Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL KESEHATAN PERINTIS

Kombinasi Ekstrak Lidah Buaya dengan Antibiotik Ciprofloxacin dapat Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Putra Rahmadea Utami; Sri Indrayati; Wika Satya
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 9 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v9i1.772

Abstract

Diare salah satu penyakit disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Semua golongan umur dapat menderita penyakit diare mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. kombinasi yang digunakan beserta bahan alam dengan antibiotik menjadi salah satu pengobatan terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat kombinasi fraksi etil asetat lidah buaya dengan antibiotik Ciprofloxacin terhadap bakteri dari infeksi pencernaan. Metode penelitian menggunakan Ekserimental laboratory dengan metode difusi Kirby Bauer untuk melihat zona hambat dan analisa data secara komputerisasi. Hasil penelitian kombinasi fraksi etil asetat lidah buaya dengan antibiotik Ciprofloxacin menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna pada masing-masing konsentrasi 75, 150, 300 dan 600 mg/ml pada bakteri Escherichia coli menghasilkan zona hambat secara beturut-turut 12,0 mm, 13,0 mm, 13,7 mm, 15,7 mm. Kombinasi fraksi etil asetat lidah buaya dengan antibiotik Ciprofloxacin menghasilkan daya hambat hampir sama dengan bahan tunggal. Hasil uji statistik dari masing-masing bakteri menunjukan (P < 0.05) berarti ada pengaruh kombinasi ekstrak lidah buaya dengan antibiotik Ciprofloxacin terhadap bakteri Escherichia coli. Dapat disimpukan kombinasi ekstrak lidah buaya dengan antibiotik Ciprofloxacin mampu menghambat petumbuhan pada bakteri.
GAMBARAN JAMUR Candida sp. DALAM URINE PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RSUD dr. RASIDIN PADANG Sri Indrayati; Suraini Suraini; Melda Afriani
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 5 No 1 (2018): JUNI 2018 : Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis'S Health Journal)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.009 KB) | DOI: 10.33653/jkp.v5i1.93

Abstract

The women with Diabetes Mellitus have extra sugar in the vaginal wall, thus providing food for the growth of fungi such as Candida albicans. Candida is a normal and widely distributed flora in the body especially in the digestive tract mucous membranes (24%) and vaginal mucosa (5-11%). This fungus is opportunistic and some Candida species can cause infections such as Candida tropicalis, Candida glablata and Candida albicans as species that most often cause infection. The disease caused by this fungus is known as Candidiasis and often occurs in the oropharynx and vagina. One of the predisposing factors that can change the saprophytic nature of Candida sp. being a pathogen is Diabetes Mellitus. This study aims to determine the description of Candida sp. in the urine of Diabetes Mellitus patients at the Regional General Hospital Dr. Rasidin Padang in February-June 2018. This study uses descriptive methods. With a population of all urine patients with Diabetes Mellitus patients obtained a sample of 22 patients based on the criteria treated at the Regional General Hospital (RSUD) dr. Rasidin Padang in March-May 2018. Examination of specimens is done macroscopically using PDA media and microscopically with gram staining. The results showed that of the 22 urine samples examined, there were 3 positive samples containing Candida sp fungi with a percentage of 13.64%
GAMBARAN Candida albicans PADA BAK PENAMPUNG AIR DI TOILET SDN 17 BATU BANYAK KABUPATEN SOLOK Sri Indrayati; Reszki Intan Sari
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 5 No 2 (2018): DESEMBER 2018 : Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis's Health Journal)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.86 KB) | DOI: 10.33653/jkp.v5i2.148

Abstract

Air merupakan bahan yang paling penting untuk kebutuhan manusia. Kegunaan air misalnya untuk keperluan masak, mencuci, mandi, dan lain lain. Tetapi selain bermanfaat ternyata air juga mempunyai peranan dalam penularan penyakit salah satunya adalah yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Jamur Candida albicans adalah organisme komensal dan flora normal yang berperan dalam keseimbangan mikroorganisme dalam tubuh kita, serta ditemukan dalam traktus intestinal, kulit, dan traktus genito urinaria. Keseimbangan flora normal tergantung dari berbagai faktor predisposisi yang dapat meningkatkan jumlah populasi, sehingga dapat menimbulkan penyakit yang disebut Kandidiasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Candida albicans pada bak penampung air toilet di SDN 17 Batu Banyak Kabupaten Solok. Penelitian ini telah dilakukan pada Bulan Februari- Juni 2018 di Balai Laboratorium Kesehatan Padang. Penelitian ini dilakukan terhadap 3 bak penampung air di Toilet SDN 17 Batu Banyak Kabupaten Solok. Penelitian ini menggunakan metode bersifat deksriptif. Pemeriksaan dan pengamatan dilakukan secara makroskopis menggunakan media Potato Dextrose Agar dan dilanjutkan dengan pengamatan secara mikroskopis menggunakan pewarnaan gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel air bak penampung yang diperiksa didapatkan hasil negatif mengandung jamur Candida albicans.
Uji Efektifitas Larutan Bawang Putih (Allium sativum) terhadap pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Epidermidis Sri Indrayati; Pivin Eno Diana
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 7 No 1 (2020): JUNI 2020 : Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis's Health Journal)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.086 KB) | DOI: 10.33653/jkp.v7i1.403

Abstract

Bawang putih (Allium sativum) merupakan jenis tanaman umbi lapis yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Umumnya bawang putih dimanfaatkan sebagai bumbu dalam berbagai jenis masakan, selain itu bawang putih memiliki kandungan diallildisulfida (DADS) dan dialliltrisulfida (DATS) yang berperan sebagai anti bakteri. Acneovulgarisoatau yang lebih dikenal denganonama jerawat merupakan penyakit kulitoobstruktif danoinflamatif yangodisebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Tujuanodari penelitian ini untuk mengujiodaya hambat larutan bawang putihoterhadap pertumbuhan bakteri S. epidermidis serta untuk mengetahuiokonsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasilopenelitian ini diharapkan dapatomenjadi sumber informasiobagi masyarakat mengenaiomanfaat larutan bawang putihodalam menghambatopertumbuhan S. epidermidis sehingga dapat menjadi alternatif dalam pengobatan jerawat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode disk diffusion. Penelitian ini dilakukan sebanyak enam kali pengulangan. Kontrolopositif menggunakan antibioticoamoxicillin danocontrol negatifnyaoadalah aquadestosteril sedangkan konsentrasiolarutan bawangoputih yang digunakanoadalaho10%, 40%, 70%, 100% . Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan bawang putih memilikiodaya hambat terhadapopertumbuhan bakteri S.epidermidis serta konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. epidermidis adalah pada konsentrasi 70%. Hasil penelitian iniodapat menjadi acuan bahwa larutan bawang putih dapat dijadikan sebagai penghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis sehingga dapat menjadi alternatif dalam pengobatan, salahsatunya dalam pengobatan jerawat.
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Mikroskopis BTA Pada Pasien TB Paru Sebelum dan Sesudah Pengobatan Fixed-Dose Combination (FDC) Fase Intensif Chairani Chairani; Putra Rahmadea Utami; Sri Indrayati; Almurdi Almurdi; Rahmayana Rahmayana
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 10 No 1 (2023): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v10i1.969

Abstract

Penegakan diagnosis tuberkulosis salah satunya dilakukan dengan uji mikroskopik BTA. Obat anti Tuberkolusis Fixed-Dose Combination (OAT-FDC) diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis dalam jumlah yang cukup dan dosis yang tepat. Perbedaan BTA sebelum dan sesudah pengobatan sangatlah penting untuk menentukan angka keberhasilan pengobatan TB. Perubahan BTA dari positif sebelum pengobatan ke negatif setelah pengobatan fase intensif menunjukkan angka konversi BTA yang merupakan salah satu indikator untuk mengetahui keberhasilan penanggulangan TB. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam pada pasien Tuberkolusis paru sebelum dan sesudah pengobatan FDC fase intensif di Puskesmas Bandar Seikijang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang terdiagnosa TB Paru pada tahun 2021- 2022 di Puskesmas Bandar Seikijang. Metode penelitian dengan pendekatan cross sectional study. Perbedaan hasil pemeriksaan mikroskopis BTA pada pasien TB Paru, diperoleh sebelum pengobatan 100 % pasien positif setelah pengobatan 98 % negatif dengan jumlah dari 35 pasien , 31 negatif , 2 scanty dan 1 positif 1 Kesimpulan : ada perbedaan hasil pemeriksaan BTA sebelum pengobatan FDC intensif dengan sesudah pengobatan Fixed Dose Combination intesif.