Erindah Dimisyqiyani
Faculty Of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

MENUMBUHKAN BRAND CULTURE DALAM ORGANISASI PERGURUAN TINGGI DARI PERSPEKTIF CORPORATE BRANDING Nurul Azizah; Siti Ning Farida; Erindah Dimisyqiyani
Procuratio : Jurnal Ilmiah Manajemen Vol 9 No 3 (2021): Procuratio : Jurnal Ilmiah Manajemen
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35145/procuratio.v9i3.1014

Abstract

The purpose of this study was to determine the influence of factors in strengthening brand cuture from a corporate branding perspective. Brand is an invisible asset whose value can exceed the visible assets in an organization. The level of awareness of the organization, especially universities, about brands is still not high, especially at the UPN "Veteran" Jawa Timur (UPNVJT) University, as a "Bela Negara" campus. In an effort to determine the level of brand behavior at UPNVJT, this study focuses on brand culture at the student level. Brand culture becomes the dependent variable, which is a construct that is used to measure organizational behavior. The research method used is a quantitative approach with a questionnaire instrument that is distributed online and offline. All variables were measured using a Likert scale which was adapted from previous research. The data were taken from UPNVJT students who were still active, using convenient random sampling technique of 411. The data obtained were tested use smart PLS 3. Based on the data, the results it can be concluded that brand image and brand reputation have been running well in UPNVJT, but brand association needs to be improved. That way the brand culture will become a character of UPNVJT students as the output of higher education. Tujuan penelitian ini adalah menegtahui pengaruh faktor-faktor dalam memperkuat brand cuture dari perspektif corporate branding. Brand adalah aset tak terlihat yang nilainya dapat melebihi aset yang terlihat dalam suatu organisasi. Tingkat kepedulian organisasi khususnya perguruan tinggi terhadap brand masih kurang tinggi, terutama di Universitas UPN "Veteran" Jawa Timur (UPNVJT) sebagai kampus "Bela Negara". Dalam upaya untuk mengetahui tingkat perilaku merek di UPNVJT, penelitian ini difokuskan pada brand culture di tingkat mahasiswa. Brand culture menjadi variabel dependen, yang merupakan konstruk yang digunakan untuk mengukur perilaku organisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan instrumen kuesioner yang disebarkan secara online dan offline. Semua variabel diukur dengan menggunakan skala likert yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya. Data diambil dari mahasiswa UPNVJT yang masih aktif, dengan menggunakan teknik sampling random sederhana sejumlah 411 responden dari jumlah populasi lebih dari 1000 mahasiswa aktif UPNVJT. Data yang diperoleh diuji menggunakan smart PLS 3. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa brand image dan reputasi merek sudah berjalan baik di UPNVJT, tetapi asosiasi merek perlu ditingkatkan. Dengan begitu brand culture akan menjadi karakter mahasiswa UPNVJT sebagai output pendidikan tinggi.
A Bibliometric Analysis and Mapping of On-Line Registration System in Hospital Erindah Dimisyqiyani; Sedianingsih Sedianingsih; Rizky Amalia Sinulingga; Nurul Azizah
TIJAB (The International Journal of Applied Business) Vol. 4 No. 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.003 KB) | DOI: 10.20473/tijab.V4.I1.2020.22-34

Abstract

This study analyzes the Bibliometric study about online registration at the hospital. This analysis includes statistical information obtained from the Scopus database of 1,456 research journals taken from 1999 to 2019. Keywords verified from the survey result are used to retrieve relevant articles from the database. The result of the study shows that the journal article occupies the top position is "Gefitinib plus the best supportive care in patients previously treated with difficult to cure non-small lung cancer: Results of a multicentre, multicentre randomized, placebo-controlled study (Evaluation of Iressa Survival in Lung Cancer" written by Thatcher N., Chang A ., Parikh P., JR Pereira, Ciuleanu T., Von Pawel J., Thongprasert S., Tan EH, Pemberton K., Archer V., Carroll K with the number of citation 1,852 in 2005. The best author who wrote a journal article related to online registration is Jaffray, DA which donated nine research article publications related to online registration. The institution that most donated  article publications is the University of Toronto, 54 journal articles. The majority of paper publications was dominated by United State with 326 papers. The number of articles written with this theme have increased from year to year, in other words this theme is still a tranding topic to be researched and developed by researchers.
Interpretasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Karakter Mark Zuckerberg dalam Film The Social Network Primavera Rizka Nalarsari; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
Indonesia Economic Journal Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/0dgbgt48

Abstract

Lingkungan organisasi yang dinamis membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola, tetapi juga menginspirasi serta mendorong perubahan positif. Kepemimpinan transformasional dianggap sebagai salah satu strategi terbaik dalam hal ini, terutama dalam mendorong kreativitas dan kemampuan beradaptasi di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tokoh Mark Zuckerberg dalam film The Social Network menunjukkan karakteristik kepemimpinan transformasional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui pengamatan cermat terhadap adegan-adegan penting dalam film. Data kemudian dianalisis dengan membandingkannya dengan teori dan sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki gaya yang khas, tokoh Mark Zuckerberg dalam film tersebut memperlihatkan banyak aspek dari kepemimpinan transformasional. Adegan ketika ia menjelaskan visi besar Facebook kepada Eduardo Saverin menggambarkan kemampuannya untuk memotivasi melalui inspirasi, sedangkan adegan “kompetisi coding sambil minum” menunjukkan bagaimana ia merangsang pemikiran dengan mendorong kreativitas dari teman-temannya. Meskipun tampak kurang memperhatikan setiap anggota tim secara individual, visi dan kemampuannya dalam menginspirasi kreativitas terbukti efektif dalam memotivasi kelompok untuk menghasilkan capaian yang luar biasa. Penelitian ini menawarkan sudut pandang baru bahwa kepemimpinan transformasional dapat muncul dalam berbagai bentuk, bahkan melalui individu yang kurang memiliki empati, selama pemimpin mampu menciptakan visi dan menumbuhkan kreativitas. Disarankan agar penelitian lebih lanjut dilakukan untuk menganalisis secara empiris penerapan kepemimpinan transformasional di berbagai perusahaan atau sektor industri, serta mengevaluasi dampak jangka panjang gaya kepemimpinan ini terhadap keberlanjutan organisasi dan nilai budaya.
STRATEGI SELF-CARE DALAM PENANGANAN STRES PASCA PENSIUN MELALUI TEORI COPING LAZARUS PADA FILM THE INTERN Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 9 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi September 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i9.979

Abstract

Retirement is a significant life transition often accompanied by psychological stress due to the loss of role, routine, and identity. However, many retirees lack effective strategies to manage this stress, leading to decreased well-being. This study aims to interpret the self-care strategies employed by the character Ben Whittaker in the film The Intern (2015) to cope with post-retirement stress, analyzed through the lens of Lazarus & Folkman's coping theory. Using a qualitative descriptive case study design, the data from the film were analyzed through thematic analysis based on Lazarus & Folkman's coding framework (primary appraisal, secondary appraisal, problem-focused coping, emotion-focused coping). The results show that Ben's self-care process begins with an honest primary appraisal of his losses as a threat, triggering reflective emotion-focused coping. He then proactively engages in problem-focused coping by creating new routines and seeking challenging roles, while simultaneously maintaining emotional balance through social connectivity and positive nostalgia. The pinnacle of his adaptation is the mature integration of both coping strategies to navigate complex interpersonal dilemmas. Theoretically, this study enriches the transactional model by illustrating the dynamic, non-linear integration of coping strategies in later life. Practically, it offers a narrative model for developing psychosocial interventions that emphasize agency, social reconnection, and holistic self-care for retirees, suggesting that educational modules based on this film could facilitate healthy coping discussions.
Eksplorasi Karakter Kepemimpinan Hua Mulan melalui Nilai Kejujuran, Keberanian, Loyalitas dalam Film “Mulan 2020” Dita Fachriza Ulfa; Amaliyah Amaliyah; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia Sinulingga; Indri Mustika Dewi
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5531

Abstract

Kepemimpinan merupakan proses penting dalam mengarahkan individu maupun kelompok untukmencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinanyang tercermin pada tokoh Hua Mulan dalam film Disney Mulan (2020), dengan menitikberatkanpada keberanian, kejujuran, dan loyalitas. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisisstrategi kepemimpinan karismatik yang ditampilkan Mulan dalam menghadapi tantangan. Metodepenelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi melaluipengamatan adegan dan dialog yang relevan, kemudian diinterpretasikan berdasarkan teorikepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberanian Mulan tercermin ketika ia beranimengambil risiko besar demi menggantikan ayahnya, kejujuran terlihat saat ia memilihmengungkapkan identitas meskipun berpotensi menimbulkan konsekuensi serius, dan loyalitastergambar dalam kesetiaannya kepada kaisar dan tanah air. Namun, nilai-nilai tersebut pada awalnyatidak sepenuhnya diterima lingkungannya karena dianggap melanggar norma. Konsistensi dankharisma Mulan dalam memegang prinsip akhirnya membuatnya diakui sebagai pemimpin sejati.Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan karismatik efektif bukan hanya karena posisi formal,melainkan karena kekuatan nilai personal dan kemampuan menginspirasi. Leadership is an essential process in guiding individuals and groups to achieve common goals. Thisstudy aims to describe the leadership values reflected in the character of Hua Mulan in Disney’sMulan (2020), focusing on courage, honesty, and loyalty. In addition, this study seeks to analyze thecharismatic leadership strategies demonstrated by Mulan in facing challenges. The research methodemployed a descriptive qualitative approach with content analysis techniques through observationsof relevant scenes and dialogues, which were then interpreted based on leadership theories. Thefindings reveal that Mulan’s courage is evident when she dares to take a great risk by replacing herfather, honesty is shown when she chooses to reveal her identity despite serious consequences, andloyalty is reflected in her devotion to the emperor and her homeland. However, these values wereinitially not fully accepted by her surroundings as they were considered to violate prevailing norms.Mulan’s consistency and charisma in upholding her principles eventually led her to be recognizedas a true leader. This study emphasizes that charismatic leadership effectiveness lies not merely informal positions but in personal values and the ability to inspire.
Dampak Pola Asuh pada Tokoh Awan dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga; Amaliyah Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5534

Abstract

Kepemimpinan bukan hanya mmapu untuk memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk mengeloladiri sendiri, mengambil keputusan secara mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Bahkanketika menghadapi tekanan dalam keluarga, individu juga perlu mengembangkan keterampilankepemimpinan. Dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu memotivasi, menginspirasi, danmemberikan perhatian pribadi kepada orang lain agar dapat mencapai tujuannya. Namun, ini tidak selalumudah dilaksanakan terutama dalam situasi yang penuh tantangan dan tekanan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk menentukan apakah tekanan dan tuntutan dari orang tua dapat mempengaruhi perkembangan psikologisdalam kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan film sebagai objek pengamatanmelalui perilaku dan dialog. Pengamatan dilakukan melalui studi literatur dan pengamatan melalui film, NantiKita Cerita Tentang Hari Ini (We'll Talk About Today Later). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaseorang pemimpin bernama Awan berhasil memberikan perhatian pribadi, memotivasi, dan menginspirasikeluarganya untuk berani menghadapi perubahan. Awan berhasil mengatasi konflik keluarga yangdisebabkan oleh gaya pengasuhan otoriter yang diterapkan orang tuanya kepadanya dan dua saudarakandungnya yang lebih tua. Keterampilan kepemimpinan transformasional Awan mengingatkan kita bahwasetiap orang harus siap menghadapi perubahan. Leadership is not only the ability to lead others, but also the ability to manage oneself, make independentdecisions, and take responsibility for one's life choices. Even when facing pressure within the family,individuals also need to develop leadership skills. It can be said that a leader must be able to motivate,inspire, and give personal attention to others in order to achieve their goals. However, this is not always easyto do, especially in challenging and stressful situations. The purpose of this study is to determine whetherpressure and demands from parents can affect psychological development in leadership. This study uses aqualitative method with film as the object of observation through behavior and dialogue. Observations weremade through literature studies and observations through the film, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (We'llTalk About Today Later). The results of this study show that a leader named Awan succeeded in givingpersonal attention, motivating, and inspiring his family to dare to face change. Awan managed to overcomefamily conflicts caused by the authoritarian parenting style applied by his parents to him and his two oldersiblings. Awan's transformational leadership skills remind us that everyone must be prepared to face change.
Representasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Tokoh Oh Gu Tak Dalam Film The Bad Guys: Reign Of Chaos Indri Mustika Dewi; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5537

Abstract

Kepemimpinan yang efektif sangat penting bagi keberhasilan organisasi, namun masih diperlukanpemahaman mendalam tentang implementasi kepemimpinan transformasional dalam konteks kehidupansehaari-hari. Film sebagai media populer dapat menjadi sarana eksplorasi konsep kepemimpinan yangrelevan dengan dunia nyata. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya kepemimpinan transformasionalkarakter Oh Gu-tak dalam film "The Bad Guys: Reign of Chaos" (2019) dan menganalisis relevansiimplementasinya dalam konteks organisasi. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui kombinasi studiliteratur dan analisis konten film. Adegan-adegan kunci yang menggambarkan praktik kepemimpinan OhGu-tak dianalisis berdasarkan empat dimensi kepemimpinan transformasional. Oh Gu-takmendemonstrasikan keempat dimensi kepemimpinan transformasional: inspirational motivation(memberikan insentif dan mengaitkan misi dengan aspirasi), intellectual stimulation (mendorong pemikirankritis), individual consideration (bertindak sebagai mentor), dan idealized influence (menjadi teladan moralmelalui pengorbanan diri). Kepemimpinan transformasional Oh Gu-tak berhasil menciptakan tim yang soliddan termotivasi. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional efektif dalam membangunsolidaritas tim dan dapat menjadi inspirasi praktis bagi pemimpin organisasi. Effective leadership is crucial to organizational success, but a deeper understanding of the implementationof transformational leadership in everyday life is still needed. Film, as a popular medium, can be a means ofexploring leadership concepts that are relevant to the real world. This study aims to explore thetransformational leadership style of the character Oh Gu-tak in the film “The Bad Guys: Reign of Chaos”(2019) and analyze the relevance of its implementation in an organizational context. A qualitative approachwas used through a combination of literature study and film content analysis. Key scenes depicting Oh Gutak'sleadership practices are analyzed based on the four dimensions of transformational leadership. Oh Gutakdemonstrates all four dimensions of transformational leadership: inspirational motivation (providingincentives and linking the mission to aspirations), intellectual stimulation (encouraging critical thinking),individual consideration (acting as a mentor), and idealized influence (being a moral role model through selfsacrifice).Oh Gu-tak's transformational leadership successfully created a solid and motivated team. Thesefindings confirm that transformational leadership is effective in building team solidarity and can be apractical inspiration for organizational leaders.
Gaya Kepemimpinan Situasional dalam Menghadapi Konflik Tim (Serial Money Heist) Bagus Nurchidayah Muhammad; Amaliyah Ria Triwastuti; Erindah Dimisyqiyani; Rizki Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5540

Abstract

Penelitian ini menganalisis implementasi kepemimpinan situasional dan gaya manajemen konflik yangditunjukkan oleh karakter The Professor dalam serial televisi Money Heist. Menggunakan pendekatankualitatif deskriptif, penelitian ini menerapkan teori kepemimpinan situasional Hersey-Blanchard danmodel manajemen konflik Thomas-Kilmann. Temuan menunjukkan bahwa The Professor secara efektifmengadopsi empat gaya kepemimpinan: mengarahkan, melatih, mendukung, dan mendelegasikanberdasarkan tingkat kematangan dan kebutuhan spesifik tim. Fleksibilitas ini memungkinkannya untuksecara efektif mengelola konflik internal, yang sering kali berasal dari perbedaan emosional danstrategis. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa kepemimpinan adaptif adalah "pedang bermatadua": sebuah keunggulan kompetitif yang memfasilitasi penyelesaian konflik dan optimalisasi sumberdaya manusia, tetapi juga merupakan sumber potensial konflik internal dan krisis otentisitas bagipemimpin itu sendiri. Studi ini sejalan dengan prinsip-prinsip SDG's 16 tentang penguatan institusi danpengambilan keputusan yang inklusif, menyoroti pentingnya kepemimpinan yang adil dan adaptif. This study analyzes the implementation of situational leadership and conflict management styles asdemonstrated by the character The Professor in the television series Money Heist. Using a descriptivequalitative approach, the research applies the Hersey-Blanchard situational leadership theory and theThomas-Kilmann conflict management model. The findings show that The Professor effectively adoptsfour leadership styles directing, coaching, supporting, and delegating based on the team's maturitylevel and specific needs. This flexibility allows him to effectively manage internal conflicts, which oftenstem from emotional and strategic differences. However, this study also finds that adaptive leadershipis a "double-edged sword": a competitive advantage that facilitates conflict resolution and humanresource optimization, but also a potential source of internal conflict and an authenticity crisis for theleader themselves. The study aligns with SDG’s 16 principles on strengthening institutions and inclusivedecision-making, highlighting the importance of fair and adaptive leadership.
Peran Motivasi Meraih Impian Bermusik Tokoh Miguel Dalam Film “Coco” Nayla Lisda Amalia; Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5544

Abstract

Setiap individu berusaha mencapai tujuan hidup, tetapi jalan ini sering terhambat oleh konflik dalam lingkungansosialnya. Studi ini mengkaji karakter Miguel dalam film Coco untuk menganalisis motivasinya melalui HirarkiKebutuhan Maslow. Pendekatan yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif, di mana adegan-adegankunci dalam film dipetakan ke setiap tingkat kebutuhan Maslow. Analisis ini mengungkap sebuah perjalananmotivasi yang sistematis. Kebutuhan dasar Miguel akan rasa aman dalam keluarga pembuat sepatu berfungsisebagai fondasi. Namun, penolakan keluarganya terhadap musik menciptakan konflik dengan kebutuhannya akancinta dan rasa memiliki. Untuk mengatasi hal ini, ia mencari pengakuan yang memenuhi kebutuhan harga dirinyadalam sebuah kompetisi musik. Puncak dari perjalanannya adalah aktualisasi diri, di mana ia tidak hanya menjadiseorang musisi tetapi juga menggunakan bakatnya untuk menyatukan kembali keluarganya. Studi inimenyimpulkan bahwa motivasi seseorang untuk mengaktualisasikan diri sangat dipengaruhi oleh dukungan danvalidasi dari lingkungan sosialnya. Temuan-temuan ini menawarkan wawasan berharga untuk pendidikankarakter. Penelitian di masa depan dapat melakukan studi perbandingan dengan menggunakan teori motivasi lain,seperti Teori Dua Faktor atau Teori Kebutuhan McClelland, untuk memperluas analisis motivasi dalam narasifilm. Every individual strives to achieve life goals, but this path is often hampered by conflicts in their socialenvironment. This study examines the character of Miguel in the film Coco to analyze his motivation throughMaslow's Hierarchy of Needs. The approach used is descriptive qualitative analysis, where key scenes in the filmare mapped to each of Maslow's levels of needs. The analysis reveals a systematic motivational journey. Miguel'sbasic need for security within a shoemaker family serves as a foundation. However, his family's rejection of musiccreates a conflict with his needs for love and belonging. To overcome this, he seeks recognition that fulfills hisself-esteem needs in a music competition. The culmination of his journey is self-actualization, where he not onlybecomes a musician but also uses his talent to reunite his family. This study concludes that a person's motivationto self-actualize is strongly influenced by support and validation from their social environment. These findingsoffer valuable insights for character education. Future research may conduct comparative studies using othermotivational theories, such as the Two-Factor Theory or McClelland’s Needs Theory, to broaden the analysis ofmotivation in film narratives.
Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Konflik Identitas dalam Film Enola Holmes Nawra Aqila Husna; Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia; Gagas Gayuh Aji; Amaliyah Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5548

Abstract

Kepemimpinan bukan hanya peran resmi, itu adalah kemampuan esensial untuk menciptakan dampakpositif dan memberdayakan orang. Namun, unsur-unsur sosial dan budaya seringkali memengaruhikepemimpinan, termasuk bias gender yang membatasi peluang perempuan untuk menjadi pemimpin.Masalah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 5 yang menyorotikesetaraan gender dalam peran kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis bagaimana konflik identitas memengaruhi pembentukan karakter kepemimpinandalam film Enola Holmes (2020). Studi ini menggunakan metodologi kualitatif dengan kerangkadeskriptif, menekankan pengamatan langsung terhadap film disertai tinjauan literatur. Datadikumpulkan dari percakapan, penggambaran visual, dan transkrip yang menampilkan perjuanganidentitas dan kualitas kepemimpinan protagonis. Hasil menunjukkan bahwa perjuangan Enola denganidentitasnya berasal dari konflik antara nilai-nilai pribadi seperti kemandirian, keberanian, dankreativitas dengan pengaruh eksternal, termasuk norma sosial, budaya patriarki, dan ekspektasikeluarga. Konflik-konflik ini mendorongnya untuk merenung, mengambil tindakan berani, danmempertahankan keyakinannya. Pada akhirnya, Enola menyadari identitasnya dan menunjukkankepemimpinan sejati berdasarkan integritas pribadi. Penelitian ini menekankan bahwa kepemimpinanautentik dapat muncul dari perjuangan individu melawan batasan-batasan sosial. Studi masa depanmungkin dapat menyelidiki penggambaran kepemimpinan perempuan dalam film-film lain atau budayayang berbeda. Leadership is not just an official role, it is an essential ability for creating positive impact and enablingpeople. Nonetheless, social and cultural elements frequently influence leadership, including gender biasthat limits women's chances of becoming leaders. This issue aligns with the Sustainable DevelopmentGoals (SDGs) number 5 which highlights gender equality in leadership and decision making roles. Thisresearch seeks to examine how identity conflict influences the formation of leadership characters in themovie Enola Holmes (2020). The study utilized a qualitative methodology with a descriptive framework,emphasizing direct observation of the film alongside a literature review. Data were gathered fromconversations, visual depictions, and transcripts showcasing both identity struggles and leadershipqualities of the protagonist. The results demonstrate that Enola’s struggle with her identity stems fromconflicts between her personal values like independence, bravery and creativity and outside influences,including societal norms, patriarchal culture and familial expectations. These disputes prompted herto contemplate, take bold actions, and uphold her beliefs. In the end, Enola recognizes her identity andexhibits genuine leadership based on personal integrity. This research emphasizes that authenticleadership can arise from individual battles with societal limitations. Future studies might investigate the portrayal of female leadership in different films or cultural settings to expand views on how identityconflict influences leadership growth