Jullyanny Waty Wijaya
Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Atmajaya, Jakarta, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbandingan pemeriksaan kadar glukosa darah mandiri dengan uji laboratorium menggunakan metode baku emas Venna Venna; Jullyanny Waty Wijaya; Gregorio Gavriel Singgih; Christian Ardianto
Bahasa Indonesia Vol 22 No 2 (2023): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v22i2.4235

Abstract

Pendahuluan: Ketersediaan point of care testing (POCT) glukosa darah saat ini dipakai secara luas untuk melakukan pemantauan glukosa darah mandiri (PGDM) bagi pasien diabetes. Saat ini berbagai pilihan alat POCT menggunakan metode glukosa dehidrogenase sudah tersedia. Penelitian ini berupaya membandingkan berbagai alat POCT dengan pemeriksaan laboratorium secara spektrofotometri menggunakan metode heksokinase yang merupakan baku emas dari pemeriksaan glukosa darah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan subjek penelitian berupa populasi dewasa muda laki laki dan perempuan dengan rentang usia 18-21 tahun dengan jumlah 97 sampel, dengan kriteria eksklusi sedang sakit berat, terdapat luka pada lokasi pengambilan darah, memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg. Sampel yang diambil berupa darah kapiler yang langsung akan diujikan pada alat POCT dan sampel darah vena yang akan diuji menggunakan metode heksokinase. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan STATA versi 14.0. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan Bland-Altman plot. Hasil: Didapatkan hasil glukosa darah POCT menggunakan alat Accu-chek® Performa dan Accu-chek® Instant memiliki rerata perbedaan dengan metode heksokinase yang bernilai negatif, sedangkan untuk GlucoDr.™Auto memiliki rerata perbedaan yang lebih mendekati angka nol dibandingkan dengan alat Accu-chek® Performa dan Accu-chek® Instant. Simpulan: Metode POCT dapat membantu dalam pemantauan glukosa darah pasien,namun tidak dapat menggantikan metode heksokinase.  
Laporan Kasus : Pseudotrombositopenia pada Pasien Pre-Operasi Gregorio Gavriel Singgih; Jullyanny Waty Wijaya; Monica Adisuhanto
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 29 No 1 (2023): JANUARI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v29i1.2550

Abstract

Pseudotrombositopenia didefinisikan sebagai jumlah hitung trombosit rendah palsu yang terukur oleh faktor alat analisis hematologi. Diketahui EDTA-dependent pseudotrombositopenia merupakan salah satu penyebab trombositopenia dengan prevalensi 0,1-2%. Pseudotrombositopenia yang tidak terdiagnosis dapat menyebabkan kesalahan dalam keputusan klinis. Laporan kasus ini disusun agar dapat meningkatkan kewaspadaan dalam mendiagnosis pseudotrombositopenia. Laki-laki 56 tahun melakukan pemeriksaan pre-operasi dan didapatkan adanya trombositopenia dengan jumlah trombosit 16.000/uL tanpa ditemukan adanya kelainan pada parameter koagulasi lainnya dan tidak terdapat adanya perdarahan aktif, Pada pemeriksaan morfologi darah ditemukan banyak platelet clumping. Dokter menduga adanya EDTA-dependent pseudotrombositopenia lalu melakukan pengambilan sampel darah kembali satu hari kemudian dengan menggunakan antikoagulan natrium sitrat. Sampel darah tersebut diperiksa dengan mesin hematologi Sysmex XN-550 dan didapatkan jumlah trombosit yaitu 112.000/uL. Bila dijumpai kondisi jumlah trombosit rendah / trombositopenia tanpa ada tanda klinis pendarahan yang jelas, maka perlu dipertimbangkan adanya EDTA-dependent pseudothrombocytopenia. Pemeriksaan morfologi darah tepi dan pengulangan darah lengkap menggunakan sampel darah dengan antikoagulan lainnya, yaitu natrium sitrat menjadi salah satu metode dalam menegakkan adanya EDTA-dependent pseudothrombocytopenia.
EVALUASI STRES DAN KECEMASAN PADA CAREGIVERS: PERAWATAN PALIATIF DI RUMAH SINGGAH Hananta, Linawati; Wijaya, Jullyany Waty; Suwangto, Erfen Gustiawan; Amelia, Margareta; Widodo, Jerico Tristan; Chandra, Gerard Justin; Theja , Berliana Elyza Suryadi; Eriady, Angely Margaretha; Marcella, Laurie; Yolanda, Ellysa; Gonga, Audrey Aprilia; Sulisthio , Manuel Omar Weki; Kesuma , Deony Maria; Labaran, Victor Carolus Christiputra
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v3i1.6042

Abstract

Perawatan paliatif merupakan elemen penting dalam memberikan perawatan berkualitas tinggi bagi pasien dengan penyakit kronis atau serius. Penyakit serius berhubungan dengan risiko kematian yang tinggi dan memberikan dampak besar pada aspek fisik, psikologis, maupun spiritualitas pasien, caregiver, ataupun keluarga. Peran caregiver dalam perawatan pasien dengan penyakit terminal atau serius sering kali membawa beban emosional dan fisik yang berat, yang dapat menimbulkan kecemasan dan stres. Perawatan paliatif berperan dalam mengelola gejala serta memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien, caregiver, maupun keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat (abdimas) ini dilaksanakan di lima rumah singgah di Jakarta (RHI, WNH, CISC1, CISC2, dan RSL), dengan melakukan terapi seni yaitu inkblot dan mengevaluasi menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk menilai tingkat stres dan kuesioner Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD) untuk menilai tingkat kecemasan caregiver. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar caregiver mengalami tingkat kecemasan rendah (44,8%) hingga sedang (20,7%) dan memiliki tingkat stres ringan (41,4%) hingga sedang (51,7%). Dukungan sosial, spiritual, dan religius sangat penting, disertai dengan beberapa teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, dan olahraga sehingga membantu mengurangi stres dan kecemasan.
EVALUASI STRES DAN KECEMASAN PADA CAREGIVERS: PERAWATAN PALIATIF DI RUMAH SINGGAH Hananta, Linawati; Wijaya, Jullyany Waty; Suwangto, Erfen Gustiawan; Amelia, Margareta; Widodo, Jerico Tristan; Chandra, Gerard Justin; Theja , Berliana Elyza Suryadi; Eriady, Angely Margaretha; Marcella, Laurie; Yolanda, Ellysa; Gonga, Audrey Aprilia; Sulisthio , Manuel Omar Weki; Kesuma , Deony Maria; Labaran, Victor Carolus Christiputra
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v3i1.6042

Abstract

Perawatan paliatif merupakan elemen penting dalam memberikan perawatan berkualitas tinggi bagi pasien dengan penyakit kronis atau serius. Penyakit serius berhubungan dengan risiko kematian yang tinggi dan memberikan dampak besar pada aspek fisik, psikologis, maupun spiritualitas pasien, caregiver, ataupun keluarga. Peran caregiver dalam perawatan pasien dengan penyakit terminal atau serius sering kali membawa beban emosional dan fisik yang berat, yang dapat menimbulkan kecemasan dan stres. Perawatan paliatif berperan dalam mengelola gejala serta memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien, caregiver, maupun keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat (abdimas) ini dilaksanakan di lima rumah singgah di Jakarta (RHI, WNH, CISC1, CISC2, dan RSL), dengan melakukan terapi seni yaitu inkblot dan mengevaluasi menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk menilai tingkat stres dan kuesioner Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD) untuk menilai tingkat kecemasan caregiver. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar caregiver mengalami tingkat kecemasan rendah (44,8%) hingga sedang (20,7%) dan memiliki tingkat stres ringan (41,4%) hingga sedang (51,7%). Dukungan sosial, spiritual, dan religius sangat penting, disertai dengan beberapa teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, dan olahraga sehingga membantu mengurangi stres dan kecemasan.