Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Continuous Technical Guidance for Public Health Center Officer Based on Training Evaluation Surtimanah, Tuti; Ruhyat, Ejeb; Subekri, Trisno
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 14, No 3 (2019)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v14i3.15753

Abstract

Health promotion services at public health center is essential to support healthy behavior but still many officers did not have the competence and quality to conduct standard health promotion. West Java implemented health promotion training to 238 officers from 10 districts. The research objective was determining changes in participants’ knowledge and its implementation after training as a basis for sustainable technical guidance. Mixed methods design explanatory sequential as results from training analysis and in-depth interviews of officers. The results showed significant change in participants’ knowledge after training by district, no significant difference between districts and education level, and no significant increase in service coverage. Continuous technical direct guidance for officers by district officials and professional organizations is needed to strengthen service management, coordination, partnerships, integration and recording-reporting. Guidance through social media can be considered for use. Further training is needed to strengthen advocacy, partnership, evaluation. Participants were grouped into four as multivariate cluster analysis result of knowledge level after training and education level.
Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Kota Bandung Tahun 2016 Ejeb Ruhyat; Etna Fatmini; Panji Aldino
Sehat MasadaJurnal Vol 11 No 1 (2017): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai jumlah perokok terbesar didunia. Berdasarkan laporan Riskesdas tahun 2013 perilaku merokok penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun keatas cenderung meningkat dari 34,2% menjadi 36,3%. Pemerintah berupaya menanggulangi dampak bahaya rokok diantaranya dengan menetapkan KTR (Kawasan Tanpa Rokok). Dinkes Kota Bandung melalui Seksi Promkes melakukan pelatihan Satgas KTR di 30 SMP dan 20 SMA di Kota Bandung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan KTR di SMP dan SMA yang telah dilatih sebagai Satgas KTR di Kota Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan jumlah informan sebanyak 8 orang terdiri atas kepala sekolah, guru, Satgas KTR dan perwakilan siswa dari SMPN 4 dan SMAN 24 Bandung. Pengumpulan data dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu dukungan terhadap program KTR serta kaderisasi didapatkan dari semua pihak sekolah dan sektor terkait. Sosialisasi program dilakukan melalui madding, penempelan rambu larangan merokok, kampanye dan sosialisasi saat upacara bendera. Sehingga tidak ada lagi orang yang merokok di lingkungan sekolah, namun pelaksanaan program KTR dirasa masih naik turun serta sanksi yang di berikan belum terlihat jelas bahkan pada salah satu sekolah masih sulit menemukan rambu larangan yang dikarenakan kurangnya pemantauan dari berbagai pihak terkait serta tidak adanya dana khusus dan Fasilitas yang sediakan oleh sekolah. Kesimpulan dan Saran: Adapun saran yang di berikan yaitu diharapkan pihak puskesmas dapat lebih intens dalam pemantauan program KTR, pihak sekolah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran khusus serta fasilitas untuk program KTR, Satgas KTR diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas serta lebih aktif lagi dalam menjalankan tugas.
Pengalaman Perokok dalam Terapi Berhenti Merokok dengan Metode Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) di Desa Cipanjalu Kabupaten Bandung Tahun 2019 Ejeb Ruhyat
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 1 (2020): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v14i1.119

Abstract

Cigarettes and smoking are problems that are still difficult to resolve to date. About 4.9 million people in developing countries died of smoking in 2003. This study aimed to determine the experience of smokers in smoking cessation therapy with the Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) method in Cipanjalu Village, Bandung Regency in 2019. The type of research conducted was The type of research used is qualitative research with a phenomenological approach. Informants in this study were smokers who had been treated as many as 4 people. The results showed Based on the response or reaction when smoking cessation therapy was found that the reaction was almost the same, based on the desire to smoke after smoking cessation therapy that found all experienced a decrease in desire to smoke again, based on the length of time they did not smoke after different therapies - difference, Based on the number of cigarettes smoked after stopping smoking therapy, it was found that the number of cigarettes smoked every day varied after treatment, but all said they experienced a decrease in the number of cigarettes smoked. It is recommended to create a smoke-free environment with a shared commitment in the RW to create a non-smoking environment.
Perilaku Merokok di Masa Covid-19 Ejeb Ruhyat
Sehat MasadaJurnal Vol 15 No 1 (2021): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v15i1.178

Abstract

Jumlah perokok di Indonesia cenderung bertambah yaitu 31,5% dari penduduk Indonesia tahun 2001, bahkan lebih dari 50 % dengan sampel di suatu daerah, dan semakin dini segi usia memulai merokok. Menurut kemenkes, 2020 Perokok lebih mungkin terjangkit COVID-19 dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui Perilaku Merokok di Masa Pandemi COVID-19. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif Deskriptif. populasi yang digunakan sebagai penelitian adalah semua perokok yang mengisi google form yang dibagikan dengan jumlah sampel sebanyak 112 orang. Hasil penelitian menunjukan terdapat 44 responden (39,3%) merokok di rumah, sebanyak 15 responden (13,4%) merokok di tempat kerja dan sebanyak 53 responden (47,3%) menyatakan merokok ditempat lainnnya. terdapat 52 responden (46,4%) menghabiskan rokok < 6 batang setiap hari, dan sebanyak 60 responden (53,6%) menghabiskan ≥6 batang rokok setiap hari nya. terdapat 51 responden (45,5%) menyatakan meningkat konsumsi rokok setiap hari, sebanyak 40 responden (35,7%) menyatakan tetap, dan sebanyak 21 responden (18,8%) menyatakan tetap. terdapat 38 responden (33,9%) menyatakan alasan tetap merokok karena cemas, panic dan stres, sebanyak 45 responden (40,2%) menyatakan kurang aktivitas, sebanyak 20 responden (17,9%) menyatakan kebiasaan dan sebanyak 9 responden (8,0%) menyatakan lainnya. Disarankan dapat berkontribusi dalam penyebaran informasi dan edukasi kesehatan tentang bahaya merokok, serta mendorong penelitian yang terkait hubungan merokok dengan kejadian COVID-19
The Relationship Between Family Role and Self-Care Patients with Schizophrenia Devi Permatasari; Cucu Rokayah; Ruhyat Ejeb
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 1 No 1 (2019): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.142 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v1i1.1

Abstract

Schizophrenia is a serious disease that results in psychotic behavior, disruption in processing information, and interpersonal relationships, the prevalence of schizophrenia in Indonesia, which is around 400,000 people, patients with schizophrenia tend to experience a decrease in self-care. This is due to the decline in some brain functions that are owned by these patients which make it difficult to express emotions, withdraw from the social environment, lose motivation, not interested in doing daily activities, and ignore personal hygiene, to self-care schizophrenic patients need a family role. This study aims to determine whether there is a relationship between the role of the family and self-care in schizophrenic patients in the Outpatient Installation of the Mental Hospital of West Java Province. This study uses a quantitative method with a type of descriptive correlation research, using accidental sampling technique and cross sectional approach. The sample in this study amounted to 296 patient families. This study used a family role questionnaire and self-care questionnaire. The independent variables studied were the role of the family and the dependent variable studied, namely self-care. Univariate analysis uses frequency distribution and bivariate using chi-square. The results showed that patients had a good family role of 151 respondents (51.0%), and for self-care patients who needed as many as 125 (42.2%) assistive devices. There is a significant relationship between the relationship of the role of the family and self-care in schizophrenic patients p-value = 0.006. Keywords: self-care, family role
The Relationship Between Family Role and Self-Care Patients with Schizophrenia Devi Permatasari; Cucu Rokayah; Ruhyat Ejeb
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 1 No 1 (2019): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.142 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v1i1.1

Abstract

Schizophrenia is a serious disease that results in psychotic behavior, disruption in processing information, and interpersonal relationships, the prevalence of schizophrenia in Indonesia, which is around 400,000 people, patients with schizophrenia tend to experience a decrease in self-care. This is due to the decline in some brain functions that are owned by these patients which make it difficult to express emotions, withdraw from the social environment, lose motivation, not interested in doing daily activities, and ignore personal hygiene, to self-care schizophrenic patients need a family role. This study aims to determine whether there is a relationship between the role of the family and self-care in schizophrenic patients in the Outpatient Installation of the Mental Hospital of West Java Province. This study uses a quantitative method with a type of descriptive correlation research, using accidental sampling technique and cross sectional approach. The sample in this study amounted to 296 patient families. This study used a family role questionnaire and self-care questionnaire. The independent variables studied were the role of the family and the dependent variable studied, namely self-care. Univariate analysis uses frequency distribution and bivariate using chi-square. The results showed that patients had a good family role of 151 respondents (51.0%), and for self-care patients who needed as many as 125 (42.2%) assistive devices. There is a significant relationship between the relationship of the role of the family and self-care in schizophrenic patients p-value = 0.006. Keywords: self-care, family role
Peningkatan Pengetahuan Kader Tentang Posyandu di Era Transformasi Layanan Kesehatan Primer dan Kewirausahaan Tuti Surtimanah; Irfan Nafis Sjamsuddin; Ejeb Ruhyat; Gugum Pamungkas
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 8 NOMOR 2 JULI 2024 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jppm.v8i2.21284

Abstract

Posyandu merupakan Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat sekaligus Lembaga Kemasyarakatan desa yang berkontribusi dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Seiring kebijakan transformasi pelayanan kesehatan primer maka sasaran kegiatan posyandu menjadi seluruh masyarakat sesuai siklus hidupnya, dengan demikian keterampilan kader perlu ditingkatkan. Pengabdian masyarakat berupa pelatihan kader bertujuan meningkatkan pengetahuan kader tentang posyandu di era transformasi layanan primer dan kewirausahaan. Pengabdian masyarakat dilaksanakan bermitra dengan Puskesmas untuk koordinasi materi pelatihan dan keberlanjutan pembinaan, serta dengan Aparat Desa / Pokja Posyandu Desa untuk penggerakan kader dan pemenuhan sarana Posyandu. Asesmen pengetahuan kader dilakukan sebagai dasar pemilihan materi pelatihan, muatan materi mengacu kurikulum dari Kementerian Kesehatan. Metode pelatihan partisipatif, meliputi permainan – praktek dan ceramah tanya jawab. Fasulitator adalah dosen dan mahasiswa yang sedang praktek lapangan. Terjadi peningkatan pengetahuan kader secara signifikan (p<0,05) sesudah mengikuti pelatihan. Materi tentang skrining usia lanjut masih memerlukan penguatan. Pendampingan kader dalam pelaksanaan tugas di posyandu masih diperlukan untuk penguatan materi dan aplikasi perubahan keterampilan.
Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Kota Bandung Tahun 2016 Ruhyat, Ejeb; Fatmini, Etna; Aldino, Panji
Sehat MasadaJurnal Vol 11 No 1 (2017): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai jumlah perokok terbesar didunia. Berdasarkan laporan Riskesdas tahun 2013 perilaku merokok penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun keatas cenderung meningkat dari 34,2% menjadi 36,3%. Pemerintah berupaya menanggulangi dampak bahaya rokok diantaranya dengan menetapkan KTR (Kawasan Tanpa Rokok). Dinkes Kota Bandung melalui Seksi Promkes melakukan pelatihan Satgas KTR di 30 SMP dan 20 SMA di Kota Bandung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan KTR di SMP dan SMA yang telah dilatih sebagai Satgas KTR di Kota Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan jumlah informan sebanyak 8 orang terdiri atas kepala sekolah, guru, Satgas KTR dan perwakilan siswa dari SMPN 4 dan SMAN 24 Bandung. Pengumpulan data dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu dukungan terhadap program KTR serta kaderisasi didapatkan dari semua pihak sekolah dan sektor terkait. Sosialisasi program dilakukan melalui madding, penempelan rambu larangan merokok, kampanye dan sosialisasi saat upacara bendera. Sehingga tidak ada lagi orang yang merokok di lingkungan sekolah, namun pelaksanaan program KTR dirasa masih naik turun serta sanksi yang di berikan belum terlihat jelas bahkan pada salah satu sekolah masih sulit menemukan rambu larangan yang dikarenakan kurangnya pemantauan dari berbagai pihak terkait serta tidak adanya dana khusus dan Fasilitas yang sediakan oleh sekolah. Kesimpulan dan Saran: Adapun saran yang di berikan yaitu diharapkan pihak puskesmas dapat lebih intens dalam pemantauan program KTR, pihak sekolah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran khusus serta fasilitas untuk program KTR, Satgas KTR diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas serta lebih aktif lagi dalam menjalankan tugas.
Pengalaman Perokok dalam Terapi Berhenti Merokok dengan Metode Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) di Desa Cipanjalu Kabupaten Bandung Tahun 2019 Ruhyat, Ejeb
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 1 (2020): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v14i1.119

Abstract

Cigarettes and smoking are problems that are still difficult to resolve to date. About 4.9 million people in developing countries died of smoking in 2003. This study aimed to determine the experience of smokers in smoking cessation therapy with the Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) method in Cipanjalu Village, Bandung Regency in 2019. The type of research conducted was The type of research used is qualitative research with a phenomenological approach. Informants in this study were smokers who had been treated as many as 4 people. The results showed Based on the response or reaction when smoking cessation therapy was found that the reaction was almost the same, based on the desire to smoke after smoking cessation therapy that found all experienced a decrease in desire to smoke again, based on the length of time they did not smoke after different therapies - difference, Based on the number of cigarettes smoked after stopping smoking therapy, it was found that the number of cigarettes smoked every day varied after treatment, but all said they experienced a decrease in the number of cigarettes smoked. It is recommended to create a smoke-free environment with a shared commitment in the RW to create a non-smoking environment.
Perilaku Merokok di Masa Covid-19 Ruhyat, Ejeb
Sehat MasadaJurnal Vol 15 No 1 (2021): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v15i1.178

Abstract

Jumlah perokok di Indonesia cenderung bertambah yaitu 31,5% dari penduduk Indonesia tahun 2001, bahkan lebih dari 50 % dengan sampel di suatu daerah, dan semakin dini segi usia memulai merokok. Menurut kemenkes, 2020 Perokok lebih mungkin terjangkit COVID-19 dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui Perilaku Merokok di Masa Pandemi COVID-19. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif Deskriptif. populasi yang digunakan sebagai penelitian adalah semua perokok yang mengisi google form yang dibagikan dengan jumlah sampel sebanyak 112 orang. Hasil penelitian menunjukan terdapat 44 responden (39,3%) merokok di rumah, sebanyak 15 responden (13,4%) merokok di tempat kerja dan sebanyak 53 responden (47,3%) menyatakan merokok ditempat lainnnya. terdapat 52 responden (46,4%) menghabiskan rokok < 6 batang setiap hari, dan sebanyak 60 responden (53,6%) menghabiskan ?6 batang rokok setiap hari nya. terdapat 51 responden (45,5%) menyatakan meningkat konsumsi rokok setiap hari, sebanyak 40 responden (35,7%) menyatakan tetap, dan sebanyak 21 responden (18,8%) menyatakan tetap. terdapat 38 responden (33,9%) menyatakan alasan tetap merokok karena cemas, panic dan stres, sebanyak 45 responden (40,2%) menyatakan kurang aktivitas, sebanyak 20 responden (17,9%) menyatakan kebiasaan dan sebanyak 9 responden (8,0%) menyatakan lainnya. Disarankan dapat berkontribusi dalam penyebaran informasi dan edukasi kesehatan tentang bahaya merokok, serta mendorong penelitian yang terkait hubungan merokok dengan kejadian COVID-19