Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : TOTOBUANG

ANALISIS KRITIKAN PENGGUNA MEDIA SOSIAL TERHADAP KINERJA PEMERINTAH KOTA SAMARINDA [Analysis of Criticism the Use of Social Media Toward Performance of Goverment in Samarinda City] Ali Kusno
TOTOBUANG Vol. 4 No. 2 (2016): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v4i2.22

Abstract

Samarinda citizens were critical toward the performance of government. Citizens critical were seen through  the language that they used in social media, one of facebook’s group Samarinda Community (Facebook Bubuhan Samarinda). The use of language as criticism was important to be examined. The purpose of this research revealed textual analysis (micro), the dimensions of discourse practice, and the dimensions of discourse practice (macro). The approach of this research was critical discourse analysis. The research data in the form of copy of the group’s members uploaded at Facebook’s group Samarinda Community. The result showed: First, textual analysis (Micro Analysis). Generally, the text structure was divided into three parts, the opening, the content, and the closing. The opening related to the target critical and the meaning of critical regarding. The rest, the critics expressed their criticism directly on the substance. In the closing, the criticism was using argumentative with a variety expression, such as hopelessness, irritability, and anger. Generally, they use of transitive grammar. The critical was containing negative things of Mayor and staffs. The use of criticism vocabularies had characteristics that were criticizing directly, advising, using abusive language, teasing allusion, and accusing. Second, discourse practice dimension. Various complaints had been an accumulation over various issues. The criticism had positive impact on the improvement of Samarinda. Third, social and cultural practice dimension (macro).  Overall identifiable ideologies were built, such as the Mayor of Samarinda was not able to manage the government. The government was anti critical, not an independent, didn’t has the concept to build Samarinda.       Warga Samarinda kritis terhadap kinerja Pemerintah Kota. Kekritisan warga tampak dalam penggunaan bahasa di media sosial, salah satunya grup facebook Bubuhan Samarinda (FBM). Penggunaan bahasa kritikan tersebut penting untuk dikaji. Tujuan penelitian ini mengungkapkan analisis tekstual (mikro), dimensi praktik wacana, dan dimensi praktik wacana (makro). Pendekatan penelitian ini berupa analisis wacana kritis. Data penelitian berupa salinan unggahan anggota grup FBM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, Analisis Tekstual (Analisis Mikro). Struktur teks secara umum dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup. Pembuka teks terkait dengan target kritikan dan perihal kritikan yang dimaksud. Selebihnya pengkritik menyampaikan kritikan langsung pada substansi. Penutup kritikan menggunakan argumentatif dengan beragam ekspresi, seperti keputusasaan, kejengkelan, dan kemarahan. Penggunan gramatika transitif secara umum kritikan yang dilontarkan berisi hal-hal negatif  Walikota Samarinda beserta jajaran. Penggunaan kosakata kritikan, memiliki kekhasan, yakni mengkritik secara langsung, dengan menasihati, bahasa kasar, sindiran, dan juga menyerang/menuduh; Kedua, Dimensi Praktik Wacana. Berbagai kritikan yang dilontarkan merupakan akumulasi atas berbagai persoalan.  Kritikan memberikan dampak positif untuk pembenahan Kota Samarinda; Ketiga, Dimensi Praktik Sosial Budaya (Makro). Secara keseluruhan dapat diidentifikasi ideologi yang dibangun, seperti Walikota Samarinda tidak mampu mengelola pemerintahan; Pemerintah Kota Samarinda antikritik, tidak independen, tidak memiliki konsep membangun Kota Samarinda.
REPRESENTASI MAKNA ADAT DALAM PAJAAQ DAYAK TONYOOI: ANALISIS WACANA KRITIS [Representation of Customary Meaning in Pajaaq Dayak Tonyooi: Critical Discourse Analysis] Ali Kusno
TOTOBUANG Vol. 7 No. 2 (2019): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i2.148

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan representasi beragam makna tentang hukum adat masyarakat adat Dayak Tonyooi yang terkandung dalam kesenian Pajaaq. Identifikasi melalui analisis dalam Pajaaq. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis Model Fairclough. Data penelitian diambil dari  Pajaaq: Ungkapan Kearifan Lokal Dayak Tonyooi dan Benuaq. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memegang teguh hukum adat. Berbagai persoalan diselesaikan dengan hukum adat. Adat istiadat selalu dijunjung tinggi. Adat mengatur berbagai realitas kehidupan yang jelas aturannya. Adat dan tradisi diikuti sesuai dengan keadaan setempat. Adat masing-masing suku sudah memiliki ketentuan. Dewan adat menjadi solusi persoalan yang objektif. Tanda adat pada wajah harus diikuti agar tidak terkena tulah dan bencana. Orang besar/bangsawan selalu menjadi panutan. Masyarakat adat dalam menyelesaikan persoalan mengutamakan musyarawah keluarga dan adat. Kalau ada yang perlu dirundingkan, semua keluarga, atau tetua adat berkumpul bersama di suatu tempat. Jalan musyawarah mencari kata sepakat.  Para pemangku adat harus berlaku adil. Meskipun demikian, dalam penerapan hukum adat, ketidakadilan penerapan adat juga dirasakan masyarakat adat yang berperkara.This research aims to reveal the representation of diverse meaning towards society’s customary law of Dayak Tonyooi indigenous contained in the Pajaaq arts. The Identification through analysis in Pajaaq. This research uses a critical discourse analysis of the Fairclough Model. The research was taken from Pajaaq: Local Wisdom expression of Dayak Tonyooi and Benuaq. Data analysis techniques use an interactive model. The result of this research shows that indigenous peoples adhere to customary law: various issues are solved by customary law. Customs are always glorified. Custom regulates various life realities with obvious rules. Custom and traditions are followed according to local conditions. The customs of each tribe already had provisions. The customary council is an objective solution for the problem. Custom marks on the face must be followed  as a sign to be spared of plagues and disasters. Great people/nobles are always be a role model. Indigenous people resolve the issues through prioritize family and customs discussion. If there is something that needs to be negotiated, all families or traditional elders will gathering in one place. Deliberation is a way to seek for agreement. The customary rulers must be just. However, in the application of customary law, the injustice of custom implementation is also felt by indigenous people who have litigation.