Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Memacu Kemampuan Berpikir Formal Siswa Melalui Pembelajaran IPA Sejak Dini Erman, ; Edy Mintarto,
Pendidikan Dasar Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : Pendidikan Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siswa seharusnya mempunyai perkembangan kemampuan berpikir secara alamiah sesuai dengan klasifikasi umur Piaget. Kemampuan berpikir formal adalah salah satu unsur dalam teori perkembangan intelektual Piaget. Dalam konteks pembelajaran IPA, kemampuan berpikir formal mempunyai peranan yang penting untuk memahami konsep, hukum dan prinsip-prinsip IPA. Kemampuan seseorang untuk membuat analisis dan mengembangkan teori IPA memerlukan kemampuan berpikir formal. Kemampuan berpikir formal terdiri dari 5 subtingkat, yaitu subtingkat F1, F2, F3, F4 dan F5. Subtingkat F1 adalah subtingkat paling rendah dan subtingkat F5 adalah subtingkat paling tinggi dalam tingkat kemampuan berpikir formal. Siswa pendidikan dasar (SD dan SLTP) yang sedang mempelajari IPA harus dapat mengoperasikan kemampuan berpikir formal sekurang-kurangnya pada level formal-1 atau F1. Untuk itu, pengajar IPA sejak dini harus berusaha untuk memacu perkembangan kemampuan berpikir siswanya melalui intervensi-intervensi dalam proses pembelajaran yang dilakukannya.Students should have naturally intellectual development referring to Piaget classification. Formal thinking ability is one of the elements in Piaget’s intellectual development theory. Within the context of science learning, it has an important role for understanding concepts, laws and principles of science. The individual ability to make analysis and to develop scientific theory needs formal thinking ability. It consists of five sub levels, F1, F2, F3, F4 and F5. Students of elementry School and Junior High who are studying natural science must be able to operate their formal thinking at least to F1 sub level of formal thinking ability. For that reason, science teachers make an effort to accelerate their students’formal thinking development by giving interventions throughout the teaching processes.
PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN JASMANI OLAH RAGA DAN KESEHATAN SEKOLAH DASAR Amrozi Khamidi, ; Edy Mintarto,
Pendidikan Dasar Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Pendidikan Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract; This ex-post facto research aims to know how professional the sports teachers of elementary schools teach are. The population comprises 428 pupils and the data are obtained through enquette and inventory methods. The results show that a) teaching experience contributes 9.91 with SD 5.63; b) upgrading intensity 30.43 with SD 17.86; c) attitude towards professionalism is 164.28 out of 126 (ideal average) and SD 12.77. This means that sports teachers in Bangkalan and Sampang who keep upgrading themselves are more professional than those who just rely on experience. Abstrak; Penelitian ini adalah penelitian ex-post facto. Populasi 428 orang. Pengumpulan data dengan metode angket dan inventori. Hasilnya variable (a) pengalaman mengajar mempunyai rerata 9,91 dengan simpangan baku 5,63 (b) intensitas penataran mempunyai rerata 30,43 dengan simpangan baku 17,86 (c) sikap terhadap profesi memiliki rerata 164,28 (dari rerata ideal 126) dan simpangan baku 12,77. Jadi guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan  di Bangkalan dan Sampang telah memiliki profesionalisme dalam mengajar. Guru yang  sering mengikuti penataran memiliki tingkat profesionalisme lebih tinggi dari guru yang hanya memiliki pengalaman mengajar.
Penyajian Gizi bagi Atlet Edy Mintarto,
Kepelatihan Olahraga Vol 4, No 3 (2009)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan suatu penyelenggaraan makanan pada masa pemusatan latihan dan masa pertandingan (pesta olahraga) dapat dicapai bila penyelenggaraan makanan dipandang sebagai suatu program yang utuh dan dikelola secara profesional. Suatu penyelenggaraan makanan menginginkan mutu makanan yang tinggi yaitu enak, gizi seimbang, harga yang layak dan kebersihan serta sanitasi yang tinggi sehingga dapat dimakan dan memuaskan konsumen (olahragawan). Menu merupakan “Critical focal point atau central position” dari semua kegiatan penyelenggaraan makanan. Dari menu akan diperoleh makanan apa yang akan diproduksi serta didistribusi kepada siapa, oleh siapa, bagaimana, kapan dan sebagainya. Perencanaan menu adalah serangkaian kegiatan menyusun hidangan dalam variasi dan kombinasi yang sesuai dengan konsumen.
modifikasi alat dan gerakan dalam menunjang efektivitas pembelajaran atletik lari, lompat dan lempar Edy Mintarto,
Kepelatihan Olahraga Vol 6, No 1 (2011)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuh kembang anak dapat berkembang secara sempurna guna mencapai aktivitas jasmani yang memadai. Kebutuhan aktivitas jasmani pada masa anak menjadi tuntutan utama mengingat bahwa jasmani menjadi dasar untuk mengukur kesehatan tubuh, sehingga memungkinkan aspek yang lain tumbuh dan berkembang secara sempurna baik fisik, psikis maupun intelektual. Mengembangkan aktivitas bermain yang penuh ceria pada anak-anak adalah merupakan solusi yang tepat, guna memunculkan kreativitas jasmani melalui berbagai bentuk permainan yang menyenangkan namun tidak meninggalkan gerakan dasar dari berbagai cabang olahraga atletik itu sendiri yaitu lari, lompat dan lempar. Perlunya mensikapi bahwa yang sekarang ini terjadi adalah sangat terbatasnya sarana dan prasarana yang tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada. Sekalipun alat-alat itu ada namun rata-rata alat yang tersedia selalu alat-alat yang standar untuk ukuran yang sebenarnya itu adalah ukuran untuk orang dewasa, sehingga bagi anak-anak sangat menyulitkan untuk mengembangkan skillnya disebabkan bagi anak alat itu masih sangat memberatkan. Bagaimana bisa menerapkan teknik yang benar kalau anak itu sendiri merasa berat dalam menguasai alat. Padahal menurut Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani adalah suatu kerangka ilustrasi anak yang diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal.
Pengaruh Latihan Pylometric terhadap Performa Olahraga: Kajian Literatur Saraswati Dharani; Oce Wiriawan; Edy Mintarto
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jime.v6i2.1405

Abstract

Latihan plyometric merupakan bentuk latihan yang menggunakan tubuh sebagai beban dalam latihan untuk meningkatkan kapasitas fisik seperti daya ledak, kecepatan, dan kekuatan. Kapasitas fisik ini diperlukan dalam berbagai bentuk olahraga seperti olahraga lapangan kecil, olahraga lapangan besar, olahraga air, bahkan untuk pencegahan cidera. Setiap jenis olahraga memerlukan volume, frekuensi, dan intensitas yang berbeda-beda. Artikel ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh yang diberikan oleh latihan plyometric terhadap performa dalam olahraga. Metode yang digunakan adalah kajian literatur terhadap penelitian terdahulu terkait pengaruh penggunaan latihan plyometric terhadap berbagai macam jenis olahraga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan latihan plyometric meningkatkan performa kapasitas fisik, baik dalam olahraga darat dan olahraga air.
THE 50 M FREE STYLE SWIMMING STROKE SPEED IMPROVEMENT BY USING HAND PADDLE SWIM AND PARACHUTE SWIM Muhammad Chusaini; Hari Setijono; Edy Mintarto
JIPES - JOURNAL OF INDONESIAN PHYSICAL EDUCATION AND SPORT Vol 6 No 01 (2020): JIPES (Journal of Indonesian Physical Education and Sport)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Swimming is the basic ability of every living being. Consciously and unconsciously, we have already done this activity even since we were not born yet. However, once human was born, some of creatures lose their ability to swim. A well-structured training is necessary to emerge one's swimming potential. Currently, there are many Olympiads and competition for swimming. The most common aspect in swimming competition is the speed. In order to obtain the maximum swimming speed, a special training program is essentially needed. This research used hand paddle swim and parachute swim training program to increase arm muscles' power and swimming speed. The result obtained was hand paddle swim and parachute swim training program were able to increase arm muscles' power and swimming speed.
PENGARUH PELATIHAN SENAM KESEGARAN JASMANI USIA SEKOLAH DASAR DAN SENAM SEHAT GEMBIRA TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI PESERTA DIDIK KELAS IV SDN MARGOREJO I / 403 SURABAYA Sariadi Sariadi; Edy Mintarto; Hari Setijono
Bravo's : Jurnal Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Vol 3, No 4 (2015): Artikel 1 (Desember)
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32682/bravos.v3i4.243

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani melalui pelatihan senam kesegaran jasmani usia SD dan senam sehat gembira pada peserta didik kelas IV SDN Margorejo I/403 Surabaya. Dalam penelitian ini akan dibuktikan ada tidaknya interaksi antara senam kesegaran jasmani usia SD dan senam sehat gembira terhadap kebugaran jasmani peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan Randomizied Control Group Pretest-posttest Design. Populasi penelitian ini adalah siswa putri kelas IV SDN Margorejo I/403 Surabaya yang berjumlah 45 orang yang dibagi menjadi tiga kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari 15 orang dengan random. Berdasar hasil analisis data dan pembahasan, simpulan dalam penelitian ini adalah: 1) terdapat perbedaan peningkatan kebugaran jasmani peserta didik sekolah dasar yang signifikan antara ketiga kelompok pelatihan senam kesegaran jasmani usia SD dan senam sehat gembira nilai Fhitung lebih besar dari Ftabel, dimana nilai Fhitung= 66,308 sedangkan Ftabel= 3,32, 2) terdapat perbedaan peningkatan kebugaran jasmani peserta didik sekolah dasar yang signifikan antara kelompok senam kesegaran jasmani dan senam sehat gembira nilai thitung lebih besar dari ttabel, dimana nilai thitung= 31,170 sedangkan ttabel 1,796, 3) terdapat peningkatan kebugaran jasmani peserta didik sekolah dasar yang signifikan antara kelompok pelatihan senam kesegaran jasmani usia SD dan kelompok kontrol dimana thitung = 23,932 lebih besar dari ttabel 1,796, dan perhitungan pos hoc menyatakan bahwa pelatihan senam kesegaran jasmani usia SD memberikan hasil lebih efektif senam sehat gembira. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa pelatihan senam kesegaran jasmani usia SD berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kebugaran jasmani.
PEMBUATAN SERBUK WEDANG REMPAH SEBAGAI PENINGKAT IMUN TUBUH BAGI ATLIT ATLETIK Amrozi Khamidi; Edy Mintarto; Sri Usodoningtyas.
Transformasi dan Inovasi : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2021): Volume 1, Nomor 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi S1, S2, S3 Mananajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.935 KB)

Abstract

Facing the new normal era of the Covid 19 outbreak, people are returning to activities like before the Covid 19 outbreak, amid the transmission of the Covid outbreak which is still quite high, all people are required to be able to keep their distance and transmission of firus covid 19 which is transmitted through dropled. Athletes who return to training must also maintain a healthy body, one of which is always maintaining immunity. Spices powder has been researched to increase immunity, so in this session the team is trying to make red ginger powder product and temu lawak ready to be brewed as a healthy drink to increase body immunity. This study uses a qualitative research type that digs up data in accordance with the facts that occur in the field with the method of collecting data through interviews, observation and documentation to get the results of community service about making spices powder as an immune booster for athletic athletes. The results of this service obtained data before the implementation of this PKM, athletes and athletic trainers had already consumed ginger, turmeric and ginger wedang, what distinguishes the wedang they usually consume is ginger / turmeric / curcuma which is crushed / hit instead of powder as produced. This PKM. According to athletes and athletic trainers, the benefits of ginger / turmeric / ginger spices are to warm the body and increase appetite.