Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EFEKTIFITAS PEMBERIAN MINYAK JAHE (Zingiber officinale) UNTUK PENYEMBUHAN LUKA PADA TIKUS PUTIH BETINA (Rattus norvegicus) Lenna Maydianasari, Yana Luthfiyati, Ian Rossalia Pradita Puteri,
Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu Vol 2, No 1 (2020): Tetap Produktif dan Eksis Selama dan Pasca Pandemi COVID-19
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka perineum apabila tidak ditangani secara efektif dapat berdampak terhadap terjadinya infeksi, dispareunia dan resiko komplikasi perdarahan. Perawatan luka perineum untuk mencegah komplikasi yang telah banyak digunakan adalah povidone iodine. Akan tetapi iodine bersifat iritatif dan toksik bila masuk ke pembuluh darah.Aplikasi ekstrak jahe ditemukan untuk meningkatkan berbagai fase perbaikan luka termasuk sintesis dan pematangan kolagen, kontraksi luka dan epitelisasi.Jahe memiliki komponen analgesik, anti inflamasi dan hipoglikemi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas pemberian minyak jahe terhadap penyembuhan luka pada tikus putih betina (rattus norvegicus). Desain Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik. Penelitian dilaksanakan di laboratorium PSPG Universitas Gadjah Mada.Sampel yang digunakan adalah 16 ekor tikus putih betina (rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 3 kelompok.Analisis data menggunakan uji one way ANOVA. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji One way Anova didapatkan nilai p=0,000 dengan nilai α=0,05 (p<α) hal ini menujukkan bahwa ada perbedaan persentase penyembuhan luka antar kelompok perlakuan. Pemberian minyak jahe pada luka biopsy tikus putih betina lebih efektif dibandingkan dengan pemberian povidone iodine.
ANALISIS STUNTING 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (HPK) DENGAN PERILAKU RESPONSIVE FEEDING DAN PEMBERIAN THERAPY MASSAGE EATING DIFFICULTIES UNTUK MENUNJANG TUMBUH KEMBANG Farida Arintasari; Ian Rossalia Pradita Puteri
The Shine Cahaya Dunia Ners Vol 7, No 01 (2022): The Shine Cahaya Dunia Ners
Publisher : LPPM An Nuur Purwodadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscners.v7i01.340

Abstract

Latar Belakang: Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama adalah masih tingginya anak balita pendek (stunting).Di Indonesia hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2018 prevalensi stunting sebesar 30,8 %, hal ini berarti Indonesia mengalami stunting sekitar 8,9 juta anak. Pencegahan terhadap stunting dapat dilakukan dengan memberikan intervensi gizi secara spesifik terhadap anak terutama dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) dimana terjadinya masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang.Faktor yang mempengaruhi salah satunya rendahnya asupan makanan dan praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak adekuat dimana ibu memiliki peran penting terhadap asupan melalui pola pemberian makan, Responsive Feeding (RF) dan massage stimulasi untuk penambah nafsu makan dan. Salah satu cara untuk meningkatkan penerimaan makanan menggunakan therapy stimulasi dalam bentuk pijatan yang bisa dilakukan oleh keluarga. Tujuan Penelitian: untuk menganalisa Stunting 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan Prilaku Responsive Feeding dan Pemberian Therapy Massage Eating Difficulties Untuk Menunjang Tumbuh Kembang.Metode: Jenis penelitian observasional kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional, kualitatif, untuk memperjelas perilaku responsive feeding pada balita stunting, sedangkan dalam pemberian terapi massage penambah nafsu makan menggunakan penelitian eksperimental.Hasil :Faktor memiliki korelasi yang signifikan terhadap terjadinya stunting adalah umur ibu saat hamil,ANC, dan pemberiantablet Fe (p < 0,05). Perilaku responsive feeding menunjukkan belum ada responden yang melakukan responsive feeding secara menyeluruh baik dalam hal menyuapi langsung atau membantu anak makan sendiri, respon terhadap anak lapar dan kenyang, sabar dalam memberikan makan, respon kontak saat memberikan makan, meminimalisir distraksi makan, dan respon penolakan anak. Pemberian therapy massage eating difficulties pada balita stunting berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan masalah makan pada balita (p=0,002).Kesimpulan :  Ada korelasi yang signifikan terjadinya stunting dengan prilaku responsive feeding dan massage eating difficult Kata Kunci: Stunting, Responsive Feeding, Therapy Massage Eating Difficulties
PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN TENTANG INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DENGAN PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI DI PUSKESMAS KOTA SURAKARTA Ian Rossalia Pradita Puteri
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 9, No 4 (2014)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.576 KB) | DOI: 10.35842/mr.v9i4.134

Abstract

Based On Data Survey Indonesia Well-Being Demography (SDKI) year 2007 Mention Baby Mortality Rate (AKB) stills very high that is 35 every 1.000 birth alive. one of [the] programe in course of depreciation acceleration execution Mention Baby Mortality Rate Initiation program gives early initiation. Follow watchfulness that done Dr. Karen Edmond year 2006, 22 % baby death preventable when is baby breastfed by the mother in one first clocks can birth. achievement 6 months asi exclusive base on Initiation program gives early initiation success in one first clocks. Aim from this watchfulness detects connection between erudition and midwife attitude about applications at Puskesmas City of Surakarta. Observasional analytic study with cross sectional approach. Population of 61  midwifes at public health center in Surakarta, the sampel by simple random sampling as many as 41 midwifes. The data collect with research instrument with questionnaire to measure knowledge, attitudes, and applications. Data analysis using logistics regression. data processing using SPSS program. Shows that a large part aged midwife 20-40 year as much as 24 midwifes (60%), midwife finished diploma III as much as 27 midwifes (68%), midwife works more than 5 year at puskesmas concerned as much as 28 person (70%), has tall erudition hits early initation as much as 33 midwifes (83%) as much as 23 midwifes (58%) has positive attitude or support towards applications early Initiation, and application early initiation well as much as 24 midwifes (60%). and from hypothesis test with regression logistic got or erudition 2,108 and or attitude 1,225, with confendence international 95% with limit erudition under 1,189 limits on 3,737, while for limit attitude under 1,050 and limit under 1,430, values n observation 40, values -2 logarithms likehood 32,356 and value negelkerker r2 with value 56,2%, with standard signifikansi for erudition 0,005<0,05 and for attitude 0,016<0,05 so there erudition level connection and midwife attitude about early initiation with applications early initiation.Keyword : Knowlagde, Attitude, Applications, Early Initiation
ANALISIS STUNTING 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (HPK) DENGAN PERILAKU RESPONSIVE FEEDING DAN PEMBERIAN THERAPY MASSAGE EATING DIFFICULTIES UNTUK MENUNJANG TUMBUH KEMBANG Farida Arintasari; Ian Rossalia Pradita Puteri
The Shine Cahaya Dunia Ners Vol 7, No 01 (2022): The Shine Cahaya Dunia Ners
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscners.v7i01.340

Abstract

Latar Belakang: Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama adalah masih tingginya anak balita pendek (stunting).Di Indonesia hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2018 prevalensi stunting sebesar 30,8 %, hal ini berarti Indonesia mengalami stunting sekitar 8,9 juta anak. Pencegahan terhadap stunting dapat dilakukan dengan memberikan intervensi gizi secara spesifik terhadap anak terutama dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) dimana terjadinya masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang.Faktor yang mempengaruhi salah satunya rendahnya asupan makanan dan praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak adekuat dimana ibu memiliki peran penting terhadap asupan melalui pola pemberian makan, Responsive Feeding (RF) dan massage stimulasi untuk penambah nafsu makan dan. Salah satu cara untuk meningkatkan penerimaan makanan menggunakan therapy stimulasi dalam bentuk pijatan yang bisa dilakukan oleh keluarga. Tujuan Penelitian: untuk menganalisa Stunting 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan Prilaku Responsive Feeding dan Pemberian Therapy Massage Eating Difficulties Untuk Menunjang Tumbuh Kembang.Metode: Jenis penelitian observasional kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional, kualitatif, untuk memperjelas perilaku responsive feeding pada balita stunting, sedangkan dalam pemberian terapi massage penambah nafsu makan menggunakan penelitian eksperimental.Hasil :Faktor memiliki korelasi yang signifikan terhadap terjadinya stunting adalah umur ibu saat hamil,ANC, dan pemberiantablet Fe (p < 0,05). Perilaku responsive feeding menunjukkan belum ada responden yang melakukan responsive feeding secara menyeluruh baik dalam hal menyuapi langsung atau membantu anak makan sendiri, respon terhadap anak lapar dan kenyang, sabar dalam memberikan makan, respon kontak saat memberikan makan, meminimalisir distraksi makan, dan respon penolakan anak. Pemberian therapy massage eating difficulties pada balita stunting berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan masalah makan pada balita (p=0,002).Kesimpulan :  Ada korelasi yang signifikan terjadinya stunting dengan prilaku responsive feeding dan massage eating difficult Kata Kunci: Stunting, Responsive Feeding, Therapy Massage Eating Difficulties
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GANGGUAN TUMBUH KEMBANG PADA ANAK USIA 24 – 60 BULAN DI KLINIK TUMBUH KEMBANG YAMET SURAKARTA Puteri, Ian Rossalia Pradita; Arintasari, Farida
Intan Husada : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol. 6 No. 1 (2018): Vol 6. No.1 Januari 2018
Publisher : Politeknik Insan Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuh kembang dikatakan terlambat jika seorang anak tidak mencapai tahap pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan pada umur yang semestinya, dengan ketertinggalan dalam populasi yang normal (Sacker, 2011). Masa lima tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan, maka masa balita disebut sebagai “masa keemasan” (golden period), “jendela kesempatan” (window of opportunity) dan “masa kritis” (critical period) (Departemen Kesehatan RI, 2012). Tujuan Penelitian: Faktor Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Gangguan Tumbuh Kembang pada Anak Usia 24 – 60 bulan di Klinik Tumbuh Kembang Yamet Surakarta Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode analitik correlational dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua yang memiliki anak 24 – 60 bulan bulan di Klinik Tumbuh Kembang Yamet Surakarta yaitu sebanyak 40 Anak Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan total sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 Anak.Uji hipotesis yang digunakan adalah chi-square. Hasil: hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar Responden berumur 20-40 tahun sebanyak 24 Responden (60%), Responden telah tamat Diploma VI/S1 sebanyak 27 bidan (68%), Berdasarkan Jenis Kelamin Laki – laki sebesar 28 orang (70%), Faktor Eksterna yang mempengaruhi gangguan tumbuh kembang sebanyak 33 Responden (83%) sebanyak 23 Responden (58%) Mengalami gangguan pada factor Postnatal, dan Yang mengalami Gangguan tumbuh kembang sebanyak 36 responden (60%).Dan dari Uji Hipotesis dengan regresi logistic diperoleh OR Faktor Eksternal 2,108, dan OR Faktor Post Natal 1,225, dengan confendence Interval 95% dengan Faktor Eksternal batas bawah 1,189 batas atas 3,737, sedangkan untuk Faktor Postnatal batas bawah 1,050 dan batas bawah 1,430, nilai N Observasi 40 orang, nilai -2 log likehood 32,356, dan nilai Negelkerker R2 dengan nilai 56,2%, dengan taraf signifikansi untuk Faktor Eksternal 0,005<0,05 dan untuk Faktor Postnatal 0,016<0,05. Kata Kunci: Faktor Eksternal, Faktor Post Natal,Tumbuh Kembang
The Effect of Baby Gym Complementary Therapy on Motor Skills in Improving Baby Development Arintasari, Farida; Ian Rossalia Pradita Puteri
Media Informasi Vol. 21 No. 01 (2025): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/mijournal.v21i01.791

Abstract

Background: Globally, around 20-40% of infants aged 0-2 years experience problems with delays in the development process. The period from infancy to age 2 years is called the 1000 days of birth. This period is the shortest of all developmental periods, so it is essential to meet optimal nutrition and stimulus because, after this period is passed, the brain will grow slowly and can never grow quickly again. Baby massages can help children get the appropriate stimulation for infant development. Baby massage is one of the traditions inherited from our ancestors, and it has proven its efficacy in stimulating development. Along with technological development, baby massage has been modified to a more modern pattern until it became a new trend known as the baby gym. This study aims to determine the effectiveness of complementary baby gym therapy on motor skills in improving development. The research method used is quantitative research with a quasy experiment design with pre-test and post-test control group design. The sample in this study were toddlers aged 5-12 months. The sample size was 60 toddlers, 30 in the experimental and 30 in the control group. The sampling technique was purposive sampling. Results: After complementary baby gym therapy was carried out on babies, the baby's motor development was normal for 86.67% of respondents. The t-test results showed p = 0.012 (<0.05), meaning that there is a significant influence between the baby gym and the development of motor babies. Conclusion: Complementary therapy in the baby gym has an effect on motor skills and on improving development.