Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pendampingan Minat Sekolah "Anak Petani" Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendidikan Non Formal. Erviana Abdulla evi; Sumarni
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JurDikMas) Sosiosaintifik Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Pengabdian Masyakarakat Sosiosaintifik (JurDikMas)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Puangrimaggalatung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.964 KB)

Abstract

Peningkatan minat sekolah anak petani melalui pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan sekolah nonformal sebagai perluasan pendidikan yang didalamnya berisi upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat ke masyarakat agar mampu memecahkan permasalahan yang dialaminya atau yang dikenal dengan masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang percaya atas kemampuan para anggotanya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik serta masyarakat yang menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam hidupbermasyarakat dimana kondisi pemberdayaan akan terwujud apabila anggota masyarakat memperoleh kesempatan agar semakin berdaya. Dalam mencapai kondisi tersebut dibutuhkan adanya dari pihak luar dalam hal ini petugas pendidikan nonformal untuk membantumelihat potensi atau kemampuan yang dimiliki masyarakat sehingga mereka dapat memberdayakan dirinya. Proses pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal, sesungguhnya merupakan sebuah upaya yang memungkinkan masyarakatdengan segala keberadaanya dapat memberdayakan dirinya di tengan masyarakat. Dengan pusat aktivitas harusnya berada di tangan masyarakat itu sendiri dengan bertitik tolak dari masyarakat, dilaksanakan oleh masyarakat dan manfaatnya untuk masyarakat atau dengan istilah lain pendidikan berbasis pada masyarakat. Dalam kaitannya dengan hal ini ada lima prinsip dasar yang patut diperhatikan: (1) keperdulian terhadap masalah, kebutuhan dan potensi/sumberdaya masyarakat; (2) kepercayaan timbal balik dari pelayan program dan dari masyarakat pemilik program; (3) fasilitasi (pemerintah) dalam membantukemudahan masyarakat dalam berbagai proses kegiatan; (4) adanya partisipatif, yaitu upaya melibatkan semua komponen lembaga atau individu terutama warga masyarakat dalam proses kegiatan dan (5) mengayomi peranan masyarakat dan hasil yang dicapai.
Pembinaan Industri Rumahan Pengrajin Ekonomi Kreatif “Kampung Sutera” Menuju Desa Mandiri Sumarni; Erviana Abdullah
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JurDikMas) Sosiosaintifik Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Pengabdian Masyakarakat Sosiosaintifik (JurDikMas)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Puangrimaggalatung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.821 KB)

Abstract

Kampung Sutera yang ada di desa Pakkanna menjadi indikator keberhasilan dalam Pembinan generasi untuk meningkatkan ke skala dan level industri ekonomi kreatif menuju desa mandiri. Menciptakan pola kerja dalam konsep kreatif dan penjualan produk sutera,Pola produksi, dimana para penrajin dan penjual produk sutera mampu menciptakan manajemen pola industri yang stabil, dan pola distribusi yang lebih efesien untuk peingkatan skala dan level industri rumahan oleh para penrajin ekonomi kreatif sutera yang ada di desa Pakkanna Kab. Wajo. Serta perkembangan inovasi pembagunana keberlanjuta dalam kebijakan ekonomi kreatif adalah penyerapan tenaga kerja, yaitu (1). Tingkat upa, produktivitas, dan Tenaga kerja. Pelaksanan Program dengan 3 aspek strategi yaitu cost leadership (Biaya Rendah termasuk biaya produksi, alatdan bahan baku, differentiation (Menciptakan produk yang berbeda dan unik), dan focus (Target pembeli, segmen produk dan Lokasi pemasaran) .Terutama pada Tipe Differensiasi Diskoperindag Kab. Wajo lebih unggul dalam strategi ini. Adapun bentuk program adalah pembinaan, pelatihan, bimbingan teknis maupun workshop kewirausahaan yang di ikuti oleh para pelaku industri sutera ada di Desa Pakkanna. Pada kegitan KKN-PPM merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk ini peningkatan skala dan level industri rumahan dengan melihat strategi yang dilakukan adalah (1) penetapan sumber modal, (2) penjualan pada 1 tempat, (3) peningkatan produk (4) mediah menjualan (5) pengembangan produk (6) penetapan aturan main lingkup usaha (7) penentuan harga dilapangan (8) pelatihan, (9) sosiaslisasi (workshop) oleh pengabdi, dan (10) hubungan vertikal. Strategi daya saing industri Sutera cukup baik jika dilihat dari 3 aspek strategi. Terutama pada Tipe Differensiasi Diskoperindag Kab Wajo lebih unggul dalam strategi pembinaan khalayak sasaran desa binaan.
Kualitas Laporan Hasil Pengawasan Inspektorat Daerah Kabupaten Wajo Atas Tata Kelola Pemerintahan Desa Di Kabupaten Wajo (Studi Kasus di Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo) Besse Herlina; Sumarni Sumarni; Sutrisman Basir; Fitra Turahmi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.1622

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya literatur yang ada tentang administrasi publik, khususunya audit sektor publik. Penelitian dilakukan melalui pengujian terhadap kualitas laporan pengawasan Inspektorat Daerah Kabupaten Wajo atas pengelolaan Dana Desa (DDS) dan Alokasi Dana Desa (ADD). Penelitian ini juga menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dan ketidakefektifan laporan hasil pengawasan tersebut. Purposive sampling diterapkan dalam penelitian ini. Informan kunci yang terlibat dalam penelitian ini antara lain: auditor; pejabat sektor publik (auditi); dan manajemen. Penelitian ini menemukan kelemahan-kelemahan laporan hasil pengawasan pada aspek muatan informasi, yakni: ruang lingkup, bukti audit, dan objektifitas, dan pada aspek komunikasi informasi, yakni: informasi yang mudah dipahami; penerbitan laporan tepat waktu, serta pada aspek tindak lanjut, yakni: rekomendasi yang realistis. Faktor penghambat kualitas laporan hasil pengawasan, antara lain: kesenjangan kapabilitas auditor; pengaruh konteks sosial, dan beban kerja pengawasan yang terlalu besar. Sedangkan faktor pendukung, di antaranya: adanya penguatan APIP untuk menjaga independensi dan integritas, serta sumber daya yang cukup. Penelitian ini bersifat eksploratif, sehingga dapat dikembangkan penelitian lebih lanjut terkati sejauh mana faktor-faktor tersebut mempengaruhi kualitas laporan hasil pengawasan.