Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

HUBUNGAN MAKNA AKRONIM DAN KATA PEMBENTUKNYA PADA ACARA INDONESIA LAWAK KLUB (ILK) DI TRANS 7 Syamsul Rijal
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.877 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.172.73-82

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penggunaan akronim dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK) di Trans 7. Populasinya pun diambil dari semua akronim yang pernah digunakan dalam ILK dengan penarikan sampel secara purposif. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Proses pembentukan akronim dalam acara ILK menggunakan tiga bentuk relasi makna dalam menciptakan konsep-konsep kata, frasa, dan klausa yang lucu dan kocak. Selain itu, ada pula akronim yang dibentuk tanpa memiliki hubungan makna dengan kata-kata pembentuknya. Akronim-akronim yang memiliki relasi makna tersebut terbentuk dengan tiga pola hubungan makna, yaitu prinsip inklusi/tercakup; prinsip bersinggungan; dan prinsip komplementer.
Budaya Agraris Dalam Konsep Idiom Bahasa Indonesia: Kajian Antropolinguistik Syamsul Rijal
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.054 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v1i1.8

Abstract

Language cannot be separated from culture. In fact, language is the cultural expression of a nation. An agrarian culture in Indonesian has undergone internalization, giving birth to new words and phrases. The results of this study show several words and phrases which are idioms in Indonesian with the process of internalization of agrarian culture. The words and phrases of the agrarian culture can be found in agricultural terms, for example lahan basah, membanting tulang, memeras keringat, panen, mencairkan, and others. These words and phrases have blended in people's minds and expressed everyday culture. Who knows who started and where it came from. However, the Indonesian language user community has accepted these terms as ancestral cultural heritage. Understanding idioms seems difficult if you only understand the meaning of conventions from Indonesian speakers. The semantic load contained in the concept of idioms is too long a derivative chain. Therefore, this paper bridges Indonesian language users to understand the concept of Indonesian idioms which is an internalization of the Indonesian agrarian culture itself.
VARIASI BAHASA DALAM FILM SERIGALA TERAKHIR: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Citra Dewi Marinda; Syamsul Rijal; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i2.6109

Abstract

Film Serigala Terakhir merupakan film aksi yang masih sangat diminati hingga sekarang. Bahkan beberapa kali film tersebut ditayangkan dan diproduksi ulang menjadi sebuah serial drama. Dialog dalam film tersebut mengandung banyak jenis variasi bahasa, mulai dari yang sopan hingga yang tidak patut digunakan. Cerita yang diangkat dalam film tersebut, yaitu tentang remaja. Sebagian besar penikmat film tersebut juga dari kalangan remaja. Pada masa tersebut, remaja umumnya menggunakan kata-kata yang populer didengar tanpa memedulikan kata tersebut baik atau tidak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir; (2) mendeskripsikan fungsi dari penggunaan variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir; dan (3) mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir. Penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan dipaparkan secara deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan yang terdapat dalam dialog antartokoh di film Serigala Terakhir yang disutradarai oleh Upi Avianto. Teknik yang digunakan, yaitu teknik simak bebas libat cakap yang dipadukan dengan teknik catat yang ditujukan untuk mendata. Adapun teknik analisis yang digunakan, yaitu teknik interaktif. Dari hasil analisis tersebut, didapatkan bahwa bentuk variasi bahasa yang paling banyak digunakan, yaitu bentuk kolokial yang disebabkan karena film berisi dialog lisan sehingga bahasanya pun bahasa komunikasi lisan dan bentuk vulgar yang dipengaruhi latar belakang sosial tokoh yang diusung. Variasi bahasa yang banyak difungsikan untuk ideasional, yaitu bentuk vulgar. Hal tersebut karena kata-kata makian tersebut umumnya ditujukan untuk mengekspresikan perasaan. Sedangkan bentuk variasi bahasa yang lain difungsikan untuk interpersonal karena hampir semua variasi bahasa pada dasarnya ditujukan untuk menjalin interaksi.
DUGAAN FITNAH DALAM TAHAPAN KAMPANYE PILWALKOT BONTANG 2020: KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK Syamsul Rijal
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 2, No 2 (2022): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SASINDO UNPAM VOL.2 NO.2 MEI 2022
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sns.v2i2.22075

Abstract

Pilkada selalu menyisakan banyak cerita yang wajib diteliti secara ilmiah. Salah satunya adanya beberapa dugaan pelanggaran berupa fitnah, pencemaran nama baik, atau hasutan. Dalam istilah pilkada, politisi menyebutnya sebagai kampanye hitam dan kampanye negatif. Di Kota Bontang Kalimantan Timur, Bawaslu menerima dua laporan dari masyarakat tentang adanya pelanggaran kampanye. Kasus tersebut terdiri atas satu gambar bertuliskan amit-amit pilih Neni, cukup 1 periode dan satu video berdurasi satu menit. Linguistik forensik menjadi alat bantu penegak hukum untuk menentukan kasus tersebut. Keterangan linguis digunakan oleh penegak hukum dalam menarik keputusan akhir; bahwa apakah kasus tersebut termasuk pelanggaran atau hanya peristiwa kebahasaan biasa. Hasilnya, pelaporan pada kasus pertama  termasuk penghasutan dan ajakan kepada masyarakat untuk tidak memilih nama pasangan calon yang dituliskan namanya, tetapi tidak melanggar undang-undang pilkada tentang kampanye. Sedangkan, kasus pada video yang diduga fitnah tidak termasuk pelanggaran karena ketidakjelasan konteks waktu dan tempat serta nama dalam video tersebut.Kata kunci: linguistik forensik, dugaan fitnah, kampanye
DUGAAN FITNAH DALAM TAHAPAN KAMPANYE PILWALKOT BONTANG 2020: KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK Syamsul Rijal
Jurnal Sasindo UNPAM Vol 9, No 2 (2021): Sasindo Unpam
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v9i2.%p

Abstract

Pilkada selalu menyisakan banyak cerita yang wajib diteliti secara ilmiah. Salah satunya adalah adanya beberapa dugaan pelanggaran berupa fitnah, pencemaran nama baik, atau hasutan. Dalam istilah pilkada, politisi menyebutnya sebagai kampanye hitam dan kampanye negatif. Di Kota Bontang Kalimantan Timur, Bawaslu menerima dua laporan dari masyarakat tentang dugaan pelanggaran kampanye. Kasus tersebut terdiri atas satu gambar bertuliskan amit-amit pilih Neni, cukup 1 periode dan satu video berdurasi satu menit. Linguistik forensik menjadi alat bantu penegak hukum untuk menentukan kasus tersebut. Keterangan linguis digunakan oleh penegak hukum dalam menarik keputusan akhir; bahwa apakah kasus tersebut termasuk pelanggaran atau hanya peristiwa kebahasaan biasa. Hasilnya, pelaporan pada kasus pertama  termasuk penghasutan dan ajakan kepada masyarakat untuk tidak memilih nama pasangan calon yang dituliskan namanya, tetapi tidak melanggar undangundang pilkada tentang kampanye. Sedangkan, kasus pada video yang diduga fitnah tidak termasuk pelanggaran karena ketidakjelasan konteks waktu dan tempat serta nama dalam video tersebu
KLASIFIKASI KLAUSA DALAM IKLAN KOSMETIK DI TELEVISI Syamsul Rijal
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 1, No 1 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.719 KB) | DOI: 10.26499/loa.v1i1.2038

Abstract

                                                           AbstrakBerbagai jenis iklan yang ditampilkan di televisi telah berhasil menarik simpati penonton sebagai calon pembeli. Selain faktor visual yang menarik calon pembeli, keberhasilan sebuah iklan sangat bergantung pada bentuk bahasa yang digunakan, baik diksinya, jenis bahasanya, maupun bentukbentuk klausa atau kalimat yang digunakan. Penelitian ini berusaha mendeskrisikan dan mengklasifikasikanklausa yang digunakan iklan kosmetik di televisi. Dengan metode simak, rekam, dancatat, iklan-iklan kosmetik tersebut berhasil diklasifikasikan sebagai berikut. Secara intern unsur klausa, penggunaan klausa pada iklan kosmetik di televisi dapat dibedakan atas klausa bebas (klausa lengkap), klausa tak lengkap, dan klausa terikat. Berdasarkan kategori yang menduduki fungsi predikat, penggunaan klausa pada iklan kosmetik di televisi meliputi klausa verbal, klausa nominal, klausa numeralia, klausa adverbia, dan klausa adjektiva. Secara intern, klausa yang palingsering digunakan adalah klausa tak lengkap dan klausa bebas (klausa lengkap). Sementara itu, berdasarkan kategori yang menduduki fungsi predikat, klausa yang paling sering digunakan adalah klausa verbal.Kata kunci: sintaksis, klasifikasi klausa, iklan kosmetik                                                            AbstractVarious types of advertisements on television have attracted television viewers as prospective buyers. Instead of interesting visualization, the success of advertisements depends on the language used, especially diction, types of language, and forms of clauses or sentences. This study attempts to describe and classify clauses on television cosmetics advertisements. It applies tapped, listened, and note taking methods. The result shows that based on the clause elements, clauses on television cosmetics advertisements can be classified as independent clauses and dependent clauses. Based on the predicates, clauses on television cosmetics advertisements can be classified as verbal, nominal, numeral, adverbial, and adjectival clauses. Dependent and independent clauses are frequently used in the advertisements. Verbal clauses are also commonly used in those advertisements.Keywords: syntactic, clausa classification, cosmetic advertisement
Analisis Pelanggaran Kesantunan Berbahasa pada Tuturan Transaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Kehewanan Samarinda M. Alief Ramadhany; Widyatmike Gede Mulawarman; Syamsul Rijal
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 5 No 1s (2022)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.99 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v5i1s.403

Abstract

In the interactions carried out by traders and buyers in buying and selling transactions in the Kehewanan Traditional Market of Samarinda, some speeches violate the principle of politeness in language. It has prompted researchers to analyze language politeness in the Kehewanan Traditional Market of Samarinda. This study uses a qualitative method. This study's data collection techniques are tapping techniques, listening techniques, recording techniques, and note-taking techniques. The data in this study are the utterances of traders and buyers at the Kehewanan Traditional Market of Samarinda, which violate the politeness principle and the politeness scale proposed by Leech. The results of the study are as follows. First, the scale of politeness of language politeness in buying and selling transactions at the Kehewanan Traditional Market of Samarinda includes cost-benefit, optionality, and indirectness scales. Second, there were also violations of Leech's six politeness maxims, consisting of the maxim of wisdom, the maxim of generosity, the maxim of acceptance, the maxim of humility, the maxim of agreement, and the maxim of sympathy.
HUBUNGAN MAKNA AKRONIM DAN KATA PEMBENTUKNYA PADA ACARA INDONESIA LAWAK KLUB (ILK) DI TRANS 7 Syamsul Rijal
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.172.73-82

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penggunaan akronim dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK) di Trans 7. Populasinya pun diambil dari semua akronim yang pernah digunakan dalam ILK dengan penarikan sampel secara purposif. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Proses pembentukan akronim dalam acara ILK menggunakan tiga bentuk relasi makna dalam menciptakan konsep-konsep kata, frasa, dan klausa yang lucu dan kocak. Selain itu, ada pula akronim yang dibentuk tanpa memiliki hubungan makna dengan kata-kata pembentuknya. Akronim-akronim yang memiliki relasi makna tersebut terbentuk dengan tiga pola hubungan makna, yaitu prinsip inklusi/tercakup; prinsip bersinggungan; dan prinsip komplementer.
USE GREETINGS OF PARENTS' NAMES AS SOCIAL IDENTITY OF STUDENTS OF STATE SENIOR HIGH SCHOOL 16 SAMARINDA : A SOCIOLINGUISTIC STUDY Sri Hadijati; Syamsul Rijal; Masrur
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 2 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/morfai.v6i2.4852

Abstract

Study This study use greeting based on parents ' names in interaction daily students of State Senior High School 16 Samarinda as practice language that represents identity social teenagers . Research This use approach qualitative descriptive with method ethnography communication . Data obtained through observation participatory , interview deep to students and teachers, as well as documentation speech in context informal interactions in the environment school . Research result show that use parents ' names form three pattern main , namely (1) greeting identification as marker introduction individual in group peers , (2) greetings humorous as a building strategy solidarity and familiarity social , and (3) greetings functional evaluative​ as satire light within the boundaries of the relationship friendship . Practice greeting the reflect construction identity social negotiated students​ through proximity relationship , context situational , and objective communication . From the perspective politeness speaking , greeting humorous functioning as a positive politeness strategy, whereas greeting evaluative potential becomes a face-threatening act if used outside​ context familiarity . Research This confirm that use greetings among​ high school students do not nature neutral , but rather play a role as symbol identity social and dynamics relation in community school .