Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemahaman dan Pengamalan Nilai-nilai Tasawuf di Kalangan Elit Muhammadiyah Sumatera Selatan Purmansyah Ariadi; Rulitawati Rulitawati; Mona Novita
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 8 No 1 (2021): (April 2021)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v8i1.292

Abstract

Penyebaran Islam melalui tasawuf telah menjadikan Islam memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya paham sufisme dan tarekat berkembang juga, sehingga menjadi wacana yang urgent dalam proses transmisi ajaran Islam di dunia Melayu. Nilai-nilai tasawuf dikalangan elit Muhammadiyah akan mewarnai pemahaman dan pengamalan yang terlembaga dalam bentuk tarekat yang membutuhkan bimbingan seorang mursyid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai tasawuf di kalangan elit Muhammadiyah. Bagaimana pemahaman nilai-nilai tasawuf di kalangan elit Muhmmadiyah, bagaimana pengamalan nilai-nilai tasawuf dikalangan elit Muhammadiyah serta Perbedaan Pemahaman Dan Pengamalan Tasawuf di Wilayah Sumatera Selatan. Metode dalam penelitian lapangan (field research) dengan teknik analisa data menggunakan diskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara terhadap para ulama dilingkungan Muhammadiyah serta didukung dengan data dokumentasi. Penelitian ini mengghasilkan: Pertama bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi dan gerakan sosial keagamaan tidak menjadikan tasawuf dan tarekat dalam rangkah gerakannya, karena di latarbelakangi berdirinya Muhammadiyah dipengaruhi gerakan Tajdid, Kedua eksistensi pengamalan nilai-nilai tasawuf yaitu: menolak secara inplisit, terbuka terhadap keberadaan tasawuf dan sikap akomodatif. Sebuah Dialog membagi kategorikan dengan terminologi eksplisit, implisit, inklusif dan akomodatif. Ketiga, berafiliasi dengan ideologi sunni. organisasi lebih mendahulukan self correction, dengan prinsip ta´aruf, tafa>hum. ta´awun, takaful dan tazamun. Dalam masalah ibadah, perbedaan organisasi keagamaan ini tidak masuk yang bersifat prinsip, tetapi furu>´iyah. Kepentingan bersama dalam membina masyarakat dengan pendekatan kultural. Organisasi ini menganut paham aswaja.
Pengelolaan Program Makan Gratis dalam Membantu Masyarakat Kurang Mampu Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Rumah Makan Gratis Kaum Dhuafa 16 Ulu Kota Palembang): Penelitian Ridha Meysa; Hendri Nur Alam; Purmansyah Ariadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5872

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang berdirinya Rumah Makan Gratis Kaum Dhuafa di daerah 16 Ulu Kota Palembang, sistem pengelolaan program makan gratis yang dijalankan, serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pengelola rumah makan gratis dan penerima manfaat program. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Makan Gratis Kaum Dhuafa didirikan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat berpenghasilan rendah dan bertujuan membantu pemenuhan kebutuhan pangan bagi kelompok dhuafa. Pengelolaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu perencanaan jumlah porsi makanan, pengorganisasian relawan dan sumber daya, pelaksanaan proses memasak dan distribusi makanan, serta pengawasan terhadap jalannya program. Dalam perspektif ekonomi Islam, kegiatan ini mencerminkan nilai-nilai ihsan, rahmah, ta’awun, dan ukhuwah. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program antara lain fluktuasi harga bahan makanan, keterbatasan jumlah porsi dibandingkan dengan jumlah penerima manfaat, serta kondisi cuaca yang mempengaruhi proses pengadaan bahan makanan. Meskipun demikian, program makan gratis ini tetap berjalan secara konsisten sebagai bentuk solidaritas sosial masyarakat.