Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

KONSEP DARMA DALAM BUDAYA JAWA TINJAUAN PADA LAKON WAHYU PANCADARMA - Darmoko
JURNAL IKADBUDI Vol 3, No 10 (2014): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v3i10.12037

Abstract

Darma merupakan tugas suci yang berasal dari Tuhan diberikan kepada manusia dalam rangka suatu misi untuk mewujudkan ketentraman dunia. Darma dilakukan oleh manusia secara terus menerus (berkelanjutan) hingga manusia meninggal dunia. Darma seorang manusia yang diterima oleh Tuhan, akan membuahkan hasil dan manusia tersebut diberi anugerah Tuhan (wahyu). Wahyu diberikan kepada manusia yang terpilih dan terpercaya untuk mengemban sebuah misi di dunia. Manusia senantiasa menjalankan darma tersebut. Manusia menjalankan darma tidak semata-mata bertujuan untuk mendapatkan wahyu. Manusia setelah manerima wahyu maka ia pun harus melaksanakan darma selanjutnya, yaitu dalam misi menegakkan kebenaran, keutamaan, dan keadilan yang berorientasi kepada nilai-nilai ketuhanan. Darma sering dipertentangkan dengan adarma, artinya tugas suci dari Tuhan (jalan keutamaan) mendapatkan ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan, dari jalan kejahatan (keangkaramurkaan). Manusia secara eksplisit dipercaya untuk menjalankan darma seperti terlukis dalam lakon Wahyu Pancadarma yang disimbolkan dengan tokoh Puntadewa atau Yudhistira. Darma (tugas suci) itu diimplementasikan oleh manusia berdasarkan status dan peran yang didapatkan oleh manusia, seperti: darma raja, darma ksatria, darma pendeta (brahmana), dan sebagainya. Darma dapat diuraikan lebih rinci lagi berdasarkan peran yang diemban masing-masing, menyangkut tuturkata, sikap, perilaku manusia yang harus bermuara pada prinsip-prinsip kejujuran, kedisiplinan, keberanian, kebenaran, keutamaan, dan keadilan.  Wahyu Pancadarma merupakan salah satu teks di antara teks-teks lakon wayang yang memuat konsepsi darma. Darma (tugas suci) berorientasi pada nlai-nilai ketuhanan. Ketulusan, kesabaran, keteguhan hati orang Jawa digambarkan di dalam teks ini melalui pemeranan tokoh Puntadewa (Pandawa yang pertama). Pembahasan terhadap teks lakon Wahyu Pancadarma menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan objektif yang menekankan pada karya sastra itu sendiri. Aspek-aspek yang ada di dalam teks dihubungkan dengan aspek-aspek di luar teks (konteks). Hasil pembahasan ini menunjukkan bahwa darma (tugas suci) berhubungan dengan wahyu sebagai anugerah Tuhan yang mengandung misi untuk menegakkan keutamaan, kebenaran, dan keadilan sehingga tercipta tatanan dunia yang aman, damai, dan selamat sejahtera.   Kata kunci: manusia, darma, wahyu, selamat, duniaAbstractDarma is a pure duty from God given to men to make peace in world. Men do the Darma continuously until they died. God will give wahyu if the Darma has been accepted. Besides, men have to do he Darma to fight the truth, the superiority, and justice. Man, explicitly were symbolized by Puntadewa or Yudistira in Wahyu Pancadarma story in Javanese puppet story. The Darma is implemented by status and character, like Darma as a king, Darma as a knight, Darma as Brahmin. Darma can be categorized by speech, attitude, and character in justice, truth, courage and superiority.  The data were analyzed using descriptive method with an objective approachment to the Wahyu Pancadarma literature. The aspects in the text are connected to the aspect outside the text (context). The data result shows that the Darma are related to wahyu as the given from God have a mission to fight the truth, superiority, and justice so the life will be peaceful and safe. Keywords: man, darma, wahyu
WAYANG KULIT PURWA LAKON RAMA TAMBAK: SANGGIT DAN WACANA KEKUASAAN SOEHARTO Darmoko Darmoko
JURNAL IKADBUDI Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v7i1.24335

Abstract

Wayang kulit purwa dari masa ke masa dipergunakan oleh kekuasaan sebagai media propaganda politik. Simbol-simbol dalam wayang kulit purwa dimanfaatkan oleh penguasa untuk mempengaruhi masyarakat agar mengikuti  nilai-nilai yang telah dirancang dalam sebuah pertunjukan wayang kulit purwa. Ketika presiden Soeharto berkuasa wacana kekuasaan tergambar dan berkelindan di dalam pergelaran. Pergelaran wayang kulit purwa lakon Rama Tambak, tidak terlepas dari wacana kekuasaan Soeharto. Pada bulan Februari 1998 lakon tersebut dipergelarkan di berbagai kota di Jawa untuk membendung marabahaya yang menimpa bangsa Indonesia. Permasalahan dalam paper ini dapat dirumuskan: bagaimana wacana kekuasaan Soeharto beroperasi dan berkelindan di dalam lakon Rama Tambak? Untuk menjawab permasalahan tersebut dipergunakan konsep tentang wacana kekuasaan - pengetahuan dari Foucault dan Gagasan Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa dari Benedict Anderson, serta implementasi metodologi kualitatif.  Pergelaran wayang kulit purwa lakon Rama Tambak oleh Ki Manteb Soedarsono di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada 13 Februari 1998 dipergunakan sebagai data kajian. Paper ini berasumsi bahwa wacana kekuasaan beroperasi dan berkelindan di dalam wayang kulit purwa untuk mempengaruhi masyarakat agar dapat turut serta menghentikan malapetaka nasional. Wacana kekuasaan tidak dapat beroperasi secara efektif karena krisis di segala bidang terus berlangsung dan Soeharto dituntut rakyat untuk turun dari tahta kepresidenan.     Kata kunci: wacana kekuasaan, pengetahuan, ruwat, sanggit, wayang.
SPIRITUAL KNIGHT MISSION IN NOVEL ASMARA DJIBRAT LUDIRA Ibrahim,, Fahmi Iqbal; Darmoko, Darmoko
International Review of Humanities Studies Vol. 5, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One result of culture is literary work, but broadly speaking literature is the work of individuals, only the object delivered will not be separated from the culture and social life of the community. The close relationship between literature and culture can produce literary works that have a function as cultural preservation. A complex culture can be reflected in a literary work. If traced carefully, it can be known that some authors have included a tradition and culture of an area in their literary work. One type of imaginary story is a novel. A novel is a term for a long, imaginary literary work that presents characters and displays a series of events and settings in a structured manner. This study uses the novel Asmara Djibrat Ludira (Furthermore abbreviated ADL) as a data source. The theory used for structural analysis in the form of figures, characterizations, plot, background, themes, and message in ADL novels is a structural theory from Panuti Sudjiman a book called “Memahami Cerita Rekaan” (Understanding Fiction Stories), while for analyzing darma (spiritual mission) in Javanese morality context, researcher using ethical theory from Franz Magnis Suseno and descriptive - qualitative method from Teeuw and John W. Creswell. The conclusion of this study shows that moral message contained in it regarding the role of soldiers who must always hold fast to the principles of spiritual mission and the spiritual mission (darma) of the main character's knights is done by fighting the invaders and saving his lover.
YITNA YUWANA LENA KENA IN GOGROKE RERONCEN KEMBANG GARING’S NOVEL BY TULUS SETIYADI Mayanfauli, Arauni; Darmoko, Darmoko
International Review of Humanities Studies Vol. 4, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Language expressions in Javanese culture that contain a warning to someone at the moment and will do an activity or work are often formulated with the word structure: yitna yuwana lena kena. The idea in the phrase is usually related to ethical values (moral philosophy) how one must be careful in speaking, behaving, and acting so that someone gets the safety of life in the world. Conversely, if someone is not careful in speaking, acting, and acting undoubtedly will get problems in his life. Ethical values in this novel relate to moral teachings to a woman so that she always has virtues, such as carrying herself well, must be able to hold back the passions, predict and consider things that are and will be faced, which are good and not good, and not permitted excessive behavior. Objective approach, qualitative descriptive research method and Javanese ethical theoretical conceptual framework from Franz Magnis Suseno is used to examine the text in the yitna yuwana lena kena language expression in the Gogroke Reroncen Kembang Garing’s novel. An ethical conceptual framework is used to assess the karma experienced by the main character. The assumption in this study says that the words, attitudes, and actions of someone who is careless and despicable will have an impact on suffering and misery.
COMPARISON OF THE RELIGIOUS MEANING OF WATER FESTIVALS IN THAILAND AND LAOS Lin, Tang; Darmoko, Darmoko
International Review of Humanities Studies Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Both Thailand and Laos are predominantly Buddhist countries, following Theravada Buddhism. Influenced by Indian Buddhism, both countries celebrate several similar festivals, such as Songkran, Makha Bucha, Visakha Bucha, and Vixakha Souvana. Among all these celebrations, Songkran is considered the most lively, and this is the focus of this article. The article compares and analyzes the culture of Songkran in Laos and Thailand, including the festival's themes, cultural significance, and activities, to highlight the similarities and differences between the two. The cultural significance found in the Water Festival primarily stems from Indian cultural influences, while the differences in meaning are attributed to the adoption of Hindu culture after it entered Thailand and Laos. In the process of integration with local culture, the festival forms a unique cultural significance. By comparing the same festival, this article reveals differences and similarities in their cultural meanings, enhancing understanding of both cultures and contributing to friendly cultural exchange between the two countries.
PEMIKIRAN MITIS AKULTURATIF DALAM TEKS KI AGENG GRIBIG Darmoko, Darmoko
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 1 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v1i2.402

Abstract

Setelah Majapahit runtuh agama Islam masuk ke tanah Jawa melalui berbagai wilayah pesisir utara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Agama Islam yang disebarkan oleh raja dan wali lalu menjadi  pilar  bagi   kraton dan kadipaten berdiri di wilayah itu.  Para wali tersebar di berbagai wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.  Ki Ageng Gribig merupakan salah satu wali yang populer di Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah.  Menurut sejarah, beliau  keturunan  ke-5 Prabu Brawijaya, raja Majapahit dengan putri Cempa. P3KAG (Pengelola Pelestarian Peninggalan Ki Ageng Gribig) telah menulis tentang riwayat Ki Ageng Gribig ini. Bagaimana perjalanan Ki Ageng Gribig dari wilayah Tuban (Jawa Timur) ke Jatinom, Klaten (Jawa Tengah) dan bagaimana kiprah beliau di tempat yang baru itu, sebagai diskusi yang menarik. Paper ini membahas Integrasi Islam – Jawa melalui kajian teks Ki Ageng Gribig yang diterbitkan oleh P3KAG. Ki Ageng Gribig sebagai salah satu wali Allah yang sangat disucikan oleh masyarakat Jawa karena giat menyiarkan agama Islam dengan memadukan unsur-unsur budaya lokal Jawa. Mitos Ki Ageng Gribig menjadi arah dan pedoman bagi masyarakat pendukungnya. Metodologi deskriptif kualitatif dan kepustakaan dipergunakan untuk menguraikan akulturasi dan mitos orang suci. Teks Ki Ageng Gribig dibahas sedetail mungkin sesuai apa adanya dan didukung dengan kepustakaan yang memadai. Hasil pembahasan mengasumsikan bahwa kebudayaan Jawa dapat menerima dan mengolah masuknya Islam untuk disesuaikan dengan kepribadian setempat. Budaya religi yang telah berkembang lama tentang penghormatan kepada dewa, roh, atau sukma diakulturasikan dengan Islam. Kata kunci: Mitis, Jawa, Islam, wali, akulturasi
KAIDAH PENANDAAN DALAM WANGSALAN TEMBANG Darmoko, Darmoko
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v2i1.650

Abstract

Wangsalan merupakan konstruksi bahasa Jawa  yang mengandung unsur teka-teki dan jawabannya (tebakannya) secara tersembunyi di dalam konstruksi bahasa tersebut. Ekspresi wangsalan dapat dipandang sebagai upaya penempaan orang Jawa dalam memahami relasi kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Upaya untuk memahami relasi kehidupan sebagai pencerdasan manusia Jawa untuk senantiasa mencari eksistensi dari kehidupan itu sendiri. Bentuk wangsalan bermetrum Pangkur di dalam Serat Rerepen karya KGPAA Mangkunagara IV di Surakarta sebagai data kajian. Persoalan yang muncul bagaimana orang Jawa melatih kecerdasan berfikir melalui wangsalan dalam bentuk tembang sehingga mendapatkan pemaknaan yang utuh dan padu. Pendekatan objektif dari Abram, metode deskriptif kualitatif dari Creswell, konsep etika dari Franz Magnis Suseno, dan Teori tentang tanda dari Chrales Sanders Pierce dipergunakan untuk menjawab persoalan penandaan konstruksi wangsalan tembang ini. Hasil kajian ini mengasumsikan bahwa wangsalan sebagai produk bahasa dan kebudayaan Jawa mengandung strategi pendidikan dan pemelajaran agar masyarakat menjadi cerdas dalam memaknai tanda-tanda simbolik yang terdapat di dalamnya. Kata-kata Kunci: kaidah, tanda, wangsalan, bahasa, Jawa.
MORALITAS PEMIMPIN DALAM CARIYOS RAJA SIYEM Kusumawardhini, Dwinda Ayu; Darmoko, Darmoko
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v2i1.655

Abstract

Dunia kesusasteraan mengenal prosa sebagai salah satu genre sastra di samping genre-genre yang lain. Untuk mempertegas pengertian dan keberadaan genre prosa, sering dipertentangkan dengan genre lainhya. Karya sastra itu sendiri mencakup berbagai karya tulis  dalam bentuk prosa, puisi, dan drama. Karya sastra prosa dalam bentuk naskah dapat dipandang sebagai benda konkrit yang dapat dilihat atau dipegang. Dalam pengertian ini naskah mencakup alat tulis, sampul, aksara, beserta sistem ejaannya, tinta, rubrikasi, iluminasi, hiasan-hiasan yang muncul pada lembar-lembar alat tulis. Naskah prosa yang telah dialihaksarakan menjadi sebuah suntingan teks dapat dijadikan bahan diskusi dari berbagai perspektif.  Penelitian ini menggunakan bahan naskah Cariyos Raja Siyem yang telah dialihaksaranakn dari aksara Jawa ke aksara Latin. Penelitian ini menganalisis unsur-unsur yang turut membentuk keseluruhan karya sastra sehingga diperoleh makna nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.  Nilai-nilai tersebut terumuskan di dalam sebuah moralitas kepemimpinan yang dikemas berdasarkan latar belakang budaya Jawa. Hasil kajian menunjukkan bahwa teks Cariyos Raja Siyem mengandung nilai-nilai moralitas keutamaan dan ekspresi simbolik, yaitu bijaksana dalam sikap dan tindakan, pandai berpidato dan berdiplomasi, rendah hati, ekspresi simbolik kepemimpinan Jawa, dan busana ekspresi simbolik keagungan raja. Kata kunci: sastra, struktur, moral, pemimpin, Jawa.
NILAI SPIRITUAL PENGEMBARAAN PANGERAN WARIHKUSUMA DALAM NOVEL RANGSANG TUBAN KARYA PADMASUSASTRA Darmoko, Darmoko; Putra, Rizki Wahyu
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v2i2.888

Abstract

Pengembaraan merupakan proses untuk menjalankan laku dalam tradisi Jawa berupa proses pengemblengandiri dengan tujuan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup(ngudi kasampurnan).Nilai-nilai spiritualitas pengembaraan tertanam dalam masyarakat Jawa sebagaimana digambarkan dalam karya sastra Jawa. Rangsang Tuban adalah novel Jawa yang mengangkataspek spiritual pengembaraan pangeran Warihksusuma.Penelitian ini menggunakan konsep pengembaraan dan nilai spiritual menurut Niels Mulder. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai spiritual berupa nilai-nilai hidup, magis, dan lelana brata dalam pengembaraan pangeran Warihkusuma. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai spiritual digambarkan melalui penggembaraan tokoh pangeran Warihkusuma dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif dan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa pangeran Warihkusumah merupakan manusia Jawa unik karena mampu menyeimbangkan diri sebagai seorang bangsawan dan rohaniawan dalam menjalankan pengembaraan. Pangeran Warihkusuma merupakan seorang bangsawan dari status sosial tinggi namun ia mampu menguasai diri dan menjadi seorang rohaniawan. Hal ini ditunjukkan dengan kemampunnya menyelaraskan diri dengan hal-hal magis (jagad cilik danjagad gedhe) dan mendapat anugerah Tuhan berupa weca selama masa pengembaraannya. Nilai-nilai hidup, magis, dan lelana brata dalam pengembaraan pangeran Warihkusuma menjadi kunci keberhasilan pengemblengan dirinya untuk mencapai pendewasaan dan kesempurnaan hidup.Kata kunci : pengembaraan, nilai spiritual, Warihkusuma, karya sastra, JawaPengembaraan merupakan proses untuk menjalankan laku dalam tradisi Jawa berupa proses pengemblengandiri dengan tujuan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup(ngudi kasampurnan).Nilai-nilai spiritualitas pengembaraan tertanam dalam masyarakat Jawa sebagaimana digambarkan dalam karya sastra Jawa. Rangsang Tuban adalah novel Jawa yang mengangkataspek spiritual pengembaraan pangeran Warihksusuma.Penelitian ini menggunakan konsep pengembaraan dan nilai spiritual menurut Niels Mulder. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai spiritual berupa nilai-nilai hidup, magis, dan lelana brata dalam pengembaraan pangeran Warihkusuma. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai spiritual digambarkan melalui penggembaraan tokoh pangeran Warihkusuma dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif dan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa pangeran Warihkusumah merupakan manusia Jawa unik karena mampu menyeimbangkan diri sebagai seorang bangsawan dan rohaniawan dalam menjalankan pengembaraan. Pangeran Warihkusuma merupakan seorang bangsawan dari status sosial tinggi namun ia mampu menguasai diri dan menjadi seorang rohaniawan. Hal ini ditunjukkan dengan kemampunnya menyelaraskan diri dengan hal-hal magis (jagad cilik danjagad gedhe) dan mendapat anugerah Tuhan berupa weca selama masa pengembaraannya. Nilai-nilai hidup, magis, dan lelana brata dalam pengembaraan pangeran Warihkusuma menjadi kunci keberhasilan pengemblengan dirinya untuk mencapai pendewasaan dan kesempurnaan hidup. Kata kunci : pengembaraan, nilai spiritual, Warihkusuma, karya sastra, Jawa
Memayu Hayuning Bawana dalam Lakon Canus Dakwa Karya Ki Ditya Aditya Oktaviani, Kinanti; Darmoko, Darmoko
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v3i2.1917

Abstract

Penelitian ini mengkaji memayu hayuning bawana dalam lakon Canus Dakwa karya Ki Ditya Aditya. lakon Canus dakwa yang berisi nilai-nilai kesucian dan kejujuran dipergunakan sebagai sarana memayu hayuning bawana (kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan dunia). Analisi pada tokoh penokohan dan rangkaian peristiwa pada adegan serta nilai-nilai budaya yang terdapat dalam lakon. Data penelitian berupa video yang diunggah di chanel youtube Budaya Maju.  Metode deskriptif kualitatif, pendekatan objektif, kerangka konseptual teoritis tentang etika Jawa dari Franz Magnis Suseno, dan kerangka konseptual teoritis tentang Memayu Hayuning Bawana dari De Jong digunakan dalam peneitia ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesucian dan kejujuran merupakan citra dari tokoh Canus; kesucian dan kejujuran sebagai manifestasi dari kekuasaan; golok cabang, kopyah wareng, dan kendil wesi sebagai manifestasi dari keagungan keraton; dan Canus sebagai manifestasi dari wahyu Sumber Rezeki. Kesucian dan kejujuran  beserta prasarana beserta dan ekspresi simboliknya dipergunakan sebagai sarana untuk memayu hayuning bawana. Hasil penelitian ini untuk memberikan kontribusi keilmuan sastra dan budaya Jawa.