Fazar Kumaladewi Soedjarwo
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Karakteristik Ibu Hamil Dengan Abortus di Rumah Sakit Umum IMC Bintaro Fazar Kumaladewi Soedjarwo
Jurnal Kesehatan STIKes IMC Bintaro Vol. 1 No. 1 (2015): Jurnal STIKes IMC Bintaro
Publisher : STIKes IMC Bintaro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus masih merupakan masalah yang cukup tinggi yang ditemukan di RS IMC Bintaro. Hasil survey awal didapatkan angka kejadian ibu hamil dengan abortus pada periode Januari-Maret 2014 ditemukan 14 kasus dari 225 pasien. Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan. Penelitian bersifat deskriptif dengan metode cross sectional. Penelitian menggunakan data sekunder dari rekam medis untuk mengetahui jumlah ibu hamil dengan abortus. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil dengan abortus di RS IMC bintaro periode Januari – Maret 2014. Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik ibu hamil dengan abortus di RS IMC Bintaro tahun 2014 di dapatkan 14 kasus ibu hamil yang mengalami abortus menurut kelompok umur ibu yang beresiko yang mengalami abortus 23,5 %. Gravid pada ibu abortus paling tinggi grande multigravida sebesar 37,5 %. Pendidikan yang rendah pada ibu abortus sebesar 22,9 %. Riwayat abortus yang tidak pernah mengalami abortus sebesar 36,4 %. Ibu abortus yang terinfeksi sebesar 25 %.
Pemberian Susu Formula terhadap Kejadian Berat Badan Berlebih pada Anak Usia Kurang dari Lima Tahun: Formula Milk Provision on The Incidence of Overweight in Children Aged Less Than Five Years Risnawati; Apreliasari, Helmy; Fazar Kumaladewi Soedjarwo; Nur Sri Atik; Romdiyah; Mudy Oktiningrung; Iin Wahyuni; Tuti Susilowati
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 7 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v7i2.3574

Abstract

Overweight is a common problem in both adults and children, and this problem is quite risky to health. Giving formula milk to children is one factor that can make children overweight. The purpose of this study was to determine the relationship between the history of giving formula milk and the incidence of overweight in children under five years of age. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach, conducted in Grantung Village, Bayan District, Purworejo Regency, Central Java, carried out from September to November 2023. The study was conducted after obtaining approval from the Health Research Ethics Commission of Semarang State University with Number: 335 / KEPK / EC / 2023 and had obtained a research permit from the Purworejo Regency Government through the Investment and One-Stop Integrated Service Office with Number: 562.42 / 209/2023. Research respondents have signed the consent form to become respondents before participating in the study. The results of the study showed that of the 19 respondents there were 7 respondents who had no history of being given formula milk, all of these respondents did not have problems with being overweight (0%), while of the 12 respondents who had a history of being given formula milk, 4 (33.33%) of them were overweight, although statistically there was no significant relationship (p-value: 0.0245). Suggestions for future researchers are that further research needs to be carried out using a cohort study method to obtain more complete information about giving formula milk and its relation to the risk of being overweight in children aged less than five years.      Abstrak Berat badan berlebih merupakan masalah yang sering terjadi baik pada orang dewasa maupun pada anak, dan masalah ini cukup berisiko terhadap kesehatan. Pemberian susu formula pada anak salah faktor yang dapat membuat berat badan pada anak berlebih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan riwayat pemberian susu formula terhadap kejadian berat badan berlebih pada anak usia kurang dari lima tahun. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan croos sectional, dilakukan di Desa Grantung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dilaksanakan pada September sampai November 2023. Penelitian dilakukan setelah mendapat persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Negeri Semarang dengan Nomor: 335/KEPK/EC/2023 dan telah mendapatkan ijin penelitian dari Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dengan Nomor: 562.42/209/2023. Responden penelitian sudah menandatangai lembar persetujuan menjadi responden sebelum mengikuti penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 19 responden ada 7 responden yang tidak mempunyai riwayat diberikan susu formula, kesemuanya responden tersebut tidak mempunyai masalah berat badan berlebih (0%), sedangkan 12 respoden yang mempunyai riwayat diberikan susu formula, 4 (33,33%) diantaranya mengalami berat badan berlebih, walaupun secara statistik tidak mempunyai hubungan yang bermakna (p-value: 0,0245). Saran untuk peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain seperti kohort study untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang pemberian susu formula dan kaitannya dengan risiko berat badan berlebih pada anak usia kurang dari lima tahun.
Pengaruh Pijat Oksitosin dibandingkan Intervensi Lain terhadap Produksi ASI pada Ibu Nifas: Systematic Review: Comparison of Oxytocin Massage with Other Interventions on Breast Milk Production in Puerperal Mothers: A Literature Review Risnawati; Apreliasari, Helmy; Fazar Kumaladewi Soedjarwo
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4464

Abstract

Breast milk is the optimal source of nutrition for infants, yet inadequate milk production remains a significant barrier to exclusive breastfeeding worldwide. Non-pharmacological interventions such as oxytocin massage, marmet technique, breast care, acupressure, and herbal remedies have been widely introduced to stimulate the release of prolactin and oxytocin hormones, thereby enhancing lactation. This literature review aims to critically analyze and synthesize evidence regarding the effectiveness of oxytocin massage compared with other interventions for improving breast milk production in puerperal mothers. Articles were obtained from PubMed, Scopus, and Google Scholar, published between 2015 and 2025, using keywords “oxytocin massage,” “lactation,” “breast milk production,” and “postpartum mothers.” Inclusion criteria consisted of experimental and quasi-experimental studies evaluating oxytocin massage or other complementary techniques, with primary outcomes including milk volume, hormonal changes, maternal psychological well-being, and infant feeding indicators. Findings consistently indicate that oxytocin massage enhances milk production, often showing results equal to or superior compared with marmet technique, effleurage massage, or breast care alone. Moreover, combination approaches such as oxytocin massage combined with marmet or Woolwich massage demonstrated greater improvements in milk yield, maternal comfort, and breastfeeding success. Studies assessing hormonal responses reported increased oxytocin and prolactin levels following oxytocin massage, particularly when combined with emotional management strategies. Nevertheless, variations in methodology, sample size, and measurement tools across studies limit comparability and generalizability of findings. Overall, oxytocin massage represents an effective, safe, low-cost, and feasible non-pharmacological intervention to support lactation among postpartum mothers. Future research with standardized protocols, larger sample sizes, and robust hormonal assessments is recommended to strengthen the evidence base and inform clinical practice guidelines for midwives and health professionals.   Abstrak ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, namun produksi ASI yang tidak memadai masih menjadi hambatan utama dalam pencapaian pemberian ASI eksklusif di seluruh dunia. Berbagai intervensi nonfarmakologis telah diperkenalkan untuk merangsang pelepasan hormon prolaktin dan oksitosin, di antaranya pijat oksitosin, teknik marmet, perawatan payudara, akupresur, serta terapi herbal. Tinjauan literatur ini bertujuan menganalisis secara kritis dan mensintesis bukti mengenai efektivitas pijat oksitosin dibandingkan dengan intervensi lain dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas. Artikel diperoleh melalui pencarian pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan rentang publikasi 2015–2025 menggunakan kata kunci “pijat oksitosin,” “laktasi,” “produksi ASI,” dan “ibu nifas.” Kriteria inklusi mencakup penelitian eksperimental maupun kuasi-eksperimental yang mengevaluasi pijat oksitosin atau intervensi lain dengan luaran utama berupa volume ASI, perubahan hormonal, kesejahteraan psikologis ibu, serta indikator keberhasilan menyusui bayi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pijat oksitosin secara konsisten meningkatkan produksi ASI, dengan hasil yang setara bahkan lebih baik dibandingkan teknik marmet, pijat effleurage, atau perawatan payudara saja, selain itu, pendekatan kombinasi seperti pijat oksitosin dengan teknik marmet atau woolwich massage terbukti memberikan peningkatan lebih besar pada volume ASI, kenyamanan ibu, serta keberhasilan menyusui. Beberapa penelitian yang mengukur respon hormonal melaporkan adanya peningkatan kadar oksitosin dan prolaktin setelah pijat oksitosin, terutama bila dikombinasikan dengan strategi manajemen emosional. Meski demikian, variasi metodologi, ukuran sampel, serta instrumen pengukuran antar penelitian membatasi keterbandingan dan generalisasi temuan. Secara keseluruhan, pijat oksitosin merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif, aman, murah, serta layak diterapkan untuk mendukung laktasi pada ibu nifas. Penelitian selanjutnya dengan protokol yang lebih terstandar, sampel lebih besar, dan pengukuran hormonal yang lebih kuat diperlukan guna memperkuat bukti serta menyusun pedoman praktik klinis bagi bidan dan tenaga kesehatan.