadi bagian dari pengembangan rencana tata ruang wilayah dan kota, sehingga program revitalisasi mendukung pembangunan wilayah dan kota.
Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku Lucas Wattimena; Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 8 No. 2, November 2012
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v8i2.186

Abstract

Penelitian hunian prasejarah di Jasirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Pulau Ambon dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan permukiamn prasejarah di situs Morela. Tujuan dan manfaat daripada penelitian ini, antara lain : 1) Mendata kembali dan menggali potensi peninggalan arkeologi yang terdapat di Situs Negeri Morela. 2) Mengetahui kronologi dan konteks temuan arkeologi  Negeri Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang ilmu, khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara hubungan temporal parsial situs-situs di Morela. Hasil penelitian didapat dengan menggunakan teknik pengumpulan data; wawancara, survei, telaah pustaka dan ekskavasi.  Prehistoric residential research at Jasirah Leihitu Central Maluku Ambon Island conducted to determine how the development on the site of prehistoric settlement at Morela. The purpose and benefits than this study, among other things: 1) Collecting back and explore the potential of archaeological relics contained in the Site Morela State. 2) Knowing the chronology and context of archaeological findings and the overall context of State Morela findings with other sites around. 3) Knowing the results of archaeological remains there. 4) Useful for advanced research in all fields of science, especially Archaeology. The results showed that there was a change in the development of settlements, from the settlements in the mountains, then down to the coast and settlement patterns that show the macro pattern of partial temporal relationship in Morela sites. Research results obtained by using the technique of data collection; interviews, surveys, literature review and excavation.
Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 8 No. 2, November 2012
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v8i2.189

Abstract

Penelitian arkeologi Islam di Maluku, merupakan ranah penelitian yang memiliki beragam lingkup dan cakupan kajiannya, karena memiliki dimensi yang luas, antara lain sosial, ekonomi, politik, selain tentu saja religi dan ideologi. Namun luasnya cakupan dalam perspektif horizontal, belum diimbangi oleh penggarapan penelitian yang mendalam (vertikal), sehingga penelitian arkeologi Islam, masih merupakan kepingan atau serpihanserpihan dalam sebuah mozaik hasil penelitian. Implementasi penelitian yang sudah berjalan, baru terbatas menggarap isu-isu pada tataran permukaan, sehingga berbagai hasil kesimpulan tentang peradaban Islam di Maluku., sementara ini baru menampilkan perwajahan Islam yang general. Interpretasi dan kesimpulan yang selama ini dihasilkan, lebih banyak bersandar oleh dukungan data dari lintas batas disiplin ilmu, yang bagaimanapun merupakan kekuatan dari pendekatan arkeologi sejarah. Dari penelitian arkeologi Islam yang sudah dilakukan, pendekatan lintas displin ilmu yakni sejarah dan etnografi, merupakan yang paling umum dilakukan, sementara pendekatan arkeologi sendiri sifatnya masih sangat deskriptif dan belum digunakannya perangkat keras arkeologi, misalnya memanfaatkan data eksavasi dan dating absolute untuk memastikan kapan masyarakat mengkonversi Islam di Maluku. Dalam kurun beberapa tahun, meskipun masih berupa serpihan, namun tampak upaya penelitian arkelogi Islam untuk menjangkau banyak dimensi dari data arkeologi Islam, misalnya yang berhubungan dengan tema Islamisasi dan perdagangan, ekspansi Islam dalam konteks politik dan kultural serta dinamika relasional Islam dan budaya lokal Maluku, serta perkembangan internal Islam itu sendiri dari awal hadirnya hingga persentuhannya dengan kolonialisme. Islamic archaeological research in Maluku, is the realm of research that have diverse scope and coverage of studies, because it has large dimensions, including social, economic, political, besides of course, religion and ideology. However, the wide scope of the horizontal perspective, has not been matched by the cultivation of deep research (vertical), so the archaeological study of Islam, is still a piece or pieces in a mosaic of research results. Implementation research is already running, a new limited work on issues at the level of the surface, so that the various results of conclusions about the Islamic civilization in the Moluccas, while this new show the general appearance of Islam. Interpretations and conclusions that have been produced, more lean by data from cross-border support disciplines, which, however, is the strength of the approach of historical archeology. Of Islamic archaeological research that has been done, crossdisciplinary approach to the science of history and ethnography, the most common, while the archaeological approach itself is very descriptive in nature and has not been used hardware archeology, for example, utilize eksavation data and absolute dating community to ensure that when converting Islam in Maluku. Within a few years, though still in pieces, but it looks Islamic archaeological research efforts to reach out to many dimensions of Islamic archaeological data, such as those related to the theme of Islamization and trade, the expansion of Islam in the political and cultural context and relational dynamics of Islam and local culture of Maluku, as well as internal development of Islam itself from the beginning to the presence touch with colonialism.
Gerabah Situs Wayputih sebagai Komoditi Barter di Kerajaan Hoamoal Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 9 No. 1, Juli 2013
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v9i1.198

Abstract

The site of Wayputih settlement in the history and traditions of the various sources mentioned as the part of the Kingdom Hoamoal region. This study aims to clarify the role of settlement Wayputih sites as the region as one of the central region of the kingdom Hoamoal clove producer. In addition it describes the process of trade and exchange between commodities produced by commodity from outside the area. This study uses a survey to see traces of settlements based on primary data pottery artifacts, then perform quantitative and qualitative analysis of data to explain the use and development of the system of commodity exchanges in the region. The results of the study, found the distribution of pottery with a high quantity in the site area. It can be concluded that based on the intensity of pottery and not produced in the local area, then to obtain it from outside the region to barter with cloves produced in the local area. Trade and exchange of pottery with cloves in Wayputih, support the development of trade in the territory of the Kingdom Hoamoal.Situs pemukiman Wayputih dalam berbagai sumber sejarah maupun tradisi tutur merupakan wilayah pemerintahan dari Kerajaan Hoamoal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan permukiman situs Wayputih sebagai wilayah sebagai salah satu wilayah pusat penghasil cengkeh bagi kerajaan Hoamoal. Selain itu menggambarkan proses perdagangan dan pertukaran antara komoditi yang dihasilkan dengan komoditi dari luar wilayah. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk melihat jejak-jejak permukiman berdasarkan data utama artefak gerabah, selanjutnya melakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif data untuk menjelaskan penggunaan dan perkembangan sistem pertukaran komoditi di wilayah tersebut. Hasil penelitian, ditemukan sebaran gerabah dengan kuantitas yang tinggi di wilayah situs tersebut. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan intensitas gerabah dan tidak dihasilkan di wilayah setempat, maka untuk memperolehnya dari wilayah luar dengan melakukan barter dengan cengkeh yang dihasilkan di wilayah setempat. Perdagangan dan pertukaran gerabah dengan cengkeh di Wayputih, mendukung perkembangan niaga di wilayah Kerajaan Hoamoal.
Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 2, November 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i2.226

Abstract

Hoamoal kingdom is one of the Islamic empire in the Moluccas Islands, precisely in Ceram which has an important role in the movement of Islamization in Central Moluccas region. This study with emphasis on archaeological survey method to collect physical data or artefaktual, then do the processing and analys is of data to explain the influence of Islam in the region. This study aims to look at developments in the history of the Kingdom Hoamoal Islam and trade in the region of Central Moluccas, and saw its role in supporting the Islamization movement in the region. The result showed that the growth of the Kingdom Hoamoal explanation can not be separated from the influence of Ternate in the form of Islamization and trade networks. Kerajaan Hoamoal adalah salah satu kerajaan Islam di wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk mengumpulkan data fisik atau artefaktual, kemudian melakukan pengolahan dan analisis data untuk menjelaskan pengaruh Islam di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan Kerajaan Hoamoal dalam sejarah perkembangan Islam dan perdagangan di wilayah Maluku Tengah, serta melihat perannya dalam menunjang gerak Islamisasi di wilayah tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh penjelasan bahwa berkembangnya Kerajaan Hoamoal tidak terlepas dari pengaruh Ternate dalam membentuk jaringan Islamisasi dan  perdagangan.
Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi Wuri Handoko
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.292

Abstract

Ternate town, is a thriving Islamic city since 6-17 century AD. Although at that time influenced mainly Portuguese colonial hegemony and the Netherlands, but as a center of Islamic civilization, morphology and cosmology town laid out according to the Islamic concept and local concept. Through archaeological analysis, morphology and cosmological aspects of the town hall is described. For that carried out the archaeological survey in the city of Ternate with trace toponyms ancient city, then through the literature and interviews with sources. Archaeological analysis performed, ie with spatial analysis through data identification features that characterize the ancient city of Islam, as well as contextual analysis by analogy history and local culture. The purpose of this study is to describe the shape and development of the city, as well as cosmological concept underlying the form of urban planning. Results of the study include that component of the city center is characterized by buildings and mosques, kedaton sultan as an orientation center into a city of Ternate characteristics of Islamic civilization. In addition the local characteristics of the town of Ternate is shown by the local cosmological concepts, as well as the division of residential space natives and immigrants. During its development, the urban space is divided into five components, namely component downtown, residential, and commercial economy, burial, and religious.Kota Ternate, adalah sebuah Kota Islam yang berkembang sejak abad ke 6-17 Masehi. Meskipun pada masa itu dipengaruhi pula hegemoni kolonial terutama Portugis dan Belanda, namun sebagai sebuah pusat peradaban Islam, morfologi dan kosmologi kota ditata menurut konsep Islam dan konsep lokal. Melalui analisis arkeologi, aspek ruang morfologi dan kosmologi kota digambarkan. Untuk itu dilakukan survei arkeologi di wilayah Kota Ternate dengan menelusuri toponim-toponim kota kuno, kemudian melalui studi pustaka maupun wawancara dengan narasumber. Analisis arkeologi dilakukan, yakni dengan analisis keruangan melalui identifikasi data fitur yang mencirikan kota kuno Islam, serta analisis kontekstual melalui analogi sejarah dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bentuk dan perkembangan kota, serta konsep kosmologi yang melatarbelakangi bentuk tata kota. Hasil penelitian antara lain bahwa komponen pusat kota yang dicirikan oleh bangunan kedaton sultan dan masjid sebagai pusat orientasi menjadi karakteristik Ternate sebagai kota peradaban Islam. Selain itu ciri lokal kota Ternate ditunjukkan dengan konsep kosmologi lokal, serta adanya pembagian ruang hunian pribumi dan pendatang. Dalam perkembangannya, ruang kota terbagi menjadi lima komponen, yakni komponen pusat kota, pemukiman, ekonomi dan niaga, penguburan, dan keagamaan.
Perniagaan dan Islamisasi Di Wilayah Maluku Wuri Handoko
KALPATARU Vol. 22 No. 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i1.110

Abstract

Abstrak. Perdagangan dan Islamisasi di wilayah Maluku, merupakan kajian yang saling berkaitan, sebagaimana kajian Islam di wilayah Nusantara lainnya. Proses Islamisasi di wilayah Maluku selain karena perluasan kekuasaan, juga perluasan perdagangan akibat persaingan menguasasi jaringan ekonomi. Perluasan ekonomi melalui jaringan perniagaan, adalah salah satu strategi para mubaligh dalam memperluas atau menyebarkan Islam. Dalam berbagai literatur disebutkan, bahwa para mubaligh, juga didominasi oleh pedagang, artinya mubaligh sekaligus pedagang. Dalam konteks perdangan dan Islamisasi, perdagangan semakin berkembang ketika lembaga Islam terbentuk, selanjutnya terjalin jaringan niaga antar kerajaan. Melalui kajian studi pustaka, tulisan ini berusaha menjelaskan masalah tersebut. Wilayah yang menjadi fokus perhatian kajian ini adalah wilayah Maluku Tengah, hal ini mengingat wilayah ini merupakan wilayah penyebaran Islam terbesar yang berasal dari pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan internasional di kawasan Maluku ini.Abstract. Trade and Islamization in Moluccas. Trade and Islamization in Moluccas, a study of the interrelationship Islam studies in other parts of the archipelago. The process of Islamization in the Moluccas in addition to the expansion of the power of embarrassment, also dominate the expansion of trade due to the competition of economic network. Economic expansion through commercial networks, is also one of the preachers strategy in expanding or spreading Islam. Mentioned in the literature, that the preachers, which are also dominated by traders, meaning that traders preachers as well. In the context of Islamization and commerce, growing trade when Islamic institutions are formed, further established trade networks between the kingdom. Through the study of literature, this paper attempts to explain. The questions that are the focus of this study is a concern in the region of Central Moluccas, it is because the region is the area of greatest spread of Islam from the Muslim power center in North Moluccas. 
GERAK NIAGA MALUKU-PAPUA ZONA EKONOMI DAN KEKUASAAN ISLAM Wuri Handoko
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.88 KB) | DOI: 10.24832/papua.v2i1.110

Abstract

Moluccas and of Papua, geographically bunch up and have potency of good natural resource. In Region Moluccas, standing centers power of Islam which consist of Ternate, Tidore, Bacan and Jailolo (Moluko Kie Raha). History note, extension of power of Islam from one of the empire of that Islam till to region of Papua. Archaeological data also prove the existence of influence of Islam in region of Papua. Extension of Moluccan Islam to Papua, representing the effort which braid to braid with activity of trading. Of Moluccas region till to Papua, woke up by economic zona to strengthen and formation of trade network, at the same time as effort maintain and widen power of Islam.
DOLMEN ORANG MALUKU: EKSISTENSI RELIGI, ADAT DAN INTEGRASI SOSIAL (Tinjauan Etnoarkeologi) Wuri Handoko
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.671 KB) | DOI: 10.24832/papua.v1i2.129

Abstract

Dolmen for the Moluccans is a symbol of their ancestor’s rites which up until now is remained functioned. Today every person in the village uses dolmen as a medium for their rites. While the community as a whole use dolmen as a medium for traditional ceremony such as king accession and other ceremonies. An Ethnoarchaeological approach is used to identify the meaning and function of dolmen for today’s community as an interpretation for the past.