Endang Ruwiandari
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR), PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN STATUS IMUNISASI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BADUTA USIA 0 SAMPAI 24 BULAN DI PUSKESMAS KIARAPEDES KECAMATAN KIARAPEDES KABUPATEN PURWAKARTA TAHUN 2020 Eka Prihatini; Tomi Herutomo; Endang Ruwiandari
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol 5 No 2 (2021): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.011 KB) | DOI: 10.51873/jhhs.v5i2.135

Abstract

Latar Belakang: Tingginya kejadian BBLR mengakibatkan stunting pada baduta dan terhambatnya pertumbuhan pada usianya. Data stunting Dinas Kesehatan Purwakarta tahun 2019, prevalensi stunting tertinggi yaitu di Kecamatan Kiarapedes (12.45%). Bila dilihat dari segi usia, kelompok baduta pada usia 0 – 24 bulan memiliki faktor stunting terbanyak di Puskesmas Kiarapedes. Tujuan: Mengetahui gambaran dan hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada baduta usia 0 – 24 bulan di Puskesmas Kiarapedes Kecamatan Kiarapedes Kabupaten Purwakarta Tahun 2020. Metode: Dengan rancangan penelitian case control. Subyek penelitian adalah baduta usia 0 sampai 24 bulan dengan kejadian stunting di wilayah Puskesmas Kiarapedes yang berjumlah 72 baduta stunting dan 72 baduta tidak stunting. Pengumpulan data dengan menggunakan data sekunder dan dianalisis menggunakan uji Chi – Square dan OR. Hasil: Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Pemberian Asi Eksklusif Dan Status Imunisasi Dengan Kejadian Stunting Pada Baduta Usia  0 Sampai 24 Bulan adalah BBLR  (p = 0,002), Pemberian ASI Eksklusif (p = 0,574) dan Status Imunisasi (p = 0,180). Kesimpulan: Ada hubungan antara BBLR dengan kejadian stunting, Tidak ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting dan Tida ada hubungan antara status imunisasi dengan kejadian stunting
HUBUNGAN ASUPAN KARBOHIDRAT DENGAN KADAR SERUM KREATININ PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI TREATMENT DIALISIS DENGAN METODE LITERATURE REVIEW Zahrotul Ula; Restu Amalia Hermanto; Endang Ruwiandari
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol 6 No 2 (2022): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51873/jhhs.v6i2.175

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi GGK di Dunia mengalami peningkatan sejak tahun 1990-2017 sebesar  41.5%. GGK juga menempati urutan ke-18 sebagai salah satu penyakit penyebab kematian utama di Dunia. Sementara itu, prevalensi GGK di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 3.8% Salah satu indikator untuk mengetahui fungsi ginjal adalah kadar serum kreatinin (SCr). Pasien GGK disarankan melakukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis. Pasien yang menjalani dialisis berisiko mengalami malnutrisi kategori gizi kurang akibat inadekuat asupan energi dan zat gizi salah satunya karbohidrat. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan karbohidrat dengan kadar serum kreatinin pada pasien GGK yang menjalani treatment dialisis. Metode: Dilakukan menggunakan metode literature review secara sistematis dengan pendekatan kualitatif dari tiga pangkalan data yaitu PubMed, Science Direct dan Google Scholar. Kriteria inklusi adalah artikel dengan metode penelitian kualitatif, dipublikasi 15 tahun terakhir, dan dengan variabel penelitian yang mana menjadi kata kunci pencarian adalah pasien GGK; menjalani dialisis; asupan karbohidrat; kadar serum keatinin.   Hasil: Didapatkan enam penelitian inklusi (n=6) yang relevan. Dari penelitian inklusi ditemukan penemuan yang menyatakan bahwa pasien GGK berisiko mengalami malnutrisi dan kadar serum kreatinin melebihi kadar normal. Namun, dari enam artikel tersebut tidak dapat disimpulkan keterkaitan antara asupan karbohidrat dengan kadar serum kreatinin. Simpulan: Belum dijelaskan secara jelas pada setiap penelitian terkait hubungan langsung antara asupan karbohidrat dan kadar serum kreatinin. Namun pasien berisiko mengalami malnutrisi.