Nur Ihsan Djindar
Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MENERA ULANG KAJIAN KEBUDAYAAN MATERIAL MODERN DALAM ARKEOLOGI Nur Ihsan D.
WalennaE Vol 11 No 1 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1934.66 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i1.205

Abstract

The Ontological aspect of archaeology is its attention on ancient material culture that is utilized as a basis in interpretating the past of human's culture. Along with science development, there's a rising effort to evaluate that ontological aspect by redefining archaeology becomes the science that studing human interaction relationship with its material culture regardless time and space. That redefinition affects the rise of Modern Material Culture in Archaeology. But, its stagnant implementaion and the development of other scince that also begins to paying attention on the significant of material dimention of the culture constitutes a challenge in developing modern material culture in archaeology. Even so, the emergence of this new field study is belived as a new direction in the development archaeology.Aspek ontologis dari arkeologi adalah perhatiannya pada budaya material kuno yang digunakan sebagai dasar dalam menafsirkan masa lalu budaya manusia. Seiring dengan perkembangan sains, ada upaya yang meningkat untuk mengevaluasi aspek ontologis dengan mendefinisikan kembali arkeologi menjadi ilmu yang mempelajari hubungan interaksi manusia dengan budaya materialnya terlepas dari ruang dan waktu. Redefinisi itu mempengaruhi bangkitnya Budaya Material Modern dalam Arkeologi. Namun, implementasinya yang stagnan dan pengembangan ilmu lain yang juga mulai memperhatikan signifikansi dimensi material budaya merupakan tantangan dalam mengembangkan budaya material modern dalam arkeologi. Meski begitu, kemunculan studi lapangan baru ini diyakini sebagai arah baru dalam pengembangan arkeologi.
DIMENSI ARKEOLOGI SOSIAL DALAM PERUBAHAN ARSITEKTUR-RUMAH SUKU MAKASSAR DI KAMPUNG TALLO, KOTA MAKASSAR Nur Ihsan D.
WalennaE Vol 13 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5019.429 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i2.268

Abstract

Kampung Tallo merupakan salah satu pemukiman suku Makassar di Kota Makassar yang memberikan gambaran tentang kronologi-tipologi dari perubahan rumah tradisional suku Makassar sejak pertengahan abad ke-20 hingga awal abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan ikhwal perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat suku Makassar melalui pembacaan terhadap perubahan denah rumahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut. Analisis Gamma yang berasal dari Arsitektur diterapkan terhadap 10 rumah yang dipilih secara rational-purposive dari populas rumah suku Makassar yang hingga saat ini masih berdiri di Kampung Tallo. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan rumah tradisional suku Makassar di Kampung Tallo bisa dipandang tidak hanya sebagai perubahan morfologis. Namun juga menggambarkan perubahan sosial dari masyarakatnya yang bergerak dari masyarakat tradisional-feodal menuju masyarakat modern-kapitalis.Kampong Tallo is one of the settling location for Makassarese in Makassar City that provide a typological chronology of the transformation of its traditional houses of Makassar since the middle of 20th century until the beginning of 21st century. This research aims are to construct an explanation about the social changes of Makassarese by reading the transformation of its houses ground plan. In order to reach that, the Gamma Analyses that borrowed from architecture are applied toward 10 houses which are selected purposively from the traditional houses that stand still in Kampong Tallo, Makassar. This research shows that the transformation of the Makassar's traditional houses in Kampong Tallo can not only see as a morphological change but also describe the social changes of its society from a traditional-feudal society into a modern-capitalist society. 
Biografi Lanskap Pusat Kerajaan Bone Muhammad Irfan Mahmud; Nur Ihsan Djindar; Fardi Ali Syahdar; Nasihin; Budianto Hakim; Syahruddin Mansyur; Andi Muhammad Saiful; Ade Sahroni
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.437

Abstract

Bone merupakan salah satu situs pusat kerajaan Bugis yang menarik diungkap biografi lanskapnya, dari unit-unit kampung kecil tradisional (abad ke-14 M) hingga mencapai bentuk kota kolonial pada awal abad ke-20. Penelitian ini secara spasial berfokus pada situs dalam wilayah keruangan Kota Watampone dengan menggunakan metode pendekatan biografi lanskap. Metode penelitian melalui tahapan: (1) rekonstruksi sejarah dan arkeologi; (2) dokumentasi ingatan kolektif; dan (3) narasi biografi lanskap. Hasil penelitian menemukan 9 lapisan biografis secara vertikal. Dari jumlah lapisan biografis tersebut, memori kolektif warga kota hanya terkait Bola Soba sebagai ikon arsitektur serta 4 lapisan biografi peradaban terkait legacy tokoh, yaitu Kawerang (situs Manurunge), Macege, serta Tanah Bangkala dan Taman Arung Palakka (periode lanskap tanpa istana). Perubahan lanskap sangat dipengaruhi perubahan lokasi istana, mengikuti ruang hunian penguasa terpilih. Lanskap tidak saja menunjukkan biografi periodic ruang, tetapi juga identitas dan ‘legacy’ tokoh pada setiap lapisan peradaban.
Irigasi Kolonial di Lumbung Padi Nasional: Analisis Nilai Penting dan Rekomendasi Pemanfaatan Bagi Pendidikan Syahruddin Mansyur; Nur Ihsan Djindar; Asmunandar nfn; M Nur; Hamdan Hamado
Tumotowa Vol 5 No 1 (2022): Tumotowa
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendung Benteng in Pinrang Regency is agricultural irrigation that has been operating since the colonial era and is a key factor in increasing rice production in South Sulawesi. This paper aims to identify the significance value of the cultural resources of Bendung Benteng and formulate appropriate policy recommendations for optimizing utilization, especially in the realm of education. The method used is a literature review, interviews, and archaeological observation, descriptive analysis by sorting information that can sow the significance and importance of the Bendung Benteng. The results of the analysis show that the Bendung Benteng as an archaeological resource has historical, scientific, and character education values. This important value also shows the value of sustainability that can connect the past, present, and future. Therefore, the Bendung Benteng is seen as a heritage that must be preserved and sustainable, so it needs to be immediately designated as a Cultural Heritage. Cross-sectoral cooperation is also needed to establish various programs, including forms of socialization to raise interest and awareness to preserve water heritage management; also, the determination of Bendung Benteng Irrigation as a Joint Field Laboratory for related fields.