Meilany Durry
Universitas Sam Ratulangi

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNII) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI LAMBUNG TIKUS WISTAR YANG DIBERI ASPIRIN Walangitan, Janet; Loho, Lily; Durry, Meilany
e-Biomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i2.5018

Abstract

Abstract: Cinnamon (Cinnamomum burmannii) is a traditional herbal plants which are often found in our daily life and has many benefits especially in health. This study were designed to know the effect of cinnamon on gastric mucosa given aspirin. This was an experimental research and used Wistar rats as the subject research.  The Wistar rats were randomly divided into 6 mice of control group and 9 mice of treatment group. Group A (K-) given pellets, group B (K+) given pellets and aspirin 150 mg/kgBB for 7 days, group C given pellets, aspirin 150 mg/kgBB and cinnamon extract 3 mg for 3 days, group D given pellets, aspirin 150 mg/kgBB for 7 days and given cinnamon extract 3 mg for 3 days, group E given pellets, aspirin 150 mg/kgBB for 7 days and given pellets only (without treatment) for 3 days. The results showed that aspirin cause gastric mucosa damage in group B (K+) compared with kelompok A (K-). Group C and D showed less inflammatory cells compared with group B (K+). Group E showed more inflammatory cells compared with group D. The study suggested that cinnamon extract has protective and therapeutic effects on gastric mucosa of Wistar rats. Keywords: cinnamon, gaster, aspirin.   Abstrak: Kayu manis (Cinnamomum burmannii) merupakan tanaman herbal tradisional yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari- hari dan memiliki banyak manfaat termasuk dalam bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada efek pemberian kayu manis terhadap mukosa lambung yang diberi aspirin. Desain Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dan subjek penelitian menggunakan tikus Wistar, yang terbagi atas 6 ekor kontrol dan 9 ekor perlakuan. Kelompok A (K-) diberikan pelet selama 7 hari, kelompok B (K+) diberikan pelet dan aspirin 150mg/kgBB selama 7 hari, kelompok C diberikan pelet, aspirin 150 mg/kgBB, ekstrak kayu manis 3 mg secara bersama- sama selama 7 hari, kelompok D diberikan pelet dan Aspirin 150 mg/kgBB selama 7 hari dilanjutkan dengan pemberian ekstrak kayu manis 3 mg selama 3 hari, kelompok E diberikan pelet dan Aspirin 150 mg/kgBB selama 7 hari dilanjutkan dengan pemberian pelet saja (tanpa perlakuan) selama 3 hari. Hasilnya menunjukkan aspirin menimbulkan kerusakan mukosa lambung pada kelompok B (K+) dibandingkan dengan kelompok A (K-). Kelompok C dan D menunjukkan sel-sel radang yang lebih sedikit dari kelompok B(kontrol +). Kelompok E menunjukkan sel- sel radang yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok D. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kayu manis mempunyai efek protektif dan terapeutik terhadap mukosa lambung tikus Wistar. Kata kunci: kayu manis, lambung, aspirin.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK LENGKUAS (Alpinia galanga) TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIK PAYUDARA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI benzo(a)pyrene Liangan, Raymon; Kairupan, Carla; Durry, Meilany
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7492

Abstract

Abstract: Galangal (Alpinia galanga) is one of the plants that is often used for cancer therapy. Galangal contains different active ingredients, one of which is 1 'acetoxy chavicol acetate (ACA) which serves as an anticancer through its action as an anti-inflammatory agent, induction of apoptosis and inhibition of proliferation. Benzo(a)pyrenes (BAP) are five-ringed Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), a group of mutagenic and carcinogenic organic compounds. This study aimed to determine the effect of galangal extract on histological features of mice’s breast induced by benzo(a)pyrene. This was an experimental laboratory study using mice as experimental animals. Subjects were 15 mice, divided into negative control group (5 mice) and two treatment groups (5 mice each). All mice were fed with standard pellet throughout the experiment. Mice in group A (negative control) received no treatment; mice in group B were administered with benzo(a)pyrene for 14 days then were given no treatment for the next 14 days; and mice in group C were induced by benzo(a)pyrene and were given galangal extract for 14 days then were given no treatment for the next 14 days. The result of this study revealed changes in mice breast histological features in the form of hyperplasia of cuboid epithelial cells of lactiferous ducts in group B and C, however the manifestation in group C was less pronounced than that was seen in group B. Conclusion: Oral administration of galangal extract subcutaneously was able to inhibit the cuboidal ductal lactiferious epithelial cell hyperplasia of mice breast induced by benzo(a)pyrene.Keywords: breast, benzo(a)pyrene, galangal extractAbstrak: Lengkuas (Alpinia galanga) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan untuk terapi kanker. Lengkuas mengandung berbagai bahan aktif, salah satunya 1’ acetoxy chavicol acetate (ACA), yang berkhasiat sebagai antikanker melalui kerjanya sebagai antiinflamasi, menginduksi apoptosis dan menghambat aktivitas proliferasi. Benzo(a)pyrene (BaP) adalah anggota Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) bercincin lima yang merupakan kelompok senyawa organik yang bersifat mutagenik dan karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak lengkuas terhadap gambaran histologik payudara mencit yang diinduksi dengan benzo(a)pyrene. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan menggunakan mencit sebagai hewan coba. Subjek penelitian yang digunakan yaitu 15 ekor mencit yang dibagi atas satu kelompok kontrol negatif (5 ekor) dan dua kelompok perlakuan (masing-masing 5 ekor). Semua hewan uji diberi makan pelet standard selama penelitian. Mencit kelompok A (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan selama 28 hari, kelompok B diinduksi benzo(a)pyrene selama 14 hari lalu tidak diberi perlakuan selama 14 hari berikutnya dan kelompok C diinduksi benzo(a)pyrene dan diberikan ekstrak lengkuas selama 14 hari lalu tidak diberi perlakuan selama 14 hari berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan gambaran histologik payudara mencit berupa hiperplasia sel epitel kuboid dari duktus laktiferi pada kelompok B dan C, namun hiperplasia tampak lebih sedikit pada kelompok C dibandingkan yang terlihat pada kelompok B. Simpulan: Pemberian ekstrak lengkuas secara oral pada mencit yang payudaranya diinduksi benzo(a)pyrene secara subkutan terbukti dapat menghambat hiperplasia sel-sel epitel kuboid duktus laktiferi payudara.Kata kunci: payudara, benzo(a)pyrene, ekstrak lengkuas.
Pengaruh pemberian ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap gambaran histopatologik hati tikus wistar yang diberikan parasetamol dosis toksik Sidabutar, Denty M.; Kairupan, Carla F.; Durry, Meilany
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.12224

Abstract

Abstract: Clove (Syzygium aromaticum) contains eugenol, a phenolic compound, which has been suggested to possess antioxidant activity. This compound is suspected to be able to minimize damage to the liver cells caused by drugs such as paracetamol. This study aimed to observe the effects of clove leaf extract on histopathological features of Wistar rat liver tissue induced with toxic doses of paracetamol. This was an experimental laboratory study. Subjects were 24 male Wistar rats. The dose of clove leaf extract was 200 mg/day (single dose) and of paracetamol 50 mg/day (single dose) orally. Group A (negative control) was given no treatment for 14 days. Group B was given paracetamol for 14 days. Group C was given clove leaf extract for 7 days and then added with paracetamol for 7 days. Group D was given clove leaf extract and paracetamol simultaneously for 14 days. Group A showed normal histological feature of liver cells. Group B showed liver cell damage induced by paracetamol. Group C showed regeneration of liver cells, but there were still some necrosis and fatty liver cells. Group D showed regeneration of liver cells meanwhile cell necrosis was hardly found. Conclusion: Clove leaf extract could improve the histopathological changes of liver tissues of Wistar rats due to administration of paracetamol at toxic dose. This improvement was manifested as better regeneration of liver cells than that of rats not treated with clover leaf extract. Keywords: clove, paracetamol, liver Abstrak: Cengkeh (Syzygium aromaticum) mengandung senyawa eugenol, suatu komponen fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa eugenol diduga dapat meminimalisir kerusakan sel hati yang antara lain disebabkan oleh obat-obatan yang berefek hepatototoksik seperti parasetamol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun cengkeh terhadap gambaran histopatologik hati tikus wistar yang diinduksi dengan parasetamol dosis toksik. Jenis penelitian ini eksperimental laboratorik. Subjek penelitian 24 ekor tikus wistar. Pada penelitian ini digunakan ekstrak daun cengkeh 200 mg/hari (dosis tunggal) dan obat parasetamol 50 mg/hari (dosis tunggal) per oral. Subjek penelitian dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan selama 14 hari. Kelompok B diberikan parasetamol selama 14 hari. Kelompok C diberikan ekstrak daun cengkeh selama 7 hari kemudian ditambahkan parasetamol secara bersamaan selama 7 hari. Kelompok D diberikan ekstrak daun cengkeh dan parasetamol secara bersamaan selama 14 hari. Kelompok A memperlihatkan gambaran histopatologik sel hati normal. Kelompok B memperlihatkan kerusakan sel hati berupa nekrosis dan perlemakan sel. Kelompok C memperlihatkan regenerasi sel hati namun masih terdapat nekrosis dan perlemakan sel hati. Kelompok D memperlihatkan regenerasi sel hati yang luas dan hampir tidak ditemukan nekrosis sel. Simpulan: Pemberian ekstrak daun cengkeh memperlihatkan perbaikan gambaran histopatologik jaringan hati tikus wistar yang mengalami kerusakan akibat parasetamol dosis toksik berupa regenerasi sel hati yang lebih baik dibandingkan dengan yang terlihat pada jaringan hati tikus wistar yang tidak diberi ekstrak daun cengkeh.Kata kunci: cengkeh, parasetamol, hati
Gambaran histopatologik mukosa laring tikus wistar yang dipapar asap rokok, obat nyamuk bakar, dan kendaraan bermotor Poluan, Holy; Kairupan, Carla; Durry, Meilany
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.12222

Abstract

Abstract: Air polution is a condition where the air is contaminated with chemicals, particles/matters and other biological substances such as cigarette smoke, mosquito coil smoke, and exhaust gas. Cigarette smoke, mosquito coil smoke and exhaust gas contain substances that can cause inflammation, hyperresponsivity, obstruction, and metaplasia of the respiratory tract. This study aimed to compare the exposure effect of cigarette smoke, mosquito coil smoke, and exhaust gas on the histopathological features of Wistar rat larynx. This was an experimental laboratory study. Subjects were 20 rats divided into 4 groups; Group I, the negative control group, and 3 treatment groups (Group II, III, and IV). Group II was exposed by cigarette smoke, group III was exposed by mosquito coil smoke, and group IV was exposed by exhaust gas. Subjects were put in a modified exposure cage in according with the treatment groups and were exposed for 2 hours per day for 30 days. The results showed that inflammatory cells were found the most in group 4, meanwhile in group II were the least. Metaplasia occured the most in group II, menwhile group III and IV had similar results. In general, group IV showed the worst pathological reaction, followed by group III and group II. Conclusion: Histopathological feature of larynx of wistar rat exposed by exhaust gas showed the worst histopathological changes, followed by mosquito coil smoke exposure group and cigarette smoke group. Keywords: cigarette smoke, mosquito coil smoke, exhaust gas, larynx histopathological feature, inflammatory cells, metaplasia Abstrak: Polusi udara adalah suatu kondisi dimana udara tercemari oleh bahan kimia, zat/partikel dan bahan biologis lainnya.Asap rokok, asap obat nyamuk dan asap kendaraan bermotor merupakan contoh polusi udara. Asap rokok, asap obat nyamuk dan asap kendaraan bermotor mengandung zat yang dapat menyebabkan peradangan, hiperresponsivitas, obstruksi dan metaplasia saluran pernapasan. Penelitian ini bertujuan untukmembandingkan pengaruh paparan asap rokok, asap obat nyamuk dan asap kendaraan bermotor terhadap gambaran histopatologik laring tikus wistar. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik. Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus yang dibagi dalam 4 kelompok: 1 kelompok kontrol negatif (kelompok I) dan 3 kelompok perlakuan (kelompok II, III, IV). Kelompok II dipaparkan asap rokok, kelompok III dipaparkan asap obat nyamuk bakar dan kelompok IV dipaparkan asap kendaraan bermotor. Subjek penelitian kelompok perlakuan diletakkan di kandang perlakuan yang telah dimodifikasi menurut kelompok perlakuan dan diberi paparan asap selama 2 jam per hari selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel radang paling banyak terdapat pada kelompok IV, dan paling sedikit pada kelompok II. Metaplasia yang terjadi paling banyak terdapat pada kelompok II sedangkan kedua kelompok III dan IV memiliki jumlah yang hampir sama. Secara umum kelompok IV menunjukkan reaksi patologik laring yang paling jelek, diikuti oleh kelompok III dan kelompok II. Simpulan: Gambaran histopatologik laring tikus wistar yang dipapar asap kendaraan bermotor menunjukkan perubahan histopatologik yang paling jelek, diikuti yang dipapar dengan asap obat nyamuk bakar dan asap rokok.Kata kunci: asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap obat nyamuk, gambaran histopatologik laring, sel radang, metaplasia
Pengaruh pemberian getah bonggol pisang (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kuntze. AAB) terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit tikus Wistar (Rattus norvegicus) Wakkary, Jacqueline J.; Durry, Meilany; Kairupan, Carla
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.15018

Abstract

Abstract: Wound healing can be assisted by modern and traditional medicine. Banana stem sap is often used as a herbal remedy for wounds. The sap of banana stem contains saponins, flavonoids, anthraquinone, quinone, lectin, and tannins that are expected to promote wound healing. This study was aimed to determine the effect of banana stem sap on incised wound of the skin of Wistar rats. This was an experimental laboratory study. A total of 21 Wistar rats (Rattus norvegicus) were used in this study; one was used to obtain a normal skin sample, and the others were divided into control groups (A1 and B1) and treated groups (A2 and B2), five rats in each group. A 1-cm-skin incision was made on the back of each rat in all groups. The wounds of group A1 and B1 were untreated. In group A2 and B2, the wounds were applied with 0,5 ml of banana stem sap (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kuntze. AAB) twice a day. Macroscopic and microscopic examinations of the wounds were performed on day-5 (group A1 and A2) and day-14 (group B1 and B2). The results showed that, either macroscopically (wound area and crusting) or microscopically (crust, reepithelization, angiogenesis, proliferation of fibrous tissue and inflammatory cells), group A2 and B2 exhibited better wound healing compared with group A1 and B1. Conclusion: Better wound healing process in Wistar rats treated with banana stem sap on their insiced wounds compared to those that were untreated indicates that banana stem sap play distinct roles in promoting wound healing.Keywords: wound healing, banana stem sap Abstrak: Penyembuhan luka dapat dibantu dengan pengobatan modern ataupun teradisional. Masyarakat awam sering menggunakan pengobatan tradisional salah satunya getah bonggol pisang untuk mengobati luka. Getah bonggol pisang mengandung saponin, flavonoid, antrakuinon, kuinon, laktin, dan tanin yang diduga dapat membantu penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian getah bonggol pisang terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit tikus wistar. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik dengan subjek 21 ekor tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang dibagi dalam: satu ekor tanpa perlakuan (sampel kulit normal) dan empat kelompok perlakuan (lima ekor tiap kelompok). Kelompok A1 dan B1 dibuat luka sayat ± 1 cm pada daerah punggung tetapi tidak diolesi getah bonggol pisang (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kuntze. AAB). Kelompok A2 dan B2 dibuat luka sayat kemudian diolesi getah bonggol pisang 0,5 ml dua kali sehari. Penilaian dan pengambilan sampel jaringan kulit luka dilakukan pada hari ke-5 (kelompok A1 dan A2) dan hari ke-14 (kelompok B1 dan B2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran penyembuhan luka, baik secara makroskopik (area permukaan luka dan kerak luka) maupun mikroskopik (krusta, reepitelisasi, angiogenesis, proliferasi jaringan ikat dan sel-sel radang) pada kelompok A2 dan B2 lebih baik dibandingkan dengan kelompok A1 dan B1. Simpulan: Ditemukan tanda-tanda penyembuhan luka yang lebih baik pada kelompok tikus Wistar yang diberikan getah bonggol pisang pada luka sayatnya dibandingkan dengan yang tidak diberikan, yang mengindikasikan bahwa getah bonggol pisang berperan khusus dalam membantu proses penyembuhan luka.Kata kunci: penyembuhan luka, getah bonggol pisang
GAMBARAN HISTOPATOLOGIK TESTIS TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) SETELAH PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMATE (MSG) Bilondatu, Ririen S.S.; Durry, Meilany; Lintong, Poppy
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14714

Abstract

Abstract: Monosodium glutamate (MSG) is a sodium salt from glutamic acid which is currently very popular to be used as a food flavoring ingredient to stimulate appetite. The objective of the study to discover the histologic findings of wistar rats’ testicles after MSG administration. This was an experimental laboratoric study, using 20 wistar rats that has been divided into 4 groups. The negative control group is given standard pallet and drinking water for 40 days; it devided to 2 smaller groups, K1 and K2, each of the group was terminated on the 21st and 41st day. The intervention group was given MSG according to average consumption dose in Indonesia; it devided to two smaller groups, P1 and P2, each group was terminated on the 21st and 41st day. The result showed on group K1 and K2, a normal finding of seminiferous tubules, spermatogenic cell layer arrays, and interstitial cell density was found. On group P1, showed seminiferous tubules with decrease of spermatogenic cells development, causing the tubules compartment to appear vacant; the spermatogonia layers appeared sparse on basal membrane, and fewer interstitial cells. On group P2, the findings were not of much difference with group P1, but in this group, one testicle specimen showed calcification cells inside its seminiferous tubules was found. Conclusion: Administration of MSG according to average consumption dose in Indonesia causes decrease of seminiferous tubules’ diameter and decrease of the number of spermatogenic cells and interstitial cells.Keywords: Monosodium glutamate (MSG), Indonesia average consumption dose, testicles. Abstrak: Monosodium glutamate (MSG) adalah garam natrium dari asam glutamat yang saat ini sangat popular digunakan sebagai bahan penyedap makanan untuk merangsang selera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histologik testis tikus wistar setelah pemberian MSG. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik, menggunakan 20 ekor tikus wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol negatif terdiri dari dua kelompok yakni K1 dan K2, masing-masing diterminasi pada hari ke-21 dan hari ke-41. Kelompok perlakuan diberi MSG sesuai dosis konsumsi rata-rata di Indonesia, terdiri dari dua kelompok yakni P1 dan P2, masing-masing diterminasi pada hari ke-21 dan hari ke-41. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok K1 dan K2 didapatkan gambaran tubulus semineferus, susunan lapisan sel spermatogenik dan kepadatan sel interstisial yang normal. Pada kelompok P1 didapatkan gambaran fokus-fokus tubulus semineferus tanpa perkembangan sel-sel spermatogenik sehingga ruang tubulus tampak kosong, lapisan spermatogonia yang saling jarang pada membran basalis, dan sedikit sel interstisial. Pada kelompok P2 didapatkan gambaran yang tak jauh berbeda dengan kelompok P1, namun pada kelompok ini didapatkan satu sediaan testis yang tampak ruang tubulus semineferusnya berisi sel-sel yang mengalami kalsifikasi. Simpulan: Pemberian MSG sesuai dosis konsumsi rata-rata di Indonesia menyebabkan mengecilnya diameter tubulus semineferus, penurunan jumlah lapisan sel-sel spermatogenik dan berkurangnya sel interstisial. Kata Kunci: Monosodium glutamate (MSG), dosis rata-rata konsumsi Indonesia, testis.