Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : AGREGAT

Rasio Kuat Geser Antar Muka Pada Tanah Lempung Berpasir-Geotekstil (Studi Tanah Lempung Berpasir Pelaihari) Muhammad Fitriansyah; Dyah Pradhitya Hardiani
AGREGAT Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v8i1.18497

Abstract

Kuat geser permukaan serta gesek antar muka pada tanah lempung berpasir dengan menggunakan perkuatan geotekstil dengan tipe (HRX250) dan nonwoven (TS600). Metode yang dilakukan dengan cara eksprimen skala laboratorium di Laboratorium Mekanika Tanah. Tujuan penelitian ini untuk menguji nilai kuat geser (f) dan nilai sudut gesek antar muka (δ) tanah lempung berpasir pelaihari menggunakan bahan geotekstil sebagai perkuatan dengan 3 model pembebanan dalam kondisi terendam dan tidak terendam air. Terdapat nilai rasio (δ/f) dan nilai sudut gesek antar muka (δ) pada tanah lempung berpasir yang berbeda-beda karena pengaruh dari permukaan geotekstil yang digunakan. Nilai rasio (δ/f) yang paling besar didapatkan dari menggunakan geotekstil woven kondisi terendam sebesar 1.080 dan nonwoven dalam kondisi terendam sebesar 1.090
NILAI FAKTOR KEMANAN PERKUATAN OPRIT JEMBATAN MENGGUNAKAN BAHAN GEOTEXTILE DAN CERUCUK GALAM pada TANAH LUNAK KOTA BANJARMASIN Fitriansyah, Muhammad; Gustie Sambalewa Saky; Irwandy Muzaidi; Elia Anggarini
AGREGAT Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i1.22395

Abstract

Soft soils according to geotechnical guidelines relate to those soils that if not recognized and investigated carefully can cause intolerable long-term instability and settlement problems, such soils have low shear strength and high compressibility, The soft soil layer located in Banjarmasin, South Kalimantan has a thickness of up to 25 m, the average hard soil is found at a depth of about 40 m. The slope of the soil in Banjarmasin is between 0.13% with a geological composition, especially the bottom, dominated by clay with fine sand inserts and alluvium deposits consisting of gray-black and soft clay. The slope of the land in Banjarmasin is between 0.13% with a geological composition, especially the lower part dominated by clay with fine sand inserts and alluvium deposits consisting of grayish black clay and soft Research methods are a way to solve problems or how to develop knowledge with scientific methods. In this study, the analysis used is a comparison of the calculation of reinforcement on the bridge oprit manually with two methods of reinforcing galam cribs and Geotextile materials. The data used in this study used Sondir data for the Labor Intensive Bridge Project, based on the results of the analysis of the decline in galam and geotextile materials. Then it is known the difference in the value of the decline based on the results of the safety factor value of 3.71 and for geotextiles 1.21. From the value of the safety factor obtained, the reinforcement of galam pile is better than using geotextile.
Korelasi Penyerapan Air dan Kuat Tekan Bata Semen Menggunakan Bottom Ash PLTU Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Elia Anggarini; Irwandy Muzaidi; Muhammad Fitriansyah
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.24290

Abstract

Bottom ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara yang volumenya terus meningkat setiap tahunnya. Penanganan limbah bottom ash di PLTU Pulang Pisau saat ini digunakan untuk stabilisasi tanah dan ada juga yang masih ditimbun di lahan kosong sehingga masih kurang efektif karena sewaktu-waktu dapat berbahaya bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan inovasi pemanfaatan limbah batu bara sebagai pengganti pasir. Pengujian dilakukan dengan membuat benda uji berupa batako yang bertujuan untuk mendapatkan campuran yang menghasilkan kuat tekan yang optimal, sehingga menghasilkan batako yang efisien. Penelitian ini berfokus pada korelasi antara daya serap air dan kuat tekan batu bata dengan menggunakan metode eksperimen. Pada penelitian ini, komposisi substitusi bottom ash terhadap berat pasir adalah 0%, 10%, 20%, dan 40%, dengan pengujian yang dilakukan adalah pengujian serapan air dan pengujian kuat tekan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, nilai penyerapan air terendah pada persentase 10% yaitu 0,15209% dan nilai penyerapan air tertinggi pada persentase 40% yaitu 0,30418%. Pada pengujian kuat tekan diperoleh hasil tertinggi pada persentase 10% yaitu 156,67 Kg/cm2 dan nilai kuat tekan terendah pada persentase 40% yaitu 146,67 Kg/cm2. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan bottom ash menyebabkan peningkatan persentase penyerapan air pada batako sehingga hasil uji kuat tekan batako mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh bentuk ukuran butiran bottom ash yang lebih besar dari pasir, sehingga mengakibatkan banyaknya pori-pori pada batako
Analisis Pengaruh Konfigurasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) Terhadap Waktu Konsolidasi dan Penurunan Tanah (Studi Tanah Lempung Lunak Banjarmasin) Fitriansyah, Muhammad; Elia Anggarini; Irwandy Muzaidi; Heru Dwi Frandika; Hidayati Sabrina
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.24293

Abstract

Tanah lunak sering ditemukan di wilayah Kota Banjarmasin atau sekitarnya dengan karakteristik yang kurang baik sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan tanah yang besar dalam jangka waktu yang lama. Salah satu cara untuk mempercepat waktu penurunan tanah adalah dengan menggunakan Prefabricated Vertical Drain (PVD). Penulis mencoba menganalisis Pengaruh Bentuk Konfigurasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) terhadap Waktu Konsolidasi dan Penurunan Tanah (Studi Tanah Lempung Lunak Banjarmasin). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pemodelan dengan menggunakan perangkat lunak komputer dan menggunakan metode Terjaghi dan Metode Barron yang selanjutnya dikembangkan oleh Hansbo (1979). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis waktu penurunan konsolidasi (U90%) tanpa menggunakan PVD adalah 22514 hari, setelah menggunakan PVD selama 26 hari, penggunaan PVD dapat mempercepat waktu penurunan konsolidasi pada tanah lunak. Semakin jauh jarak antar PVD, penurunan konsolidasi tanah semakin kecil. Penurunan terendah konfigurasi persegi terjadi pada jarak 2 m dengan penurunan konsolidasi sebesar 0,3869 m sedangkan penurunan terendah konfigurasi segitiga terjadi pada jarak 2 m dengan penurunan konsolidasi sebesar 0,3800 m. Jadi konfigurasi segitiga lebih baik daripada konfigurasi persegi jika dilihat dari nilai penurunan konsolidasi tanah.
Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Banjarmasin Dengan Bottom Ash Sebagai Lapisan Subgrade pada Perkerasan Jalan Muzaidi, Irwandy; Fitriansyah, Muhammad; Anggarini, Elia; Setiawan, Gigih Tegar
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.24295

Abstract

Kota Banjarmasin merupakan daerah yang didominasi dengan tanah lunak, tanah lunak tersebut termasuk dalam golongan beberapa tanah lempung yang memiliki daya dukung tanah yang rendah. Pada kondisi alami, tanah di Banjarmasin dianggap tidak sesuai untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi perkerasan jalan jika digunakan sebagai timbunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki sifat fisis dan sifat mekanis tanah lempuung lunak di Banjarmasin dengan menggunakan bahan limbah industri batu bara dari PLTU Pulang Pisau. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mencampur variasi bottom ash + tanah asli sebesar 5%, 10%, dan 15% dengan masa pemeraman 3 hari, 7 hari, dan 14 hari. Hasil penlitian menunjukan bahwa semakin besar penambahan bottom ash maka akan menaikan nilai CBR, adapun CBR soaked diperoleh dengan nilai tanah asli + bottom ash 0% sebesar 13,16%, tanah asli + bottom ash 5% sebesar 14,66% (peram 3 hari) 17,95%( peram 7 hari), 18,55% (peram 14 hari). Tanah asli + bottom ash 10% sebesar 20,94% (peram 3 hari), 25,73% (peram 7 hari), 26,33% (peram 14 hari). Tanah asli + bottom ash 15% sebesar 23,46% (peram 3 hari), 27,52% (peram 7 hari), 28,12% (peram 14 hari). Sehingga komposisi Tanah lempung lunak Banjarmasin dapat digunakan sebagai bahan timbunan pilihan.
Korelasi Penyerapan Air dan Kuat Tekan Bata Semen Menggunakan Bottom Ash PLTU Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Elia Anggarini; Irwandy Muzaidi; Muhammad Fitriansyah
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.24290

Abstract

Bottom ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara yang volumenya terus meningkat setiap tahunnya. Penanganan limbah bottom ash di PLTU Pulang Pisau saat ini digunakan untuk stabilisasi tanah dan ada juga yang masih ditimbun di lahan kosong sehingga masih kurang efektif karena sewaktu-waktu dapat berbahaya bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan inovasi pemanfaatan limbah batu bara sebagai pengganti pasir. Pengujian dilakukan dengan membuat benda uji berupa batako yang bertujuan untuk mendapatkan campuran yang menghasilkan kuat tekan yang optimal, sehingga menghasilkan batako yang efisien. Penelitian ini berfokus pada korelasi antara daya serap air dan kuat tekan batu bata dengan menggunakan metode eksperimen. Pada penelitian ini, komposisi substitusi bottom ash terhadap berat pasir adalah 0%, 10%, 20%, dan 40%, dengan pengujian yang dilakukan adalah pengujian serapan air dan pengujian kuat tekan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, nilai penyerapan air terendah pada persentase 10% yaitu 0,15209% dan nilai penyerapan air tertinggi pada persentase 40% yaitu 0,30418%. Pada pengujian kuat tekan diperoleh hasil tertinggi pada persentase 10% yaitu 156,67 Kg/cm2 dan nilai kuat tekan terendah pada persentase 40% yaitu 146,67 Kg/cm2. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan bottom ash menyebabkan peningkatan persentase penyerapan air pada batako sehingga hasil uji kuat tekan batako mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh bentuk ukuran butiran bottom ash yang lebih besar dari pasir, sehingga mengakibatkan banyaknya pori-pori pada batako
Analisis Pengaruh Konfigurasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) Terhadap Waktu Konsolidasi dan Penurunan Tanah (Studi Tanah Lempung Lunak Banjarmasin) Fitriansyah, Muhammad; Elia Anggarini; Irwandy Muzaidi; Heru Dwi Frandika; Hidayati Sabrina
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.24293

Abstract

Tanah lunak sering ditemukan di wilayah Kota Banjarmasin atau sekitarnya dengan karakteristik yang kurang baik sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan tanah yang besar dalam jangka waktu yang lama. Salah satu cara untuk mempercepat waktu penurunan tanah adalah dengan menggunakan Prefabricated Vertical Drain (PVD). Penulis mencoba menganalisis Pengaruh Bentuk Konfigurasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) terhadap Waktu Konsolidasi dan Penurunan Tanah (Studi Tanah Lempung Lunak Banjarmasin). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pemodelan dengan menggunakan perangkat lunak komputer dan menggunakan metode Terjaghi dan Metode Barron yang selanjutnya dikembangkan oleh Hansbo (1979). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis waktu penurunan konsolidasi (U90%) tanpa menggunakan PVD adalah 22514 hari, setelah menggunakan PVD selama 26 hari, penggunaan PVD dapat mempercepat waktu penurunan konsolidasi pada tanah lunak. Semakin jauh jarak antar PVD, penurunan konsolidasi tanah semakin kecil. Penurunan terendah konfigurasi persegi terjadi pada jarak 2 m dengan penurunan konsolidasi sebesar 0,3869 m sedangkan penurunan terendah konfigurasi segitiga terjadi pada jarak 2 m dengan penurunan konsolidasi sebesar 0,3800 m. Jadi konfigurasi segitiga lebih baik daripada konfigurasi persegi jika dilihat dari nilai penurunan konsolidasi tanah.
Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Banjarmasin Dengan Bottom Ash Sebagai Lapisan Subgrade pada Perkerasan Jalan Muzaidi, Irwandy; Fitriansyah, Muhammad; Anggarini, Elia; Setiawan, Gigih Tegar
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.24295

Abstract

Kota Banjarmasin merupakan daerah yang didominasi dengan tanah lunak, tanah lunak tersebut termasuk dalam golongan beberapa tanah lempung yang memiliki daya dukung tanah yang rendah. Pada kondisi alami, tanah di Banjarmasin dianggap tidak sesuai untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi perkerasan jalan jika digunakan sebagai timbunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki sifat fisis dan sifat mekanis tanah lempuung lunak di Banjarmasin dengan menggunakan bahan limbah industri batu bara dari PLTU Pulang Pisau. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mencampur variasi bottom ash + tanah asli sebesar 5%, 10%, dan 15% dengan masa pemeraman 3 hari, 7 hari, dan 14 hari. Hasil penlitian menunjukan bahwa semakin besar penambahan bottom ash maka akan menaikan nilai CBR, adapun CBR soaked diperoleh dengan nilai tanah asli + bottom ash 0% sebesar 13,16%, tanah asli + bottom ash 5% sebesar 14,66% (peram 3 hari) 17,95%( peram 7 hari), 18,55% (peram 14 hari). Tanah asli + bottom ash 10% sebesar 20,94% (peram 3 hari), 25,73% (peram 7 hari), 26,33% (peram 14 hari). Tanah asli + bottom ash 15% sebesar 23,46% (peram 3 hari), 27,52% (peram 7 hari), 28,12% (peram 14 hari). Sehingga komposisi Tanah lempung lunak Banjarmasin dapat digunakan sebagai bahan timbunan pilihan.
NILAI FAKTOR KEMANAN PERKUATAN OPRIT JEMBATAN MENGGUNAKAN BAHAN GEOTEXTILE DAN CERUCUK GALAM pada TANAH LUNAK KOTA BANJARMASIN Fitriansyah, Muhammad; Gustie Sambalewa Saky; Irwandy Muzaidi; Elia Anggarini
AGREGAT Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i1.22395

Abstract

Soft soils according to geotechnical guidelines relate to those soils that if not recognized and investigated carefully can cause intolerable long-term instability and settlement problems, such soils have low shear strength and high compressibility, The soft soil layer located in Banjarmasin, South Kalimantan has a thickness of up to 25 m, the average hard soil is found at a depth of about 40 m. The slope of the soil in Banjarmasin is between 0.13% with a geological composition, especially the bottom, dominated by clay with fine sand inserts and alluvium deposits consisting of gray-black and soft clay. The slope of the land in Banjarmasin is between 0.13% with a geological composition, especially the lower part dominated by clay with fine sand inserts and alluvium deposits consisting of grayish black clay and soft Research methods are a way to solve problems or how to develop knowledge with scientific methods. In this study, the analysis used is a comparison of the calculation of reinforcement on the bridge oprit manually with two methods of reinforcing galam cribs and Geotextile materials. The data used in this study used Sondir data for the Labor Intensive Bridge Project, based on the results of the analysis of the decline in galam and geotextile materials. Then it is known the difference in the value of the decline based on the results of the safety factor value of 3.71 and for geotextiles 1.21. From the value of the safety factor obtained, the reinforcement of galam pile is better than using geotextile.