Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Hakikat Kekuasaan Dalam Lakon Wahyu Purba Sejati Karya Ki Seno Nugroho Siti As`ari, Afifudin; Darmoko, Darmoko
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v4i1.2248

Abstract

This paper discusses the essential of power in the wayang play entitled Wahyu Purba Sejati by Ki Seno Nugroho. There are quite a number of wayang kulit purwa plays with the theme of revelation, such as: Wahyu Makutharama, Wahyu Purba Kayun, Wahyu Darma, Wahyu Pancadarma, and others. One of wayang kulit purwa play that is unique in the last decade is Wahyu Purba Sejati play, presented by Ki Seno Nugroho. The power in this play is divided into four, namely Cahyaningrat, Reksakaningrat, Yuwananingrat, and Wimbaningrat. How the essential of power is constructed in the play Wahyu Purba Sejati by Ki Seno Nugroho is the main problem in this research. Creswell's qualitative method and Benedict Anderson's theory of power are used to analyze this issue of power. The study resulted in the finding that the concept of power in the play Wahyu Purba Sejati essentially refers to the gift of God's supernatural power given to humans who like to do inner work in a quiet place in their orientation to create world peace. Power is knowledge that contains subtleties, achieved through athe process of implementing self-control which functions to maintain world harmony by eradicating chaos, injustice and unrighteousness, in order to create a safe, peaceful, prosperous life. This study concludes that power is cosmic and magical (supernatural) which is represented by the acquisition of revelation as a manifestation of the achievement of certain social strata (wahyu kraton, wahyu patih, wahyu wahdat, and wahyu induk). Power is not only a tool that has the potential to be destructive, but it can also potentially be a means to meddle hayuningbawana (seek world peace).
Refleksi Simbolis Keangkaramurkaan dan Keutamaan dalam Lakon Begawan Lomana Mertobat Fakih Tri Sera Fil Ardhi; Darmoko, Darmoko
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 6 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v6i1.5070

Abstract

Isu yang menjadi fokus penelitian adalah bagaimana wayang kulit purwa digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan sosial dan kritik terhadap masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memahami peran penting wayang kulit purwa dalam komunikasi sosial di masyarakat Jawa, khususnya melalui analisis lakon BLM. Penelitian ini menggunakan rekaman pertunjukan wayang kulit purwa dari YouTube Ki Warseno Slank (https://www.youtube.com/watch?v=xDOmr37W1Dw&t=679s). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam lakon tersebut digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan sosial dan kritik terhadap masyarakat. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan mengacu pada teori simbol sebagai manifestasi eksternal BLM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran tokoh Begawan Lomana dalam lakon BLM menjadi simbol pemberontakan yang mengganggu tatanan sosial. Namun, melalui etika “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” yang dijalankan oleh Kyai Semar, sifat asli dan niat buruk tokoh Begawan Lomana terbongkar. Pendekatan sosiologi sastra dan teori simbol digunakan untuk menganalisis penelitian ini, keseluruhan penelitian dapat disimpulkan bahwa lakon BLM secara efektif mengkomunikasikan kritik sosial melalui pementasan wayang kulit purwa. Melalui pemahaman terhadap konsep ini, kita dapat lebih memahami cara unik dan kompleks wayang kulit purwa digunakan sebagai media komunikasi dalam budaya Jawa.
KONSEP MANUNGGALING KAWULA GUSTI DALAM LIRIK LAGU SUGIH TANPA BANDHA KARYA SUDJIWO TEJO Naufal, Muhammad Feraldy; Darmoko, Darmoko
Multikultura Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manunggaling kawula Gusti adalah sebuah konsep dalam budaya Jawa yang diajarkan Syekh Siti Jenar, bahwa sejatinya Tuhan itu ada dalam diri manusia. Konsep ini menggambarkan berpadunya kawula (manusia) dengan Gusti (Tuhan). Sugih tanpa bandha adalah pemikiran Raden Mas Panji Sosrokartono, yang kemudian disajikan dan dipopulerkan melalui sebuah tembang oleh Sudjiwo Tejo. Artikel ini mengkaji konsep manunggaling kawula Gusti dalam lirik lagu tersebut. Penelitian dilakukan dengan analisis interpretatif pada lirik lagu dan dalam kerangka konsep etika (filsafat moral) dari Franz Magnis Suseno. Hasil pembahasan dapat dirumuskan bahwa syair lagu Sugih Tanpa Bandha memiliki keterkaitan dengan tahapan-tahapan untuk mencapai kemanunggalan (berpadunya pribadi manusia dengan Tuhan). Adapun temuan yang dapat disajikan yaitu bahwa konsep manunggaling kawula Gusti terjabarkan di dalam litik lagu melalui sebuah penyusunan larik-demi larik ungkapan bahasa yang mengungkapkan relasi antara manusia dan Tuhan. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang hidup tentram dengan tanpa konflik dalam relasi antara manusia dan Tuhan.
KARMAPHALA DALAM LAKON SEMAR LAHIR KARYA BIMA SETYA AJI Rahmadhika, Shintania; Darmoko, Darmoko
Multikultura Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang karmaphala yang terkandung dalam lakon Semar Lahir. Lakon Semar Lahir yang dibawakan oleh Ki Dalang Bima Setya Aji memiliki konsep ajaran karmaphala sebagai salah satu hasil pemikiran Jawa yang menjadi dasar dalam bertingkah laku pada kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian terhadap lakon ini bertujuan untuk menguraikan konsep karmaphala melalui citra, magisitas, mitos, dan simbol dari tokoh Semar. Saratnya nilai filosofis yang interpretatif menjadi pertimbangan dan salah satu masalah dalam melakukan penelitian ini. Uraian terhadap konsep karmaphala menjadi tujuan penelitian. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam memudahkan pengumpulan data dan mendeskripsikan tulisan dengan jelas serta terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Semar memiliki citra dan simbol bagi konsep karmaphala dan dapat dinyatakan bahwa lakon ini sangat berpengaruh pada budaya hidup orang Jawa, yang selalu berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah supaya selalu aman dan selaras dalam menjalani hidup. Dengan demikian bisa mewujudkan karmaphala yang sesuai dengan apa yang telah dilakukan semasa hidup.
PRINSIP HORMAT DAN TANGGAP ING SASMITA DALAM CERKAK MUNGKUR KABEH Amrizaard, Brillian; Darmoko, Darmoko
Multikultura Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menghormati dan menghargai orang tua adalah sebuah sikap berbakti dari anak dan juga tanda bahwa seseorang memahami tata krama. Penelitian mengenai prinsip hormat dan tanggap ing sasmita ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan yang obyektif. Teori yang menjadi landasan berpikir adalah teori Hermeneutik dari Paul Ricoeur yang telah dirumuskan kembali oleh Eugenius Sumaryono (1999) sebagai salah satu cara menginterpretasikan sesuatu. Hasil dari penelitian, ada beberapa poin yang dapat digunakan sebagai acuan sikap yang baik dengan menjunjung prinsip hormat dan juga terdapat sikap tanggap ing sasmita sebagai dasar untuk bersikap atau memperlakukan orang tua dengan konotasi positif. Tindakan yang diambil oleh Lik Jiyem dan tokoh-tokoh lainnya terhadap tokoh Ibu dan Bapak adalah contoh nyata sebagai tindakan yang menjunjung prinsip hormat dan tanggap ing sasmita demi mencapai etika keselarasan dalam kehidupan. Poin-poin menyapa orang tua, ngajèni orang tua sebagai hasil penelitian ini dapat diaplikasikan ke dalam masyarakat agar tercipta etika keselarasan dan kerukunan dalam bermasyarakat. Hasil dari penelitian ini diharapkan agar muda-mudi dapat belajar dan diharapkan bertindak sesuai tata krama yang bener lan pener terutama terhadap orang tua dan meningkatkan moral pada khalayak umum, namun tetap mengangkat karya sastra “Cerkak Mungkur Kabeh” ke dalam masyarakat sekarang
THE COLONIALITY OF GENDER IN SPORTS AND EDUCATION: COLONIAL LEGACIES OF THE PHILIPPINES’ MODERN GENDER SYSTEM IN ROOKIE (2023) Pratiwi, Hestia Dwi; Darmoko, Darmoko
International Review of Humanities Studies Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the lasting impact of colonial-era policies on the gender system portrayed in the Filipino LGBT coming-of-age movie "Rookie" (2023) by analyzing the gendered notions in sports and education. Rookie, directed by Samantha Lee, tells the story of Maria "Ace" Asuncion who is navigating and exploring life as a transfer student learning to master volleyball. As a rookie or newbie at school and in the sport, Ace comes across gendered notions in sports and education that reveal the state of the gender system. Using the concept of 'Coloniality of Gender' by Maria Lugones, this paper argues how colonial policies impact the gender system by examining gendered notions whose origin can be traced to the history of colonialization in the Philippines by Spain and the United States. Rookie shows the current picture of the enduring influence of colonial-era policies on the gender system through its portrayal of sports and education. However, the movie also portrays how the main characters defy from heterosexualist gendered notions through an exploration of their sexuality.
The symbol of the apes power in the Kembang Dewa Retna play Darmoko, Darmoko; Christian Briliyandi Pramaditra, Raden Mas
Diksi Vol. 30 No. 1: DIKSI MARET 2022
Publisher : Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v30i1.45421

Abstract

Purwa shadow puppets are divided into several ages, namely myths about the gods, Lokapala, Arjunasasrabahu, Ramayana, and Mahabharata. The Kembang Dewa Retna play  is based on a story originating from the Ramayana period. The battle for primacy and outrage in the story is built through the plays performed by the dalang. This study discusses the relationship between symbols, power, and supernatural powers in the wayang kulit play of the Ramayana era entitled Kembang Dewa Retna by Ki Manteb Soedharsono. Flower of Dewa Retna as a manifestation of the power of the monkey which is manifested through Kapi Pramuja. This study aims to explain the struggle of ape forces against giant forces. This study uses an objective approach, qualitative descriptive method, and the theoretical conceptual framework of Javanese ethics from Franz Magnis Suseno. The results of this study indicate that the Flower of Dewa Retna is a symbol of the power of apes who have magical powers and struggle against anger. The power of the Kembang Dewa Retna bestowed by the gods to uphold virtue, truth, and justice.Keywords: symbol, power, magic, wayang kulit purwa, Javanese
SYMBOLS AND POWER DISCOURSES IN THREE SHADOW PUPPET PERFORMANCES OF THE MURWAKALA PLAY Latifah, Ayuk; Darmoko, Darmoko
International Review of Humanities Studies Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the symbols and discourses of power in three Purwa shadow puppet performances of the Murwakala play, styles of Surakarta, Yogyakarta, and Banyumas. The Murwakala play, centered on themes of purification and the transformation of power, contains a rich narrative for analyzing power dynamics through the interactions between characters such as Batara Kala (a form of destructive power), Batara Wisnu (a form of constructive power), and Batara Guru (a form of cosmic order). Using a qualitative approach, this research integrates Geertz's theory of cultural symbolism and Foucault's discourse of power to analyze how power is represented and negotiated in these performances. This study highlights the role of symbols, the classification of sukerta (individuals considered spiritually impure), and the performative elements of mantras, gending (musical compositions), and sinden (female vocalists) in constructing a powerful discourse. Additionally, the socio-cultural context of Javanese society, including rituals like ruwatan (cleansing ceremonies), is explored to understand its influence on the interpretation of power dynamics. The findings reveal distinct variations in power representation across the three styles. The Surakarta style emphasizes hierarchical and philosophical power structures, the Yogyakarta style showcases ritualistic negotiations of power, and the Banyumas style reflects a more egalitarian and communal approach. These differences underscore the adaptability of shadow puppetry as a living tradition that reflects and shapes socio-cultural values.
IMPLEMENTASI PENGAMALAN PANCASILA DI PONPES DINIYYAH PASIA UNTUK MENANGKAL BERKEMBANGNYA PAHAM RADIKALISME DI KABUPATEN AGAM Pratama, Robbyanandri; Darmoko, Darmoko
JURNAL DWIJA KUSUMA Vol. 13 No. 2 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : PPM Sdirjianbang Akademi Militer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63824/jdk.v13i2.362

Abstract

Radicalism remains an ideological threat in Indonesia and has the potential to infiltrate religious educational institutions, including pesantren. Several findings indicate that a small number of pesantren have been associated with exclusive and intolerant teachings. This study aims to examine the implementation of Pancasila values at Pondok Pesantren Diniyyah Pasia and its role in preventing the spread of radicalism in Agam Regency. This research employs a library research approach. The findings show that Pesantren Diniyyah Pasia practices Pancasila through the strengthening of faith and morality, the promotion of tolerance, multicultural student life, decision-making through deliberation, and social and economic engagement. These practices reinforce students’ nationalism and serve as a barrier against radicalism. Although the pesantren demonstrates strong commitment to moderation and national values, continued oversight of educational processes is necessary to prevent the infiltration of intolerant ideologies. Thus, Pesantren Diniyyah Pasia holds strategic potential as a model for strengthening Pancasila and preventing radicalism at the local level.