Venna, Venna
Department Of Clinical Pathology School Of Medicine And Health Sciences Atma Jaya Catholic University Of Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Correlation between Hemoglobin Concentration and Cardiorespiratory Fitness in Adolescent Sportsmen Billy Leoprayogo; Venna Venna; Ignatio Rika Haryono; Francisca Tjhay
Althea Medical Journal Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v7n2.1847

Abstract

Background: Sport is a physical activity that increases human body oxygen demand. Hemoglobin has a major role to fulfill the oxygen demand. The body capacity to fulfill the increasing oxygen demand could be seen as cardiorespiratory fitness. Sportsmen have a high cardiorespiratory fitness due to the intensity and frequency of training. This study aimed to explore how hemoglobin concentration affects the cardiorespiratory fitness of adolescence sportsmen. Method: This study used a cross-sectional approach. The sampling started in October – November 2019. Sample of this study were 15-19 years old male badminton and basketball sportsmen at Jakarta and Bogor (n=72). Hemoglobin concentration measured with a digital hemoglobinometer which used an azide-methemoglobin method. VO2max estimated with a beep test. FITNESSGRAM® Performance Standard was used for the classification of cardiorespiratory fitness. All measurement’s ethical issues had been approved. The result of hemoglobin concentration and cardiorespiratory fitness was processed by SPSS program with Spearman and Kruskal-Wallis analysis method. Results: There was a correlation between hemoglobin concentration and cardiorespiratory fitness (p = 0.001, p < 0.05). Spearman analysis showed there was a weak correlation (r = 0.38) between hemoglobin concentration and cardiorespiratory fitness. Kruskal-Wallis analysis showed there was a meaningful mean difference in hemoglobin concentration on cardiorespiratory fitness groups (p = 0.005, p < 0.05). Conclusion: The mean of the hemoglobin concentration on the Healthy Fitness Zone (HFZ) cardiorespiratory group was higher than on the Need Improvement (NI) group and the Need Improvement within Health Risk (NI-HR) group. 
Perbandingan pemeriksaan kadar glukosa darah mandiri dengan uji laboratorium menggunakan metode baku emas Venna Venna; Jullyanny Waty Wijaya; Gregorio Gavriel Singgih; Christian Ardianto
Bahasa Indonesia Vol 22 No 2 (2023): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v22i2.4235

Abstract

Pendahuluan: Ketersediaan point of care testing (POCT) glukosa darah saat ini dipakai secara luas untuk melakukan pemantauan glukosa darah mandiri (PGDM) bagi pasien diabetes. Saat ini berbagai pilihan alat POCT menggunakan metode glukosa dehidrogenase sudah tersedia. Penelitian ini berupaya membandingkan berbagai alat POCT dengan pemeriksaan laboratorium secara spektrofotometri menggunakan metode heksokinase yang merupakan baku emas dari pemeriksaan glukosa darah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan subjek penelitian berupa populasi dewasa muda laki laki dan perempuan dengan rentang usia 18-21 tahun dengan jumlah 97 sampel, dengan kriteria eksklusi sedang sakit berat, terdapat luka pada lokasi pengambilan darah, memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg. Sampel yang diambil berupa darah kapiler yang langsung akan diujikan pada alat POCT dan sampel darah vena yang akan diuji menggunakan metode heksokinase. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan STATA versi 14.0. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan Bland-Altman plot. Hasil: Didapatkan hasil glukosa darah POCT menggunakan alat Accu-chek® Performa dan Accu-chek® Instant memiliki rerata perbedaan dengan metode heksokinase yang bernilai negatif, sedangkan untuk GlucoDr.™Auto memiliki rerata perbedaan yang lebih mendekati angka nol dibandingkan dengan alat Accu-chek® Performa dan Accu-chek® Instant. Simpulan: Metode POCT dapat membantu dalam pemantauan glukosa darah pasien,namun tidak dapat menggantikan metode heksokinase.  
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: SEBUAH KAJIAN SISTEMATIS Tanjaya, Hendri; Wiraharja, Regina Satya; Pramono, Laurentius Aswin; Venna, Venna
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DM2) merupakan penyakit kronik dengan mortalitas yang tinggi dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Anemia merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada DM2. Beberapa penelitian sudah menggali mengenai faktor-faktor tersebut, tetapi sepengetahuan penulis penelitian-penelitian tersebut masih mendapatkan hasil yang bertentangan dan masih sedikit yang dilakukan di Indonesia. Kajian sistematis ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada pasien DM2. Kepustakaan pada kajian sistematis ini ditelusuri melalui database berupa Google scholar dan Pubmed dengan kata kunci “diabetes melitus tipe 2”, “faktor risiko” dan “anemia”. Hasil pencarian kepustakaan mendapatkan 977 kepustakaan dengan 9 kepustakaan yang membahas mengenai faktor risiko kejadian anemia pada DM2. Kajian sistematis ini menemukan bahwa usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, durasi penyakit, jenis pengobatan, kadar HbA1c, dan tekanan darah merupakan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian anemia pada DM2. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan skrining anemia ke dalam penilaian rutin komplikasi terkait DM yang menargetkan jenis kelamin perempuan, usia yang lebih tua, indeks massa tubuh overweight, kontrol glikemik yang buruk, tekanan darah yang tinggi, dan durasi penyakit diabetes yang lama. Kata kunci: anemia, diabetes melitus tipe 2, faktor risiko DOI : 10.35990/mk.v7n3.p319-330
PERBANDINGAN HASIL INR (International Normalized Ratio) SEBELUM DAN SESUDAH TERAPI HEPARIN WARFARIN PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT ATMA JAYA JAKARTA UTARA Setiawan, Heru; Venna, Venna; Debora Turnip, Lowisa
Jurnal Fisioterapi dan Kesehatan Indonesia Vol 5 No 01 (2025): Jurnal Fisioterapi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Ikatan Fisioterapi Indonesia cabang kota bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59946/jfki.2025.399

Abstract

Coronary Heart Disease (CHD) is a disorder of heart function due to a lack of blood in the heart muscle due to narrowing or blockage of the coronary arteries caused by atherosclerosis. This occurs when the heart muscle's supply of oxygen-rich blood is blocked by plaque in the blood vessels leading to the heart blood or coronary arteries. Warfarin is an anticoagulant that is strongly associated with bleeding in CHD. The laboratory examination that is often used to measure prothrombin time and as anticoagulant therapy to detect bleeding disorders is INR (International Normalized Ratio). This study aims to determine the comparison of INR results before and after heparin warfarin therapy in coronary heart disease patients at Atma Jaya Hospital. The method of this research is cross sectional descriptive analysis using 39 RM data from CHD patients who have met the inclusion and exclusion criteria using the Wilcoxon test. These results showed that the average INR value before therapy was 1.849 per second, the average INR value after therapy was 1.316 per second. The Wilcoxon test results showed a difference between INR values ​​before and after therapy (p=0.000) with significance (α=<0.05) in patients on heparin warfarin therapy at Atma Jaya Hospital. From this research, it is hoped that CHD patients will continue to undergo therapy to prevent hemostasis disorders and to avoid the risk of bleeding which can cause death. Keywords: CHD, warfarin, INR.