Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Kualitatif Deskriptif : Pengelolaan Limbah Medis Padat pada Beberapa Praktik Mandiri Bidan di Kabupaten Sukabumi dan Kota Depok Santi Deliani Rahmawati
Sehat MasadaJurnal Vol 16 No 1 (2022): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v16i1.279

Abstract

Latar Belakang : Limbah medis sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) perlu dilakukan pengelolaan terpadu karena dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia, makhluk hidup lainnya, dan lingkungan hidup jika tidak dilakukan pengelolaan dengan benar. Praktik Mandiri Bidan (PMB) sebagai salah satu unit pelayanan kesehatan swasta yang memberikan layanan asuhan kebidanan secara profesional pada ibu dan anak menghasilkan timbulan limbah medis sekitar 74,92 kg per BPM per hari. Bidan sebagai penyedia layanan asuhan kebidanan memiliki risiko untuk ditulari dan menularkan kuman patogen dari dan kepada kliennya atau yang disebut infeksi terkait pelayanan kesehatan. Selain meningkatkan risiko keterpaparan terhadap petugas kesehatan, limbah medis dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, prinsip pelaksanaan tindakan pencegahan infeksi harus dilaksanakan dan ditingkatkan sesuai dengan standar untuk mencegah dan mengurangi morbiditas hingga mortalitas akibat infeksi terkait pelayanan kesehatan. Tujuan : Untuk mendeskripsikan praktik pengelolaan limbah medis padat di beberapa Praktik Mandiri Bidan di Kabupaten Sukabumi dan Kota Depok. Metode : Penelitian menggunakan desain studi kualitatif deskriptif dengan melakukan pengamatan dan wawancara terhadap 12 praktik mandiri bidan (PMB) di Kabupaten Sukabumi dan Kota Depok yang ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu (purposive sampling). Diskusi: Hasil penelitian menunjukkan praktik mandiri bidan belum mempraktikan pengelolaan limbah medis padat sesuai dengan Peraturan berdasarkan Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004. Ditemukan limbah medis padat (kassa, sarung tangan, selang infus) pada tempat sampah non-medis, selang oksigen bekas pakai tetap terpasang pada tabung oksigen melebihi waktu 48 jam tanpa dilakukan proses desinfeksi tingkat tinggi atau dibuang ke dalam tempat sampah medis, belum tersedia alat pencacah untuk mengurangi volume limbah medis padat, tidak memiliki kontainer atau gudang khusus tempat penyimpanan limbah medis padat sementara sebelum diangkut ke TPS, limbah medis padat diangkut atau diantar ke lokasi pengelolaan limbah medis padat rata-rata setiap 3 – 4 minggu sekali, dan proses pemusnahan limbah medis padat melalui proses insinerasi bekerjasama dengan puskesmas atau institusi pengelola limbah medis padat. Kesimpulan : Pengelolaan limbah medis padat yang tidak sesuai standar meningkatkan risiko keterpaparan infeksi terkait pelayanan kesehatan terhadap petugas kesehatan, membahayakan kesehatan masyarakat dan mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan. Perlu upaya penguatan keterampilan melalui pelatihan khusus pengelolaan limbah medis padat, meningkatkan pengawasan terhadap praktik pengelolaan limbah medis padat pada tingkat PMB, dan pemerintah daerah mempertimbangkan untuk membuat kebijakan yang mengatur tentang sistem pengelolaan limbah medis padat pelayanan kesehatan praktik swasta serta menyediakan depo pengumpul dan insinerator pengolahan berbasis wilayah agar tidak terjadi penumpukan limbah medis padat.
HUBUNGAN FAKTOR SANITASI RUANG PERAWATAN RUMAH SAKIT DENGAN PEREDARAN KUMAN PATOGEN DI UDARA PENYEBAB INFEKSI DI RS “X” 2022 Sri Komalaningsih; Ganjar Muharam; Santi Deliani; Suparni
Gunung Djati Conference Series Vol. 35 (2023): Seminar Nasional Biologi (SEMABIO) Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Health-care Associated Infection (HAIs) atau infeksi nosokomial menurut WHO merupakan infeksi yang didapat pasien selama menjalani prosedur perawatan dan tindakan medis di pelayanan kesehatan setelah  48 jam dan  30 hari setelah keluar dari fasilitas pelayanan kesehatan. Ruang rawat inap di rumah sakit memberikan kontribusi terbesar terhadap pasien, pengunjung, pekerja medis, pekerja non medis dan lain sebagainya untuk berinteraksi di dalamnya dan memungkinkan terjadinya berbagai macam pencemaran mikroorganisme patogen. Beberapa kuman penyebab infeksi, ditularkan melalui udara (air borne) diantaranya Streptococcus, Stapylococcus. Pseudomonas. Untuk menghindari terjadinya HAIs baik pada petugas, pasien maupun pengunjung rumah sakit, maka kondisi ruangan harus dijaga, terutama kualitas mikrobiologis udaranya. Tujuan Penelitian Mengetahui hubungan sanitasi lingkungan dengan angka kuman patogen di udara Ruang Perawatan Rumah Sakit “X” Kota Bandung. Jenis Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Besaran sampel sebanyak 31 sampel ruangan Perawatan. Analisa data secara univariat dan bivariat dengan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukan rata rata angka peredaran Kuman di Ruang perawatan 33,7 CFU/m3 terdapat hubungan signifikan suhu dan kelembapan dengan angka peredaran kuman di ruangan perawatan Rumah Sakit X dengan nilai koefisien determinan sebesar 0,210 yang berarti bahwa 21,0% dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan, maka dapat diartikan bahwa setiap kenaikan suhu 1ºC atau kelembapan 1% maka jumlah peredaran kuman ruangan akan mengalami kenaikan. Berdasarkan Permenkes 07 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit batas maksimum angka kuman udara pada ruang operasi adalah 10 CFU / m3. Disarankan Konsistensi secara terus-menerus untuk pemantauan secara rutin sebelum dan sesudah pelaksanaan bongkaran besar bagi ruangan perawatan khususnya untuk suhu dan kelembapan.
Studi Kualitatif Deskriptif : Pengelolaan Limbah Medis Padat pada Beberapa Praktik Mandiri Bidan di Kabupaten Sukabumi dan Kota Depok Deliani Rahmawati, Santi
Sehat MasadaJurnal Vol 16 No 1 (2022): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v16i1.279

Abstract

Hubungan Antara Status Gizi Dan Paritas Dengan Kelancaran Produksi Asi Pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja Puskesmas Cipanas Kabupaten Garut Rahmawati, Santi Deliani; Saidah, Halimatus
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 5 No 1 (2021): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v5i1.16326

Abstract

Menurut survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2018 ibu yang menyusui secara ekslusif sampai usia 6 bulan sebanyak 56%, salah satu pengaruh dari pemberian ASI Ekslusif adalah kelancaran produksi ASI yang diperngaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu status gizi dan paritas tahun 2018 menyebutkan bahwa ibu yang mengalami gangguan produksi ASI atau ASI tidak lancar sebesar 67% dari seluruh ibu menyusui. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui Hubungan Antara Status Gizi Dan Paritas Dengan Kelancaran Produksi Asi Pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja Puskesmas Cipanas Kabupaten Garut. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional dengan Populasi penelitian adalah ibu nifas hari ke 3-7 sebanyak 44 orang dan sampel 31 orang yang diambil dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dan data dianalisis menggunakan Uji Statistik Spearman-Rho. Hasil penelitian didapatkan dari 31 responden, 11 responden (35,5%) merupakan primipara dan ASI tidak lancar, 15 responden (48,4%) status gizi mengalami KEK dan ASI tidak lancar. Ada hubungan antara status gizi dengan kelancaran produksi ASI (Ρ_value 0,004) dan ada hubungan antara paritas dengan kelancaran produksi ASI (Ρ_value 0,001). Kekuatan hubungan dapat dilihat dari nilai OR status gizi 27,429 kali lipat dan Paritas 0,915 kali lipat. Artinya Status gizi 27,429 kali lipat lebih besar pengaruhnya daripada paritas dan selebihnya di pengaruhi oleh faktor lainya. Dapat meminimalis risiko penyebab kelancaran produksi ASI salah satunya yaitu meningkatkan status gizi pada ibu nifas.
Analysis of Maternal Knowledge and Complementary Feeding Patterns as Risk Factors for Stunting in Children Aged 6-24 Months Syahputra Yamin, Imam; Tania Fidzikri, Nanda Berliana; Effendi, Julham; Tamara, Metha Dwi; Rahmawati, Santi Deliani
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 5 No 4 (2026): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v5i4.540

Abstract

Introduction: Nutritional status during the critical period of 6–24 months relies heavily on appropriate Complementary Feeding (MP-ASI), a practice directly modulated by maternal health literacy. Objective: This study analyzed the correlation between maternal knowledge levels and complementary feeding patterns with the nutritional status of children aged 6–24 months in Central Lombok Regency. Method: This cross-sectional study involved 73 mothers selected via consecutive sampling in the Penujak Public Health Center area. Maternal knowledge and feeding patterns were assessed using validated questionnaires, while nutritional status (Length-for-Age) was derived from secondary data. Data were analyzed using the Spearman’s rho test. Result and Discussion: Stunting prevalence was critically high at 57.5%. Most mothers (50.7%) had 'moderate' knowledge. Bivariate analysis revealed a significant positive correlation between maternal knowledge and nutritional status (r=0.297; p=0.011). Furthermore, a moderately strong correlation was found between complementary feeding patterns and nutritional status (r=0.531; p<0.001). Conclusion: Complementary feeding practices serve as a stronger determinant of nutritional status than knowledge alone. Interventions must shift from passive education to operational strategies, such as cooking demonstrations of local menus and the reactivation of Toddler Mothers’ Classes (Kelas Ibu Balita) to improve practical feeding skills.
Effectiveness of Audiovisual Nutrition Education via YouTube on Balanced Nutrition Knowledge and Attitudes Among Indonesian Adolescents: A Quasi-Experimental Study Tamara, Metha Dwi; Ruhyat, Ejeb; Tusrini, Weni; Effendi, Julham; Tania Fidzikri, Nanda Berliana; Yamin, Imam Syahputra; Rahmawati, Santi Deliani
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 5 No 4 (2026): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v5i4.543

Abstract

Introduction: Adolescents currently face a double burden of malnutrition amidst a rapid transformation in digital health information. Conventional educational methods often fail to effectively engage Generation Z, a demographic with a distinct preference for visual and interactive learning formats. Objective: This study evaluated the effectiveness of a YouTube-based audiovisual intervention in improving knowledge and attitudes regarding balanced nutrition among adolescents in a boarding school setting. Method: This quantitative study employed a quasi-experimental, one-group pretest-posttest design. Participants comprised 88 students from MAPK Jabal Hikmah, an Islamic boarding school in East Lombok Regency, Indonesia, recruited via total sampling. The intervention consisted of a structured educational video aligned with the Indonesian Balanced Nutrition Guidelines (Pedoman Gizi Seimbang). Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test due to the non-normal distribution of variables. Result and Discussion: The intervention yielded a statistically significant increase in nutrition knowledge (p < 0.001), with mean scores rising from 30,51 to 80,40. Attitude scores also demonstrated significant improvement (p < 0.001), increasing from 46,53 to 61,02. Notably, the proportion of students categorized as having a "good" attitude rose substantially to 98.9% post-intervention, compared to 39.8% at baseline. Conclusion: YouTube-based audiovisual interventions are an effective and efficient digital health promotion strategy for enhancing adolescent nutrition literacy. Future studies should incorporate a control group to strengthen internal validity and generalizability.
Epidemiological Study of Wasting Among Children Under Five in Coastal Areas: An Analysis of Food Security and Dietary Quality Yamin, Imam Syahputra; Rahmawati, Santi Deliani
JURNAL KESEHATAN TROPIS INDONESIA Vol. 4 No. 1 (2026): Januari
Publisher : PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63265/jkti.v4i1.175

Abstract

Coastal regions are typically associated with abundant access to animal protein; however, empirical data reveal a high prevalence of wasting in these areas, presenting a coastal nutritional paradox. Despite being the urban center of West Nusa Tenggara, Mataram City faces a significant burden of wasting, particularly within its coastal communities. This study aimed to analyze the association between household food security, dietary patterns, and the incidence of wasting. A cross-sectional study was conducted in Mataram City from February to September 2024, involving 155 children aged 12–59 months selected via total sampling. Food security was assessed using the Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS), while dietary patterns were evaluated using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Nutritional status was determined via anthropometric measurements (weight-for-height). The results indicated an alarming prevalence of wasting (49.7%) and severe wasting (20.0%). Although 52.3% of households experienced moderate food insecurity, statistical analysis revealed no significant association between household food security and wasting (p=0.659). Conversely, dietary patterns were significantly associated with wasting (p=0.003). This study highlights a paradox wherein household food access does not guarantee optimal child nutritional status. The primary driver of wasting in this coastal population appears to be poor dietary quality and insufficient protein intake rather than mere food availability. Future interventions must shift from generalized food aid to targeted nutritional education focusing on dietary diversity.
The Differential Effect of Community-Based Supplementary Feeding on Wasting and Stunting: Epidemiological Evidence from an Endemic Region in West Nusa Tenggara Yamin, Imam Syahputra; Rahmawati, Santi Deliani; Furqan, Baiq Repika Nurul
JURNAL KESEHATAN TROPIS INDONESIA Vol. 4 No. 1 (2026): Januari
Publisher : PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63265/jkti.v4i1.178

Abstract

Stunting remains a persistent public health challenge in Indonesia, particularly within high-prevalence enclaves. Although local food-based Supplementary Feeding Programs (SFP) are widely implemented, their specific epidemiological impact on anthropometric indices specifically the divergence between weight and height recovery requires rigorous evaluation in high-burden settings. This study aimed to analyze the effectiveness of a 90-day local food-based SFP intervention on anthropometric Z-score shifts among stunted toddlers in Setungkep Lingsar Village, East Lombok. A quasi-experimental study with a one-group pretest-posttest design was conducted on a total population of 59 stunted toddlers (aged 6–59 months). Anthropometric measurements (Weight, Height) and WHO standard indices (Weight-for-Age [WAZ], Height-for-Age [HAZ], and Weight-for-Height [WHZ]) were assessed pre- and post-intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test with statistical significance set at p<0.05. The intervention yielded statistically significant improvements across all growth parameters (p=0.0001). The most rapid response was observed in acute nutritional indicators; the prevalence of normal nutritional status based on Weight-for-Height (WHZ) increased substantially from 10.2% to 46.9%, with a mean weight gain of 0.45 kg. Conversely, although Height-for-Age (HAZ) showed statistical improvement, the clinical shift from stunted to normal status remained minimal (2.0%), confirming a physiological lag in linear growth recovery compared to ponderal (weight) recovery. Local food-based SFP is highly effective for the rapid correction of acute malnutrition (wasting) but requires a sustained maintenance phase to achieve significant catch-up growth for stunting. Policy strategies in high-burden regions must extend monitoring beyond the acute recovery phase to ensure long-term linear growth rehabilitation.