Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS PROSES KOMUNIKASI DALAM IMPLEMENTASI PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA PELAYANAN KESEHATAN BAYI DENGAN BBLR (BERAT BAYI LAHIR RENDAH) DI RUMAH SAKIT Nur Sri Atik
Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health) Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Utama Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.323 KB) | DOI: 10.52299/jks.v9i2.14

Abstract

Perawatan Metode kanguru bisa sangat bervariasi di masing-masing rumah sakit, hal ini bisa dilihat dari aspek jenis layanan yang tersedia, kompetensi SDM, serta fasilitas dan sarana. Implementasi merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan, tanpa adanya implementasi sebuah keputusan hanya akan menjadi catatan-catatan diatas meja para pejabat. Di Indonesia sering terjadi inefektifitas implementasi kebijakan karena kurangnya koordinasi dan kerja sama. Masalah-masalah implementasi dapat berasal dari para pelaku-pelaku kebijakan maupun faktor-faktor lain seperti struktur birokrasi, maupun faktor komunikasi maupun sikap dan komitmen pelaksana program. Dalam pelaksanaan program PMK kurangnya penyuluhan atau komunikasi dan informasi bagi pasien dan keluarganya dapat menghambat pasien untuk dapat berpatisipasi lebih baik dalam perawatan dan mengambil keputusan-keputusan perawatan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi dalam implementasi pelayanan kesehatan perawatan metode kanguru (PMK) di Rumah Sakit Mardi Rahayu. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam dan observasi langsung dengan Informan utama adalah 4 orang ibu yang mempunyai bayi berat lahir rendah (BBLR) dan informan triangulasi adalah 3 bidan dan 3 perawat, 2 dokter spesialis anak yang telah mengikuti pelatihan, serta manajer keperawatan dan direktur pelayanan medis. Analisis yang digunakan dengan analisis tematik, dimana mengolah data hasil wawancara mendalam sesuai dengan tema yang ada. Implementasi PMK menunjukkan hasil yang kurang optimal, dari sisi komunikasi terlihat belum adanya sosialisasi program sehingga terlihat kurangnya kejelasan, konsistensi dan transmisi informasi tentang program PMK. Hal ini disebabkan karena kurang optimalnya informasi yang diberikan. Saran bagi RS agar dapat meningkatkan sosialisasi program, serta penyampaian juklak dan pelaksanaan PMK diikuti dengan monitoring dan pembinaan. Selain itu meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) bagi ibu/keluarga serta memberikan kesempatan bagi klien untuk melaksanakan PMK di RS sebelum pulang ke rumah.
GAMBARAN ANALISIS SUMBER DAYA DALAM IMPLEMENTASI PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT nur sri atik
Jurnal Ilmiah Kesehatan Ar-Rum Salatiga Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : STIKES Ar-Rum Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36409/jika.v4i1.44

Abstract

Rumah sakit sebagai institusi yang melakukan upaya rujukan harus mampu mengelola BBLR termasuk didalamnya PMK (Perawatan Metode kanguru). PMK tidak memerlukan fasilitas khusus yang sederhana dapat membuat ibu lebih nyaman tinggal di RS. PMK tidak memerlukan tambahan tenaga yang melebihi dari perawatan dengan menggunakan metode konvensional. Dalam pengelolaannya perawatan metode kanguru bisa sangat bervariasi di masing-masing RS. Faktor sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia maupun sumber daya finansial. Tujuan penelitian ini adalah melihat analisis sumber daya dalam implementasi program Perawatan Metode Kanguru (PMK) pada bayi BBLR di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam dan observasi langsung dengan Informan utama dan informan triangulasi. Analisis yang digunakan dengan analisis tematik. Implementasi PMK menunjukkan hasil yang kurang optimal, hal ini dilatar belakangi karena sumber daya yang diperlukan khususnya SDM terlatih yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan tentang PMK belum banyak. Kurangnya kompetensi ini juga yang berakibat pada kurang maksimalnya SOP yang telah disusun sehingga harus disesuaikan dan direvisi kembali. Dari ketersediaan sumber daya diketahui bahwa SDM yang ada belum banyak yang mengikuti pelatihan, jumlah SDM belum mencukupi dengan banyaknya job yang ada, dana yang diperlukan tidak selalu ada dalam pelaksanaan program karena tergantung prioritas program lainnya, sarana prasarana penunjang pelaksanaan PMK belum semua ada terutama ruang khusus untuk PMK walaupun ada beberapa ruangan perwatan yang berdekatan. Hal ini mengakibatkan kurang optimalnya kualitas pelayanan PMK yang diberikan.
Pemberian Susu Formula terhadap Kejadian Berat Badan Berlebih pada Anak Usia Kurang dari Lima Tahun: Formula Milk Provision on The Incidence of Overweight in Children Aged Less Than Five Years Risnawati; Apreliasari, Helmy; Fazar Kumaladewi Soedjarwo; Nur Sri Atik; Romdiyah; Mudy Oktiningrung; Iin Wahyuni; Tuti Susilowati
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 7 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v7i2.3574

Abstract

Overweight is a common problem in both adults and children, and this problem is quite risky to health. Giving formula milk to children is one factor that can make children overweight. The purpose of this study was to determine the relationship between the history of giving formula milk and the incidence of overweight in children under five years of age. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach, conducted in Grantung Village, Bayan District, Purworejo Regency, Central Java, carried out from September to November 2023. The study was conducted after obtaining approval from the Health Research Ethics Commission of Semarang State University with Number: 335 / KEPK / EC / 2023 and had obtained a research permit from the Purworejo Regency Government through the Investment and One-Stop Integrated Service Office with Number: 562.42 / 209/2023. Research respondents have signed the consent form to become respondents before participating in the study. The results of the study showed that of the 19 respondents there were 7 respondents who had no history of being given formula milk, all of these respondents did not have problems with being overweight (0%), while of the 12 respondents who had a history of being given formula milk, 4 (33.33%) of them were overweight, although statistically there was no significant relationship (p-value: 0.0245). Suggestions for future researchers are that further research needs to be carried out using a cohort study method to obtain more complete information about giving formula milk and its relation to the risk of being overweight in children aged less than five years.      Abstrak Berat badan berlebih merupakan masalah yang sering terjadi baik pada orang dewasa maupun pada anak, dan masalah ini cukup berisiko terhadap kesehatan. Pemberian susu formula pada anak salah faktor yang dapat membuat berat badan pada anak berlebih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan riwayat pemberian susu formula terhadap kejadian berat badan berlebih pada anak usia kurang dari lima tahun. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan croos sectional, dilakukan di Desa Grantung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dilaksanakan pada September sampai November 2023. Penelitian dilakukan setelah mendapat persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Negeri Semarang dengan Nomor: 335/KEPK/EC/2023 dan telah mendapatkan ijin penelitian dari Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dengan Nomor: 562.42/209/2023. Responden penelitian sudah menandatangai lembar persetujuan menjadi responden sebelum mengikuti penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 19 responden ada 7 responden yang tidak mempunyai riwayat diberikan susu formula, kesemuanya responden tersebut tidak mempunyai masalah berat badan berlebih (0%), sedangkan 12 respoden yang mempunyai riwayat diberikan susu formula, 4 (33,33%) diantaranya mengalami berat badan berlebih, walaupun secara statistik tidak mempunyai hubungan yang bermakna (p-value: 0,0245). Saran untuk peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain seperti kohort study untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang pemberian susu formula dan kaitannya dengan risiko berat badan berlebih pada anak usia kurang dari lima tahun.