Restu Amalia Hermanto
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

GAMBARAN LAMA HARI RAWAT INAP, ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI PASIEN YANG MENDAPATKAN POSITIVE DIET DI RSU HOLISTIC Ahmad Yani; Rifka Hanny; Restu Amalia Hermanto
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol 5 No 1 (2021): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.146 KB) | DOI: 10.51873/jhhs.v5i1.89

Abstract

Latar Belakang: Lama rawat inap serta asupan energi dan protein rendah dapat mempengaruhi status gizi pasien. Makanan positive diet adalah salah satu jenis terapi diet yang diberikan kepada pasien di RSU Holistic. Tujuan positive diet memberikan makanan sesuai dengan kondisi pasien untuk detoksifikasi dan mencegah serta mengurangi kerusakan jaringan tubuh. Jenis karbohidrat yang diberikan serealia organik dan umbi-umbian. Jenis protein tahu, tempe dan kacang-kacangan serta protein hewani seperti ikan kembung, ikan gindara, telur dan daging ayam kampung. Sumber lemak yang diberikan minyak zaitun dan minyak jagung. Tujuan Penelitian: Mengetahui gambaran lama hari rawat inap, asupan energi dan protein dengan status gizi pada pasien positive diet. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan bulan September-November 2020. Sembilan subjek yang memenuhi kriteria inklusi diambil dengan metode consecutive sampling. Data lama hari rawat inap diambil selama pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Data asupan energi dan protein menggunakan form food recall 3 x 24 jam. Data status gizi menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) diambil awal pasien masuk dan saat keluar dari rumah sakit. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 44,4% (n=4) memiliki lama hari rawat inap panjang (8-10 hari). Sebagian besar subjek memiliki rata-rata asupan energi baik (44,4%) dan asupan protein kurang (77,8%). Status gizi awal masuk dengan kategori normal sebanyak 4 orang (44,5%), dan saat keluar dari rumah sakit 5 orang (55,6%). Simpulan: Lama hari rawat inap yang panjang pada pasien yang mendapatkan positive diet memiliki asupan energi baik, asupan protein kurang dan status gizi normal.
HUBUNGAN ASUPAN KARBOHIDRAT DENGAN KADAR SERUM KREATININ PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI TREATMENT DIALISIS DENGAN METODE LITERATURE REVIEW Zahrotul Ula; Restu Amalia Hermanto; Endang Ruwiandari
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol 6 No 2 (2022): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51873/jhhs.v6i2.175

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi GGK di Dunia mengalami peningkatan sejak tahun 1990-2017 sebesar  41.5%. GGK juga menempati urutan ke-18 sebagai salah satu penyakit penyebab kematian utama di Dunia. Sementara itu, prevalensi GGK di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 3.8% Salah satu indikator untuk mengetahui fungsi ginjal adalah kadar serum kreatinin (SCr). Pasien GGK disarankan melakukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis. Pasien yang menjalani dialisis berisiko mengalami malnutrisi kategori gizi kurang akibat inadekuat asupan energi dan zat gizi salah satunya karbohidrat. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan karbohidrat dengan kadar serum kreatinin pada pasien GGK yang menjalani treatment dialisis. Metode: Dilakukan menggunakan metode literature review secara sistematis dengan pendekatan kualitatif dari tiga pangkalan data yaitu PubMed, Science Direct dan Google Scholar. Kriteria inklusi adalah artikel dengan metode penelitian kualitatif, dipublikasi 15 tahun terakhir, dan dengan variabel penelitian yang mana menjadi kata kunci pencarian adalah pasien GGK; menjalani dialisis; asupan karbohidrat; kadar serum keatinin.   Hasil: Didapatkan enam penelitian inklusi (n=6) yang relevan. Dari penelitian inklusi ditemukan penemuan yang menyatakan bahwa pasien GGK berisiko mengalami malnutrisi dan kadar serum kreatinin melebihi kadar normal. Namun, dari enam artikel tersebut tidak dapat disimpulkan keterkaitan antara asupan karbohidrat dengan kadar serum kreatinin. Simpulan: Belum dijelaskan secara jelas pada setiap penelitian terkait hubungan langsung antara asupan karbohidrat dan kadar serum kreatinin. Namun pasien berisiko mengalami malnutrisi.
INOVASI MAKANAN SELINGAN MPASI BERBASIS TAHU: STRATEGI PEMBERDAYAAN IBU BALITA UNTUK OPTIMALISASI GIZI ANAK Restu Amalia Hermanto; Suci Amalia
SIKAP : Jurnal Sinar Inovasi Kajian Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): SIKAP : Jurnal Sinar Inovasi Kajian Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsikap.v4i1.8115

Abstract

The 6–24 month period is a critical phase in the First 1,000 Days of Life, significantly impacting child growth and development. Adequate complementary feeding with protein-rich snacks is essential to meet increased nutritional needs. Tofu, as a plant-based protein source, has potential as a nutritious complementary food for toddlers. This study aimed to improve mothers’ knowledge and skills in preparing tofu-based complementary foods through participatory training and demonstration. The intervention included nutrition education, practical tofu pudding preparation, and evaluation via observation, feedback, and group discussions involving 35 mothers in Sukajadi Village. Results showed improved understanding of tofu’s benefits and enhanced ability to prepare balanced complementary foods. The tofu pudding provided 137 kcal and 6.4 g protein per serving, fulfilling 10–15% of toddlers’ daily protein needs. Participants found the training practical, affordable, and effective in empowering them to prepare balanced complementary foods. This approach has potential to support improved child nutrition and stunting prevention in the community. Keywords: Complementary Feeding; Snacks; Tofu; 1000 days of life
Hubungan status gizi dan kualitas tidur dengan Dismenorea pada remaja putri di SMPN 1 Pondoksalam Robiatul Adawiyah; Restu Amalia Hermanto; Ahmad Yani
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51873/jhhs.v10i1.205

Abstract

Latar Belakang: Dismenorea merupakan nyeri kram yang dirasakan sebelum atau selama menstruasi. Prevalensi dismenorea pada remaja putri di Indonesia sekitar 64,25%. Status gizi dan kualitas tidur diduga menjadi faktor yang memengaruhi kejadian dismenorea pada remaja putri. Tujuan: Mengetahui hubungan status gizi dan kualitas tidur dengan kejadian dismenorea pada remaja putri di SMPN 1 Pondoksalam. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Status gizi diukur menggunakan Z-score IMT/U berdasarkan standar anak perempuan usia 5–19 tahun. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan dismenorea diukur menggunakan kuesioner skala nyeri. Penelitian dilakukan di SMPN 1 Pondoksalam dengan jumlah subjek sebanyak 119 siswi yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square, Kolmogorov-Smirnov, dan Fisher’s Exact. Hasil: Sebagian besar subjek memiliki status gizi normal (88,2%) dan status gizi gemuk (8%). Mayoritas subjek memiliki kualitas tidur buruk (92,4%), sedangkan kualitas tidur baik sebesar 7,6%. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian dismenorea (p>0,05), maupun antara kualitas tidur dengan kejadian dismenorea (p>0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara status gizi dan kualitas tidur dengan kejadian dismenorea.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kebiasaan sarapan dan status gizi pada pekerja pemerintah daerah Purwakarta Hasna Nursyifa; Restu Amalia Hermanto; Dedi Zaenal Arifin
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51873/jhhs.v10i1.245

Abstract

Latar Belakang : Sarapan berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan gizi harian dan membantu mempertahankan status gizi optimal. Namun begitu, berbagai faktor seperti keterbatasan waktu dan tuntutan pekerjaan dapat memengaruhi kebiasaan sarapan pada  pekerja. Tujuan : Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kebiasaan sarapan dan status gizi pada pekerja di Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta. Metode : Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada Oktober–Desember 2022 terhadap 89 pekerja yang dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Data kebiasaan sarapan dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah mendapat izin dan kelaikan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka. Hasil : Sebagian besar subjek memiliki pendidikan tinggi (97,8%), pendapatan rendah (57,3%), dan pengetahuan gizi baik (43,8%). Mayoritas subjek (93,3%) memiliki kebiasaan sarapan. Berdasarkan status gizi, 37,1% subjek tergolong obesitas dan 21,3% tergolong gemuk. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan serta tingkat pendapatan dengan kebiasaan sarapan (p<0,05). Tidak ditemukan hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan kebiasaan sarapan (p>0,05). Selain itu, tingkat pendapatan berhubungan dengan status gizi (p<0,05), sedangkan tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan gizi tidak berhubungan dengan status gizi (p>0,05). Simpulan : Tingkat pendidikan dan pendapatan berhubungan dengan kebiasaan sarapan, sedangkan status gizi berhubungan dengan tingkat pendapatan. Tingginya prevalensi obesitas menunjukkan perlunya perbaikan kualitas pola makan pada kelompok pekerja.