Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISIS DEFORMASI GUNUNG MERAPI TAHUN 2012 DARI DATA PENGAMATAN GPS Andika Rizal Bahlefi; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono; Nurnaning Aisyah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia yang terletak pada koordinat 7°32,5' LS dan 110°26,5' BT. Secara administratif gunung Merapi terletak di Kabupaten Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta dengan ketinggian 2875 meter diatas permukaan air laut. Mengingat gunung Merapi merupakan gunungapi yang memiliki periode erupsi yang sangat cepat yaitu sekitar 4 tahun sekali, maka akan terjadi aktivitas magma yang akan mengakibatkan perubahan deformasi pada tahun 2012 setelah terjadinya letusan tahun 2010.Metode yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini adalah metode deformasi dengan menggunakan alat ukur GPS. Karakteristik deformasi yang dikaji meliputi posisi, arah, dan besar pergeseran. Software yang digunakan adalah software scientific GPS GAMIT. Metode pengikatan baseline dengan menggunakan dua titik ikat yang berbeda, yaitu dengan menggunakan titik ikat IGS BAKO dan titik ikat BPTK. Kemudian pendekatan perkiraan pusat tekanan dilakukan dengan  menggunakan model Mogi, karena aplikasinya yang sangat umum, sederhana, dan cukup intrepretatif.Dari kedua pengolahan dengan titik ikat yang berbeda, sama-sama menghasilkan arah pergeseran yang menjauh dari titik pusat tekanan magma sehingga pada gunung Merapi terjadi inflasi pada tahun 2012. Pada pengolahan dengan titik ikat BAKO, arah pergeseran yang dihasilkan cenderung kurang radial dibandingkan dengan menggunakan titik ikat BPTK. Hal ini disebabkan oleh baseline antara titik ikat dengan titik pengamatan yang terlalu jauh. Berdasarkan pengolahan titik ikat BPTK, gunung Merapi Pada bulan Mei sampai Oktober Tahun 2012 terjadi inflasi dengan pergeseran titik pengamatan GPS DELS sebesar 0,01379 m, GPS GRWH sebesar 0,06835 m, dan GPS KLAT sebesar 0,02877 m. Pengolahan dengan titik ikat BPTK dijadikan acuan untuk melakukan perhitungan prediksi kedalaman sumber tekanan magma yang hasilnya berada pada kedalaman ±3.155 m. Kondisi pusat tekanan magma ini masih berada dibawah kantong magma yang mempunyai kedalaman ±2.000 m sampai ±2.500 m.Kata Kunci : Gunung Merapi, Deformasi, Inflasi
ANALISIS SEBARAN ALIRAN LAVA UNTUK PEMBUATAN PETA MITIGASI BENCANA GUNUNG SLAMET Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 01 (2019): Volume 02 Issue 01 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.466 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2019.5015

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki wilayah rawan bencana alam  yang disebabkan oleh beberapa hal antara lain  banjir, tanah longsor, tsunami, gempa bumi, dan  erupsi gunung api. Diantara bencana alam yang terjadi sering membawa korban manusia antara lain adalah bencana alam karena erupsi gunung api. Erupsi gunung api yang terjadi dapat menghasilkan sejumlah bencana, seperti lava pijar, lahar, jatuhnya piroklastik dan awan panas. Apabila terjadi erupsi gunung api , maka akan menimbulkan bencana bagi warga masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan mitigasi bencana sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak bencana erupsi gunung api. Berdasarkan uraian tersebut perlu dilakukan penelitian sebaran aliran lava untuk pembuatan peta mitigasi bencana berbasis penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Pada penelitian ini akan dilakukan kajian terhadap prediksi sebaran aliran lava dan kajian pembuatan peta mitigasi aliran lava di wilayah Gunung Slamet. Analisis sebaran aliran lava dibuat dengan menggunakan data DEM TerraSAR dan  citra satelit Sentinel 2-A yang akan digunakan untuk mengetahui klasifikasi tutupan lahan di lokasi penelitian. Selanjutnya data model permukaan digital dan data klasifikasi lahan diproses overlay untuk mendapatkan prediksi area lahan yang terkena dampat aliran lava. Dari analisis sebaran aliran lava dapat diketahui prediksi aliran lava dan dampak aliran lava di lokasi penelitian. Kemudian dapat ditentukan tingkat kerentanan dan luas area yang terdampak. Berdasarkan data dan analisis yang dilakukan, kemudian dapat dilakukan pembuatan peta mitigasi bencana aliran lava Gunung Slamet.
Impact of Land Subsidence-Induced Three-Dimensional Surface Deformation on Infrastructure in the Semarang-Demak Alluvial Plain, Indonesia Azeriansyah, Reyhan; Ching, Kuo-En; Darmo Yuwono, Bambang
Journal of Earth and Marine Technology (JEMT) Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penelititan dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Adhi Tama Suraba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jemt.2025.v5i2.6841

Abstract

We estimated surface deformation using SBAS-InSAR and the Mogi Source Model is then adopted to elucidate the mechanisms and spatial variability of surface deformation within the Semarang-Demak Alluvial Plain and its impacts on infrastructures. By analyzing predicted vertical and horizontal velocities, we identify intensive groundwater extraction as the primary driver of aquifer compaction, with vertical subsidence exceeding -120 mm/year and volume loss rates surpassing -6,000 m³/year in the urbanized Semarang-Demak region. These findings highlight the three-dimensional characteristics of deformation, forming a characteristic “bowl-shaped” pattern and revealing the sensitivity of infrastructure—expressways, railways, national roads, local roads, and airports—to high strain and tilt gradients. The integrated analysis thus underscores the necessity of sustainable groundwater management and adaptive land-use strategies to mitigate deformation-induced risks. This approach is crucial for safeguarding the long-term functionality and resilience of vital infrastructure in this subsidence-prone coastal region, guiding decision-makers toward strategic and sustainable development practices.