Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGUATAN FUNGSI PERPUSTAKAAN DAERAH MELALUI PROGRAM STAKE HOALDER MEETING DI PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR Amin Saleh; Mintasrihardi Mintasrihardi
JURNAL ILMU PERPUSTAKAAN (JIPER) Vol 1, No 2 (2019): November
Publisher : Unversitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jiper.v1i2.1743

Abstract

Penelitian tentang penguatas fungsi perpustakaan daerah melalui stake hoalder meeting lintas organisasi perangkat daerah di Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Lombok Timur sebagai upaya perpustakaan untuk menguatkan keterlibatan semua kalangan mulai dari aparat pemerintah sampai pada pelibatan masyarakat seihngga perpustakaan menjadi bagian dari tempat berkegiatan semua lapisan masyarakat. Kemudian masalah ditekankan pada kontribusi organisasi pemerintah dan swasta sebagai dampak dari  stakeholdear meeting yang di canangkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Timur Adapun tujuannya adalah mengetahui kontribusi organisasi perangkat daerah dan pihak swasta dalam mengembangkan fungsi perpustakaan bidang anggaran, program perpustakaan dan pengembangan sumber daya manusiaAdapun metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tekhnik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi.Kemudian hasil penelitian menunjukkan organisasi perangkat daerah yang terlibat secara langsung yaitu Dinas PMD, BAPEDA, DISKOMINFO, DISPRINDAG, DAN Dinas Pemberdayaan Wanita dan Keluarga Berencana dengan melakukan penguatan pada bidang anggaran perpustakaan, peraturan derah tentang perpustakaan dan menghadirkan pihak swasta dalam mendukung kegiatan perpustakaan sehingga berdampak pada penguatan jaringan listrik,  dan jaringan internet.
PENGUATAN KONSEP UNTUK WISATA DESA SANGIANG DI KECAMATAN WERA KABUPATEN BIMA Nurhayu Nurhayu; Rahmad Hidayat; Mintasrihardi Mintasrihardi; Muhammad Aprian Jailani
Jurnal Pengabdian Publik (JP-Publik) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3, Nomor 2 (2023) DESEMBER
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jp-publik.v3i2.21131

Abstract

Pariwisata adalah salah satu yang menjadi prioritas untuk dikembangkan olehpemerintah. Potensi itu tentu bisa menjadikan daerah tersebut sebagai destinasiwisata baru. Seharusnya pariwisata menjadi sektor penting dalam memberikan pemasukan serta sumber pendapat bagi pembangunan disuatu daerah. Titiksentral antara pariwisata dengan pembangunan berkelanjutan adalah ekowisata.Salah satu daerah yang memiliki potensi adalah desa sangiang yang ada dikabupaten Bima. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pengumpulan data, analisisdata serta pendeskripsian data. Terdapat empat aspek potensi pariwisata yangdidapati seperti Atraksi yang meliputi gunung berapi sangiang, karombo wera (gua peninggalan sejarah), penenun tradisional, festival perahu, makanan khas,dan lain sebagainya. Aksesbilitas seperti akses jalan yang sudah cukup baiksampai ke lokasi. Amenitas seperti adanya pedagang dan toko/kios yang menjualkebutuhan minimal wisatawan. Anciliriatas yaitu adanya kelompok sadar wisata(Pokdarwis). Peran masyarakat ditunjukan seperti menerima dengan baikkedatangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Alternatif konsep yangbisa dikembangkan lagi seperti (1) Pengemasan Potensi Wisata, (2) Peningkatkansarana dan prasarana, (3) Peningkatan tatakelola manajemen pariwsata, (4)Peningkatan promosi
KEBIJAKAN PENGATURAN MUSIK KECIMOL DALAM BUDAYA SASAK NYONGKOLAN DI KECAMATAN JONGGAT TAHUN 2021 (STUDI KASUS DI DESA SUKARARA) Rahmad Hidayat; Mustamin Mustamin; Mintasrihardi Mintasrihardi; Asfarony Hendra Nazwin
Jurnal Ilmiah Tata Sejuta STIA Mataram Vol 9 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Tata Sejuta STIA Mataram
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32666/tatasejuta.v9i1.444

Abstract

The phenomenon of the Nyongkolan procession with kecimol music has become a trend and even a habit in all areas of the island of Lombok, there was no Jonggat sub-district before. The nature of the people who are less able to filter out foreign culture or new ideas that can damage the original Sasak customs, including considering kecimol music as the original Sasak culture. Seeing the various negative impacts of this, the Jonggat sub-district government in this case Sukarara village made a policy of regulating kecimol music in Nyongkolan and it can be said to be successful. The regulation of the use of kecimol music in the Sasak Nyongkolan cultural series, Sukarara village, Jonggat sub-district is a form of government effort located at the sub-district to village level to restore the authenticity of the Sasak culture in a series of traditional wedding ceremony processions. Nyongkolan should be regulated by mutual agreement between the village heads in the Jonggat sub-district. From this phenomenon, the research team is interested in knowing the function of kecimol music regulation and knowing the challenges related to kecimol music regulation policy. This research is a descriptive type with a qualitative approach. Collecting data by in-depth interviews, observations, and technical documentation. Interactive data model analysis, where data collection until the research ends simultaneously and continuously with interpretation and data reference referring to theoretical references according to research problems. The results showed that Nyongkolan which is a tradition of the people of Lombok, especially in Sukarara Village, Kec. Jonggat Kab. Central Lombok where there is no significant ban on the use of kecimol music because there are no clear regulations. Village and sub-district governments can only encourage the use of traditional musical instruments and do not cross state roads. The Covid-19 moment also influenced the Nyongkolan setting when this research was conducted.